Kemudian, setelah beberapa menit duabelas batang suling itu ditiup dalam lagu yang aneh dan asing bagi telinga Kim Hong, ular kecil itu bergerak keluar dari dalam keranjang, turun ke atas tanah dan mulailah ular itu menari-nari. Benar¬-benar menari sehingga hampir saja Kim Hong terpelanting karena menahan tawanya, ia merasa geli karena lucu bukan main. Bayangkan saja! Ular itu "berdiri" di atas ekornya dan tubuhnya meliuk-liuk seperti seorang penari yang pinggulnya besar menggoyang-goyangkan pinggul, kepalanya yang merah juga digerakkan kekanan kiri sesuai dengan irama lagu.
"Hi-hik, ular badut!"
Kim Hong terkekeh dalam hatinya. Ular yang warnanya amat cerah, hitam mengkilap dan kepalanya merah seperti darah atau api itu, selain indah juga amat lucu, ia pernah melihat ular kobra. Rajanya ular ini pun hanya mampu mengangkat kepala dari bawah leher ke atas saja. Akan tetapi ular hitam kepala merah ini mampu berdiri, benar-¬benar berdiri di atas ekornya yang tidak runcing dan ber lenggang-lenggok!
Kemudian, si mata sipit menurunkan sulingnya sedangkan yang lain masih terus meniup suling masing-masing. Kini si mata sipit ikut menari! Sambil duduk bersila, kedua lengannya seperti dua ekor ular yang menari pula, meniru gerakan ular hitam. Agaknya, sang ular yang cerdik namun bodoh bagi manusia itu, menganggap bahwa dia ditemani dua ekor ular lain yang bentuknya aneh akan tetapi pandai menari seperti dia. Atau mungkin dia sudah terbiasa ditemani dua ekor "ular" itu. Tangan si mata sipit memang berbentuk moncong ular dan kini tiga "ekor" ular itu menari-nari saling mendekati, kadang bersenggolan. Seorang anggauta kelompok menurunkan sulingnya pula dan mengeluarkan seekor katak dari dalam kantung, seekor katak yang besar dan gendut.
Kemudian, tiba-tiba dengan gerakan cepat, si mata sipit telah menangkap leher dan belakang kepala ular hitam yang terpaksa membuka mulutnya lebar-lebar sehingga nampak gigi yang runcing melengkung ke dalam. Orang yang memegang katak tadi mendekatkan katak, lalu si mata sipit menyentuh katak itu dengan moncong ular yang segera menggigit katak. Katak itu meronta sebentar lalu terdiam. Si mata sipit menarik kepala ular sehingga terlepas, lalu menggigitkan lagi sampai berulang kali. Tubuh katak itu berubah menghitam! Dan gerakan ular itu makin lemah seolah-olah dia kehabisan tenaga, bahkan setelah katak yang sudah mati dan berubah hitam itu dimasukkan kantung kembali dan ular itu dilepas, dia nampak lemas dan gerakannya lambat.
Dan Kim Hong kini menyaksikan peristiwa yang amat mengherankan hatinya. Seekor ular kobra yang belang-belang sebesar lengan dan nampak ganas sekali, ditangkap oleh si mata sipit. Ular yang berbisa dan biasanya amat ganas ini jinak saja dan ketika dia dilepas di depan ular hitam kepala merah, ular kobra itu nampak ketakutan dan melingkar diam, meletakkan kepalanya di atas tanah di depan ular hitam yang lemas. Ular hitam agaknya kini dibangkitkan semangatnya oleh tiupan suling yang melengking-lengking, kemudian ular hitam itu menggerakkan kepalanya yang merah, moncongnya dibuka dan diapun menerkam dengan moncongnya ke.arah belakang kepala ular kobra. Ular kobra diam saja dan ular hitam Seperti menghisap sesuatu dari kepala bagian belakang ular kobra.
