Ads

Wednesday, June 7, 2017

Mustika Burung Hong Kemala Jilid 024

Bukan main girangnya hati Cin Han mendengar ucapan ini.
“Sungguhkah? Aih, betapa lega dan girang hatiku mendapatkan seorang teman seperjuangan sepertimu, nona Can Kim Hong! Akan tetapi….” Dia meragu, “kalau benar seperti yang kau katakan bahwa engkau juga membela Kerajaan Tang, kenapa engkau malah membantu mereka mendapatkan Mestika Burung Hong Kemala, lambing kekuasaan kaisar?"

“Yang Cin Han, tidak perlu engkau berpura-pura lagi. Engkau dan adikmu itulah yang sudah mendapatkan Mestika Burung Hong Kemala yang asli dan menukar dengan yang palsu sehingga kini Bouw-koksu menemukan yang palsu, bukan? Engkau memang cerdik. Diam-diam aku kasihan sekali melihat mereka tidak menyadari bahwa mereka menemukan pusaka yang palsu.”

“Sungguh, aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan, nona. Kami tidak tahu menahu tentang pusaka itu, kami hanya mendengar bahwa peta penyimpanan pusaka itu terjatuh ketangan Bouw-koksu dan aku bertugas untuk membayangi dan menyelidiki pengambilan pusaka itu. Dalam tugas itu, aku bertemu adikku Yang Kui Lan dan bentrok dengan rombonganmu. Apa yang terjadi? Jadi rombongan Bouw ciangkun mendapatkan pusaka yang palsu? Lalu, siapa yang mengambil pusaka aslinya?”

Kini Kim Hong yang tertegun. Ada beberapa orang lewat dan Kim Hong memberi tanda kepada Cin Han agar mengikutinya. Mereka meninggalkan jalan kecil itu dan menyelinap ke dalam tanah kuburan yang sepi, diikuti oleh Cin lan. Mereka duduk di bangku yang berasa diluar sebuah makam yang mewah, dan bercakap-cakap.

“Sekarang kita dapat bicara leluasa disini, nona……”

“Kita adalah orang segolongan, tidak perlu engkau bernona-nona kepadaku. Atau engkau ingin kusebut tuan?” Kim Hong memotong sambil cemberut.

Cin Han tersenyum.
“Baiklah, Kim Hong, memang tidak ada gunanya berbasa-basi. Engkau tentu sudah tahu akan keadaan kami. Ayahku mengikuti Sribaginda Kaisar mengungsi ke barat. Ibuku tidak mau ikut dan menanti kami pulang akan tetapi ibu menjadi korban penyerbuan gerombolan An lu Shan. Ibu membunuh diri. Kami bertiga sedang pergi berguru, kedua orang adikku terpisah dariku dan baru sekarang kami saling jumpa kembali. Aku menjadi murid Sin-tung Kai-ong. sedangkan kedua orang adikku menjadi murid Kong Hwi Hosiang. Sekarang aku dan adikku Kui Lan tinggal di rumah Hartawan Ji, sedangkan Kui Bi, seperti telah kau ketahui, diluar pengetahuanku, telah menyusup ke dalam istana. Nah, semua sudah jelas, bukan? Sekarang aku ingin sekali mengetahui tentang dirimu agar tidak timbul kesalah-pahaman lagi diantara kita.”

Gadis itu menghela napas panjang.
“Aku bukan keturunan bangsawan seperti engkau. Aku hanya orang biasa …..”

“lhh! Kenapa kata-katamu begitu cengeng?” Cin Han mencela. “Aku bosan mendengar tentang bangsawan, dan aku dan kedua orang adikku sudah lama muak dengan kebangsawanan itu. Kami melihat segala macam kepalsuan di istana dan itulah yang mendorong kami untuk pergi merantau dan berguru. Bahkan aku dahulu sering ribut mulut dengan mendiang ayah karena aku tidak suka dijadikan pejabat. Kami bahkan lebih senang memilih menjadi rakyat biasa, tidak terlalu banyak peraturan, tidak hidup dengan banyak adat istiadat palsu. Nah, lanjutkan keterangan tentang dirimu, Hong-moi (adik Hong). Aku tentu lebih tua darimu, maka aku akan menyebutmu Hong-moi.”

“Engkau seorang pemuda luar biasa Han-ko. Engkau keturunan menteri besar, bangsawan tinggi akan tetapi lebih suka menjadi rakyat biasa, engkau lihai dan pandai bicara. Tidak ada yang istimewa dalam hidupku. Sejak kecil, aku dirawat dan dididik oleh guruku, yaitu Bouw-koksu sekarang ini. Ibuku seorang suku bangsa Khitan…”

Gadis itu berhenti dan mencoba untuk mengamati wajah pemuda itu dengan teliti dibawah sinar bulan yang tidak terhalang terang.

“Kenapa berhenti, Hong-moi? Lanjutkan……”

“Engkau tidak terkejut? Ataukah tidak jelas mendengar ucapanku tadi Ibuku seorang wanita Khitan…..”

“Habis, kenapa? Kenapa aku harus terkejut? Wanita Khitan itu seorang manusia, bukan? Kalau kau ceritakan bahwa ibumu seekor naga atau seekor burung Hong, barulah aku akan terkejut,’” kata Cin Han sambil tertawa.

Kim Hong tertawa juga, akan tetapi tawanya mengadung kepahitan.
“Han-ko, bukankah kaum bangsawan bangsa Han selalu memandang rendah kepada suku bangsa lain yang dianggap sebagai bangsa liar? Engkau tidak memandang rendah kepadaku karena ibu seorang Khitan?”

“Wah, kalau begitu engkau keliru menilai diriku, Hong-moi. Bagiku, bangsa apapun di dunia ini, asal dia manusia, maka dia sama saja dengan kita. Baik buruknya seseorang bukan dinilai dari kebangsaannya, atau kepintarannya, kedudukannya atau kekayaannya, melainkan dari perbuatannya. Tidak Hong moi, aku tidak memandang rendah kepadamu atau ibumu!”

“Terima kasih, Han-ko. Ibuku telah meninggal dunia dan ketika ibu masih hidup, ia pernah berpesan agar aku mencari ayah kandungku, seorang Han, ayahku seorang perwira pasukan Tang yang pernah menyerbu ke daerah Khitan dan tertawan oleh bangsa Khitan. Ayah kemudian menikah dengan ibu dan lahir aku. Akan tetapi, ketika mendapat kesempatan, ayah kandungku itu melarikan diri dan kembali ke timur. Nah ibu memesan agar aku mencari ayah kandungku. Aku lalu meninggalkan Khitan dengan diam-diam. Akan tetapi guruku, dulu yang sekarang menjadi Bouw Koksu dan puteranya, suheng Bouw Ki mengejar. Aku tentu telah ditangkap dan dipaksa pulang kalau saja tidak ditolong seorang sakti yang kemudian menjadi guruku.”

“Siapakah penolong yang kemudian jadi gurumu itu, Hongmoi?”

“Sebetulnya dia tidak ingin namanya kusebut, akan tetapi karena engkau sudah berterus terang mengenai dirimu, dan entah mengapa aku percaya kepadamu, maka biarlah kau ketahui. Guruku itu berjuluk Si Naga Hitam bernama Kwan Bhok Cu……”

“Hebat! Aku pernah mendengar nama itu disebut-sebut suhu-ku. Bukankah gurumu itu mengasingkan diri di Bukit Nelayan?”

