Sungguh mengagumkan sekali kalau ada yang sempat menyaksikan dua orang gadis itu berlatih silat pedang. Mereka berdua mempergunakan sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya dan gerakan mereka demikian ringan dan indah, bagaikan dua ekor kupu-kupu yang sedang memperebutkan sekuntum bunga untuk dihisap madunya. Tubuh mereka kadang nampak dan kadang tidak, dan hanya dua gulungan sinar pedang mereka yang saling belit dan saling tekan, tiba-tiba saja dua gulungan sinar pedang itu lenyap dan di situ telah berdiri dua orang gadis sambil melintangkan pedang didepan dada.
Yang seorang berusia duapuluh tahun, wajahnya cantik jelita dan agung, dengan tahi lalat kecil di dagu kiri, menambah indah dan manis sekal wajah itu. Kulitnyapun putih kemerahan, lembut halus seperti kulit bayi Sungguh sukar dapat dibayangkan betapa seorang gadis secantik dan selembut itu dapat memainkan pedang sedahsyat tadi.
Gadis ke dua yang berdiri di depannya lebih muda, usianya sekitar delapan belas tahun. Gadis inipun cantik jelita dan manis, mungil dengan bentuk tubuh lebih kecil dan ramping. Kalau gadis pertama nampak lembut, gadis yang lebih muda ini nampak lincah, galak dan sepasang matanya berapi-api penuh semangat hidup. Kulitnya tidaklah seputih gadis pertama, agak gelap, namun tidak mengurangi daya tariknya.
Mereka itu bukan lain adalah Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi, kakak beradik puteri Menteri Yang Kong Tiong! Seperti telah kita ketahui, kakak beradik ini meninggalkan kota raja untuk mencari kakak mereka, Yang Cin Han dan mereka bertemu dengan Kong Hwi Ho-siang, seorang hwesio tua yang sakti dan menjadi muridnya. Dua orang dara ini tinggal dalam kuil Thian-bun-tang yang diketuai Pek-lian Ni-kouw, murid keponakan Kong Hwi Hosiang.
Dua tahun lebih lamanya mereka tinggal di kuil itu. Sekali waktu Kong Hwi Hosiang datang ke kuil dan mengajarkan ilmu silat kepada mereka. Juga dari suci mereka, Pek-lian Ni-kouw, mereka diberi pelajaran gin-kang (ilmu meringank tubuh). Dari suhu mereka, kedua orang dara ini selain menerima latihan menghimpun tenaga sin-kang, juga semua ilmu yang telah mereka kuasai, dimatangkan sehingga kini ilmu pedang Sian-li Kiam-sut yang pernah mereka pelajari dari Sin-tung Kai-ong menjadi lebih dahsyat. Selain itu, juga dua orang gadis itu menerima pelajaran ilmu toya yang amat hebat dari Kong Hwi Hosiang, yaitu ilmu Hong Sin-pang (Toya Sakti tangan dan Awan).
"Enci Lan, sudah cukup kita berlatih pedang. Mari kita berlatih ilmu toya kita," kata Kui Bi yang selalu lincah dan gembra.
"Baik, Bi-moi," kata Kui Lan dan iapun mencabut sebatang toya yang tadi ia tancapkan di atas tanah di taman bunga belakang kuil itu.
Adiknya juga rnencabut toyanya dan kini keduanya sudah saling berhadapan sambil memasang kuda-¬kuda dengan melintangkan toya didepan dada. Pedang mereka tadi mereka simpan kembali ke dalam sarung pedang yang berada di punggung.
"Silakan, enci Lan!" Kata Kui Bi.
Kui Lan mengeluarkan bentakan halus dan iapun sudah menggerakkan toyanya menyerang. Adiknya menangkis dan membalas serangan encinya dan segera terdengar suara tak-tok-tak-tok beradunya kedua batang toya itu. Makin lama gerakan mereka semakin cepat sehingga nampak gulungan sinar putih seperti awan, dan angin menyambar-nyambar, merontokkan daun-¬daun kuning di atas pohon. Itulah kiranya nama ilmu toya itu. Angin dan awan. Sinar toya itu seperti awan putih berarak, dan sambaran nya mendatangkan angin besar!
