Ads

Thursday, June 8, 2017

Mustika Burung Hong Kemala Jilid 026

“Ah, kenapa engkau membunuh mereka, Sia-ciangkun? Bukankah mereka itu menjadi saksi dan bukti bahwa pembunuhan itu direncanakan oleh Bouw Kok dan Pangeran?” Para panglima menegur

“Hemm, untuk apa menyiarkan rahasia busuk ini kepada orang luar? Bukankah itu hanya akan memalukan saja? Pangeran yang kita anggap sebagai pengganti Kaisar kelak, ternyata adalah orang anak yang tega membunuh ayah sendiri! Dan Bouw Koksu ternyata seorang hamba yang pengkhianat dan tidak setia. Bagaimana kita dapat membiarkan berita busuk ini terdengar orang?”

“Akan tetapi besok pagi Pangeran An Kong akan mengumumkan bahwa dia menggantikan Sri baginda yang wafat menjadi Kaisar baru!” kata Coa-cian kun.

“Coa-ciangkun, haruskah kita biarkan saja hal itu terjadi? Bagaimana mungkin kita membela seorang kaisar yang tega membunuh ayah kandung sendiri? Kalau dia tega terhadap ayah kandung sendiri, apalagi terhadap kita orang-orang lain. Selama kita dapat dipergunakan, dia bersikap baik, akan tetapi setelah kita tidak dibutuhkan tentu kitapun akan dibunuh dengan kejam seperti yang dia lakukan terhadap ayahnya.”

Mendengar ucapan Sia Su Beng itu, semua panglima tertegun. Mereka melihat betapa masa depan mereka suram kalau pangeran An Kong dibiarkan menjadi kaisar. Apalagi diantara para panglima itu banyak yang berdarah Han. Kalau pendukung utama Pangeran An Kong adalah Bouw Koksu, tentu orang Khitan ini yang akan memegang peranan penting dan mereka semua hanya akan menjadi bawahannya saja.

”Kita tidak boleh membiarkan Pangeran durhaka itu menjadi kaisar!” akhirnya Coa-ciangkun berkata.

Semua panglima setuju.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Sia-ciangkun?”

“Kalau cu-wi ciang-kun percaya kepadaku, serahkan saja urusan ini kepadaku. Aku yang akan bertindak mencegah pangeran menjadi kaisar.”

“Tentu saja kami percaya kepadamu, Sia-ciangkun. Akan tetapi kalau pasukan pendukung pangeran menggunakan kekerasan?”

“Kita hadapi mereka. Kita harus mempersiapkan pasukan kita secara diam diam, membuat barisan mengepung istana, menjaga kalau mereka menggunakan kekerasan,” kata Siaciangkun dan semua orang setuju.

Demikianlah, Sia Su Beng dengan cerdik sekali telah berhasil membuat para panglima menentang pangeran dan Bouw Koksu, dan menunjuk dia sebagai panglima pimpinan.

0odwo0

“Ehh? Kenapa melamun dan terima saja memandang kearah perginya Sia ciangkun dengan pasukannya? Wah, kau agaknya kehilangan setelah ditinggalkan panglima yang gagah itu, ya?” Hui San menggoda.

Kui Lan membalik dan memandang pemuda itu dengan alis berkerut dan mata marah.
“Souw-twako, aku tahu engkau main-main, akan tetapi jangan keterlaluan kalau main-main. Engkau tahu sendiri betapa adikku Kui Bi saling mencinta dengan Sia-ciangkun, bagaimana engkau sekarang berani menggodaku seperti itu?”

“Maaf, seribu kali maaf, Lan-moi.. Aku….. aku hanya main-main. Habis, engkau nampak melamun seperti itu sih, tidak cepat-cepat kita mulai melakukan perjalanan kita yang amat jauh ke barat!”

Karena pemuda itu minta maaf dengan wajah yang sungguh-sungguh menyatakan penyesalannya, Kui Lan yang lembut hati sudah melupakan singgungan itu.

“Twako, aku tidak akan pergi ke barat.”

“Ehh ?” Wajah yang tadinya penuh senyum itu kini terbelalak dan melongo. “Apa maksudmu? Kenapa,. Lan-moi?”

Dalam sinar mata pemuda itu timbul sesuatu yang membuat hati Kui Lan mengkal lagi. Pandang mata cemburu!

“Kenapa kau tanya? Twako, bagaimana mungkin aku pergi dan membiarkan adikku sendirian saja kembali ke kota raja?”

“Aihh, bukankah kita semua sudah membagi tugas, Lanmoi? Dan adikmu tidak kembali kesana sendirian, melainkan bersama Sia-ciangkun yang dicintanya. Sia-ciangkun akan
melindunginya kukira engkau tidak perlu khawatir.”

“Bukan hanya karena adikku Kui Bi saja, twako. Juga kita tidak mungkin pergi ke barat dengan meninggalkan sesuatu yang teramat penting. Lupakah engkau bahwa Mestika Burung Hong Kemala masih berada di kebun rumah yang kini ditempati Bouw Koksu? Dan hanya kita berdua yang mengetahui tempat itu. Bagaimana mungkin kita berdua pergi meninggalkan pusaka itu disana? Tidak twako. Sebaiknya kita membagi tugas lagi. Engkau saja ke barat dan melapor kepada kakakku Cin Han dan kepada Sri baginda, sedangkan aku akan kembali ke kota raja. Kalau ada kesempatan, aku akan mengambil Mestika Burung Hong Kemala itu dan setelah aku mendapatkan pusaka itu, barulah aku akan menyusul ke barat. Apa artinya kita menghadap Sribaginda di barat kalau tanpa membawa pusaka itu?”

Hui San mengerutkan alisnya, wajahnya yang tampan kehilangan kecerahannya, kemudian dia mengangguk-angguk,

“engkau memang seorang gadis yang hebat, Lan-moi. Engkau cantik jelita,lembut, lihai dan juga cerdik bukan main. Aku salut! Mari kita kembali ke kota raja. Engkau benar sekali!”

“Kita? Maksudku, kita membagi tugas, engkau melanjutkan perjalanan ke barat dan aku kembali ke kota raja… “

“Tidak mungkin, Lan-moi. Aku membiarkan engkau kembali seorang diri ke kota raja? Aku belum sinting! Kemanapun engkau pergi, aku harus menemani, Lan-moi …. yaitu… kalau engkau suka tentu saja. Aku tidak ingin engkau terancam bahaya, hidupku tidak akan beres lagi kalau kita berpisah dan aku selalu mengkhawatirkan keselamatanmu.”

Kui Lan menatap wajah pemuda itu. Wajah yang tampan dan selalu nampak riang, dengan senyum yang sukar meninggalkan bibir itu, dan mata yang selalu memandang jenaka, wajah yang nampaknya tidak dapat susah, tidak dapat marah dan tidak dapat serius. Baru sekarang, atau semenjak hatinya melepaskan Sia Su Beng karena perwira itu mencinta dan dicinta adiknya, ia memperhatikan pemuda ini.

“Souw-twako, kita baru saja berkenalan, kenapa engkau begini memperhatikan aku?”

“Baru berkenalan? Aih, Lan-moi semenjak aku berpura-pura sinting menganggu dahulu itu, aku sudah mulai mengenalmu dengan baik, dan biarpun akhirnya kita belum berkenalan, namun dalam bathinku, engkau telah menjadi seorang sahabatku terbaik.”

