Yang Kui Lan memasuki kota Liu-ba di pegunungan Cin¬lingsan. Kota ini cukup ramai dan hari telah menjelang senja ketika gadis itu memasuki kota ini. Di sepanjang perjalanan ia telah mendengar ke arah mana perginya rombongan pengungsi kaisar, ia merasa lapar dan memasuki sebuah rumah makan yang berada di sudut kota. ia mengambil keputusan untuk makan dulu, kemudian mencari penginapan dan besok pagi-pagi sekali melanjutkan perjalanan.
Rumah makan Itu tidak berapa besar, hanya ada belasan buah meja di situ, itupun tidak penuh, hanya setengah nya terisi tamu. Kui Lan memilih sebuah meja kosong, tidak memperdulikan pandang mata para tamu di tempat itu yang semua menoleh dan memandang kepadanya dengan penuh kagum. Memang Kui Lan seorang gadis yang cantik jelita. Wajahnya mirip sekali dengan bibinya, mendiang Yang Kui Hui, selir kaisar yang kecantikannya membuat kaisar tergila-¬gila.
Biarpun Kui Lan sama sekali tidak menghias mukanya, tanpa bedak tanpa gincu, juga rambutnya disanggul biasa tanpa hiasan, pakaiannya juga sederhana sesuai dengan nasihat sucinya, Pek-lian Ni-kouw, namun kecantikannya yang aseli bahkan membuat semua pria di rumah makan itu, termasuk para pelayan dan pemilik rumah makan, memandangnya penuh kagum. Hanya ada satu orang saja di antara para tamu yang tidak memandang kepadanya, walaupun tamu itupun melihat ia memasuki rumah makan. Tamu yang sikapnya berbeda dari yang lain ini adalah seorang pemuda yang berpakaian sederhana pula, namun wajah nya tampan dan gagah, sikapnya tenang dan pendiam.
Kebetulan sekali ketika Kui Lan mengambil tempat duduk, tanpa sengaja ia duduk menghadap ke arah pemuda itu. yang juga duduknya menghadap kepadanya sehingga tanpa dapat dicegah lagi mereka saling pandang. Akan tetapi pemuda itu dengan sopan segera mengalihkan pandang matanya. Hal ini justeru menarik perhatian Kui Lan. Semua tamu menoleh dan memandang kepadanya dengan mata seperti srigala kelaparan, akan tetapi pemuda itu bahkan mengalihkan pandang mata! Iapun menunduk, akan tetapi kerlingnya dengan tajam kadang menyambar ke arah meja di depan itu walaupun ia tidak secara langsung memandang kepada pemuda tadi. Pelayan datang menghampiri dan iapun memesan nasi dan dua macam sayuran. Telah dua tahun lebih ia tinggal di kuil, setiap hari pantang makan daging seperti para nikouw, maka iapun memilih sayur yang tidak mengandung banyak dagingnya, ia bukan memantang daging, hanya sudah terbiasa makan sayuran
Pelayan itu memandang heran. Seorang gadis yang cantik ini, memesan masakan yang begitu sederhana dan murah. Agaknya seorang gadis yang tidak membawa banyak uang, pikirnya.
Karena Kui Lan tidak mau memperdulikan keadaan sekelilingnya, ia tidak tahu bahwa di meja sebelahnya, yang berada di belakangnya, duduk tiga orang yang dari pakaiannya dapat diketahui bahwa mereka adalah tiga orang perwira. Usia mereka antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, dan dari wajah mereka mudah diketahui pula bahwa mereka bukanlah bangsa pribumi, melainkan suku bangsa utara karena wajah mereka seperti wajah orang Mancu atau Uigur. Juga logat bicara mereka, biarpun menggunakan bahasa Han, kedengaran asing .
Ketika pelayan datang mengantarkan nasi dan dua mangkok sayuran kepada Kui Lan, sebelum gadis itu mulai makan, tiba-tiba saja tiga orang perwira itu bangkit dan menghampiri meja Kui Lan. Gadis ini mengangkat muka melihat tiga orang perwira itu berdiri di depannya, terhalang meja.
Kui Lan memandang mereka dengan sinar mata bertanya, tanpa mengeluarkan sepatahpun kata. Gadis ini memang berwatak lembut, tidak seperti adiknya yang tentu akan segera membentak dalam keadaan seperti itu. Melihat gadis jelita itu hanya memandang dan tidak kelihatan marah dengan kemunculan mereka, tiga orang perwira itu menganggap bahwa gadis itu merupakan makanan lunak bagi mereka. Seorang di antara mereka, yang kumisnya melintang panjang kecil, menyeringai, memperlihatkan deretan gigi kuning yang tidak rata, lalu berkata dengan suara yang terdengar amat ramah.
"Nona, orang secantik nona tidak sepatutnya makan nasi dengan sayur saja tanpa daging. Marilah nona, kami bertiga mengundang nona untuk makan di meja kami. Kami sediakan hidangan yang paling lezat untuk nona, juga anggur manis yang harum."
Di dalam hatinya, Kui Lan marah kepada tiga orang yang lancang berani menegur seorang gadis yang tidak mereka kenal, akan tetapi karena ucapan si kumis panjang itu ramah, iapun menggeleng kepala tanpa menjawab, lalu mengambil sepasang sumpit di tangan kanan, dan mengangkat mangkok nasi di tangan kiri, mulai akan makan tanpa memperdulikan mereka.
"Ah, agaknya nona ini malu-malu," kata perwira ke dua yang tubuhnya tinggi besar dan matanya melotot lebar. "Kalau begitu, biarlah kami bertiga yang pindah ke mejamu, nona. Heiii pelayan! Pindah-pindahkan hidangan kami ke meja ini!"