Setelah merasa puas, keduanya menghentikan gerakan toya. Ada keringat tipis membasahi leher dan dahi ke dua orang gadis itu.
"Omitohud, tidak sia-sia jerih payah pinceng selama dua tahun ini. Kalian telah dapat menguasai Hong-in Sin pang dengan baik!"
Kedua orang gadis itu cepat menengok dan memberi hormat kepada hwesio bertubuh gemuk seperti Ji-lai-hud. Hwesio yang mulutnya sudah tidak bergigi lagi itu, yang tubuhnya gendut dan mukanya selalu tersenyum lebar, adalah Kong Hwi Hosiang, hwesio perantau yang sakt i.
"Suhu......!" Dua orang gadis itu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.
"Omitohud! Kui Lan dan Kui Bi pinceng melihat bahwa kalian telah berhasil baik dan sekarang sudah tiba saatnya bagi kalian untuk meninggalkan kuil Thian-bun-tang, kecuali kalau kalian berdua ingin menjadi biarawati!"
Kakak beradik itu saling pandang, kemudian Kui Bi mewakili encinya berkata,
"Suhu, teecu berdua tidak ingin menjadi biarawati!"
Hwesio itu tertawa bergelak.
"Ha ha-ha-ha, siapa yang menyuruh kalian menjadi biarawati? Akan tetapi, menjadi biarawati hanyalah merupakan tanda lahiriah belaka karena sesungguhnya, baik pendeta ataupun orang biasa, memiliki kewajiban yang sama dalam hidup ini, yaitu menjadi manusia yang baik dan berguna bagi rakyat, bagi negara, dan bagi manusia sendiri. Nah, berkemaslah kalian dan hari ini juga kalian boleh meninggalkan kuil. Ingat, pergunakan semua kepandaian yang telah kalian pelajari dengan tekun untuk perbuatan yang baik dan benar. Nah, pinceng mau pergi lebih dulu!"
Setelah berkata demikian, sekali mengebutkan lengan bajunya, hwesio itu telah lenyap dari taman itu. Kui Lan dan Kui Bi cepat menjatuhkan diri berlutut ke arah perginya guru mereka.
"Terima kasih, suhu!" seru mereka berbareng dan sikap ini saja sudah menunjukkan betapa kedua orang gadis ini telah dapat menanggalkan semua ketinggian hati yang timbul dari lingkungan keluarga mereka.
Keduanya adalah puteri menteri yang berkuasa, dan sejak kecil hidup dalam kemuliaan, kemewahan dan penghormatan. Kini, mereka tidak ragu untuk menghormati guru mereka, seorang hwesio tua yang miskin dengan berlutut di atas tanah, tidak perduli bahwa lutut celana mereka menjadi kotor karenanya.
Ketika mereka menghadap Pek-lian Ni-kouw, sebelum mereka melapor tentang ucapan suhu mereka tadi, Pek-lian Ni-kouw sudah mendahului mereka.
"Omitohud......, su-pek (uwa guru) telah memberi tahu kepada pin-ni bahwa sumoi berdua akan meninggalkan kuil hari ini. Aih, betapa kuatnya ikatan batin mencengkeram perasaan manusia. Omitohud...... pin-ni yang sudah belasan tahun mengasingkan diri di kuil, tetap saja masih dapat dicengkeram sehingga di saat perpisahan dengan sumoi berdua hati ini merasa sedih dan kehilangan!" Nikouw itu menghela napas panjang.
Kedua orang gadis bangsawan itu memegang tangan nikouw itu dari kanan kiri.
"Suci, percayalah, kami berdua selamanya tidak akan dapat melupakan kebaikan suci dan kelak kalau ada kesempatan, kami pasti akan datang berkunjung," kata Kui Lan dengan suara terharu.
Kui Bi tertawa.