“Benar, Han-ko. Setelah selesai mengajarkan ilmu kepadaku, suhu memberi tugas kepadaku untuk membantu Kerajaan Tang, dan terutama sekali mencari Mestika Burung Hong Kemala untuk diserahkan kepada Sribaginda Kaisar Beng Ong. Aku menyelidiki ke kota raja dan bertemu dengan suhengku, Bouw Ki yang kini telah menjadi seorang panglima. Karena kuanggap dengan mendekati istana aku bahkan lebih dapat banyak membantu gerakan pendukung Kerajaan Tang maka aku mau diminta tinggal di rumah mereka.”

“Dan engkau ikut rombongan mengambil pusaka itu dengan maksud untuk merampasnya?”

“Kalau ada kesempatan, mengapa tidak? Suhu menugaskan aku untuk mencari pusaka itu dan mengembalikannya kepada Sribaginda Kaisar.”

“Dan apa maksudmu dengan mengatakan bahwa Mestika Burung Hong Kemala. Yang didapatkan rombongan itu palsu?”

“Aku sendiri selama hidupku belum pernah melihat pusaka itu, akan tetapi melihat peti kecil dan tanda-tanda yang kutemukan, aku yakin bahwa ada orang mendahului rombongan, mengambil barang asli dan menukar dengan yang palsu. Hanya aku yang melihat adanya bekas tapak kaki didalam guha, dan peti Itupun bersih, tidak berdebu dan tidak basah seperti yang seharusnya, tanda bahwa peti itu baru saja diletakkan orang disana. Akan tetapi rahasia ini kusimpan sendiri dan tadinya kukira engkau yang telah mendahului rombongan”

“Sama sekali tidak, hong-moi. Ah, kalau begitu ada orang lain yang telah menguasai pusaka aslinya. Ini jauh lebih sukar daripada kalau pusaka itu berada di tangan Bouw Koksu, karena setidaknya kita mengetahui dimana adanya pusaka itu. Sekarang, kita tidak tahu siapa yang memilikinya dan bagaimana mungkin kita dapat mencarinya?” Dalam suara Cin Han terkandung penyesalan.

“Aku mendapat petunjuk, Han-ko. Ini hanya dugaan, akan tetapi tidak ada orang lain yang patut dicurigai.” ia lalu menceritakan tentang pemuda berotak miring yang muncul
ketika rombongan Bouw Ki mengepung Kui Lan .

“Baru setelah rombongan menemukan pusaka palsu, aku mengenang kembali pemuda itu dan sekarang aku mengerti. Kenapa seorang pemuda sinting berkeliaran di tempat kering kerontang seperti itu? Apa yang dicarinya? Dan ketika dia bicara ngacau tentang Kaisar Li Si Bin yang sakti, tentang Tatmo Couw-su, sekarang aku mengerti bahwa dia sengaja mempermankan rombongan. Aku yakin bahwa dia seorang yang menentang An Lu Shan dan berpihak kepada adikmu Kui Lan itu. Akan tetapi dia hendak merahasiakan dirinya maka bersembunyi. Andaikata engkau dan adikmu terancam bahaya, aku yakin si gila itu akan muncul. Juga aku teringat sekarang. Wajahnya tampan dan sinar matanya mencorong. Siapa lagi kalau bukan dia yang telah mengambil pusaka asli dan menggantikannya dengan yang palsu?”

“Memang mencurigakan sekali dia. Apakah dia memiliki ilmu silat yang tinggi?”

Kim Hong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala penuh keraguan.
“Aku sudah memeriksa buntalan pakaiannya, tidak menemukan benda pusaka. Aku sudah mengujinya dengan serangan, ternyata dia tidak dapat bersilat. Ketika aku mengembalikan pedangnya, aku sengaja melemparkan pedang itu sehingga pedang mengenai kepalanya dan dia tidak mampu mengelak, bahkan dahinya benjol.”

“Pedang? Orang gila yang tidak pandai silat membawa pedang? Sungguh aneh.”

“Sekarang barulah hal itu nampak aneh. Betapa bodohnya aku! Kami semua memang curiga dan dia berkata bahwa pedang itu milik kakeknya yang katanya merupakan seorang tokoh besar dunia persilatan. Dia bilang kalau aku tidak mengembalikan pedangnya, dia akan menyiarkan di seluruh dunia persilatan bahwa pedangnya dicuri seorang gadis. … eh, jelita dengan lesung pipit di pipi kiri….” Kim Hong agak tersipu.

“Dia memang benar!” tiba-tiba Cin Han terkejut sendiri karena suara hatinya itu begitu saja tercetus keluar.

“Apa maksudmu?” Kim Hong membelalakkan mata bertanya.

“Maksudku…. eh, bahwa dia tdak bohong… eh, dia benar karena engkau memang jelita dan lesung itu….. eh, maksudku dia memang benar aneh.” Cin Han benar-benar gagap dan salah tingkah menyadari kata-katanya yang seharusnya disimpan di hati saja menerobos keluar.

Kim Hong merasa betapa wajahnya panas. Warna kemerahan naik memenuh leher dan mukanya. Dara ini merasa heran sendiri. Kenapa mendengar pujian kacau balau itu ia tidak merasa marah bahkan menjadi tersipu malu? Padahal biasanya, kalau ada pria memuji kecantikkannya, akan dianggapnya kurang ajar lalu akan marah-marah.

“Hemmm, apakah orang sintingnya sekarang menjadi dua?” katanya mengejek dan Cin Han menjadi semakin gugup.

“Ehh… ohhh…,maafkan ,eh , maksudku, harap teruskan ceritamu, Hong-moi.”

“Sudah kuceritakan semua keadaan diriku, Han-ko. Sekarang, sebaiknya kita membagi tugas. Aku yang berada didalam, akan siap mengawasi adikmu Kui Bi dan kalau perlu membantunya, sedangkan engkau yang berada di luar menyebar kawan-kawan untuk menyelidiki tentang pemuda sinting itu. Kita harus menemukan pusakanya yang asli dan membiarkan Bouw Koksu mempunyai suatu rencana gelap bersama Pangeran An Kong. Aku ingin melihat mereka berdua mengadakan pertemuan rahasia.”

“Itu baik sekali, Hong-moi. Aku mendengar bahwa diantara Pangeran An Kong dan ayahnya, An Lu Shan, terdapat ketegangan. Dan engkau sendiri, bagaimana mungkin engkau menentang orang yang pernah menjadi gurumu, yang memelihara dan mendidikmu sejak kecil? Maafkan kalau aku tanyakan hal ini karena aku yakin seorang gadis yang gagah perkasa seperti engkau tentu tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar kebenaran dan keadilan.”

Gadis itu menghela napas panjang.
”Dahulu memang Bouw Koksu guruku yang amat sayang kepadaku sehingga akupun sayang dan taat kepadanya. Juga dahulu Bouw Ki merupakan suhengku dan kawan bermain. Akan tetapi semenjak aku meninggalkan mereka semua kesan baik atas diri mereka terhapus. Mereka hendak memaksa aku untuk menjadi selir Bouw Ki. Itulah sebabnya aku meninggalkan mereka dan mereka hendak memaksaku kembali, akan tetapi mucul suhu Hek-liong Kwan Bhok Cu yang menolongku. Sejak itu, aku tidak mengakui mereka sebagai guru dan suheng. Akan tetapi ketika aku bertemu Bouw Ki, sikapnya berubah dan mereka nampaknya tidak berani memaksaku, bahkan membantuku sehingga aku dapat bertemu dengan ayah kandungku.”