“Tapi, kenapa engkau begini memperdulikan aku, mengkhawatirkan keselamatanku? Kita tidak mempunyai kaitan apapun, orang lain dan tidak ada hubungan apa-apa…”

“Lan-moi, bukankah kita sama-sama memperjuangkan bangkitnya kembali kerajaan Tang? Kita seperjuangan! Dan biarpun bagimu diantara kita tidak ada kaitan apapun, bagiku ada kaitannya yang erat sekali. Lan-moi, maafkan aku kalau aku berterus-terang kepadamu. Sejak aku melihatmu, aku…. aku tahu bahwa hidupku tidak ada artinya lagi tanpa adanya engkau di dekatku. Aku…… agaknya seperti inilah rasanya cinta seperti yang pernah kubaca dalam dongeng, yakni kalau boleh aku lancang mulut mengaku cinta padamu… ” dan Pemuda yang biasanya lincah jenaka dan pandai bicara itu, kini mendadak saja menjadi gagap gugup dan salah tingkah, bahkan tidak berani memandang langsung kepada gadis itu!

Melihat ini, Kui Lan tersenyum geli. Betapa mudahnya untuk menyukai pemuda ini, pikirnya. Memang tidak seperti Sia Su beng yang gagah dan berwibawa, juga memiliki kekuasaan. Akan tetapi Souw Hui San ini tidak kalah tampan walau nampak ugal-ugalan dan sederhana, dan juga ia merasa yakin bahwa dalam hal ilmu silat, pemuda murid Gobi-pai ini tidak kalah lihai dibandingkan Sia Su Beng. Akan tetapi baru saja ia seperti kehilangan Sia Su Beng, mengalah terhadap adiknya, bagaimana ia dapat begitu cepat membalas cinta seorang pemuda ini?

“Souw-twako, engkau seorang yang gagah dan baik sekali, bahkan telah berulangkali menolongku. Terima kasih atas perhatianmu kepadaku, akan tetapi, twako, dalam keadaan seperti sekarang ini, dimana tugas menanti kita bagaimana kita dapat bicara tentang perasaan hati pribadi kita? Maafkan kalau aku belum dapat menanggapi dan menjawab sekarang. Akan tetapi aku suka sekali bekerja sama denganmu twako dan kalau memang engkau menghedaki kita kembali bersama ke kota raja, demi adikku, demi pusaka itu, akupun akan merasa senang sekali.”

Wajah itu menjadi segar kembali, matanya berkilat dan bersinar-sinar, mulutnya dihiasi senjumnya yang gembira.

“Wah, apalagi yang kuinginkan? Kalau engkau tidak marah oleh ucapanku tadi, kalau engkau membiarkan aku menemanimu, hal itu sudah merupakan berkah yang membahagiakan hatiku, Lan-moi. Engkau benar, aku yang lancang mulut, belum tiba saatnya kita bicara tentang…. eh, itu …! Mari kita kembali ke kota raja!”

Akan tetapi tiba-tiba mereka menghentikan percakapan dan memandang arah barat. Telinga mereka menangkap derap kaki kuda yang datangnya dari arah barat. Tak lama
kemudian, jauh di depan, muncul dari balik tikungan, tampak dua orang penunggang kuda membalapkan kuda mereka. Debu mengepul tinggi ketika dua ekor kuda besar itu semakin mendekat

“Heiii.. Itu Han-koko !” kata Kui Lan.

“Benar, dan bukankah itu nona Can Kim Hong??” teriak pula Hui San. karena tadinya mereka sengaja bersembunyi kebalik pohon karena curiga dan belum tahu siapa yang datang, kini mereka keluar dan berteriak-teriak memanggil.

“Han-koko ! Heii, Han-koko..!!

“Nona Kim Hong .. .!”

Dua orang penunggang kuda yang tadinya sudah lewat itu, mendengar panggilan mereka dan menahan kuda yang sedang membalap. Kuda berhenti dengan mengangkat kedua kaki depan keatas sambil meringkik karena penunggangn menahan kendali. Mereka membalik dan melihat Kui Lan dan Hui San.

“Lan-moi…! Saudara Hui San…!!”

Cin Han berseru gembira melihat mereka berdua. Dia dan Kim Hong segera berlompatan turun dari atas kuda, menambatkan kuda di pohon dan mereka lalu disambut oleh Hui Lan dan Hui San dengan gembira sekali. Lalu keempatnya duduk di atas batu ditepi jalan itu

“Eh, kenapa kalian berdua berada disini? Dan mana Kui Bi? Apa saja yang terjadi di kota raja?” Cin Han bertanya.

Dihujani pertanyaan itu, Kui Lan tersenyum.
“Wah, banyak sekali yang terjadi disana, koko. Kini Bi-moi baru saja tadi ikut pasukan Sia-ciangkun kembali ke kota raja dan kamipun hendak kembali kesana. Kau tahu, Han-ko, Bi-moi telah berhasil membunuh An Lu Shan!”

“Ahhh …!!”

Kim Hong dan Cin Han berseru hamper berbareng karena mereka terkejut dan juga gembira mendengar berita itu.

“Bukan main adik kita itu! ia memang penuh keberanian. Ceritakan, bagaimana terjadinya, Lan-moi?” tanya Cin Han.

Kui Lan dan Hui San lalu menceritakan tentang semua yang terjadi, betapa Kui Bi berhasil menyusup sebagai dayang, kemudian ia malah dipergunakan oleh Pangeran An Kong dan Bouw Koksu untuk meracuni An Lu Shan. Kemudian mereka menceritakan betapa mereka semua dapat diselundupkan keluar dari kota raja dengan menyamar sebagai perajurit-perajurit dalam pasukan Sia Su Beng.

“Ah, bagus sekali kalau begitu! dan sekarang, dimana Bimoi? Aku ingin memberi selamat atas keberhasilannya!” kata Cin Han gembira dan bangga bahwa adiknya berhasil membunuh An Lu Shan, hal ini merupakan suatu jasa yang amat besar.

“Setelah pasukan yang dipimpin Sia Su Beng sampai disini dan kami di anjurkan pergi ke barat, Bi-moi tidak mau ikut dengan kami dan memaksa ikut Sia Su Beng kembali ke kota raja. Kau tahu, koko, adik kita itu tidak dapat berpisah dari Sia Su Beng, mereka saling mencinta.”

Cin Han mengangguk-angguk. Dia tidak merasa heran. Sia Su Beng adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah juga seorang pendekar dan seorang pejuang yang setia kepada Kerajaan Tang. Sudah sepatutnya kalau pemuda seperti itu mendapatkan kasih sayang Kui Bi.

“Dan kalian hendak melakukan jalan ke barat?’” tanyanya sambil memandang kepada Hui San.

Kui Lan memandang kepada Hui San dan pemuda ini yang menjawab sambil tersenyum.

“Tadinya memang kami akan menyusul ke barat, akan tetapi kami berdua mengambil keputusan untuk kembali saja ke kota raja setelah keadaan aman. Pertama, adik Kui Lan tidak tega meninggalkan adiknya di kota raja yang masih berbahaya, dan ke dua, kami juga tidak mungkin dapat meninggalkan Mestika Burung Hong Kemala yang kami sembunyikan itu. Kami harus mengambilnya dulu dan mengeluarkannya dari kota raja.”