"Aih, suci. Di mana ada pertemuan tanpa perpisahan? Justeru pertemuan menjadi peristiwa yang membahagiakan kalau didahului dengan perpisahan, bukan? Kami berterima kasih sekali kepada suci yang selama ini bukan hanya bersikap amat manis budi kepada kami, bahkan telah mengajarkan gin-kang secara sungguh-sungguh kepada kami."
Pek-lian Ni-kouw tersenyum dan hatinya terhibur oleh sikap lincah Kui Bi.
"Omitohud, kenapa kita bertiga menjadi seperti tiga orang anak kecil? Hayo, kalian cepat berkemas dan berangkat selagi hari masih pagi!" Dengan lembut ia mendorong kedua orang sumoi nya itu yang segera memasuki kamar mereka untuk berkemas.
Setelah dua orang gadis itu berganti pakaian, membawa buntalan pakaian di punggung, pedang di punggung dan muncul pula di ruangan depan, Pek-lian Ni-kouw merangkul mereka seorang demi seorang dan dengan suara agak gemetar ia berkata,
"Lan-sumoi, dan Bi-sumoi, kalian adalah adik-adik seperguruan, akan tetapi aku merasa seolah kalian ini seperti anak-anakku atau keponakanku sendiri. Kalian telah mempelajari banyak ilmu pembela diri yang cukup kuat, akan tetapi waspadalah selalu. Di dunia ini banyak terdapat orang jahat. Apa lagi kalian adalah dua orang gadis yang cantik jelita dan menarik. Pin-ni khawatir kalau dalam perjalanan kalian akan menemui banyak godaan dan gangguan."
"Harap suci tidak khawatir. Kiranya tidak percuma suhu mengajarkan ilmu kepada kami, juga suci telah mengajar kami bagaimana untuk dapat membela diri dengan baik. Kami pasti akan manipu menjaga diri, suci," kata Kui Bi.
"Kalian sudah mendengar bahwa kota raja Tiang-an telah diduduki pemberontak. Lalu ke mana sekarang kalia hendak pergi?" tanya pula Pek-lian Nikouw yang masih saja mengkhawatirkan keadaan dua orang sumoinya yang amat disayangnya itu.
"Kami sudah mendengar bahwa Sri-baginda Kaisar bersama ayah kami dan bibi mengungsi ke barat. Kami akan menyusul ayah ke sana, suci," kata Kui Lan .
"Sebaiknya begitu. Kita tidak tahu apa yang telah terjadi, hanya mendengar bahwa kota raja diduduki pemberontak dan Sribaginda melarikan diri ke barat. Mudah-mudahan saja kalian akan dapat bertemu dengan keluarga kalian. Pin-ni hanya akan berdoa untuk kalian berdua sumoi."
"Terima kasih, suci."
Dua orang gadis itu lalu pergi meninggalkan kuil di mana selama lebih dua tahun mereka tinggal dan berlatih silat, diantar oleh Pek-lian Ni-kouw dan para nikouw lain sampai ke luar pekarangan kuil itu. Setelah jauh meninggalkan kuil, baru kedua orang gadis itu berhenti untuk menentukan arah ke mana mereka hendak pergi.
"Enci Lan, apakah tidak sebaiknya kalau kita lebih dahulu pergi ke Tiang-an?" kata Kui Bi ketika dua orang gadis itu duduk ditepi jalan gunung itu, di atas batu besar.
"Aih, kenapa kesana, Bi-moi? Bukankah kota raja telah diduduki musuh? Akan berbahaya sekali kalau kita ke sana. Dan menurut berita, ayah menemani Sribaginda Kaisar mengungsi ke barat. Sebaiknya kalau kita langsung saja menyusul ke barat."
"Akan tetapi aku ingin sekali mengetahui apa yang telah terjadi dengan keluarga kita, enci."
"Kalau begitu, mari kita mencari keterangan yang jelas lebih dulu, baru kita menentukan langkah apa yang akan kita ambil "
Keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja Tiang-an. Setelah tiba di beberapa dusun dan kota, mereka mencari keterangan dan mendengar berita simpang siur tentang keluarga Menteri Yang Kok Tiong. Ada yang mengabarkan bahwa menteri itu tertawan pemberontak, ada yang mengabarkan bahwa keluarga orang tua mereka telah dibunuh pemberontak, ada pula yang mengabarkan bahwa keluarga mereka itu telah ikut mengungsi bersama kaisar.