“Ahhh! Ayah kandungmu yang melarikan diri dari Khitan itu?”

“Benar, ayahku bernama Can Bu dia adalah seorang perwira yang .... ah, hal inilah yang meresahkan aku. Ayahku menjadi anak buah Bouw Koksu dan agaknya dia setia pada bekas guruku itu.”

“Apakah engkau tidak dapat menyadarkannya, Hong-moi? Bukankah dahulu dia seorang perwira kerajaan Tang. Apakah dia tidak dapat melihat bahwa Bouw Koksu dan An Lu Shan hanya pemberontak yang merampas tahta kerajaan?”

“Sudah kucoba, akan tetapi agaknya tidak ada hasilnya. Sungguh hal ini sangat membingungkan hatiku. Aku harus menaati perintah suhu, yaitu membantu kerajaan Tang, akan tetapi ayah kandungku sendiri berpihak kepada An Lu Shan.” Gadis itu menghela napas panjang, nampaknya bingung dan kecewa sekali.

Cin Han dapat memaklumi halnya Kalau gadis itu menaati gurunya, membela kerajaan Tang, hal itu berarti bahwa ia akan bertentangan dengan ayah kandung sendiri. Cin Han ikut merasa penasaran dan ingin rasanya dia bertemu dengan ayah kandung gadis ini, untuk mencoba ikut menyadarkannya.

“Hong-moi, bagaimana engkau dapat bertemu dengan ayah kandungmu sedemikian mudahnya?”

Gadis itu memandang kawan barunya dengan wajah muram.
“Justeru Bouw Koksu, dan puteranya yang mencarikan ayahku itu dan menemukannya. Dia ternyata seorang perwira yang berada dalam pasukan yang dipimpin suheng Bouw Ki”

“Hemm…. maafkan aku, Hong-moi bukan maksudku untuk menyinggung hatimu, akan tetapi bagaimana engkau mengetahui dengan pasti bahwa dia itu ayahmu, ayah kandungmu yang sedang kau cari ?”

Mendengar pertanyaan ini, Hong nampak terkejut.
”Wah, Han-ko engkau menyentuh hal yang selalu mengganggu hatiku! Aku sendiri, sejak bertemu ayah dan dia merangkulku, merasa seperti orang asing bagiku. Sering aku termenung dan menduga-duga apakah dia benar ayah kandungku, akan tetapi pikiranku membantah dan mengatakan bahwa tentu dia ayah kandungku karena hanya Bouw Koksu yang mengenalnya”

“Jadi engkau hanya percaya akan keterangan Bouw Koksu dan pengakuan orang itu? Sama sekali tidak yakin karena tidak ada bukti?”

“Tidak ada bukti memang, akan tetapi ada saksinya, yaitu bekas guruku, Bouw Hun atau Bouw Koksu.”

“Hemmm….” Cin Han meraba-raba dagunya, berpikir.

“Engkau dipertemukan dengan ayah kandungmu oleh Bouw koksu, dan kebetulan ayah kandungmu itu menjadi anak buah Bouw-ciangkun. Hemm, sungguh suatu kebetulan yang luar biasa ….”.

Kembali dia menundukkan kepala, berpikir dan tanpa disadarinya meraba-raba dagu yang telah menjadi kebiasaannya. Pada saat yang sama, Kim Hong juga menundukkan muka dengan alis berkerut dan gadis ini meraba-raba dan menarik-narik telinga kirinya, suatu kebiasaan kalau ia sedang berpikir keras.

Tiba-tiba Cin Han mengangkat muka dan berseru,
“ahh …!” dan pada saat yang sama gadis itupun mengangkat muka dan mengeluarkan seruan yang sama.

Agaknya mereka berdua mendapatkan gagasan yang sama pada saat yang bersamaan
pula. Mereka saling pandang dan Cin Han berkata,

“Hong-moi, agaknya keadakan ayahmu itu meragukan sekali, belum tentu ia itu ayah kandungmu yang sebenarnya.”

“Mungkin sekali, akupun berpikir begitu. Coba katakan, Han-ko, apakah alasan keraguanmu sama dengan alasan dugaanku. “

“Menurut ceritamu tadi, ayah kandungmu menjadi tawanan di Khitan sampai bertahun-tahun, dan tentu saja telah mengenal baik Bouw Koksu yang dahulunya menjadi kepada suku. Akan tetapi kenapa Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun tidak tahu bahwa ayah kandungmu menjadi perwira bawahan Bouw-kongcu? Mereka baru menemukan ayahmu setelah engkau datang mencarinya. Tentu mereka mengenal ayah kandungmu, sebaliknya ayahmu juga mengenal mereka.”

“Tepat sekali, Han-ko. Akupun berpikir demikian. Dahulu menurut ibu kandungku, ayahku itu seorang gagah yang tidak mau tunduk, bahkan berhasil melarikan diri dari Khitan. Kalau benar, yang diperkenalkan kepadaku itu ayah, tentu dia tidak akan sudi menjadi anak buah mereka.”

Kim Hong teringat akan sikapnya yang manis dan manja terhadap ayah yang telah ditemukannya itu. Kalau orang itu bukan ayahnya yang sebetulnya, berarti ia dipermainkan orang.

“Hemm, kalau benar begitu, akan kuhajar orang yang berani mempermainkan aku itu!”

“Sabarlah, Hong-moi. Sebaiknya kalau engkau pura-pura tidak mencurigainya. Pula, semua ini baru dugaan kita, belum jelas dan kita belum yakin benar. Dengan pura-pura tidak curiga engkau akan dapat melakukan penyelidikan lebih seksama. Aku akan minta kepada Ji Siok untuk melakukan penyelidikan, dalam waktu beberapa hari ini tentu kita sudah tahu dengan pasti siapa orang yang sekarang mengaku sebagai ayahmu itu.”

Kim Hong mengangguk setuju.
“Sekarang aku harus pulang dulu, Han-ko. Kalau terlalu malam, tentu mereka akan mencurigai aku. Apalagi kalau orang yang kuanggap sebagai ayahku itu adalah palsu. Tentu dia merupakan mata-mata mereka yang memata-mataiku”

“Wah, kalau benar dugaan kita bahwa dia itu palsu, dan dia bersamamu serumah, sungguh berbahagia bagimu Hong-moi”

“Akan kuperhatikan dia aku akan berhati-hati. Untung bahwa selama ini aku masih merasa asing padanya sehingga aku tidak menceritakan isi hatiku. Dia tentu menganggap bahwa aku benar-benar membantu Pangeran An Kong membantu bekas guruku Bouw Koksu.”

“Bagus, tetaplah bersikap wajar sebagai anak yang baik, Hong-moi, sehingga bukan engkau yang membuka rahasia, bahkan dia sendiri yang akan terbuka kedoknya.’”

Mereka lalu berpisah, masing-masing merasakan sesuatu yang aneh terjadi dalam hatinya. Terutama sekali Cin Han. Jantungnya berdebar penuh keriangan kalau dia teringat bahwa gadis yang sejak pertemuan pertama, ketika mereka bertanding, sudah amat menarik hatinya, akan tetapi yang membuatnya kecewa karena gadis itu menjadi pembantu Bouw Koksu, kini ternyata bahwa gadis itu sama sekali tidak membantu Bouw Koksu, bahkan menentangnya, menentang An Lu Shan, dan setia kepada kerajaan Tang.