“Kalau begitu, bagus sekali. Kami juga hendak ke kota raja. Kita haus membantu Sia-ciangkun dan juga adik Kui Bi,” kata Cin Han.

“Koko, bagaimana sih engkau dan enci Kim Hong dapat cepat kembali kesini? Bagaimana keadaan di barat sana?” tanya Kui Lan dan kini giliran Cin Han dan Kim Hong yang menceritakan pengalaman mereka.

“Disana juga telah terjadi banyak hal, dan yang terpenting adalah bahwa sekarang Sri baginda Hsuan Tsung telah menyerahkan mahkota kepada Pangeran Mahkota, sehingga yang menjadi kaisar adalah Kaisar Su Tsung. Kami telah menghadap kaisar dan bertemu dengan Panglima Kok Cu It. Kami melaporkan semua yang telah terjadi di kota raja Biarpun Panglima Kok Cu It juga sudah banyak mendengar laporan dari para mata-mata yang dikirim kesana, namun laporan kami banyak gunanya, terutama tentang usaha Bi-moi menyusup ke istana untuk membunuh An Lu Shan. Kaisar dan panglima Kok menghargai sekali bantuan kita.”

“Bagaimana dengan kekuatan pasukan kerajaan Tang di barat?” tanya Hu San.

“Baik sekali, Panglima Kok Cu It dan Kaisar telah berhasil menghimpun kekuatan disana. Dengan memperlihatkan Mestika Burung Hong Kemala, yang kita ketahui adalah palsu akan tetap tidak diketahui oleh para kepala suku di barat, mereka berhasil mendapatkan bantuan rakyat berbagai suku. Baik pribumi Han sendiri, maupun suku-suku lain, dibantu pula oleh bangsa Turki bahkan ada pasukan yang dikirim oleh kepala bangsa itu, yaitu Caliph yang mengirimkan sepasukan bangsa Arab untuk membantu gerakan pasukan Kerajaan Tang yang hendak merebut kembali tahta kerajaan yang telah dirampas An Lu Shan.”

“Ah, bagus sekali kalau begitu, kapan mereka bergerak” tanya Hui San.

“Mereka sudah siap bergerak, karena itu kami diperintahkan untuk mendahului dan mempersiapkan bantuan bersama Sia-ciangkun”

“Enci Hong, bagaimana dengan usahamu mencari ayah kandungmu? Apakah berhasil?” tanya Kui Lan.

Kim Hong tersenyum manis dan mengerling kepada Cin Han.
“Berkat bantuan kakakmu, aku berhasil bertemu dengan ayah kandungku yang asli. ayahku memang bernama Can Bu dan sampai kini ia masih seorang perwira kepercayaan Panglima Kok Cu It.”

“Wah, ayahnya seorang perwira yang gagah perkasa, sama sekali tidak seperti Ciang Kui yang mengaku-aku ayahnya itu!” kata Cin Han tertawa. “Ayahnya seorang perwira yang lihai, juga setia kepada kerajaan. Aku ikut merasa bangga dan kagum bertemu dan berkenalan dengan ayahnya”

“Maksumu dengan calon ayah mertuamu, koko?” Kui Lan menggoda.

“Ihhh, Kui Lan!”

Kim Ho mendengus dan mukanya berubah kemerahan. Cin Han hanya tersenyum dan mengeling ke arah Hui San. Biarpun dia belum jelas, namun dia dapat menduga bahwa adiknya inipun agaknya akrab dengan pendekar muda Gobi-pai ini. Namun, dia tahu bahwa watak Kui Lan halus dan pendiam, tidak seperti Kui Bi, maka tidak baik menggoda adiknya yang satu ini.

“Sudahlah, sekarang kita berempat ke kota raja, akan tetapi harus diatur bagaimana baiknya karena setelah terjadi peristiwa pembunuhan An Lu Shan, tentu geger disana dan kota raja tentu dijaga ketat,” kata Cin Han.

“Memang sebaiknya kita berhati hati,” kata Hui San. “Kita bersembunyi di luar kota raja saja dan mencoba untuk menghubungi Sia-ciangkun. Hanya dia yang akan dapat mengatur apa yang harus kita lakukan untuk membantunya di kota raja.”

“Benar, tanpa petunjuk Sia-ciangkun, sukar bagi kita untuk memasuki kotaraja,” kata Kui Lan.

Demikianlah, empat orang muda iitu lalu menunggang kuda mereka, menuju kota raja. Akan tetapi mereka tidak langsung memasuki kota raja yang terjaga ketat seperti yang mereka sangka, melainkan berhenti di dusun yang berada sekitar duapuluh li dari kota raja.

0odwo0

Laki-laki petani berusia Limapuluhan tahun itu tidak diganggu oleh para penjaga di pintu gerbang ketika dia memasuki pintu gerbang sambil memikul dagangannya, yaitu sepikul buah apel yang besar-besar dan menyiarkan bau harum. Para penjaga itu hanya memungut beberapa butir buah apel sambil tertawa-tawa.

Petani itu tidak perduli. Dia sudah biasa membawa barang dagangan buah-buahan atau sayuran ke dalam kota dan sudah biasa pula kalau ada anggauta penjaga yang mengambil beberapa butir buah atau beberapa ikat sayuran. Akan tetapi dia tidak diganggu dan pada pagi hari ini, hal itu amatlah di harapkan.

Tidak seperti biasanya, sekali ini diam-diam jantungnya berdebar keras karena tegangnya. Pagi ini si petani tidak seperti biasanya menjual buah-buahan, melainkan membawa tugas yang amat penting, tugas rahasia yang kalau sampai ketahuan penjaga di pintu gerbang kota raja, pasti akan mengakibatkan dia dihukum siksa sampai mati!

Dia adalah seorang petani dusun di luar kota raja yang biasa berjualan sayur dan buah ke kota, akan tetapi biarpun dia hanya seorang petani biasa, namun dalam hatinya dia setia kepada Kerajaan Tang. Hal ini diketahui oleh Cin Han, Hui San, Kui Lan dan Kim Hong setelah empat orang muda ini tinggal agak lama beberapa hari di dusun itu.

Setelah yakin bahwa A-cauw, petani itu, dapat dipercaya dan setia kepada Kerajan Tang, Cin Han lalu menitipkan sepucuk surat kepada A-cauw dengan pesan agar surat itu dapat disampaikan kepada Panglima Sia Su Beng. Dia harus mengunjungi benteng dan minta bertemu dengan panglima itu, dengan alasan bahwa dia mempunyai laporan penting yang harus disampaikan kepada panglima itu sendiri, mengenai keamanan kota raja, dan setelah berhadapan, menyerahkan surat titipan Cin Han itu.

Biarpun beberapa kali ada orang hendak membeli buah-buahan yang berada dalam keranjang pikulannya, A-cauw tidak menjualnya. Dengan pikulan keranjang penuh buah, tidak akan ada yang mencurigainya walaupun dia berjalan sampai ke depan benteng yang dimaksudkan. Dia sengaja menghampiri penjaga gardu depan pintu benteng dan menurunkan pikulannya.

“Heii, penjual buah! Jangan menawarkan buah-buahanmu disini, dan jangan berhenti disini. Di larang!”‘ kata seorang penjaga kepadanya.