Kedua orang gadis itu merasa bingung dan berduka.
"Enci Lan, sebaiknya kalau kita membagi tugas. Seorang pergi menyusul ke barat, dan seorang lagi menyelidiki ke kota raja."
"Akan tetapi, amat berbahaya kalau memasuki Tiang-an, Bi-moi. Kalau ada yang tahu bahwa kita adalah puteri Menteri Yang, tentu pemerintah pemberontak akan menangkap kita."
"Begini saja, enci Lan. Biar aku yang memasuki Tiang-an dan menyelidik keadaan orang tua kita. Engkau berangkatlah dulu ke barat menyusul rombongan kaisar. Tentu tidak sukar mencari jejak rombongan itu. Setelah aku mendapat keterangan di kota raja, baru aku akan menyusul pula ke sana."
"Akan tetapi, berbahaya sekali ke Tiang-an!"
"Aku akan berhati-hati dan menyamar, enci Lan. Pula, andaikata ada terjadi sesuatu dengan diriku, masih ada engkau di sana! Asal jangan kita berdua yang tertimpa malapetaka, seorang di antara kita masih akan mampu berjuang untuk membela Kerajaan Tang!" kata Kui Bi penuh semangat. "Pula, bukan hanya perjalananku ke Tiang-an yang berbahaya, juga tugasmu menyusul ke barat tidak kurang bahayanya. Bahkan perjalananmu lebih jauh dan sukar dibandingkan aku. Ke Tiang-an dekat saja, akan tetapi menyusul rombongan Sri baginda ke barat? Entah sampai dimana akhir perjalanan itu. Sudahlah, enci Lan, saat ini tidak perlu kita bimbang ragu dan khawatir, mari kita membagi tugas ini. Ingat akan pesan dan nasihat suhu!"
Melihat gairah dan semangat adiknya, timbul pula semangat Kui Lan ia memang seorang gadis yang lembut, tidak sekeras adiknya, akan tetapi pengalaman pahit membuat ia maklum bahwa ia tidak boleh terlalu lemah menghadapi kehidupan yang penuh tantangan ini. ia teringat akan nasihat sucinya, Pek-lian Ni-kouw yang mengatakan bahwa kehidupan merupakan tantangan. Baru dilahirkan saja seorang manusia sudah menangis, tanda bahwa dalam kehidupan dia akan menghadapi segala macam tantangan!
Justeru di dalam tantangan-tantangan itulah letak seni kehidupan. Tanpa adanya tantangan, kehidupan tentu akan hambar dan tidak ada artinya Justeru dengan adanya kesukaran, kesulitan, kegagalan dan sebagainya itulah maka hidup ini terasa hidup, penuh gerak, penuh daya dan upaya. Seni hidup adalah menghadapi semua tantangan dan mengatasinya! Orang yang putus asa, orang yang menyerah terhadap keadaan, adalah orang yang tidak menunaikan tugas kehidupan ini. Kita dilahirkan untuk berdaya upaya menghadapi semua tantangan hidup. Pergunakan segala anggauta jasmani, segala daya akal pikiran, untuk berikhtiar mengatasi semua kebutuhan dan kesulitan hidup, itulah tugas kewajiban setiap orang manusia Dan semua usaha ini didasari kepercayaan, iman dan penyerahan kepada Yang Menciptakan segala yang ada, ya Yang Maha Pencipta, Maka Kuasa dan Maga Pengasih.
"Baiklah, Bi-moi, mari kita membagi tugas!" katanya dengan semangat yang mulai bangkit. Adiknya memandang dengan wajah berseri.
"Nah, kita berpisah di sini, enci Lan. Semoga tak lama lagi kita akan dapat saling berjumpa. Kalau aku sudah mendapat tahu keadaan sebenarnya yang terjadi di kota raja, tentu aku akan segera menyusul ke barat. Entah siapa nanti yang lebih dulu dapat bertemu dengan Han-toako dan ayah ibu, aku atau engkau."