Pelayan datang berlarian dan tiga orang perwira itu kini duduk di seputar meja Kui Lan, ketiganya menyeringai dan mata merekapun memandang wajah Kui Lan seperti hendak menelannya bulat-bulat. Kui Lan mulai marah, akan tetapi ia masih menahan sabar. Ia menyambar buntalan pakaiannya dan membawa mangkok nasi dan mangkok sayurannya, lalu ia berjalan menuju ke meja lain yang kosong, dekat dengan meja pemuda yang tadi mengacuhkannya, lalu duduk dan mulai makan nasi dan sayurannya, tanpa memperdulikan tiga orang perwira itu.
Perwira ke tiga, yang tinggi kurus dan mukanya kuning pucat seperti orang berpenyakitan, menjadi marah. Dengan langkah lebar dia menghampiri meja Kui Lan.
"Heii, nona sombong! Buka matamu baik-baik. Kami adalah tiga orang perwira dari kerajaan baru! Berani engkau menolak undangan kami, bahkan tidak memperdulikan kami?"
Kui Lan bangkit berdiri, ia memang tidak pandai bicara, juga merasa segan untuk bertindak kasar, akan tetapi kemarahan membuat ia menekan sepasang sumpit dengan tangan kanannya sepasang sumpit itu amblas masuk kedalam meja sampai tembus!
"Aku tidak sudi dipaksa oleh siapapun!" katanya dan ia mengeluarkan sepotong uang perak dari buntalannya dan sekali banting, potongan perakpun amblas masuk ke dalam meja yang tebal itu. Kemudian, ia menyambar buntalannya dan pergi meninggalkan rumah makan itu tanpa berkata apapun!
Tiga orang perwira itu menyaksikan demonstrasi tenaga sinkang gadis cantik itu. Akan tetapi, agaknya mereka masih merasa penasara apa lagi merasa malu melihat betapa depan umum seorang gadis Han berani menolak undangan mereka. Itu bagi mereka merupakan penghinaan yang besar! Sebagai anggauta pemberontak yang merasa menang, tentu saja mereka merasa berkuasa dan setiap orang rakyat harus tunduk dan taat kepada mereka! Mereka lalu melangkah keluar, menggapai belasan orang perajurit anak buah mereka yang menanti di luar rumah makan, kemudian mereka memimpin belasan orang perajurit itu untuk melakukan pengejaran pada gadis yang nampak berjalan keluar dari pintu kota Liu-ba.
Kui Lan memang merasa jengkel sekali dan peristiwa di rumah makan tadi membuat ia mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan saja dan kalau perlu bermalam di luar kota karena ia merasa tidak senang lagi tinggal di kota itu. Akan tetapi belum lama dia keluar dari pintu gerbang kota itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan belasan orang berkuda mengepungnya. Mereka itu berloncatan turun dan ia melihat bahwa tiga orang perwira yang tadi memimpin belasan orang perajurit, telah mengepungnya.
Tiga orang perwira itu menghadang Kui Lan yang bertanya dengan lembut,
"Kalian ini mau apa menghadang dan mengepungku?"
"Ha-ha-ha, nona manis. Engkaulah bersikap kurang ajar dan menghina kami. Mudah saja bagi kami untuk menuduhmu pemberontak dan membunuhmu sekarang juga. Akan tetapi kalau engkau suka minta maaf dan mau menemani bersenang-senang malam ini, engkau akan kami maafkan," kata sikumis pajang.
Kedua pipi yang putih halus menjadi merah sekali dan sepasang mata yang indah itu kini mencorong.
"Engkau biadab dan jahat!" katanya.
"Heh,heh, makin marah semakin manis!" kata si kumis melintang dan tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak ke depan, ke arah dada Kui Lan!
Gadis ini tidak mampu menahan kesabarannya lagi. ia melangkah mundur dengan gerakan seringan burung dan begitu kakinya meluncur ke bawah, sepatunya telah menyambar dagu si kumis panjang dengan tenaga dahsyat.
"Krekk........!!"
Bagaikan disambar petir, si kumis melintang, terjengkang dan terbanting, roboh terlentang dengan mata terbelalak dan mulut berdarah, tulang rahangnya patah! Dia hanya mampu merintih-rintih.
"Gadis pemberontak!" bentak dua orang rekannya. "Tangkap pemberontak ini!"
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Kalian manusia tak tahu malu!" dan sesosok tubuh berkelebat, menerjang orang-orang di sekeliling Kui Lan dan empat orang telah roboh terpelanting.
Sitinggi besar dan si muka kuning memandang dan mereka melihat seorang pemuda berdiri di depan mereka. Kui Lan juga mengenal pemuda itu. Bukan lain adalah pemuda yang tadi duduk di rumah makan, yang berbeda dengan orang lain, sama sekali tidak mengacuhkannya, bahkan ketika bertemu pandang, segera mengalihkan pandang matanya.
"Siapa kau? Pemberontak pula?!” bentak si tinggi besar. Akan tetapi si muka kuning terbelalak memandang pemuda itu.
"Engkau...... bukankah engkau .. Sia-ciangkun ....??"
Si tinggi besar terkejut mendengar ucapan rekannya dan kini diapun mengenal pemuda itu. Kalau tadi dia tidak mengenalnya adalah karena pemuda itu berpakaian biasa, sedangkan dia selalu berpakaian seragam.
“Sia Ciangkun ga… gadis ini… pemberontak” katanya dan sikapnya seperti orang ketakutan.