A-cauw mengipasi tubuhnya yang berkeringat dengan capingnya yang lebar dan diapun berkata dengan sikap takut-takut akan tetapi hormat,

“Saya mohon menghadap Panglima Sia Su Beng. Harap suka memperkenankan saya menghadap beliau . “

Para penjaga memandangnya dengan alis berkerut.
“Hemm, engkau ini petani penjual buah, mau minta bertemu dengan Panglima Sia? Apakah hendak menghadiahkan dua keranjang buah itu? Jangan macam-macam engkau, atau kau akan ditangkap!”

“Saya tidak berniat jahat, saya mohon menghadap karena saya ingin melaporkan sesuatu yang teramat penting dan yang boleh didengar hanya oleh beliau sendiri.”

“Hemm, jangan mengigau kau! Seorang petani seperti engkau ini bagaimana dapat menghadap Panglima? Kalau ada urusan, laporkan saja kepada kami dan kami yang akan meneruskan kepada beliau. Jangan kurang ajar kau!”

Dibantah seperti itu, A-cauw tidak menjadi gugup karena sebelumnya dia sudah diperingatkan Cin Han kalau kalau dibentak seperti itu.

“Harap saudara sekalian ketahui bahwa dahulu, Panglima Sia Su Beng adalah langganan saya, sering membeli sayur dan buah-buahan dari saya. Saya mengenal baik beliau dan apa yang akan saya sampaikan ini mengenai urusan keamanan di kota raja. Kalau kalian tidak mau menghadapkan saya kepada beliau dan kelak beliau mengetahui, tentu kalian akan mendapat kesalahan besar sekali.”

Digertak malah berbalik menggertak! Tentu saja kalau tidak mendapat pelajaran dari Cin Han, seorang petani seperti Acauw mana berani menggertak para perajurit penjaga?

Mendengar ucapan itu, para perajurit saling pandang dan merasa gentar juga. Mereka semua tahu betapa kerasnya Panglima Sia Su Beng terhadap ketertiban, dan panglima itu memang selalu menghargai rakyat jelata, tidak pernah congkak seperti para panglima lainnya. Oleh karena itu, dengan kasar mereka minta A-cauw menanti sebentar.

Setelah ada yang melapor, A-cauw diperkenankan masuk. Petani itu dengan berterima kasih berkata,

“Terima kasih atas kebaikan kalian dan untuk membalas kebaikan itu, silakan kalau ada yang mau mencicipi buah apel saya. Dihabiskan boleh!”

Dia meninggalkan keranjangnya dan tanpa diminta untuk ke dua kalinya, para penjaga yang sedang keisengan itu lalu menyerbu dua keranjang apel. Kawan-kawan mereka yang berada di dalam ikut-ikutan keluar dan sebentar saja isi dua keranjang sudah habis!

Panglima Sia Su Beng merasa heran bukan main menerima laporan bahwa ada seorang petani penjual apel bernama A-cauw yang mohon menghadap. Akan tetapi karena dia memang mempunyai hubungan dengan para pejuang, para pendukung kerajaan Tang dan menduga bahwa yang dating tentulah seorang kurir dari para pejuang yang berada di luar kota raja, maka dia bersikap biasa saja.

“Suruh dia masuk kesini.”

Ketika A-cauw memasuki ruang tertutup itu, A-cauw berkata lirih sekali, setelah melihat disitu tidak ada orang lain kecuali Panglima Sia SU Beng yang dikenalnya dari penggambaran Cin Han kepadanya.

“Saya datang disuruh Yang-kongcu.”

Sia Su Beng terkejut, melihat kesekeliling, lalu memberi isyarat kepada A-cauw untuk memasuki sebuah kamar samping dimana mereka dapat bicara dengan lebih bebas dan tidak khawatir di ketahui orang lain.

A-cauw menyerahkan surat dari Cin Han yang disimpan dengan hati-hati di balik bajunya, Sia Su Beng membaca surat yang tidak ditandatangi itu. Hanya ditulis bahwa Han, Lan, San, dan Hong ingin dijemput. Hanya itu. Andai kata surat itu terjatuh ke tangan orang lainpun, tentu tidak akan tahu maksudnya karena tanpa tanda tangan juga tidak ditujukan kepada siapapun

“Dimana mereka?” tanya Sia Su Beng.

“Di dusun sebelah timur kota ciangkun. Duapuluh li dari sini.”

“Baik, katakan aku akan segera datang.” Ketika A-cauw hendak keluar, Sia Su Beng menahannya. “Kalau ada yang tanya, katakan saja bahwa engkau melapor adanya gerombolan mencurigakan di sebelah selatan kota.”

A-cauw mengangguk, kemudian keluar. Dia disambut seorang petugas jaga di luar dan penjaga ini mengantarkannya kembali ke pintu gerbang benteng.

“Heii, A-cauw, buah-buahan dalam keranjang itu telah habis kami makan!” kata kepala jaga.

“Tidak apa, ciangkun. Memang itu untuk kalian. Terima kasih, saya hendak pulang.”

“A-cauw, apa sih yang kau laporkan kepada komandan kami? Nampaknya rahasia benar!”

“Ahh, sebetulnya bukan rahasia, hanya aku takut kepada gerombolan itu. Aku melihat gerakan mencurigakan dari segerombolan orang di selatan kota raja. Karena aku tahu bahwa langgananku Sia-ciangkun adalah seorang panglima, maka aku melaporkan hal Itu kepadanya. Aku takut kalau gerombolan tahu aku melaporkan, aku akan dibunuh. Sudah, aku ingin cepat pulang. Aku sudah mendapat hadiah dari Sia-ciangkun,” katanya dan diapun memikul keranjang kosongnya meninggalkan tempat itu.

Tak lama kemudian, para penjaga pintu gerbang benteng melihat Sia-ciangkun memimpin kurang lebih limapuluh orang perajuritnya berserabutan naik kuda keluar dari benteng.

Tanpa diberi tahu sekalipun, para penjaga itu dapat menduga bahwa ini tentu ada hubungannya dengan laporan A-cauw tadi dan agaknya sang panglima hendak memimpin sendiri pasukannya untuk menumpas gerombolan. Di pintu gerbang kota rajapun, para penjaga memberi hormat kepada Sia Su Beng yang bersama pasukannya keluar dari pintu gerbang.

Kurang lebih limapuluh orang perajurit itu berkuda secara tidak teratur, bukan merupakan barisan rapi. Agaknya mereka tergesa-gesa dan tidak membentuk barisan sehingga sukarlah andaikata ada yang hendak menghitung berapa jumlah regu perajurit itu.

Sia Su Beng sengaja keluar dari pintu gerbang selatan, akan tetapi setelah regunya meninggalkan pintu gerbang sejauh beberapa li, dia membelokkan pasukannya ke kanan, ke arah timur kota raja! Setelah tiba di luar dusun, empat orang muda itu sudah menghadang di tempat sepi.

Sia Su Beng bersama seorang perajurit yang bertubuh kecil ramping melompat turun dari atas kuda dan menghampiri mereka. Kui Bi yang berpakaian perajurit itu langsung
merangkul kedua orang kakaknya bergantian saking girangnya dapat bertemu kembali.

“Bi-moi, kau hebat!” kata Cin Han gembira. Kemudian kepada Sia Su Beng dia berkata, “Ciangkun, terima kasih atas segala kebaikanmu terhadap kedua adikku, terutama kepada Bi-moi.”