0odwo0

Berkat usaha Gui-thaikam, kepala dayang sahabat Ji Siok yang banyak makan suapan dari hartawan itu sehingga Kui Bi dapat menyusup sebagai dayang istana, maka dapatlah Kui Bi memenuhi panggilan Pangeran An Kong untuk mengadakan pembicaraan penting di pondok kecil dalam taman istana.

Percakapan rahasia itu terjadi di malam hari, antara Kui Bi yang menghadap Pangeran An Kong, dan ditemani Bouw Koksu. Hanya singkat saja percakapan mereka.

“Kui Bi, katakan terus terang bersediakah engkau kalau kusuruh mengerjakan suatu tugas penting untukku?”

“Ampun, Pangeran. Harap paduka katakan dulu, tugas apakah itu dan apapula imbalannya.” kata Kui Bi dengan cerdk.

Pangeran An Kong tersenyum dan saling pandang dengan Bouw Koksu.
“Sudah kukatakan padamu, aku cinta padamu, Kui Bi, dan kalau engkau berhasil melaksanakan tugas yang kuperintahkan padamu, aku akan mengambilmu sebagai isteri.”

“Akan tetapi, pernah paduka mengatakan bahwa paduka akan mengangkat hamba menjadi permaisuri kalau paduka kelak menjadi kaisar, Pangeran.”

Bouw Koksu mengerutkan alisnya dan matanya bersinar marah, akan tetapi pangeran itu memberi isyarat dengan kedipan mata sehingga Guru Negara ini tidak jadi memperlihatkan kemarahan hatinya.

“Menjadi isteri berarti menjadi permaisuri, Kui Bi. Karena sekarang aku belum menjadi kaisar, maka tentu saja engkau belum dapat menjadi permaisuri .”

“Hamba akan melakukan perintah apapun dari paduka kalau paduka berjanji kelak setelah paduka menjadi kaisar, hamba diangkat menjadi permaisuri”

“Bagus! Aku berjanji, Kui Bi. Paman Bouw ini yang menjadi saksi.”

“Terima kasih, Pangeran. Akan tetapi sebelum paduka menjadi Kaisar, hamba tetap menjadi dayang istana, hamba tidak berani meninggalkan tempat pekerjaan hamba. Sekarang, harap paduka jelaskan, tugas apakah yang harus hamba lakukan?”

“Tugasmu adalah membunuh Sribaginda Kaisar.”

“Ihh …..!” Kui Bi pura-pura terkejut dan membelalakkkan matanya “Bagaimana……… bagaimana mungkin Hamba hanya seorang dayang lemah….. tak mungkin hamba dapat melaksanakan..!”

“Kamipun tidak bodoh, Kui Bi. Bukan membunuh dengan kasar, engkau tidak harus menyerangnya, melainkan dengan cara halus. Engkau menyelundup ke dapur, mencampurkan bubukan merah ke dalam masakan kegemaran Sribaginda dan ketika engkau ikut melayani Sribaginda dahar, usahakan agar sayur itu dimakan olehnya. Mudah saja, bukan?”

“Akan tetapi, bagaimana mungkin Pangeran? Pertama, hamba tidak pernah mendapat tugas melayani Sribaginda makan. Ke dua, hamba tidak akan diperbolehkan memasuki
dapur sehingga tidak akan ada kesempatan untuk mencampur racun dalam makanan, dan ke tiga, hamba takut karena hamba tentu akan ditangkap dan dijatuhi hukuman berat”

Kui Bi berkata dengan meratap. Tentu saja tugas Itu malah menyenangkan hatinya karena tanpa diperintahpun ia ingin membunuh Kaisar baru yang tadinya berpangkat panglima itu. Kalau saja tidak ada Sia-ciangkun yang melarangnya, mungkin ia sudah mengambil jalan pintas, dengan nekat mendekati dan mencoba membunuh kaisar. Kalau sekarang ia berpura-pura ketakutan, hal itu dilakukan hanya untuk melihat apakah benar-benar pangeran ini merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, dan apa rencana mereka, ia harus yakin bahwa ia sendiri tidak terancam bahaya dalam pelaksanaan tugas itu.

“Semua kesulitanmu itu dapat diatasi dengan mudah Kami akan mengatur agar engkau dapat diperbantukan ke dapur, kemudian ke ruangan makan melayani Kaisar, dan tentang kekhawatiranmu ditangkap, jangan khawatir. Kami yang bertanggung jawab, karena kalau Kaisar tewas, akulah yang menggantikannya dan engkau dapat kuangkat menjadi permaisuri.”

“Aih, benarkah itu, Pangeran? Kalau begitu, harap berikan racun itu kepada hamba dan hamba akan melaksanakan sebaik mungkin!” katanya dengan giang .

Tiba-tiba Bouw Koksu berkata, suaranya garang penuh ancaman.
“Akan tetapi ingat baik-baik, dayang. Kalau engkau membocorkan rahasia ini kepada siapapun juga, kami berbalik akan menuduhmu sebagai mata-mata pemberontak yang akan membunuh kaisar dan engkau akan dihukum berat!’”

Kui Bi memandang ketakutan dan sambil menerima bungkusan kecil dari pangeran An Kong, dengan gemetaran ia berkata lirih,

“Hamba mengerti…… hamba akan melaksanakan perintah…..”

Setelah Kui Bi mengundurkan diri, Pangeran An Kong dan Bouw Koksu saling pandang. Wajah mereka berseri.

“Hamba kira rencana ini akan berhasil baik, Pangeran,” kata Bouw Koksu. “Selelah Kaisar tewas, paduka dapat mengangkat diri menjadi kaisar baru.”

“Akan tetapi bagaimana kalau gadis tadi gagal dan perbuatan itu ketahuan?”

“Aih, itu perkara kecil. Kita tuduh ia mata-mata seperti yang hamba ancamkan tadi. Takkan ada orang yang lebih mempercayai omongan seorang dayang dari pada keterangan paduka dan hamba.”

“Bagaimana kalau para pejabat tinggi menolak aku menggantikan ayah?”

“Ada Giok-hong-cu ditangan paduka, Pangeran. Mestika Burung Hong Kemala itu yang akan menentukan sebagai lambang kekuasaan seorang kaisar. Mereka pasti tidak akan
ada yang berani menentang paduka kalau paduka memperlihatkan pusaka itu.”

Sang pangeran mengangguk-angguk dan sambil tertawa keduanya meninggalkan taman itu. Mereka tidak tahu bahwa sejak tadi, sepasang mata yang tajam mengintai tak jauh dari pondok itu di balik semak bunga. Mata itu adalah mata Sia Su Beng, panglima muda yang tampan dan cerdik itu.

Di sudut taman itu, mereka bertemu. Sia Su Beng dan Kui Bi. Mereka bicara berbisik-bisik. Kui Bi menceritakan semua pembicaraan yang dilakukan dengan Pangeran An Kong dan Bouw koksu.

“Ah, sungguh kebetulan sekali kalau begitu!” kata Sia Su Beng. “Ini merupakan kesempatan baik sekali untuk membunuh An Lu Shan dengan aman. Sebaiknya kau laksanakan semua perintahnya membantu di dapur sampai di ruangan makan kaisar. Akan tetapi setelah engkau melihat kaisar makan sayur-beracun itu dan roboh, engkau harus cepat pergi dan memasuk taman ini.”