“tutup mulutmu” bentak pemuda itu dan sikapnya sungguh amat berwibawa, seperti sikap seorang atasan terhadap anak buahnya. "Kalian kira aku tidak mengetahuinya? Sejak dirumah makan aku sudah melihat dan mendengar kalian mengganggu nona ini dan sekarang kau katakan ia pemberontak. Ulah kalian tidak seperti perwira, sepantasnya menjadi buaya-buaya darat rendahan!"
Setelah berkata demikian, dengan cepat sekali tubuhnya bergerak. Si tinggi besar dan si muka kuning mengaduh dan terpelanting, dan semua perajurit yang tadi mengepung Kui Lan juga seorang demi seorang terpelanting keras dihajar oleh pemuda itu.
Kui Lan berdiri dengan pandang mata penuh kagum. Pemuda itu memang hebat, pikirnya. Wajahnya tampan, sikapnya gagah perkasa, juga jelas baik budi dan adil, dan melihat gerakannya tadi, tentu memiliki ilmu silat yang tangguh .
Pemuda itu memandang marah kepada belasan orang yang sudah dirobohkan semua.
"Nah, sekarang pergilah kalian. Kalau sekali lagi aku memergoki kalian berbuat jahat, tentu takkan kuampuni lagi. Pergi!"
Bagaikan sekawanan anjing ketakutan, belasan orang itu merangkak pergi.
"Nona, maafkanlah mereka. Memang mereka itu orang¬-orang kasar yang sudah sepantasnya menerima hajaran keras," kata pemuda itu, kini berhadapan dengan Kui Lan dan memberi hormat.
Kui Lan cepat membalas penghormatan itu.
"Terima kasih," gadis ini merasa rikuh dan salah tingkah, kedua pipinya kemerahan. Akan tetapi diam-diam ia merasa penasaran karena tadi mendengar betapa si tinggi besar menyebut pemuda ini Sia-ciangkun, berarti bahwa pemuda ini juga seorang perwira pasukan pemberontak An Lu Shan yang telah menduduki kota raja! "Apakah mereka itu anak buahmu dan kau............ seorang perwira?"
Gadis itu mengangkat muka memandang dan dua pasang mata bertemu pandang. Menghadapi pandang mata yang lembut namun tajam penuh selidik itu, si pemuda nampak gugup juga. Pemuda perkasa yang tidak pernah gentar menghadapi lawan yang bagaimanapun juga, kini menjadi gugup begitu pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang amat jeli dan lembut, amat indah namun juga begitu tajam sinarnya! Kembali pemuda ini mengangkat ke dua tangan memberi hormat dan berkata,
"Dugaanmu memang benar, nona. Namaku Sia Su Beng dan aku memang seorang.... panglima kerajaan......."
"Ahhh.....!"
Tentu saja Kui Lan merasa tidak senang dan mengerutkan alisnya, akan tetapi ada sesuatu yang menarik dalam ucapan pemuda itu. Ketika mengaku dirinya sebagai panglima kerajaan, pemuda itu kelihatan ragu dan juga sungkan atau malu-malu!
"Nona, harap jangan salah sangka!" katanya cepat. "Biarpun aku seorang panglima, namun sesungguhnya aku menentang pemberontakan An Lu Shan..”
"Ssttt.....!" Kui Lan merasa khawatir kalau-kalau ucapan itu terdengar orang lain dan ia memandang ke sekeliling.
"Nona, begitu engkau melawan tga orang perwira dan pasukannya tadi aku sudah menduga bahwa engkau tentulah seorang yang menentang pemerintah baru ."
"Ciangkun......"
"Aih, nona, jangan sebut aku ciangkun."
"Mari kita bicara di tempat lain, di sini merupakan jalan raya," kata Kui Lan dan Sia Su Beng mengerti akan maksud gadis itu. Dia mengangguk lalu mengajak gadis itu meninggalkan jalan raya dan tak lama kemudian mereka sudah duduk berhadapan di atas batu di sawah ladang yang sunyi dan dari tempat itu mereka dapat melihat kesekeliling yang terbuka sehingga mereka tidak perlu takut diintai dan didengar orang lain.
"Nona, aku telah memperkenalkan diri. Kalau boleh aku mengetahui, siapakah nona? Kulihat nona memiliki ilmu silat yang tangguh."
Kui Lan sudah bersepakat dengan adiknya bahwa mereka berdua tidak akan mengganti nama, akan tetapi akan menanggalkan nama keluarga mereka agar tidak dikenal orang.
"Nama keluargaku Kui dan namaku Lan," jawabnya.
"Nona Kui Lan , nama yang indah sekali!" kata pemuda itu sambil tersenyum dan Kui Lan mencatat lagi sifat yang menarik pemuda itu di samping ketampanan dan kegagahannya, yaitu pemuda ini pandai bicara dan pandai pula merayu! "Kalau boleh aku mengetahui, nona dari perguruan manakah?"
Kui Lan tersenyum dan Sia Su Beng merasa jantungnya seperti akan copot. Senyum itu demikian manisnya!
"Maaf , ciangkun........"
"Aduh, nona Kui Lan , jangan sebut aku dengan pangkat yang menyakitkan hati itu."
"Akan tetapi seorang panglima."
"Itu hanya demi perjuangan menentang pemberontak An Lu Shan, harap sebut saja namaku atau cukup dengan toako (kakak) saja”
"Tapi engkaupun menyebutku nona," kata Kui Lan, diam diam merasa heran mengapa ia dapat begini akrab dengan cepatnya.