Pasukan itu adalah orang-orang kepercayaan Sia Su Beng, dan mereka semua adalah orang-orang yang setia kepada kerajaan Tang. Mereka semua mengetahui tentang rahasia Sia Su Beng, tahu siapa empat orang muda itu, maka mereka sengaja menjauhkan diri, membiarkan pimpinan mereka bicara dengan para muda yang dijemput itu.

Sia Su Beng mengeluarkan empat perangkat pakaian perajurit untuk dipakai oleh Cin Han, Kui Lan, Hui San dan Kim Hong. Satu-satunya cara menyelundupkan mereka ke kota raja hanyalah dengan menyamar sebagai perajurit dan membaur dengan pasukannya. Dan satu-satunya tempat aman bagi mereka untuk tinggal di kota raja adalah di dalam benteng pasukannya pula.

Ji-wan-gwe sudah menutup rumahnya karena dia selalu diawasi oleh anak buah Bouw
Koksu yang mencurigainya namun tidak menangkapnya karena tidak terdapat bukti.

“Sebaiknya kita cepat kembali ke kota raja, disana kita dapat bicara lebih leluasa. Disini tidak enak kalau sampai terlihat orang lain,” kata Sia-ciangkun.

Mereka berempat segera mengenakan pakaian perajurit diluar pakaian yang menutupi tubuh mereka, kemudian sebagai anggauta pasukan merekapun menunggang kuda mereka, sengaja mereka membaur di tengah dan pasukan itu kembali ke kota raja melalui pintu gerbang selatan dengan mengambil jalan memutar

Jauh lewat tenga hari mereka tiba kota raja dan Sia Su Beng sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyebar berita bahwa mereka tidak berhasil menangkap gerombolan pengacau karena mereka telah melarikan diri.

Mereka memasuki benteng dan tak lama kemudian Sia Su Beng sudah mengadakan pembicaraan dengan Cin Han, Hui San, Kim Hong, Kui Lan dan Kui Bi di dalam ruangan tertutup yang merupakan ruangan rahasia dimana mereka boleh bicara sebebasnya tanpa khawatir diketahui orang lain karena tempat itu dijaga oleh para perajurit yang setia.

Empat orang muda itu menceritakan pengalaman mereka masing-masing yang didengarkan penuh perhatian oleh Sia Su Beng dan Kui Bi. Ketika mendegar penjelasan Cin Han bahwa Kaisar Beng Ong telah menyerahkan mahkota kepada pangeran mahkota yang kini menjadi Kaisar Su Tsung, Sia Su Beng berkata,

“Hemm, kenapa Sri baginda begitu tergesa-gesa menyerahkan mahkota kepada Pangeran? Kenapa tidak menanti sampai beliau kembali kesini?”

“Menurut keterangan Panglima Ko Cu It, Sri baginda Beng Ong merasa amat terpukul dan selalu berduka, merasa sudah tua dan kehilangan semangat untuk memimpin pasukan merampas kembali tahta kerajaan. Beliau sudah berusia tujuhpuluh tahun lebih, karena itu beliau menyerahkan tahta kerajaan kepada Pangeran dan hal ini didukung pula oleh Panglima Kok Cu It,” kata Cin Han

“Perubahan apakah yang telah terjadi disini setelah An Lu Shan tewas?” tanya Cin Han sambil memandang kepada Kui Bi dengan kagum dan bangga seolah pertanyaan itu diajukan kepada adiknya.

Akan tetapi Kui Bi memandang kepada Sia Su Beng, menyerahkan jawabannya kepada panglima itu.

“Banyak sekali perubahannya. Kini para panglima sudah sepakat untuk menolak kalau Pangeran An Kong hendak mengangkat dirinya menjadi kaisar menggantikan ayahnya
yang tewas. Semua panglima menyetujui pendapatku bahwa seorang pangeran yang telah membunuh ayahnya sendiri tidak pantas menjadi kaisar. Tentu saja hal ini hanya
kujadikan alasan agar dia tidak naik tahta, agar disini kehilangan pimpinan dan aku yang berkuasa disini, mempersiapkan kembalinya Kerajaan Tang.”

“Bagus sekali kalau begitu! Panglima Kok Cu It juga sudah memperhitungkan siasat ini dan mengharapkan bantuanmu, Sia-ciangkun,” kata Cin Han.

“Akan tetapi, agaknya Pangeran An Kong hendak nekat. Dengan mendapat dukungan Bouw Koksu, dia sudah menentukan harinya, yaitu tiga hari lagi setelah seratus hari wafat ayahnya, dia hendak mengangkat diri menjadi kaisar atas nasihat dari Koksu.’”

“Apakah pengangkatan macam itu dapat dianggap sah?” tanya Cin Han.

“Kalau Bouw Koksu masih dianggap sebagai Penasihat atau Guru Negara secara sah, tentu saja pengangkatan dapat disahkan, akan tetapi kami para panglima sudah siap untuk menolak. Bahkan para panglima sudah menyerahkan padaku untuk menjadi pemimpin dan wakil pembicara mereka.”

‘Kenapa tidak pergi membunuh saja Bouw Koksu? Aku sanggup melaksanakan tugas itu. Dia amat jahat, apalagi mengingat apa yang dia lakukan terhadap pamanku Souw Lok dan terhadap nona Kim Hong.”

“Benar apa yang dikatakan Souw twako itu,” kata Kim Hong. “Aku sanggup melaksanakan tugas membunuh Bouw Ki kalau hal itu ada manfaatnya bagi perjuangan.”

“Usaha itu memang baik, akan tetapi tidak boleh sembrono. Bouw Koksu adalah seorang yang cerdik dan tentu dia tahu bahwa dirinya mempunyai banyak musuh, maka tentu dia sudah memelihara pengawal-pengawal tangguh, disamping dia sendiri juga lihai. Kalau memang akan diambil tindakan itu, biarlah kita beramai yang pergi, akan tetapi juga menanti saat yang baik. Setidaknya kita harus mencari kesempatan. Tidak boleh tergesa-gesa.”

“Benar apa yang dikatakan oleh Yang-kongcu itu,” kata Sia Su Beng sambil mengangguk-angguk. “Juga tidak boleh dilakukan sebelum ada pengumuman pengangkatan diri An Kong sebagai kaisar, karena kalau didahului, tentu keadaan akan berubah dan siapa tahu para panglima berbalik dan berpihak Kepada An Kong untuk mencari kedudukan tinggi.”

“Sebaiknya kita berempat menyamar, aku, enci Hong, Han-koko dan Souw twako mengintai keadaan di rumah Bouw Koksu mencari kesempatan sambil menanti sampai selesai dan lewatnya urusan dalam istana,” kata Kui Lan.

“Bagaimana dengan Kui Bi?” tanya Kim Hong. “Bukankah dengan berlima, kita menjadi lebih kuat?”‘

Pertanyaan Kim Hong ini hanya untuk menghilangkan perasaan tidak enak seolah Kui Bi seorang yang ditinggalkan, tidak diajak.

“Tidak, Bi-moi sudah terlalu lama disini, oleh orang luar, kecuali oleh anggauta pasukan yang setia kepadaku, ia sudah dianggap sebagai seorang perajurit pengawalku. Kalau ia muncul di luar akan menimbulkan kecurigaan, apalagi kalau tidak kelihatan bersama ku.”