“Kenapa begitu?”

“Bi-moi, apakah kau kira Bouw koksu demikian bodoh dan Pangeran An Kong benar-benar hendak mengangkatmu menjadi permaisuri kalau dia menjadi kaisar? Tidak, Bi-moi. Setelah engkau berhasil membantu mereka membunuh kaisar, engkau merupakan bahaya besar bagi mereka karena hanya engkau yang mengetahui rahasia mereka.”

Kui Bi mengangguk.
“Tentu mereka lalu akan berusaha menyingkirkan aku, bukan? Engkau benar, twako. Akupun tidak sudi menjadi isteri pangeran yang begitu jahat hendak membunuh ayah kandungnya sendiri. Kalau sudah berhasil aku akan cepat datang kesini.”

“Begitulah sebaiknya. Aku bakal menyembunyikanmu diantara pasukan mempersiapkan pakaian seragam untuk kau pakai agar engkau tidak dapat mereka temukan.”

Mereka tidak lama mengadakan pertemuan itu. Mereka harus bersikap hati hati dan waspada. Lenyapnya seorang thai-kam yang tempo hari dibunuh dan dibawa keluar dari taman oleh Sia Beng menimbulkan kecurigaan para pewira istana, akan tetapi karena thaikam itu tidak meninggalkan bekas, mereka menduga bahwa diam-diam thai-kam itu melarikan diri dan minggat dari istana, mungkin melarikan barang-barang berharga dari istana.

0odwo0

Di dalam rumah Hartawan Ji, mereka mengadakan pembicaraan yang serius malam itu. Mula-mula Cin Han menceritakan tentang pertemuannya dengan Can Kim Hong yang ternyata bukan menjadi lawan yang berbahaya, bukan pembantu Bouw Koksu yang lihai, melainkan juga sorang pendekar wanita yang setia kepada Kerajaan Tang dan ditugaskan gurunya untuk membantu Kerajaan Tang, terutama mencari Mestika Burung Hong Kemala dan menyerahkan pusaka itu kepada baginda Kaisar Beng Ong.

“Kalau benar demikian, sungguh menyenangkan dan menguntungkan perjuangan kita,” kata Hartawan Ji dengan sikap ragu, “akan tetapi kalau ia hendak melaksanakan perintah gurunya itu, kenapa ia membiarkan saja Mestika Bung Hong Kemala terjatuh ke tangan Bouw Koksu? Kenapa tidak dirampasnya ketika mereka menemukannya?”

“Akupun tadinya meragu dan menanyakan langsung kepadanya dan aku mendapatkan keterangan yang sama sekali tidak kita sangka, paman. Menurut Kim Hong, pusaka yang ditemukan Bouw-ciangkun itu adalah Mestika Burung Hong Kemala yang palsu.”

“Ahh……..!!”‘ kata Kui Lan dan Hartawan Ji berseru kaget.

“Ketika menemukan peti berisi pusaka itu, Kim Hong melihat bahwa peti kecil itu bersih tanpa debu dan tidak basah, tanda bahwa kotak itu baru saja ditaruh orang disana, dan ketika memasuki guha sebagai orang terdepan ia melihat tapak kaki. Maka ia mengambil kesimpulan bahwa telah ada orang yang mendahului mereka memasuki guha mengambil pusaka aslinya dan menukarnya dengan pusaka yang palsu.”

“Aih, kalau begitu semakin sukar untuk mendapatkan benda itu, karena kita tidak tahu lagi siapa yang mengambilnya….” kata Kui Lan kecewa.

“Ada petunjuk dari Kim Hong. Gadis itu memang luar biasa sekali, cantik jelita, lihai sekali ilmu silatnya, cerdik bukan main, dan baik budinya, gagah perkasa……”

“Aih, aihh….. kiranya kakak sedang dimabok asmara rupanya!” kata Kui Lan sambil tersenyum.

Cin Han menyeringai.
“Mungkin .. mungkin sekali, Lanmoi.”

“Kongcu, petunjuk apakah yang diberikan gadis itu?”

“Ketika rombongan hendak mengambil pusaka, di tengah jalan mereka bertemu Lan-moi dan hendak menangkapnya, muncul seorang pemuda yang seperti sinting. Orang itulah yang dicurigai keras oleh Kim Hong, karena hanya dia yang nampak ketika itu dan diapun seorang yang aneh dan mencurigakan.”

“Ah, benar juga! Aku sendiripun terheran-heran melihat betapa pemuda sinting itu mempermainkan rombongan dengan sikapnya yang gila-gilaan. Yang aneh adalah ketika buntalan pakaiannya digeledah, terdapat sebatang pedang yang baik. Bagaimana mungkin seorang gila membawa-bawa pedang? Akan tetapi ia kelihatan begitu lemah.”

“Pendapatmu itu tepat sekali demikian pendapat Kim Hong, Lan-moi. Akan tetapi ia tetap curiga dan ia menduga bahwa tentu pemuda itu berpura-pura saja. Apakah engkau tidak melihat sesuatu yang aneh pada diri pemuda itu, Lan moi?”

Gadis itu menggigit-gigit bibir dan memejamkan mata, mengingat-ingat dan membayangkan kembali peristiwa ketika ia dikeroyok oleh rombongan Bouw-ciangkun itu.

“Seorang pria yang masih muda, dan sinar matanya tajam mencorong, hemm…… wajahnya tampan, dan memang dia tidak pantas menjadi seorang gila.”

“Nah, demikianlah, paman Ji. Sebaiknya kalau paman menyebar teman-teman kita untuk mencari pemuda yang berpura-pura gila itu. Lan-moi, engkau yang pernah melihatnya, coba gambarkan bagaimana wajah dan bentuk badannya.”

“Bentuk tubuhnya sedang dan tegap mirip tubuhmu, Hanko. Dan wajahnya…. eh, bulat cerah dan tampan, matanya mencorong dan mulutnya selalu mengarah senyum. Tidak
nampak kegilaan pada wajahnya, hanya sikapnya yang membuat orang menganggapnya sinting. Suaranya lantang.”

Ji wan-gwe mengangguk-angguk.
“Tidak begitu jelas gambar itu, akan tetapi kami akan coba mencarinya.”

“Aku mempunyai berita yang lebih penting lagi, Han-ko dan Paman Ji. Tadi ketika menuju kesini, aku bertemu lembali dengan Sia Su Beng! “

Cin Han nampak kaget,
“Kau maksudkan panglima yang diam-diam berpihak kepada Sribaginda Kaisar Beng Ong itu?”

“Benar, dan dia sudah tahu tentang Kui Bi di istana, dan dia berjanji akan mengamati dan melindungi Kui Bi”

Ji Wan-gwe tersenyum.
“Maafkan, kongcu dan nona, aku belum memberi tahu kepada kalian tentang dia, karena memang persoalan ini harus dirahasiakan benar, jangan sampai bocor. Panglima Sia Su Beng merupakan harapan kita semua karena pada saatnya yang tepat, dlialah yang akan dapat membantu Sribaginda merebut kembali tahta kerajaan karena kedudukannya yang penting. Dia seorang panglima yang dipercaya oleh An Lu Shan, dan mengepalai pasukan besar. Karena itu, pada saatnya yang tepat, dia dapat bergerak dari dalam dan dengan pasukannya dia dapat menguasa istana. Sukurlah kalau nona sudah mendapat penjelasan dari dia sendiri.”‘

“Sekarang aku minta agar Paman Ji suka membantu nona Can Kim Hong gadis itu sejak kecil ditinggalkan ayah kandungnya, dan sekarang ia dipertemukan dengan ayah
kandungnya oleh Bouw Koksu. Akan tetapi, ia merasa curiga dan sangsi apakah Can Bu yang menjadi perwira di bawah perintah Panglima Bouw Koksu.”