"Baiklah, aku siauw-moi (adik) dan engkau menyebutku toako. Nah, lanjutkan ceritamu, siapakah gurumu dan engkau dari perguruan mana Lan-moi (adik Lan)?"
Kui Lan merasa berdebar mendengar sebutan itu, entah mengapa, sebutan itu biasa saja tetapi keluar dari mulut pemuda itu terdengar demikian mesra dan indah!
"Maaf, .... toako. Aku bukan dari perguruan manapun, dan terus terang saja, suhuku melarang aku memperkenalkan namanya, harap engkau maklum”. Tentu saja Kui Lan mengatakan demikian hanya untuk menyembunyikan keadaan dirinya.
"Ah, tidak mengapa, Lan-moi. Memang, sebagai seorang gadis sepertimu ini, tentu saja tidak semestinya kalau baru saja bertemu lalu menceritakan segala sesuatu mengenai dirimu. Baiklah aku yang akan lebih dulu memperkenalkan keadaanku. Sejak muda sekali aku telah menjadi perwira dan aku ditugaskan di utara, dibawah perintah komandanku, yaitu panglima An Lu Shan. Aku mengikuti setiap perkembangan dan mengetahui semua gerakannya, dan sebetulnya aku sama sekali tidak setuju ketika dia menggerakan pasukan untuk memberontak dan menggulingkan Kerajaan Tang.”
"Akan tetapi kenyataannya, sekarang An Lu Shan telah menggulingkan Kerajaan Tang dan engkau tetap ....."
"Kenapa tidak kau lanjutkan, Lan-moi? Katakan saja bahwa kenapa aku tetap menjadi panglimanya, berarti aku membantu pemberontakannya? Memang aku akui hal itu. Habis, apa yang dapat di lakukan seorang bawahan seperti aku? Terpaksa aku membiarkan dia melakukan pemberontakan. Akan tetapi, diam-diam aku selalu mencari kesempatan untuk menggulingkannya, bahkan kalau mungkin membunuhnya. Diam-diam aku mulai menghimpun tenaga untuk menguasai pasukan dan mengadakan pendekatan dengan para perwira yang diam-diam masih setia kepada Kerajaan Tang. Nah. aku sudah membuka semua rahasiaku kepadamu, nona eh, adik Lan."
Kui Lan merasa senang bukan main. Pemuda ini jelas tidak berbohong, dan mengapa begitu percaya kepadanya sehingga membuka rahasia yang dapat membahayakan nyawanya itu? Kalau sampai rahasia itu ketahuan, tentu pemuda ini akan celaka! Ia merasa girang telah di percaya sedemikian rupa.
"Terima kasih atas kepercayaan-toako, dan maafkan keraguanku tadi. Sekarang aku mengerti dan aku tidak menyalahkanmu, bahkan aku kagum sekali akan usahamu menghancurkan pemberontak. Engkau seorang gagah yang setia kepada kerajaan."
"Dan bagaimana dengan engkau sendiri, Lan-moi? Engkau seorang gadis yang cantik jelita dan berilmu tinggi. Hendak kemana dan dari manakah? Tentu saja kalau aku boleh mengetahui...."
Kui Lan menghela napas panjang. Biarpun ia sudah percaya kepada pemuda yang menarik perhatiannya ini, yang amat dikaguminya, akan tetapi ia sudah bersepakat dengan adiknya bahwa mereka harus merahasiakan keluarga mereka dari siapapun juga. Bukan saja karena ayah mereka adalah Menteri Yang Kok Tiong yang terkenal, akan tetapi lebih dari itu, bibinya adalah selir yang Kui Hui yang lebih terkenal lagi! ia bahkan merasa malu untuk mengakui bahwa ia adalah keponakan dari Yang Kui Hu!
"Aku hendak menyusul ayah ke barat."
"Aih, di manakah ayahmu itu, Lan moi?"
"Ayahku mengawal Sri baginda mengungsi ke barat."
Lega rasa hati Kui Lan karena bagaimanapun juga, ia tidak lah sama sekali berbohong. Ayahnya memang mengikuti kaisar mengungsi, ia tidak berbohong, yang dirahasiakannya hanyalah keluarganya.
Pemuda itu nampak terkejut.
"Ah, kiranya ayahmu seorang pengawal Sribaginda! Kiranya keluargamu juga keluarga yang setia kepada Kerajaan Tang. Aku girang dan bangga sekali dapat berkenalan denganmu, Lan-moi. Kalau begitu, jalan yang kita tempuh mempunyai tujuan yang sama, yaitu menentang pemberontak An Lu Shan dan menegakkan kembali Kerajaan Tang. Hanya kita berbeda cara dan jalan. Aku yakin kelak kita akan dapat saling bantu dalam perjuangan kita."
"Mudah-mudahan begitu, toako. Sekarang malam hampir tiba, aku harus melanjutkan perjalanan." Gadis itu bangkit berdiri.
Sia Su Beng termenung dan menghela napas.
"Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa kehilangan dan berduka, Lan-moi, seolah aku akan berpisah dengan seorang sahabat yang sudah lama kukenal. Sayang sekali bahwa jalan kita bersimpang, engkau ke barat dan aku kembali ke kota raja. Akan tetapi, aku selamanya tidak akan melupakanmu, Lan¬moi."
"Terima kasih, engkau baik sekali, toako. Akupun.... tidak akan lupa kepadamu."
"Jaga dirimu baik-baik, Lan-moi."