“Benar, sebaiknya kalau adikku ini tinggal disini saja, membantu Sia ciangkun. Pula, jasanya sudah terlalu besar karena keberaniannya menyusup ke istana dan membunuh An Lu Shan.”

“Aih, Han-ko jangan terlalu memuji dan mengulang-ulang hal itu. Aku sendiri masih merasa malu membunuhnya tidak dengan tangan dan pedang, melainkan dengan racun dan sebagai kaki tangan Bouw Koksu,” kata Kui Bi.

“Selain itu, Yang-kongcu, dalam kesempatan ini, disaksikan pula oleh rekan seperjuangan, Bi-moi dan aku hendak membuat pengakuan yaitu bahwa kami berdua telah bersepakat untuk menjadi suami isteri dan dengan resmi, aku mohon persetujuan Yang-kongcu dan juga Nona Yang Kui Lan sebagai saudara-saudara tuanya.”

Sikap Sia Su Beng sungguh gagah dan jujur ketika mengucapkan kata-kata itu. Bahkan Kui Bi sendiri yang biasanya bersikap terbuka dan keras, merasa tersipu dan kedua pipinya kemerahan mendengar lamaran yang dilakukan secara terbuka itu. Hui San yang juga memiliki watak ugal-ugalan dan terbuka, tertawa gembira dan dia segera berkata,

“Bagus, bagus! Dan sebelumnya aku mengucapkan kiong-hi (selamat) kepada calon sepasang mempelai yang berbahagia!”

Ucapan ini membuat Kui Bi menjadi semakin tersipu.
“Aih, Souw-twako. Pihak yang dilamar saja belum memberi jawaban, engkau sudah tergesa-gesa memberi selamat!”

Kui Lan mencela sambil tersenyum melihat ulah pria yang diam-diam semakin menarik hatinya itu.

“Jawaban apalagi yang dapat kami berikan kecuali menerima pinangan itu dengan hati dan tangan terbuka!” kata Cin Han tersenyum. “Aku dan adik Kui Lan sudah tahu akan hubungan antara Bi-mol dan Sia-ciangkun, dan Kami tentu saja merasa bersukur dan setuju sepenuhnya. Kami berdua mewakili mendiang orang tua kami menerima pinangan Siaciangkun dan biarlah ciangkun yang menentukan hari dilangsungkannya pernikahan antara kalian.”

“Ah, aku tidak akan mau melangsungkan pernikahan sebelum Han-Koko dan Lan-cici menikah lebih dulu atau setidaknya berbareng dengan aku, tentu saja kalau Lan-cici sudah mempunyai calon. Kalau Han-koko, aku tahu telah mempunyai calon, yaitu enci Kim Hong”

Mendengar ini, semua orang tersenyum dan Hui San segera berkata dengan lantang,
“Kalau aku tidak dianggap terlalu lancang dan terlalu rendah, aku mengajukan diri sebagai calon, untuk mendampingi adik Kui Lan dalam menempuh kehidupan ini. Aku cinta padanya dan kalau ia sudi menerima, aku siap untuk meminangnya.”

Kembali semua orang, kecuali Kui Lan, tersenyum mendengar pengakuan yang jujur ini. Mereka merasa berada antara dunia orang-orang gagah yang tidak membutuhkan lagi kepura-puraan.

“Bagaimana, Lan-moi? Jawablah, agar kita semua merasa lega dan yakin. Kalau benar engkau dapat menerima cinta kasih saudara Souw Hui San, biarlah kita semua, ke tiga
pasangan melangsungkan pernikahan disini setelah semua urusan kenegaraan ini beres dengan berhasil baik.”

Kui Lan adalah seorang wanita yang halus perasaannya, tidak seperti Kui Bi dan Kim Hong yang menghadapi pembicaraan terang-terangan tentang perjodohan mereka itu dengan tenang saja, bahkan dapat tersenyum gembira dan geli. Kui Lan tersipu dan tanpa berani mengangkat mukanya ia menjawab kakaknya.

“Ah, urusan itu bagaimana nanti sajalah kalau sudah tiba saatnya. Bukankah kita semua mempunyai tugas lain yang teramat penting dan belum dilaksanakan?”

Mereka semua segera mengatur Siasat dan membuat persiapan untuk menyamar dan melakukan penyelidikan dilingkungan rumah Bouw Koksu. Adapun Sia Beng juga membuat persiapan dengan semua panglima yang mendukungnya, mengatur siasat apa yang akan mereka lakukan nanti kalau Pangeran An Kong dan Bouw Koksu hendak melaksanakan pengangkatan pangeran itu menjadi kaisar baru.

0odwo0

Istana berada dalam suasana meriah akan tetapi juga menegangkan. Semua orang mengetahui belaka bahwa akan terjadi hal-hal yang menegangkan, karena hari itu akan ada pengumuman dari Bouw Koksu tentang pengangkatan Pangeran An Kong menjadi kaisar, menggantikan An Lu Shan yang tewas keracunan.

Setelah lewat seratus hari kematian kaisar, barulah Bouw Koksu berani mengundang semua menteri dan panglima untuk berkumpul di ruang balairung, tempat yang biasa dipergunakan kaisar untuk persidangan. Sejak pagi, berdatanganlah para pembesar tinggi, para menteri dan panglima, dengan pakaian lengkap sehingga nampak suasana yang megah karena pakaian lengkap para pembesar itu berkilauan dan gemerlapan.

Bouw-ciangkun secara sengaja dan angkuh, datang bersama para perwiranya, semua nampak gagah dan berwibawa, seolah dia merasa bahwa diantara semua panglima, dialah yang paling berkuasa. Hal ini juga tidak mengherankan karena dia merasa bahwa ayahnya adalah Guru Negara dan bahwa ayahnya dan dia merupakan orang-orang paling dekat dengan Pangeran An Kong, calon kaisar! Kedudukan tertinggi di dalam pemerintahan jelas akan terjatuh ke tangan ayahnya, dan pangkat panglima tertinggi sudah pasti akan jatuh ke padanya!

Sia Su Beng dan para panglima yang menjadi sekutunya nampak tenang-tenang saja dan merekapun tidak bergerombol, melainkan berdiri di tempat masing-masing seperti biasa sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa mereka telah bersekutu. Akan tetapi diam-diam Sia Su Beng telah memerintahkan pasukannya untuk mengadakan pengepungan baik di istana maupun di markas pasukan Bouwciangkun dan pasukan yang jadi kaki tangan Pangeran An Kong dan Bouw Koksu.

Semua telah dipersiapkan jauh hari. sebelumnya dan karena jumlah pasukan Sia Su Beng digabung dengan para panglima lain merupakan lebih tiga perempat jumlah seluruh pasukan, maka dengan sendirinya kekuatan pasukan mereka yang menentang pengangkatan pangeran menjadi kaisar ini amat besar kuat.

Agaknya Bouw Koksu juga sudah membuat persiapan, tidak menduga sama sekali bahwa para panglima sudah bersekutu dan mempersiapkan pasukan, menghimpun semua anak buahnya untuk siap siaga di istana, karena dia memperhitungkan bahwa kalau ada menteri dan panglima yang menentang pengangkatan pangeran menjadi kaisar, dia akan memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penangkapan seketika itu juga. Dia mengerahkan semua tenaga sehingga rumahnya menjadi kosong, tidak ada perajurit menjaga rumah itu karena memang dianggap tidak perlu dijaga.