“Apa yang dapat kami bantu, kongcu?”

“Coba selidiki siapa sebenarnya orang yang mengaku bernama Can Bu perwira yang kini tinggal bersama nona Can Kim Hong itu.”

Ji Wan-gwe mengangguk-angguk. Cin Han lalu berpamit kepada adiknya dan Hartawan Ji.

“Lan-moi, engkau tinggal saja disini membantu Paman Ji dan siap membantu kawan-kawan yang bergerak di kota raja. Aku sendiri akan pergi menemui Sribaginda Kasar di barat, menceritakan semua persiapan kita disini agar pasukan beliau dapat dikerahkan
untuk menyerbu dan merampas kembali tahta kerajaan.”

Pada hari itu juga, pergilah Cin Han meninggalkan kota raja, menunggang kuda dan melakukan perjalanan cepat kearah Barat.

Beberapa hari kemudian, Hartawan Ji mendapat keterangan dari pembantu tentang orang yang bernama Can Bu kini tinggal bersama nona Can Kim yang membantu Bouw
Koksu. Dia segera mengundang Kui Lan ke dalam ruangan tertutup.

“Nona, sayang sekali Yang-kongcu telah pergi. Kami telah mendengar berita tentang orang yang mengaku sebagai ayah kandung nona Kim Hong. Benar kecurigaannya, orang itu sama sekali bukan Can Bu, bukan ayah kandung gadis itu. Namanya Ciang Kui, seorang perwira yang tadinya merupakan seorang perampok tunggal dan ditarik oleh Bouw Koksu menjadi pembantunya.”

“Ah, kasihan Kim Hong……..” kata Kui Lan. “Memang sayang sekali Han-ko telah pergi. Sebaiknya aku yang menggantikannya untuk memberitahu kepada Kim Hong.”

“Tapi, itu berbahaya sekali, nona.”

Kui Lan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada bahayanya, paman. Kim Hong sudah mengenal aku, pula, setelah aku mendengar tentang dari Han-koko, jelas bahwa ia adalah teman seperjuangan kita, bukan lagi musuh.”

“Maksudku, berbahaya sekali kalau sampai ketahuan Bouw Koksu, Bouw ciangkun atau anak-buah mereka.”

“Aku akan berhati-hati, paman. Pula, Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun Pun tidak tahu siapa aku. Kalau aku tidak melakukan sesuatu yang merupakan pelanggaran, tentu merekapun tidak akan mengganggu aku.”

Pergilah Kui Lan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali meninggalkan rumah Hartawan Ji dan berjalan-jalan di jalan raya menuju ke rumah gedung yang menjadi tempat tinggal Bouw koksu. Tentu saja ia tahu benar dimana rumah itu, karena rumah itu adalah bekas rumah orang tuanya! Di rumah itulah Ia dilahirkan dan dibesarkan!

Akan tetapi, ketika ia melewati jalan raya di depan rumah gedung itu, melihat betapa rumah itu dijaga ketat Seperti penjagaan di depan istana saja. lapun mengambil jalan memutar, melalui jalan kecil di samping gedung dan mendapat kenyataan bahwa di empat sudut tempat itu terdapat sebuah gardu tinggi dimana nampak para penjaga melakukan penjagaan. Bukan main! Akan sukarlah memasuki gedung itu di siang hari.

Kui Lan berjalan-jalan mondar-mandir di depan gedung itu, mengharap Kim Hong akan keluar dari gedung dapat ia jumpai. Akan tetapi harapannya sia-sia dan terpaksa ia meninggalkan tempat itu, kembali ke rumah Hartawan Ji, mengambil keputusan untuk memasuki gedung bekas tempat tinggalnya itu malam hari untuk menemui Kim Hong.

-ooo0dw0ooo-

Dan malam hari itu bulan bersinar terang. Kui Lan mengenakan pakai-serba hitam sehingga gerakannya yang amat gesit itu membuat tubuhnya kelebatan dan sukar dilihat dalam bayang-bayang pohon itu ketika ia menghampiri gedung Bouw Koksu dari arah belakang. ia masih ingat benar bahwa di dekat pagar tembok sebelah kiri belakang tumbuh sebatang pohon yang cabang cabangnya terjulur dekat tembok sehingga memudahkan ia memasuki kebun belakang melalui pohon itu.

Ketika melihat bahwa bagian itu cukup gelap, Kui Lan mengayun tubuhnya meloncat ke atas pagar tembok. Hanya sekejap saja tubuhya hinggap di atas pagar tembok karena ia telah melanjutkan loncatannya kedalam pohon itu. Kalaupun ada penjaga di gardu atas, tentu dia tidak akan melihat jelas.

Beberapa menit lamanya Kui Lan berada di pohon itu. Setelah yakin bahwa gerakannya meloncati pagar tembok tadi tidak menimbulkan akibat apa-apa berarti tidak ada orang
melihatnya, iapun meloncat turun, ia menyelinap antara pohon dan semak di kebun itu memasuki taman mendekati rumah gedung.

Hatinya terharu karena ia merasa seolah kembali kemasa kanak-kanak ketika ia bermain-main dengan kakaknya dan adiknya. Mereka seringkali bermain-main ditaman dan kebun ini, bersembunyi dan saling mencari, ia mengenal setiap semak, setiap pohon di taman itu.

Akan tetapi, Kui Lan terlalu memandang ringan Bouw Koksu. Kalau Bouw Hun bekas kepala suku Khitan ini tidak memiliki kecerdikan yang tinggi, tidak mungkin dia akan dipilih An Lu Shan menjadi seorang koksu (guru negara) yang selalu mengatur siasat untuk bekas panglima yang kini menjadi kaisar.

Diantara para penjaga di gardu itu rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi, ada yang merasa curiga melihat kelebatnya bayangan hitam di atas pagar tembok. Akan tetapi, sesuai dengan perintah Bouw Koksu, mereka tidak membuat ribut melainkan diam-diam mereka itu mengamati bayangan itu, membayangi dan melaporkan kepada Bouw Koksu dan Bouw Ciangkun. Maka, kedatangan Kui Lan itu telah mereka ketahui dan diam-diam Bouw Koksu bersama puteranya, para pembantunya, tidak ketinggalan Kim Hong yang mereka andalkan, telah keluar dan mengepung semak-semak dimana KuiLan bersembunyi.

Dapat dibayangkan betapa kaget-hati Kui Lan ketika tiba-tiba saja terdengar bentakan orang di belakang.

“Maling kecil, keluar engkau!”

Ketika ia menoleh, ia melihat bahwa di belakangnya telah berdiri lima orang yang ia kenali sebagai Bouw-ciangkun dan Can Kim Hong, lalu seorang laki-laki besar hitam brewok yang tampak bengis dan usianya lebih dari lima puluh tahun yang ia duga tentu Bouw Koksu, bersama dua orang lagi yang berpakaian seperti panglima, Ia telah ketahuan!