Setelah sejenak saling pandang dengan sinar mata yang membawa serta seribu satu macam perasaan, kedua orang muda itupun saling memberi hormat dan berpisah. Namun, keduanya melangkah seperti orang yang lesu dan kehilangan, saling membayangkan wajah masing-masing. Tanpa mereka sadari, kedua insan itu telah saling jatuh cinta!
Rumah makan Itu tidak berapa besar, hanya ada belasan buah meja di situ, itupun tidak penuh, hanya setengah nya terisi tamu. Kui Lan memilih sebuah meja kosong, tidak memperdulikan pandang mata para tamu di tempat itu yang semua menoleh dan memandang kepadanya dengan penuh kagum. Memang Kui Lan seorang gadis yang cantik jelita. Wajahnya mirip sekali dengan bibinya, mendiang Yang Kui Hui, selir kaisar yang kecantikannya membuat kaisar tergila-¬gila.
Biarpun Kui Lan sama sekali tidak menghias mukanya, tanpa bedak tanpa gincu, juga rambutnya disanggul biasa tanpa hiasan, pakaiannya juga sederhana sesuai dengan nasihat sucinya, Pek-lian Ni-kouw, namun kecantikannya yang aseli bahkan membuat semua pria di rumah makan itu, termasuk para pelayan dan pemilik rumah makan, memandangnya penuh kagum. Hanya ada satu orang saja di antara para tamu yang tidak memandang kepadanya, walaupun tamu itupun melihat ia memasuki rumah makan. Tamu yang sikapnya berbeda dari yang lain ini adalah seorang pemuda yang berpakaian sederhana pula, namun wajah nya tampan dan gagah, sikapnya tenang dan pendiam.
Kebetulan sekali ketika Kui Lan mengambil tempat duduk, tanpa sengaja ia duduk menghadap ke arah pemuda itu. yang juga duduknya menghadap kepadanya sehingga tanpa dapat dicegah lagi mereka saling pandang. Akan tetapi pemuda itu dengan sopan segera mengalihkan pandang matanya. Hal ini justeru menarik perhatian Kui Lan. Semua tamu menoleh dan memandang kepadanya dengan mata seperti srigala kelaparan, akan tetapi pemuda itu bahkan mengalihkan pandang mata! Iapun menunduk, akan tetapi kerlingnya dengan tajam kadang menyambar ke arah meja di depan itu walaupun ia tidak secara langsung memandang kepada pemuda tadi. Pelayan datang menghampiri dan iapun memesan nasi dan dua macam sayuran. Telah dua tahun lebih ia tinggal di kuil, setiap hari pantang makan daging seperti para nikouw, maka iapun memilih sayur yang tidak mengandung banyak dagingnya, ia bukan memantang daging, hanya sudah terbiasa makan sayuran
Pelayan itu memandang heran. Seorang gadis yang cantik ini, memesan masakan yang begitu sederhana dan murah. Agaknya seorang gadis yang tidak membawa banyak uang, pikirnya.
Karena Kui Lan tidak mau memperdulikan keadaan sekelilingnya, ia tidak tahu bahwa di meja sebelahnya, yang berada di belakangnya, duduk tiga orang yang dari pakaiannya dapat diketahui bahwa mereka adalah tiga orang perwira. Usia mereka antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, dan dari wajah mereka mudah diketahui pula bahwa mereka bukanlah bangsa pribumi, melainkan suku bangsa utara karena wajah mereka seperti wajah orang Mancu atau Uigur. Juga logat bicara mereka, biarpun menggunakan bahasa Han, kedengaran asing .
Ketika pelayan datang mengantarkan nasi dan dua mangkok sayuran kepada Kui Lan, sebelum gadis itu mulai makan, tiba-tiba saja tiga orang perwira itu bangkit dan menghampiri meja Kui Lan. Gadis ini mengangkat muka melihat tiga orang perwira itu berdiri di depannya, terhalang meja.
Kui Lan memandang mereka dengan sinar mata bertanya, tanpa mengeluarkan sepatahpun kata. Gadis ini memang berwatak lembut, tidak seperti adiknya yang tentu akan segera membentak dalam keadaan seperti itu. Melihat gadis jelita itu hanya memandang dan tidak kelihatan marah dengan kemunculan mereka, tiga orang perwira itu menganggap bahwa gadis itu merupakan makanan lunak bagi mereka. Seorang di antara mereka, yang kumisnya melintang panjang kecil, menyeringai, memperlihatkan deretan gigi kuning yang tidak rata, lalu berkata dengan suara yang terdengar amat ramah.
"Nona, orang secantik nona tidak sepatutnya makan nasi dengan sayur saja tanpa daging. Marilah nona, kami bertiga mengundang nona untuk makan di meja kami. Kami sediakan hidangan yang paling lezat untuk nona, juga anggur manis yang harum."
Di dalam hatinya, Kui Lan marah kepada tiga orang yang lancang berani menegur seorang gadis yang tidak mereka kenal, akan tetapi karena ucapan si kumis panjang itu ramah, iapun menggeleng kepala tanpa menjawab, lalu mengambil sepasang sumpit di tangan kanan, dan mengangkat mangkok nasi di tangan kiri, mulai akan makan tanpa memperdulikan mereka.
"Ah, agaknya nona ini malu-malu," kata perwira ke dua yang tubuhnya tinggi besar dan matanya melotot lebar. "Kalau begitu, biarlah kami bertiga yang pindah ke mejamu, nona. Heiii pelayan! Pindah-pindahkan hidangan kami ke meja ini!"