"Selamat berpisah, adikku." Mereka berangkulan dan berciuman, lalu mengambil jalan masing-masing. Kui Bi menuju ke kota raja Tiang-an sedangkan Kui Lan menuju ke barat.
Yang seorang berusia duapuluh tahun, wajahnya cantik jelita dan agung, dengan tahi lalat kecil di dagu kiri, menambah indah dan manis sekal wajah itu. Kulitnyapun putih kemerahan, lembut halus seperti kulit bayi Sungguh sukar dapat dibayangkan betapa seorang gadis secantik dan selembut itu dapat memainkan pedang sedahsyat tadi.
Gadis ke dua yang berdiri di depannya lebih muda, usianya sekitar delapan belas tahun. Gadis inipun cantik jelita dan manis, mungil dengan bentuk tubuh lebih kecil dan ramping. Kalau gadis pertama nampak lembut, gadis yang lebih muda ini nampak lincah, galak dan sepasang matanya berapi-api penuh semangat hidup. Kulitnya tidaklah seputih gadis pertama, agak gelap, namun tidak mengurangi daya tariknya.
Mereka itu bukan lain adalah Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi, kakak beradik puteri Menteri Yang Kong Tiong! Seperti telah kita ketahui, kakak beradik ini meninggalkan kota raja untuk mencari kakak mereka, Yang Cin Han dan mereka bertemu dengan Kong Hwi Ho-siang, seorang hwesio tua yang sakti dan menjadi muridnya. Dua orang dara ini tinggal dalam kuil Thian-bun-tang yang diketuai Pek-lian Ni-kouw, murid keponakan Kong Hwi Hosiang.
Dua tahun lebih lamanya mereka tinggal di kuil itu. Sekali waktu Kong Hwi Hosiang datang ke kuil dan mengajarkan ilmu silat kepada mereka. Juga dari suci mereka, Pek-lian Ni-kouw, mereka diberi pelajaran gin-kang (ilmu meringank tubuh). Dari suhu mereka, kedua orang dara ini selain menerima latihan menghimpun tenaga sin-kang, juga semua ilmu yang telah mereka kuasai, dimatangkan sehingga kini ilmu pedang Sian-li Kiam-sut yang pernah mereka pelajari dari Sin-tung Kai-ong menjadi lebih dahsyat. Selain itu, juga dua orang gadis itu menerima pelajaran ilmu toya yang amat hebat dari Kong Hwi Hosiang, yaitu ilmu Hong Sin-pang (Toya Sakti tangan dan Awan).
"Enci Lan, sudah cukup kita berlatih pedang. Mari kita berlatih ilmu toya kita," kata Kui Bi yang selalu lincah dan gembra.
"Baik, Bi-moi," kata Kui Lan dan iapun mencabut sebatang toya yang tadi ia tancapkan di atas tanah di taman bunga belakang kuil itu.
Adiknya juga rnencabut toyanya dan kini keduanya sudah saling berhadapan sambil memasang kuda-¬kuda dengan melintangkan toya didepan dada. Pedang mereka tadi mereka simpan kembali ke dalam sarung pedang yang berada di punggung.
"Silakan, enci Lan!" Kata Kui Bi.
Kui Lan mengeluarkan bentakan halus dan iapun sudah menggerakkan toyanya menyerang. Adiknya menangkis dan membalas serangan encinya dan segera terdengar suara tak-tok-tak-tok beradunya kedua batang toya itu. Makin lama gerakan mereka semakin cepat sehingga nampak gulungan sinar putih seperti awan, dan angin menyambar-nyambar, merontokkan daun-¬daun kuning di atas pohon. Itulah kiranya nama ilmu toya itu. Angin dan awan. Sinar toya itu seperti awan putih berarak, dan sambaran nya mendatangkan angin besar!
Setelah merasa puas, keduanya menghentikan gerakan toya. Ada keringat tipis membasahi leher dan dahi ke dua orang gadis itu.
"Omitohud, tidak sia-sia jerih payah pinceng selama dua tahun ini. Kalian telah dapat menguasai Hong-in Sin pang dengan baik!"