Maklum bahwa ia berhadapan dengan banyak orang lihai, maka Kui Lan segera meloncat keluar dan mempergunakan gin-kangnya untuk melarikan diri. Akan tetapi, agaknya Bouw Ki tidak ingin melihat ia lolos, apalagi setelah melihat bahwa orang yang
memasuki taman itu adalah gadis yang pernah mereka jumpai ketika rombongannya hendak mengambil pusaka Mestika Burung Hong Kemala.

“Kejar! Tangkap!” teriaknya dan mereka semua, termasuk Can Kim Ho berloncatan dan
mengepung sehingga kembali Kui Lan terkepung lima orang itu

“Ayah, inilah gadis yang kami temui itu ketika mengambil pusaka dahulu itu. Kita harus
menangkapnya hidup-hidup!” teriak Bouw Ki.

Sejenak Kui Lan saling pandang dengan Kim Hong, kemudian iapun berseru dengan lantang,

“Kim Hong, kakak Cin Han minta aku menyampaikan kepadamu. Orang yang mengaku ayah kandungmu itu adalah palsu, namanya Ciang Kui engkau telah ditipu mereka!”

Ucapan itu mengejutkan Kim Hong juga mengejutkan Bouw Hun dan Bouw Ki. Rahasia mereka telah diketahui!

“Maling betina, jangan bicara sembarangan! Engkau menghina kami dan harus mati!” bentak Bouw Koksu dan diapun sudah menggerakkan pedangnya yang melengkung dan amat tajam,

“Singgg.. . . ,!”

Dengan mudah Kui Lan mengelak karena gadis ini telah memiliki keringanan tubuh yang luar biasa, berkat gemblengan Pek Lian Nikou kepala kuil Thian-bun-tang. Pedang yang melengkung itu menyambar luput dan pada saat itu, Bouw Ki juga sudah menyerang dengan sebatang pedang melengkung seperti yang dipegang ayahnya.

“Tranggg…..!!”

Kui Lan menangkis dengan pedangnya dan Bouw Ki merasa betapa telapak tangan kanannya tergetar hebat sehingga hampir saja pedangnya terlepas. Dua orang panglima pembantu Bouu koksu juga sudah menyerang dengan pedang mereka dan ternyata mereka itu juga lihai sehingga kini Kui Lan dikeroyok empat orang.

Namun, gadis ini tidak merasa gentar dan ia sudah memainkan ilmu pedangnya dengan ilmu Hong-in-Sin-pang (Tongkat Sakti Angin dan Awan) yang ia mainkan dengan pedang. Ilmu ini merupakan ilmu silat tinggi yang ia pelajari dari Kong Hwi Hosiang, ditambah gin-kang yang membuat tubuhnya berkelebatan amat cepatnya.

“Kim Hong, cepat bantu kami!” bentak Bouw Koksu berulang kali, akan tetapi Kim Hong masih berdiri bengong, ia terlalu kaget mendengar keterangan Kui Lan tadi bahwa laki-laki yang selama ini dianggap ayah kandungnya itu bernama Cing Kui berarti bahwa Bouw koksu telah menipunya! Iapun tidak ingin melihat adik dari Cin Han celaka di tempat itu, maka tentu saja ia tidak mau membantu Bouw Koksu.

Terdengar bunyi peluit dan kentongan, tanda bahwa akan berdatangan pasukan keamanan dan tentu Kui Lan akan dikeroyok banyak orang. Kui Lan mengamuk, pedangnya bergerak bagaikan seekor naga mengamuk di angkasa dan dua orang perwira yang tadi membantu Souw Koksu, telah roboh mandi darah. Akan tetapi, segera terdengar suara gaduh dan sedikitnya duapuluh lima orang penjaga berikut beberapa orang perwira datang mengurung lalu mengeroyok gadis perkasa itu. Biarpun maklum bahwa ia berada dalam bahaya maut, Kui Lan tidak menjadi gentar dan ia mengambil keputusan untuk melawan sampai titik darah terakhir.

Melihat ini, Kim Hong mengeluarkan teriakan melengking panjang dan tubuhnya sudah berkelebat dan menerjang ke arah pertempuran. Ketika kedua tangannya bergerak, Nampak dua sinar bergulung-gulung dan terdengar teriakan disusul robohnya dua orang pengeroyok. Kiranya ia sudah menggerakkan sepasang pedang kecilnya yang lihai, yang ujungnya bertali.

Melihat betapa gadis yangi dicinta kakaknya itu kini membantunya, bangkit semangat Kui Lan dan iapun menggamuk semakin hebat.

“Kim Hong, engkau pengkhianat!” bentak Bouw Koksu.

Pedangnya meluncur dan menyerang gadis yang pernah menjadi murid dan anak angkatnya sendiri.

“Trangggg!” Pedang itu terpental dan hampir terlepas dari tangannya ketika ditangkis pedang kiri Kim Hong.

“Engkau telah menipuku! ” bentak Kim Hong.

“Tidak ada yang menipumu. Dia memang ayahmu! Gadis ini yang menipumu!” bentak pula Bouw Koksu, Tentu saja Kim Hong menjadi ragu.

Ia hanya mendengar keterangan Kui Lan bahwa pria yang diperkenalkan sebagai ayahnya itu palsu, akan tetapi apa buktinya? Sementara itu, Bouw-ciangkun yang mengepung dan mengeroyok Kui Lan sudah berteriak memerintahkan anak buahnya untuk memanggil bala bantuan,

Karena Kim Hong ragu dan menghentikan gerakannya, Kui Lan kini terdesak, dikepung ketat dan dihujani senjata. Biarpun gadis ini telah mewarisi ilmu silat yang tinggi dan hebat, namun ia masih kurang pengalaman dan pihak musuh terlampau banyak, ia sudah merobohkan enam orang pengeroyok, akan tetapi iapun menerima dua kali bacokan pedang yang menyerempet paha dan pundaknya, biarpun tidak parah, namun paha dan pundaknya terluka dan berdarah!

Tiba-tiba, seorang diantara para perajurit itu, yang tadi hanya menonton sambil mengacung-acungkan pedangnya, tiba-tiba saja menyerang Bouw Ki. Serangan pedangnya demikian cepatnya sehingga Bouw Ki hampir tertusuk lehernya dan ketika pemuda itu mengelak, pedang perajurit itu menyambar ke bawah dan pahanya terbacok sehingga terluka dan membuat dia berteriak kesakitan dan cepat meloncat ke belakang.

“Heii, gilakah kau??.” Teriak Bouw Ki.

Perajurit itu tidak perduli, bahkan kini membuang topi perajuritnya dan mengamuk dengan pedangnya membantu Kui Lan, membuat pengeroyokan ketat tadi menjadi buyar. Ketika Kui Lan memandang, jantungnya berdebar tegang karena mengenal mata yang mencorong itu bibir yang tersenyum-senyum itu. Tak salah lagi, dialah si pemuda sinting tempo hari!

“Kau?” serunya dan iapun putar pedang ke kiri, merobohkan seorang pengeroyok dengan tusukan.

“Nona, kita mundur…. cepat kau pergi dulu ke pagar tembok!” kata perajurit itu yang bukan lain adalah Souw Hui San.

Pemuda ini dengan cerdik, tentu saja dengan cara menyogok berhasil masuk menjadi seorang prajurit penjaga keamanan di rumah Bouw Koksu. Dengan demikian akan mudah baginya untuk menyelidiki keadaan pembesar ini dan mencari rahasia yang berguna bagi perjuangan para pendukung kerajaan Tang.