Pelayan datang berlarian dan tiga orang perwira itu kini duduk di seputar meja Kui Lan, ketiganya menyeringai dan mata merekapun memandang wajah Kui Lan seperti hendak menelannya bulat-bulat. Kui Lan mulai marah, akan tetapi ia masih menahan sabar. Ia menyambar buntalan pakaiannya dan membawa mangkok nasi dan mangkok sayurannya, lalu ia berjalan menuju ke meja lain yang kosong, dekat dengan meja pemuda yang tadi mengacuhkannya, lalu duduk dan mulai makan nasi dan sayurannya, tanpa memperdulikan tiga orang perwira itu.
Perwira ke tiga, yang tinggi kurus dan mukanya kuning pucat seperti orang berpenyakitan, menjadi marah. Dengan langkah lebar dia menghampiri meja Kui Lan.
"Heii, nona sombong! Buka matamu baik-baik. Kami adalah tiga orang perwira dari kerajaan baru! Berani engkau menolak undangan kami, bahkan tidak memperdulikan kami?"
Kui Lan bangkit berdiri, ia memang tidak pandai bicara, juga merasa segan untuk bertindak kasar, akan tetapi kemarahan membuat ia menekan sepasang sumpit dengan tangan kanannya sepasang sumpit itu amblas masuk kedalam meja sampai tembus!
"Aku tidak sudi dipaksa oleh siapapun!" katanya dan ia mengeluarkan sepotong uang perak dari buntalannya dan sekali banting, potongan perakpun amblas masuk ke dalam meja yang tebal itu. Kemudian, ia menyambar buntalannya dan pergi meninggalkan rumah makan itu tanpa berkata apapun!
Tiga orang perwira itu menyaksikan demonstrasi tenaga sinkang gadis cantik itu. Akan tetapi, agaknya mereka masih merasa penasara apa lagi merasa malu melihat betapa depan umum seorang gadis Han berani menolak undangan mereka. Itu bagi mereka merupakan penghinaan yang besar! Sebagai anggauta pemberontak yang merasa menang, tentu saja mereka merasa berkuasa dan setiap orang rakyat harus tunduk dan taat kepada mereka! Mereka lalu melangkah keluar, menggapai belasan orang perajurit anak buah mereka yang menanti di luar rumah makan, kemudian mereka memimpin belasan orang perajurit itu untuk melakukan pengejaran pada gadis yang nampak berjalan keluar dari pintu kota Liu-ba.
Kui Lan memang merasa jengkel sekali dan peristiwa di rumah makan tadi membuat ia mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan saja dan kalau perlu bermalam di luar kota karena ia merasa tidak senang lagi tinggal di kota itu. Akan tetapi belum lama dia keluar dari pintu gerbang kota itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan belasan orang berkuda mengepungnya. Mereka itu berloncatan turun dan ia melihat bahwa tiga orang perwira yang tadi memimpin belasan orang perajurit, telah mengepungnya.
Tiga orang perwira itu menghadang Kui Lan yang bertanya dengan lembut,
"Kalian ini mau apa menghadang dan mengepungku?"
"Ha-ha-ha, nona manis. Engkaulah bersikap kurang ajar dan menghina kami. Mudah saja bagi kami untuk menuduhmu pemberontak dan membunuhmu sekarang juga. Akan tetapi kalau engkau suka minta maaf dan mau menemani bersenang-senang malam ini, engkau akan kami maafkan," kata sikumis pajang.
Kedua pipi yang putih halus menjadi merah sekali dan sepasang mata yang indah itu kini mencorong.
"Engkau biadab dan jahat!" katanya.
"Heh,heh, makin marah semakin manis!" kata si kumis melintang dan tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak ke depan, ke arah dada Kui Lan!
Gadis ini tidak mampu menahan kesabarannya lagi. ia melangkah mundur dengan gerakan seringan burung dan begitu kakinya meluncur ke bawah, sepatunya telah menyambar dagu si kumis panjang dengan tenaga dahsyat.
"Krekk........!!"
Bagaikan disambar petir, si kumis melintang, terjengkang dan terbanting, roboh terlentang dengan mata terbelalak dan mulut berdarah, tulang rahangnya patah! Dia hanya mampu merintih-rintih.
"Gadis pemberontak!" bentak dua orang rekannya. "Tangkap pemberontak ini!"
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Kalian manusia tak tahu malu!" dan sesosok tubuh berkelebat, menerjang orang-orang di sekeliling Kui Lan dan empat orang telah roboh terpelanting.
Sitinggi besar dan si muka kuning memandang dan mereka melihat seorang pemuda berdiri di depan mereka. Kui Lan juga mengenal pemuda itu. Bukan lain adalah pemuda yang tadi duduk di rumah makan, yang berbeda dengan orang lain, sama sekali tidak mengacuhkannya, bahkan ketika bertemu pandang, segera mengalihkan pandang matanya.
"Siapa kau? Pemberontak pula?!” bentak si tinggi besar. Akan tetapi si muka kuning terbelalak memandang pemuda itu.
"Engkau...... bukankah engkau .. Sia-ciangkun ....??"
Si tinggi besar terkejut mendengar ucapan rekannya dan kini diapun mengenal pemuda itu. Kalau tadi dia tidak mengenalnya adalah karena pemuda itu berpakaian biasa, sedangkan dia selalu berpakaian seragam.
“Sia Ciangkun ga… gadis ini… pemberontak” katanya dan sikapnya seperti orang ketakutan.
“tutup mulutmu” bentak pemuda itu dan sikapnya sungguh amat berwibawa, seperti sikap seorang atasan terhadap anak buahnya. "Kalian kira aku tidak mengetahuinya? Sejak dirumah makan aku sudah melihat dan mendengar kalian mengganggu nona ini dan sekarang kau katakan ia pemberontak. Ulah kalian tidak seperti perwira, sepantasnya menjadi buaya-buaya darat rendahan!"