Keadaan ini justeru membuat empat orang muda yang setiap hari sudah melakukan pengintaian itu menjadi girang bukan main. Dengan amat mudah Kui Lan yang mengenal seluruh keadaan rumah bekas tempat tinggalnya sejak ia masih kecil menjadi penunjuk jalan dan mereka berempat akhirnya berhasil memasuki taman di belakang gedung itu.

Tidak nampak seorangpun penjaga sehingga dengan mudahnya mereka melaksanakan pekerjaan mereka. Souw Hui San dan Yang Kui Lan berdua yang melakukan penggalian di bawah pohon itu, sedangkan Yang Cin Han dan Can Kim Hong melakukan penjagaan kalau-kalau ada orang lain yang melihat perbuatan mereka.

Karena dia sendiri yang menyimpan kotak kecil berisi Mestika Burung Hong Kemala itu, dengan mudah dan sebentar saja Hui San telah dapat menggali dan menemukan kembali pusaka itu. Dia memang sudah mempersiapkan sebelumnya, maka kotak itu lalu dibungkus kain kuning dan diikatkan pada tubuhnya di sebelah dalam baju, sehingga tidak nampak dari luar, hanya agak menonjol di bagian perutnya.

Sementara itu, di istana suasana menjadi semakin tegang ketika Pangeran An Kong memasuki ruangan balairung diikuti Bouw Koksu dan beberapa orang panglima pendukungnya.

Pangeran itu mengenakan pakaian yang amat mewah gemerlapan, sedangkan Bouw Koksu berjalan dengan langkah tegap dan di depannya berjalan seorang pejabat tinggi tua kurus, yaitu pejabat yang tugasnya menyimpan pakaian kebesaran kaisar. Pembesar ini membawa sebuah peti yang mudah diduga isinya, yaitu pakaian kebesaran dan mahkota kaisar!

Semua orang memberi hormat selayaknya kepada Pangeran An Kong, dan dengan sikap angkuh sang pangeran mempersilakan semua orang berdiri, sedangkan dia sendiri duduk di atas kursi gading. Kemudian dia menoleh dan mengangguk kepada Bouw Koksu yang membuka gulungan surat pengumunan dari kain sutera kuning, lalu membacanya dengan suara lantang.

“Mengingat betapa akan lemahnya sebuah pemerintah tanpa kaisar, dan mengingat pula bahwa Sri baginda Kaisar An Lu Shan telah wafat seratus hari yang lalu, maka kami, Bou Hun, sebagai Koksu yang telah diberi wewenang oleh mendiang kaisar, menimbang bahwa tidak ada yang lebih tepat untuk diangkat menjadi Kaisar baru kecuali Pangeran An Kong. Oleh karena itu, hari ini diumumkan oleh kami, disetujui pula oleh Pangeran Mahkota An Kong dan para panglima, bahwa Pangeran An Kong dinobatkan menjadi Kaisar yang baru, menggantikan mendiang Kaisar yang wafat, dengan julukan Kaisar Su Tsung. Tertanda kami, Bouw Hun, Koksu dan para panglima yang namanya tersebut di bawah ini!” Koksu lalu membacakan nama semua panglima yang hadir.

“Tidak benar dan kami tidak setuju!” terdengar suara lantang yang mengejutkan Pangeran An Kong, Bouw Koksu dan kaki tangan mereka.

Semua orang menengok dan memandang kepada Panglima Sia Su Beng yang berdiri
dengan tegap dan gagah, matanya mencorong memandang kepada Bouw Koksu.

”Sia-ciangkun, engkau berani membantah keputusan yang telah disetuju Pangeran Mahkota dan para panglima?”

“Kami berani membantah karena beberapa hal bertentangan dengan kenyataan. Keterangan Bouw Koksu banyak yang palsu.”

“Apa? Berani engkau menuduhku sekeji itu? Katakan, mana yang palsu dan mana yang bertentangan dengan kenyataan? Katakan!” Bouw Koksu membentak.

“Dalam pengumuman tadi, Bouw Koksu mengatakan bahwa para panglima yang namanya disebutkan semua telah menyetujui pengangkatan kaisar itu. Pernyataan ini adalah bohong karena sebagian besar panglima, termasuk saya sendiri tidak menyetujui. Para rekan panglima yang tidak setuju, harap berani mengangkat tangan!”

Ucapan Sia Su Beng ini disambut para panglima yang mengangkat tangan kanan mereka. Wajah Bouw Koksu dan wajah Pangeran An Kong berubah agak pucat, lalu wajah Bouw Koksu menjadi merah karena marah. Matanya melotot memandang kepada Sia Su Beng.

“Sia-ciangkun! Apa artinya ini ? Engkau menggerakkan para panglima untuk menentang pengangkatan Pangeran Mahkota menjadi kaisar? Apakah ini berarti bahwa engkau hendak memberontak?”

“Sia-ciangkun, benarkah engkau hendak memberontak terhadap kami!” Pangeran An Kong juga berseru untuk menaikkan wibawanya.

Sia Su Beng tersenyum.
“Maafkan hamba, Pangeran. Dan dengarlah engkau Bouw Koksu. Kami sama sekali tidak hendak memberontak, juga tidak hendak menentang Pangeran dinobatkan menjadi kaisar. Kami hanya ingin menunda pengangkatan atau penobatan itu, karena ada suatu hal yang membuat kami merasa penasaran. Seperti kita semua mengetahui mendiang Sri baginda Kaisar tewas karena keracunan makanan. Jelas bahwa di dalam masakan beliau, ada orang menaruhkan racun. Dan kami telah mendapat keterangan bahwa dalam hal kejahatan meracuni Sri baginda. Kaisar itu, ada dua orang dalam terdekat Sri baginda Kaisar yang terlibat!”

Berkata demikian, Sia-ciangkun menatap wajah Pangeran dan Bouw Koksu yang nampak kaget dan mereka saling pandang. Jelas bahwa Pangeran menjadi pucat sekali
wajahnya, dan Bouw Koksu nampak tertegun dan memandang seperti orang tidak percaya Bouw-ciangkun juga berdiri gelisah, jelas nampak dari gerakan kedua kakinya yang tidak mau diam, seolah-olah dia sudah siap untuk lari.

“Sia-ciangkun, apa yang kau katakan ini? Kami juga sudah melakukan penyelidikan dan kami tahu siapa orangnya yang melakukan perbuatan jahat meracuni Sribaginda itu!”

Dua orang itu saling pandang dengan sinat mata menantang, seolah dua ekor ayam jago yang hendak berlaga.

Sia Su Beng tersenyum.
“Begitukah, Bouw Koksu? Kalau benar engkau sudah mengetahui siapa orangnya yang
melakukan perbuatan jahat meracuni Sri baginda, kenapa tidak kau katakan itu. Nah, katakan siapa orangnya? Asal engkau jangan menuduh aku atau para panglima ini saja!”

Terdengar suara tawa mengejek disana sini.
“Pelakunya adalah seorang dayang baru yang menaruh racun di dalam masakan kaki biruang, kemudian ia pula yang menghidangkan masakan itu kepada Sri baginda. Kalau kalian mau tahu siapa dayang itu, ia adalah Yang Kui Bi, puteri kedua dari Mendiang Menteri Yang Kok Tiong, kakak mendiang selir Yamg Kui Hui si iblis betina!”