Ketika ular hitam yang kini menjadi agak gesit melepaskan gigitannya, ular kobra tidak mampu bergerak lagi dan telah mati. Lalu si mata sipit mengambil ular ke dua, ular yang ekornya besar dan ekor itu kalau di gerak-gerakkan dapat mengeluarkan bunyi berkerotokan! Sungguh merupakan ular yang aneh dan langka, akan tetapi yang racunnya jahat bukan main. Sekali terpagut ular ini, jangan harap dapat hidup lebih lama dari dua tiga jam! Seperti juga ular kobra tadi, ular ini "mendekam" di depan ular hitam yang kini menjadi lebih lincah. Si hitam kepala merah itu menerkam seperti tadi dan korbannya diam saja seperti terpesona, membiarkan racun di belakang kepalanya dihisap habis dan diapun tewas!
Baru setelah menghisap habis racun dari belakang kepala enam ekor ular yang paling berbisa, si hitam berkepala merah itu agaknya baru puas dan kenyang, lalu dia dimasukkan kembali ke dalam keranjang kecil oleh si mata sipit, melalui suara suling yang menuntunnya masuk kembali ke tempatnya.
Selesailah pertunjukan itu dan Kim Hong dipersilakan turun. Gadis ini kagum sekali.
"Aih, ular itu sungguh lucu. itukah Ang¬thouw-hek-coa yang di cari suhu?"
Si mata sipit tersenyum akan tetapi dia menghela napas seperti orang bersedih.
"Benar, sian-li. Dan seperti sian-li melihatnya sendiri tadi, demikianlah kami mengumpulkan racun dan membuatnya menjadi pel untuk dijual. Kami mengumpulkannya melalui ular hitam kepala merah. Ketika kami menggigitkannya kepada katak tadi, maka semua racunnya berpindah ke dalam tubuh katak dan kami akan memeras darah katak yang sudah penuh dengan racun itu. Kemudian, kami memberikan beberapa ekor ular yang paling berbisa untuk dihisap racunnya oleh ang-thouw-hek-coa dan seketika pulih kembali racun dalam tubuhnya. Dengan cara ini, maka setiap tiga hari sekali kami dapat mengumpulkan racun yang banyak karena gigitan ular hitam kepala merah itu mengeluarkan racun yang banyak sekali dan ampuh."
Kim Hong mengangguk-angguk.
"Kalau begitu pantas kalian menganggap ular hitam kepala merah itu sebagai sumber rejeki. Lalu bagaimana aku bisa mendapatkan ular seperti itu untuk memenuhi perintah suhu?"
"Kami menganggap sian-li sebagai dewi penolong, maka kami hadiahkan ular ini kepada sian-li untuk diserahkan kepada Si Naga Hitam, guru sian-li!" kata si mata sipit dan semua orang mengangguk-angguk sehingga Kim Hong merasa terharu sekali.
"Akan tetapi..... itu amat merugikan kalian! Lalu bagaimana kalian dapat mengumpulkan racun untuk dijual?" tanyanya agak ragu walaupun tentu saja di dalam hatinya ia merasa girang sekali.
"Jangan khawatir, sian-li. Kami akan mengumpulkan racun seperti dahulu sebelum kami memiliki ular hitam kepala merah, yaitu dengan mengumpulkan dari ular-ular berbisa sedikit demi sedikit. Tentu saja tidak dapat secepat kalau melalui ular hitam kepala merah. Kalau dengan dia kami bisa mengumpulkan sebanyak itu setiap tiga hari, tanpa dia kami akan dapat mengumpulkan racun sebanyak itu dalam waktu tigapuluh hari ."
"Aihh! Kalau begitu aku hanya membuat kalian menderita!" seru Kim Hong terkejut.
"Tidak, sian-li. Kamipun sudah kehilangan banyak kawan sehingga jumlah kami tinggal dua belas orang, kami tidak mempunyai kebutuhan yang banyak. Pula, sekitar dua tahun lagi kami akan dapat mencari anak ular ini yang tentu sudah besar dan dapat menggantikan pekerjaan itu."