Setelah berkata demikian, dengan cepat sekali tubuhnya bergerak. Si tinggi besar dan si muka kuning mengaduh dan terpelanting, dan semua perajurit yang tadi mengepung Kui Lan juga seorang demi seorang terpelanting keras dihajar oleh pemuda itu.
Kui Lan berdiri dengan pandang mata penuh kagum. Pemuda itu memang hebat, pikirnya. Wajahnya tampan, sikapnya gagah perkasa, juga jelas baik budi dan adil, dan melihat gerakannya tadi, tentu memiliki ilmu silat yang tangguh .
Pemuda itu memandang marah kepada belasan orang yang sudah dirobohkan semua.
"Nah, sekarang pergilah kalian. Kalau sekali lagi aku memergoki kalian berbuat jahat, tentu takkan kuampuni lagi. Pergi!"
Bagaikan sekawanan anjing ketakutan, belasan orang itu merangkak pergi.
"Nona, maafkanlah mereka. Memang mereka itu orang¬-orang kasar yang sudah sepantasnya menerima hajaran keras," kata pemuda itu, kini berhadapan dengan Kui Lan dan memberi hormat.
Kui Lan cepat membalas penghormatan itu.
"Terima kasih," gadis ini merasa rikuh dan salah tingkah, kedua pipinya kemerahan. Akan tetapi diam-diam ia merasa penasaran karena tadi mendengar betapa si tinggi besar menyebut pemuda ini Sia-ciangkun, berarti bahwa pemuda ini juga seorang perwira pasukan pemberontak An Lu Shan yang telah menduduki kota raja! "Apakah mereka itu anak buahmu dan kau............ seorang perwira?"
Gadis itu mengangkat muka memandang dan dua pasang mata bertemu pandang. Menghadapi pandang mata yang lembut namun tajam penuh selidik itu, si pemuda nampak gugup juga. Pemuda perkasa yang tidak pernah gentar menghadapi lawan yang bagaimanapun juga, kini menjadi gugup begitu pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang amat jeli dan lembut, amat indah namun juga begitu tajam sinarnya! Kembali pemuda ini mengangkat ke dua tangan memberi hormat dan berkata,
"Dugaanmu memang benar, nona. Namaku Sia Su Beng dan aku memang seorang.... panglima kerajaan......."
"Ahhh.....!"
Tentu saja Kui Lan merasa tidak senang dan mengerutkan alisnya, akan tetapi ada sesuatu yang menarik dalam ucapan pemuda itu. Ketika mengaku dirinya sebagai panglima kerajaan, pemuda itu kelihatan ragu dan juga sungkan atau malu-malu!
"Nona, harap jangan salah sangka!" katanya cepat. "Biarpun aku seorang panglima, namun sesungguhnya aku menentang pemberontakan An Lu Shan..”
"Ssttt.....!" Kui Lan merasa khawatir kalau-kalau ucapan itu terdengar orang lain dan ia memandang ke sekeliling.
"Nona, begitu engkau melawan tga orang perwira dan pasukannya tadi aku sudah menduga bahwa engkau tentulah seorang yang menentang pemerintah baru ."
"Ciangkun......"
"Aih, nona, jangan sebut aku ciangkun."
"Mari kita bicara di tempat lain, di sini merupakan jalan raya," kata Kui Lan dan Sia Su Beng mengerti akan maksud gadis itu. Dia mengangguk lalu mengajak gadis itu meninggalkan jalan raya dan tak lama kemudian mereka sudah duduk berhadapan di atas batu di sawah ladang yang sunyi dan dari tempat itu mereka dapat melihat kesekeliling yang terbuka sehingga mereka tidak perlu takut diintai dan didengar orang lain.
"Nona, aku telah memperkenalkan diri. Kalau boleh aku mengetahui, siapakah nona? Kulihat nona memiliki ilmu silat yang tangguh."
Kui Lan sudah bersepakat dengan adiknya bahwa mereka berdua tidak akan mengganti nama, akan tetapi akan menanggalkan nama keluarga mereka agar tidak dikenal orang.
"Nama keluargaku Kui dan namaku Lan," jawabnya.
"Nona Kui Lan , nama yang indah sekali!" kata pemuda itu sambil tersenyum dan Kui Lan mencatat lagi sifat yang menarik pemuda itu di samping ketampanan dan kegagahannya, yaitu pemuda ini pandai bicara dan pandai pula merayu! "Kalau boleh aku mengetahui, nona dari perguruan manakah?"
Kui Lan tersenyum dan Sia Su Beng merasa jantungnya seperti akan copot. Senyum itu demikian manisnya!
"Maaf , ciangkun........"
"Aduh, nona Kui Lan , jangan sebut aku dengan pangkat yang menyakitkan hati itu."
"Akan tetapi seorang panglima."
"Itu hanya demi perjuangan menentang pemberontak An Lu Shan, harap sebut saja namaku atau cukup dengan toako (kakak) saja”
"Tapi engkaupun menyebutku nona," kata Kui Lan, diam diam merasa heran mengapa ia dapat begini akrab dengan cepatnya.
"Baiklah, aku siauw-moi (adik) dan engkau menyebutku toako. Nah, lanjutkan ceritamu, siapakah gurumu dan engkau dari perguruan mana Lan-moi (adik Lan)?"