Kedua orang gadis itu cepat menengok dan memberi hormat kepada hwesio bertubuh gemuk seperti Ji-lai-hud. Hwesio yang mulutnya sudah tidak bergigi lagi itu, yang tubuhnya gendut dan mukanya selalu tersenyum lebar, adalah Kong Hwi Hosiang, hwesio perantau yang sakt i.
"Suhu......!" Dua orang gadis itu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.
"Omitohud! Kui Lan dan Kui Bi pinceng melihat bahwa kalian telah berhasil baik dan sekarang sudah tiba saatnya bagi kalian untuk meninggalkan kuil Thian-bun-tang, kecuali kalau kalian berdua ingin menjadi biarawati!"
Kakak beradik itu saling pandang, kemudian Kui Bi mewakili encinya berkata,
"Suhu, teecu berdua tidak ingin menjadi biarawati!"
Hwesio itu tertawa bergelak.
"Ha ha-ha-ha, siapa yang menyuruh kalian menjadi biarawati? Akan tetapi, menjadi biarawati hanyalah merupakan tanda lahiriah belaka karena sesungguhnya, baik pendeta ataupun orang biasa, memiliki kewajiban yang sama dalam hidup ini, yaitu menjadi manusia yang baik dan berguna bagi rakyat, bagi negara, dan bagi manusia sendiri. Nah, berkemaslah kalian dan hari ini juga kalian boleh meninggalkan kuil. Ingat, pergunakan semua kepandaian yang telah kalian pelajari dengan tekun untuk perbuatan yang baik dan benar. Nah, pinceng mau pergi lebih dulu!"
Setelah berkata demikian, sekali mengebutkan lengan bajunya, hwesio itu telah lenyap dari taman itu. Kui Lan dan Kui Bi cepat menjatuhkan diri berlutut ke arah perginya guru mereka.
"Terima kasih, suhu!" seru mereka berbareng dan sikap ini saja sudah menunjukkan betapa kedua orang gadis ini telah dapat menanggalkan semua ketinggian hati yang timbul dari lingkungan keluarga mereka.
Keduanya adalah puteri menteri yang berkuasa, dan sejak kecil hidup dalam kemuliaan, kemewahan dan penghormatan. Kini, mereka tidak ragu untuk menghormati guru mereka, seorang hwesio tua yang miskin dengan berlutut di atas tanah, tidak perduli bahwa lutut celana mereka menjadi kotor karenanya.
Ketika mereka menghadap Pek-lian Ni-kouw, sebelum mereka melapor tentang ucapan suhu mereka tadi, Pek-lian Ni-kouw sudah mendahului mereka.
"Omitohud......, su-pek (uwa guru) telah memberi tahu kepada pin-ni bahwa sumoi berdua akan meninggalkan kuil hari ini. Aih, betapa kuatnya ikatan batin mencengkeram perasaan manusia. Omitohud...... pin-ni yang sudah belasan tahun mengasingkan diri di kuil, tetap saja masih dapat dicengkeram sehingga di saat perpisahan dengan sumoi berdua hati ini merasa sedih dan kehilangan!" Nikouw itu menghela napas panjang.
Kedua orang gadis bangsawan itu memegang tangan nikouw itu dari kanan kiri.
"Suci, percayalah, kami berdua selamanya tidak akan dapat melupakan kebaikan suci dan kelak kalau ada kesempatan, kami pasti akan datang berkunjung," kata Kui Lan dengan suara terharu.
Kui Bi tertawa.
"Aih, suci. Di mana ada pertemuan tanpa perpisahan? Justeru pertemuan menjadi peristiwa yang membahagiakan kalau didahului dengan perpisahan, bukan? Kami berterima kasih sekali kepada suci yang selama ini bukan hanya bersikap amat manis budi kepada kami, bahkan telah mengajarkan gin-kang secara sungguh-sungguh kepada kami."
Pek-lian Ni-kouw tersenyum dan hatinya terhibur oleh sikap lincah Kui Bi.