Melihat Kui Lan dikeroyok dia merasa bimbang. Akhirnya dia tak tahan melihat gadis yang dikaguminya itu terluka. Terpaksa dia membuka rahasia dirinya dan membantu. Dengan ilmu pedang Gobi-pai yang lihai, ia mengamuk, membuat Kui Lan tidak terhimpit lagi.

Sementara itu, melihat munculnya pemuda yang juga dikenalnya sebagai pemuda sinting Kim Hong berkelebat meninggalkan tempat itu. ia percaya bahwa pemuda yang
gerakannya amat lihai itu akan mampu menolong. Kui Lan sendiri cepat memasuki gedung dan menyerbu ke dalam kamar dimana ayahnya berada.

Orang yang mengaku sebagai Bu itu terkejut ketika melihat putrinya masuk ke kamar dengan sepasang mata mencorong penuh kemarahan.

”Kim Hong, apa yang terjadi,” tanyanya heran.

Akan tetapi gadis itu melompat dan sekali tangannya bergerak, jari tangan kanannya telah mencengkeram pundak orang itu. Orang yang mengaku sebagai ayahnya itu terkejut karena cengkeraman itu membuat pundaknya seperti remuk rasanya.

“Ada apa kenapa kau ini?”

“Katakan, namamu Ciang Kui, kan? Hayo mengaku terus terang atau akan kuhancurkan pundakmu!”

Wajah itu berubah pucat. “Aku… aku ”

“Hayo katakan terus terang bahwa kau bukan ayahku, engkau bukan Can Bu. Awas, kalau membohong akan kusiksa sampai mati!” cengkeramam di pundak itu semakin kuat sehingga wajah yang pucat kini mandi peluh.

“Aku…. aku…. hanya di perintah Bouw Koksu…,” akhirnya orang itu berterus terang.

“Keparat busuk!”

Saking marahnya Kim Hong mengerahkan tenaga sin-kang yang didapatnya dari ular hitam kepala merah. Hawa beracun yang amat dahsyat keluar dari tangannya memasuki tubuh orang itu dari pundak dan orang itu hanya menjerit satu kali lalu tewas dengan seluruh tubuhnya menjadi hitam.

Kim Hong mengangkat mayat itu berlari keluar lagi memasuki taman melihat Kui Lan dan pemuda sinting itu masih dikepung ketat walaupun keduanya sudah sampai di dekat pagar tembok. Agaknya tidak mudah bagi mereka untuk lolos karena kini sudah datang bala bantuan yang banyaknya tidak kurang dari limapuluh orang!

Kim Hong mengeluarkan suara lengking panjang dan tubuh tak bernyawa yang sudah kehitaman itu ia lontarkan ke arah Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun yang ikut mengeroyok Kui Lan dan Hui San.

Bouw Koksu terkejut melihat sosok tubuh melayang ke arahnya. Dia nyambut dengan bacokan pedangnya tubuh itu roboh. Ketika dia melihat melalui penerargan obor yang dibawa para perajurit, dia melihat wajah Ciang Kui yang mukanya berubah menghitam matanya terbelalak. Tahulah dia bahwa Kim Hong telah mengetahui rahasia kebohongannya.

Kim Hong mengamuk dengan sepasang pedangnya, sebentar saja sudah berhasil membuyarkan kepungan dan mendekati Kui Lan.

“Kui Lan, engkau sudah terluka, cepat keluar dari sini, aku yang menahan mereka!”

“Aku tidak mau meninggalkan engkau sendiri, Kim Hong!” kata Kui Lan tegas.

Diam-diam Kim Hong kagum, senang sekali mempunyai sahabat seperti Cin Han dan Kui Lan ini, demikian gagah dan setia kawan.

“Kalau begitu, mari kita lari bersama!” katanya dan iapun mempercepat gerakan kedua pedangnya.

Melihat betapa gadis perkasa itu kini membalik dan membantu musuh, anak buah Bouw Koksu yang sudah tahu akan kelihaiannya menjadi gentar. Kepungan melonggar dan kesempatan itu dipergunakan oleh Kim Hong, Kui Lan, dan Hui San untuk meloncat ke pohon itu dan dari situ meloncat ke atas pagar tembok dan dilanjutkan meloncat keluar.

Bouw Koksu dan Bouw Ciangkun mengerahkan para perajurit untuk melakukan pengejaran, akan tetapi tiga orang itu sudah menghilang dan beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah berada di dalam rumah Hartawan Ji, dengan aman mereka duduk di dalam ruangan rahasia dimana mereka bicara dengan Hartawan Ji.

Souw Hui San tanpa diminta sudah mengeluarkan obat luka dan menolong Kui Lan yang terluka pundak dan pahanya, dibantu oleh Kim Hong yang membalut luka di paha gadis itu.

Biarpun tiga orang muda itu baru kali ini berkenalan, namun hubungan mereka sudah akrab sekali, mereka merasa cocok dan seolah sudah saling berkenalan bertahun-tahun lamanya. Setelah luka-luka di pundak dan paha Kui Lan diobati, luka yang tidak parah, mereka duduk menghadapi meja dan sambil makan hidangan malam yang dikeluarkan pembantu Hartawan Ji, mereka bercakap-cakap.

“Kiranya benar seperti dugaanku tempo hari, engkau hanya berpura-pura sinting,” kata Kim Hong kepada Sui San yang tersenyum.

“Akupun sudah merasa curiga. Mana ada orang sinting membawa-bawa pedang yang bagus?” kata pula Kui Lan.

“Dan engkau yang melemparkan pedangku membuat dahiku benjol menyempurnakan penyamaranku, nona Can Kim Hong,” kata Hui San tertawa. “Dengan peristiwa benjolnya dahiku itu, Bouw ciangkun dan yang lain-lain percaya bahwa aku adalah seorang sinting, ha ha!”

“Siapakah sebenarnya engkau ini Dan mengapa engkau dapat muncul mengacau rombongan Bouw-ciangkun ketika mereka mencari pusaka, kemudian bagaimana pula tiba-tiba engkau menjadi seorang perajurit anak buah Bouw-ciangku dan tadi menolongku?”

“Wah, ceritanya panjang, nona Yang Kui Lan”

“Engkau mengenal kami semua, akan tetapi kami tidak mengenalmu! Ini tidak adil. Perkenalkan dulu dirimu baru kita bicara lagi,” kata Hartawan Ji yang bagimanapun juga masih menaruh perasaan curiga kepada pemuda yang tidak dikenalnya itu.

“Paman Ji Siok, apakah paman dan semua kawan paman tidak dapat mengetahui siapa aku? Dan paman juga tidak mengenal mendiang Paman Souw Loki”‘

“Souw Loki Bukankah pemilik toko yang baru saja meninggal dunia secara aneh tanpa ada yang mengetahui sebabnya itu?” Hartawan Ji memandang penuh perhatian. “Orang muda, agaknya engkau mengetahui tentang diriku dan tentang teman-teman, akan tetapi kami belum mengetahui siapa engkau.”

“Paman, dia ini jelas orang yang telah mengambil Mestika Burung Hong Kemala dan menukarnya dengan yang palsu. Tidak benarkah dugaanku itu sobat?” tanya Kim Hong.

No comments:

Post a Comment