Kui Lan merasa berdebar mendengar sebutan itu, entah mengapa, sebutan itu biasa saja tetapi keluar dari mulut pemuda itu terdengar demikian mesra dan indah!
"Maaf, .... toako. Aku bukan dari perguruan manapun, dan terus terang saja, suhuku melarang aku memperkenalkan namanya, harap engkau maklum”. Tentu saja Kui Lan mengatakan demikian hanya untuk menyembunyikan keadaan dirinya.
"Ah, tidak mengapa, Lan-moi. Memang, sebagai seorang gadis sepertimu ini, tentu saja tidak semestinya kalau baru saja bertemu lalu menceritakan segala sesuatu mengenai dirimu. Baiklah aku yang akan lebih dulu memperkenalkan keadaanku. Sejak muda sekali aku telah menjadi perwira dan aku ditugaskan di utara, dibawah perintah komandanku, yaitu panglima An Lu Shan. Aku mengikuti setiap perkembangan dan mengetahui semua gerakannya, dan sebetulnya aku sama sekali tidak setuju ketika dia menggerakan pasukan untuk memberontak dan menggulingkan Kerajaan Tang.”
"Akan tetapi kenyataannya, sekarang An Lu Shan telah menggulingkan Kerajaan Tang dan engkau tetap ....."
"Kenapa tidak kau lanjutkan, Lan-moi? Katakan saja bahwa kenapa aku tetap menjadi panglimanya, berarti aku membantu pemberontakannya? Memang aku akui hal itu. Habis, apa yang dapat di lakukan seorang bawahan seperti aku? Terpaksa aku membiarkan dia melakukan pemberontakan. Akan tetapi, diam-diam aku selalu mencari kesempatan untuk menggulingkannya, bahkan kalau mungkin membunuhnya. Diam-diam aku mulai menghimpun tenaga untuk menguasai pasukan dan mengadakan pendekatan dengan para perwira yang diam-diam masih setia kepada Kerajaan Tang. Nah. aku sudah membuka semua rahasiaku kepadamu, nona eh, adik Lan."
Kui Lan merasa senang bukan main. Pemuda ini jelas tidak berbohong, dan mengapa begitu percaya kepadanya sehingga membuka rahasia yang dapat membahayakan nyawanya itu? Kalau sampai rahasia itu ketahuan, tentu pemuda ini akan celaka! Ia merasa girang telah di percaya sedemikian rupa.
"Terima kasih atas kepercayaan-toako, dan maafkan keraguanku tadi. Sekarang aku mengerti dan aku tidak menyalahkanmu, bahkan aku kagum sekali akan usahamu menghancurkan pemberontak. Engkau seorang gagah yang setia kepada kerajaan."
"Dan bagaimana dengan engkau sendiri, Lan-moi? Engkau seorang gadis yang cantik jelita dan berilmu tinggi. Hendak kemana dan dari manakah? Tentu saja kalau aku boleh mengetahui...."
Kui Lan menghela napas panjang. Biarpun ia sudah percaya kepada pemuda yang menarik perhatiannya ini, yang amat dikaguminya, akan tetapi ia sudah bersepakat dengan adiknya bahwa mereka harus merahasiakan keluarga mereka dari siapapun juga. Bukan saja karena ayah mereka adalah Menteri Yang Kok Tiong yang terkenal, akan tetapi lebih dari itu, bibinya adalah selir yang Kui Hui yang lebih terkenal lagi! ia bahkan merasa malu untuk mengakui bahwa ia adalah keponakan dari Yang Kui Hu!
"Aku hendak menyusul ayah ke barat."
"Aih, di manakah ayahmu itu, Lan moi?"
"Ayahku mengawal Sri baginda mengungsi ke barat."
Lega rasa hati Kui Lan karena bagaimanapun juga, ia tidak lah sama sekali berbohong. Ayahnya memang mengikuti kaisar mengungsi, ia tidak berbohong, yang dirahasiakannya hanyalah keluarganya.
Pemuda itu nampak terkejut.
"Ah, kiranya ayahmu seorang pengawal Sribaginda! Kiranya keluargamu juga keluarga yang setia kepada Kerajaan Tang. Aku girang dan bangga sekali dapat berkenalan denganmu, Lan-moi. Kalau begitu, jalan yang kita tempuh mempunyai tujuan yang sama, yaitu menentang pemberontak An Lu Shan dan menegakkan kembali Kerajaan Tang. Hanya kita berbeda cara dan jalan. Aku yakin kelak kita akan dapat saling bantu dalam perjuangan kita."
"Mudah-mudahan begitu, toako. Sekarang malam hampir tiba, aku harus melanjutkan perjalanan." Gadis itu bangkit berdiri.
Sia Su Beng termenung dan menghela napas.
"Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa kehilangan dan berduka, Lan-moi, seolah aku akan berpisah dengan seorang sahabat yang sudah lama kukenal. Sayang sekali bahwa jalan kita bersimpang, engkau ke barat dan aku kembali ke kota raja. Akan tetapi, aku selamanya tidak akan melupakanmu, Lan¬moi."
"Terima kasih, engkau baik sekali, toako. Akupun.... tidak akan lupa kepadamu."
"Jaga dirimu baik-baik, Lan-moi."
Setelah sejenak saling pandang dengan sinar mata yang membawa serta seribu satu macam perasaan, kedua orang muda itupun saling memberi hormat dan berpisah. Namun, keduanya melangkah seperti orang yang lesu dan kehilangan, saling membayangkan wajah masing-masing. Tanpa mereka sadari, kedua insan itu telah saling jatuh cinta!
**** 020 ****
***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 021
***Kembali
No comments:
Post a Comment