"Omitohud, kenapa kita bertiga menjadi seperti tiga orang anak kecil? Hayo, kalian cepat berkemas dan berangkat selagi hari masih pagi!" Dengan lembut ia mendorong kedua orang sumoi nya itu yang segera memasuki kamar mereka untuk berkemas.
Setelah dua orang gadis itu berganti pakaian, membawa buntalan pakaian di punggung, pedang di punggung dan muncul pula di ruangan depan, Pek-lian Ni-kouw merangkul mereka seorang demi seorang dan dengan suara agak gemetar ia berkata,
"Lan-sumoi, dan Bi-sumoi, kalian adalah adik-adik seperguruan, akan tetapi aku merasa seolah kalian ini seperti anak-anakku atau keponakanku sendiri. Kalian telah mempelajari banyak ilmu pembela diri yang cukup kuat, akan tetapi waspadalah selalu. Di dunia ini banyak terdapat orang jahat. Apa lagi kalian adalah dua orang gadis yang cantik jelita dan menarik. Pin-ni khawatir kalau dalam perjalanan kalian akan menemui banyak godaan dan gangguan."
"Harap suci tidak khawatir. Kiranya tidak percuma suhu mengajarkan ilmu kepada kami, juga suci telah mengajar kami bagaimana untuk dapat membela diri dengan baik. Kami pasti akan manipu menjaga diri, suci," kata Kui Bi.
"Kalian sudah mendengar bahwa kota raja Tiang-an telah diduduki pemberontak. Lalu ke mana sekarang kalia hendak pergi?" tanya pula Pek-lian Nikouw yang masih saja mengkhawatirkan keadaan dua orang sumoinya yang amat disayangnya itu.
"Kami sudah mendengar bahwa Sri-baginda Kaisar bersama ayah kami dan bibi mengungsi ke barat. Kami akan menyusul ayah ke sana, suci," kata Kui Lan .
"Sebaiknya begitu. Kita tidak tahu apa yang telah terjadi, hanya mendengar bahwa kota raja diduduki pemberontak dan Sribaginda melarikan diri ke barat. Mudah-mudahan saja kalian akan dapat bertemu dengan keluarga kalian. Pin-ni hanya akan berdoa untuk kalian berdua sumoi."
"Terima kasih, suci."
Dua orang gadis itu lalu pergi meninggalkan kuil di mana selama lebih dua tahun mereka tinggal dan berlatih silat, diantar oleh Pek-lian Ni-kouw dan para nikouw lain sampai ke luar pekarangan kuil itu. Setelah jauh meninggalkan kuil, baru kedua orang gadis itu berhenti untuk menentukan arah ke mana mereka hendak pergi.
"Enci Lan, apakah tidak sebaiknya kalau kita lebih dahulu pergi ke Tiang-an?" kata Kui Bi ketika dua orang gadis itu duduk ditepi jalan gunung itu, di atas batu besar.
"Aih, kenapa kesana, Bi-moi? Bukankah kota raja telah diduduki musuh? Akan berbahaya sekali kalau kita ke sana. Dan menurut berita, ayah menemani Sribaginda Kaisar mengungsi ke barat. Sebaiknya kalau kita langsung saja menyusul ke barat."
"Akan tetapi aku ingin sekali mengetahui apa yang telah terjadi dengan keluarga kita, enci."
"Kalau begitu, mari kita mencari keterangan yang jelas lebih dulu, baru kita menentukan langkah apa yang akan kita ambil "
Keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja Tiang-an. Setelah tiba di beberapa dusun dan kota, mereka mencari keterangan dan mendengar berita simpang siur tentang keluarga Menteri Yang Kok Tiong. Ada yang mengabarkan bahwa menteri itu tertawan pemberontak, ada yang mengabarkan bahwa keluarga orang tua mereka telah dibunuh pemberontak, ada pula yang mengabarkan bahwa keluarga mereka itu telah ikut mengungsi bersama kaisar.
Kedua orang gadis itu merasa bingung dan berduka.
"Enci Lan, sebaiknya kalau kita membagi tugas. Seorang pergi menyusul ke barat, dan seorang lagi menyelidiki ke kota raja."