-ooo0dw0ooo-

Semua orang terkejut, termasuk Sia Su Beng. Akan tetapi kalau para panglima yang mendengar tuduhan itu terkejut dan tidak percaya, Sia Su Beng benar-benar terkejut karena tidak menyangka bahwa Bouw Koksu benar-benar telah mengetahui hal itu! Akan tetapi, dia sengaja tertawa mengejek.

“Ha-ha-ha, Bouw Koksu, siapa mau percaya bualanmu itu? Kalau betul seperti yang kau katakan itu, kenapa engkau tidak menangkap pembunuh itu agar ada buktinya?”

“la terlalu licik dan berhasil meloloskan diri dari kota raja!” kata Bouw Koksu gemas.

Kembali terdengar suara tawa Sia Su Beng.
“Ha-ha-ha, bagaimana mungkin ini? Bouw Koksu yang terkenal lihai dengan banyak sekali anak buahnya, tidak mampu menangkap seorang gadis dayang? Cu-wi ciangkun, apakah cerita ini dapat dipercaya?”

Para panglima tertawa-tawa dan menggeleng kepala. Melihat ini, Bouw Koksu tidak dapat menahan sabar lagi

“Sia-ciangkun dan para panglima yang telah dapat dihasut olehmu, apakah kalian semua tetap hendak rnemberontak dan menentang penobatan Pangeran rnenjadi Kaisar?”

“Kami tidak memberontak, tidak pula menentang penobatan, akan tetap minta agar penobatan ditangguhkan sampai diketahui dengan tuntas mengenai pembunuhan terhadap Sri baginda Kaisar. Kalau Pangeran yang berdiri di belakang pembunuhan itu, dibantu oleh Bouw Koksu seperti yang telah kami dengar dengan mempergunakan seorang dayang maka tentu kami tidak setuju mengangkat seorang pembunuh ayah kandung sendiri menjadi junjungan kami!”

“Yang Mulia Pangeran, mereka ini hendak memberontak! Sepatutnya mereka ditangkap! Harap paduka memberi perintah dan hamba akan menangkap mereka!”

Bouwciangkun dengan marah, memberi tanda kepada para pendukungnya untuk siap bergerak. Pangeran An Kong sudah gemetar kedua kakinya mendengar ucapan Sia Su Beng yang agaknya mengetahui rahasia ia membunuh ayahnya. Diapun tidak melihat jalan lain kecuali menggunakan kekerasan. Dia bangkit berdiri dan menudingkan tangannya ke arah Sia Su Beng,

“Tangkap para pemberontak itu!”

Akan tetapi, Sia Su Beng mengeluarkan suara melengking panjang dan dari semua pintu ruangan itu bermunculan pasukan yang siap dengan anak panah mereka. Tentu saja Pangeran An Kong dan Bouw Koksu, juga Bouw Ki menjadi pucat melihat ini.

“Pemberontakan!!!” Bouw Koksu berseru.

“Sia-ciangkun, engkau mernberontak!” kata pula Pangeran An Kong.

“Pangeran, tidak ada yang memberontak terhadap mendiang Sribaginda kaisar! Mereka yang merencanakan kematiannyalah yang memberontak.. Untuk sementara ini, demi keamanan negara, kami yang akan memimpin dibantu oleh para panglima. Urusan pembunuhan ini akan kami selidiki sampai tuntas dan siapapun yang menjadi dalangnya, akan kami seret ke pengadilan. Untuk sementara ini, semua penghuni istana, terrnasuk paduka pangeran, dilarang meninggalkan istana. Semua pejabat, termasuk Bouw Koksu, dilarang meninggalkan kotaraja”

Pangeran An Kong menjadi pucat dan dengan suara lemah dia lalu membubarkan persidangan dan mengundurkan diri kedalam kamarnya. Bouw Koksu memberi isarat mata kepada Bouw Ki dan keduanya cepat meninggalkan istana, menuju ke gedung mereka sendiri. Keduanya nampak cemas dan gugup.

“Hemm, bagaimana sampai terjadi begini?” Bouw Hun mendesis marah kepada puteranya ketika mereka berada diluar istana.

“Aku sudah mempersiapkan semua pasukan, ayah, akan tetapi agaknya diam-diam mereka juga sudah mengepung istana ini. Lihat disana.”

Mereka melihat bahwa pasukan yang besar jumlahnya besar mengepung istana dan pasukan anak buah Bouw-ciangkun tidak nampak. Mereka itu tadi telah dilucuti dan ditawan di dalam benteng!

Bukan itu saja, bahkan juga benteng pasukan Bouw Ki telah dikuasai pasukan Sia Su Beng. Melihat ini, Bouw Ki menjadi pucat dan dia bersama ayahnya cepat pulang ke gedung mereka.

“Celaka, kita terjebak!” kata Bouw Hun. “Selagi masih ada kesempatan, kita harus cepat meninggalkan kota raja. Mari kita berkemas!” tergesa-gesa nereka kembali ke gedung tempat tinggal mereka dan baru mereka ingat bahwa seluruh pasukan mereka tadi dikerahkan ke istana sehingga di rumah itu tidak tertinggal seorangpun perajurit pengamat, hanya tinggal para pelayan dalam gedung saja.

“Cepat siapkan kereta dengan dua kuda terbaik!” perintah Bouw Koksu kepada seorang pembantunya yang segera lari ke istana untuk mempersiapkan perintah majikannya.

Ayah dan anak itu segera berkemas, mengumpulkan harta berupa emas dalam sebuah peti dan tidak lupa Koksu membawa pusaka yang masih disimpan, yaitu Mestika Burung Hong Kemala dalam kotak kecil hitam itu. Kotak ini dia bungkus dan dia ikatkan buntalan kain itu ke punggungnya.

Kemudian sambil membawa pedang mereka, ayah dan anak ini berlari-lari menuju ke depan dimana kereta dengan dua ekor kuda sudah menunggu. Akan tetapi, tak nampak
seorangpun pelayan, bahkan pelayan yang tadi mempersiapkan kereta dan kuda juga tidak nampak. Sunyi sekali pekarangan yang luas dari rumah gedung yang hendak mereka tinggalkan itu.

Ketika mereka menghampiri tiba-tiba dari dalam kereta itu muncul empat orang yang membuat ayah dan anak itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

“Heh-heh, Bouw Koksu, hendak pergi ke manakah?” kata Hui San yang sambil tersenyum lebar.

“Siapa….. siapa engkau?” bentak Bouw Koksu yang sudah merasa gelisah dan terkejut melihat Kirn Hong bersama diantara mereka.

“Aku bernama Souw Hui San. Aku diperintah oleh arwah pamanku Souw Lok untuk menagih nyawa kepadamu. Nah. serahkan nyawamu, Bouw Koksu!”

Bukan main kagetnya rasa hati Bouw Hun, dan maklumlah dia bahwa dia telah terhalang dan agaknya sukar untuk dapat meloloskan diri lagi.

“Kim Hong, engkau yang pernah menjadi muridku dan pernah kami sayang seperti anak, balaslah budi kami dan singkirkan pemuda ini untuk kami!” kata Bouw Hun.

No comments:

Post a Comment