"Akan tetapi, amat berbahaya kalau memasuki Tiang-an, Bi-moi. Kalau ada yang tahu bahwa kita adalah puteri Menteri Yang, tentu pemerintah pemberontak akan menangkap kita."
"Begini saja, enci Lan. Biar aku yang memasuki Tiang-an dan menyelidik keadaan orang tua kita. Engkau berangkatlah dulu ke barat menyusul rombongan kaisar. Tentu tidak sukar mencari jejak rombongan itu. Setelah aku mendapat keterangan di kota raja, baru aku akan menyusul pula ke sana."
"Akan tetapi, berbahaya sekali ke Tiang-an!"
"Aku akan berhati-hati dan menyamar, enci Lan. Pula, andaikata ada terjadi sesuatu dengan diriku, masih ada engkau di sana! Asal jangan kita berdua yang tertimpa malapetaka, seorang di antara kita masih akan mampu berjuang untuk membela Kerajaan Tang!" kata Kui Bi penuh semangat. "Pula, bukan hanya perjalananku ke Tiang-an yang berbahaya, juga tugasmu menyusul ke barat tidak kurang bahayanya. Bahkan perjalananmu lebih jauh dan sukar dibandingkan aku. Ke Tiang-an dekat saja, akan tetapi menyusul rombongan Sri baginda ke barat? Entah sampai dimana akhir perjalanan itu. Sudahlah, enci Lan, saat ini tidak perlu kita bimbang ragu dan khawatir, mari kita membagi tugas ini. Ingat akan pesan dan nasihat suhu!"
Melihat gairah dan semangat adiknya, timbul pula semangat Kui Lan ia memang seorang gadis yang lembut, tidak sekeras adiknya, akan tetapi pengalaman pahit membuat ia maklum bahwa ia tidak boleh terlalu lemah menghadapi kehidupan yang penuh tantangan ini. ia teringat akan nasihat sucinya, Pek-lian Ni-kouw yang mengatakan bahwa kehidupan merupakan tantangan. Baru dilahirkan saja seorang manusia sudah menangis, tanda bahwa dalam kehidupan dia akan menghadapi segala macam tantangan!
Justeru di dalam tantangan-tantangan itulah letak seni kehidupan. Tanpa adanya tantangan, kehidupan tentu akan hambar dan tidak ada artinya Justeru dengan adanya kesukaran, kesulitan, kegagalan dan sebagainya itulah maka hidup ini terasa hidup, penuh gerak, penuh daya dan upaya. Seni hidup adalah menghadapi semua tantangan dan mengatasinya! Orang yang putus asa, orang yang menyerah terhadap keadaan, adalah orang yang tidak menunaikan tugas kehidupan ini. Kita dilahirkan untuk berdaya upaya menghadapi semua tantangan hidup. Pergunakan segala anggauta jasmani, segala daya akal pikiran, untuk berikhtiar mengatasi semua kebutuhan dan kesulitan hidup, itulah tugas kewajiban setiap orang manusia Dan semua usaha ini didasari kepercayaan, iman dan penyerahan kepada Yang Menciptakan segala yang ada, ya Yang Maha Pencipta, Maka Kuasa dan Maga Pengasih.
"Baiklah, Bi-moi, mari kita membagi tugas!" katanya dengan semangat yang mulai bangkit. Adiknya memandang dengan wajah berseri.
"Nah, kita berpisah di sini, enci Lan. Semoga tak lama lagi kita akan dapat saling berjumpa. Kalau aku sudah mendapat tahu keadaan sebenarnya yang terjadi di kota raja, tentu aku akan segera menyusul ke barat. Entah siapa nanti yang lebih dulu dapat bertemu dengan Han-toako dan ayah ibu, aku atau engkau."
"Selamat berpisah, adikku." Mereka berangkulan dan berciuman, lalu mengambil jalan masing-masing. Kui Bi menuju ke kota raja Tiang-an sedangkan Kui Lan menuju ke barat.
**** 019 ****
***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 020
***Kembali

No comments:
Post a Comment