Akhirnya Kim Hong menerima pemberian itu dan iapun turun dari Bukit Hitam, ditemani oleh duabelas orang itu sampai di bawah kaki bukit. Mereka saling berpisah dan Kim Hong mengucapkan terima kasih kepada mereka.
Di puncak Bukit Nelayan, Hek-li-ong Kwan Bhok Cu yang gagu menerima ke datangan muridnya dengan wajah gembira. Dengan caranya sendiri, yaitu menggerak-gerakkan ranting mencorat-coret huruf di udara, dia "bicara" kepada Kim Hong.
"Engkau dapat cepat pulang membawa ular hitam kepala merah, hal ini menunjukkan bahwa tidak sia-sia aku mendidikmu selama dua tahun lebih ini. 0rang lain belum tentu bisa mendapatkan ular itu selama hidupnya, apalagi dalam waktu sesingkat ini. Akan tetapi aku melihat dari atas tadi bahwa ada tiga bayangan orang yang ikut naik mengikutimu."
Kim Hong terkejut. Kalau sampai ia sendiri tidak melihat dirinya dibayangi orang dari bawah bukit, hal itu membuktikan bahwa tiga orang yang membayanginya tentulah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
"Cepat simpan ular itu ke dalam!" kata pula Hek-liong Kwab Bhok Cu melalui coretan rantingnya. Kim Hong segera menaati perintah gurunya. Dibawanya keranjang kecil ke dalam pondok dan disembunyikannya keranjang Itu ke bawah tempat tidurnya. Setelah itu, ia pun cepat berlari keluar dan berdiri di samping gurunya menanti datangnya tiga bayangan orang yang bergerak dengan cepat seperti terbang mendaki puncak Bukit Nelayan.
Kim Hong memandang dengan penuh perhatian dan setelah tiga orang itu tiba di depannya, diam-diam ia terkejut mengenal bahwa seorang di antara mereka adalah si raksasa hitam Hek-bin Mo-ong! ia tadi belum sempat menceritakan pengalamannya dengan Raja Iblis Muka Hitam kepada gurunya. Tentu saja gurunya tidak mengenal siapa raksasa hitam itu. Dan melihat dua orang yang lain, ia dapat menduga bahwa agaknya mereka itu adalah rekan-rekan si raksasa hitam. Agaknya tiga orang inilah yang disebut Sam Mo-ong (Tiga Raja Iblis). Tentu si raksasa hitam itu setelah kalah menghadapi pengeroyokan para pemuja ular yang dibantunya, pergi mengundang dua orang rekannya lalu pergi ke Bukit Nelayan, bukan membayanginya. Kini ia teringat betapa ia mengaku kepada raksasa hitam itu bahwa ia bertempat tinggal di Pulau Nelayan.
Akan tetapi, betapa heran rasa hatinya ketika ia melihat tiga orang itu tidak memandang kepadanya, melainkan kepada gurunya dan mereka bertiga tersenyum-senyum.
"Aha, kiranya Si Naga Hitam Kwan Bhok Cu yang berada di sini!” kata seorang di antara mereka yang tubuhnya pendek berperut gendut sehingga dia nampak bulat. Kakinya pendek dan tertutup jubahnya yang panjang sehingga kalau dia berjalan ke depan, nampaknya seperti menggelundung saja.
Orang ini merupakan orang ke dua dari Sam Mo-ong dan di dunia kang-ouw terkenal sebagai datuk yang berjuluk Siauw¬ bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Ketawa) . Melihat wajahnya yang selalu ketawa atau senyum lebar, dia nampak ramah dan baik hati, akan tetapi orang akan merasa ngeri kalau melihat sepak terjangnya. Dia kejam bukan main, suka menyiksa orang sehingga mukanya yang tertawa itu hanya sebagai kedok.
"Hemm, Kwan Bhok Cu ternyata belum mampus seperti dikabarkan orang, dan bersembunyi di tempat ini! Kalau begitu, para pimpinan Hek-kauw telah berbohong, membohongi dunia kangouw!" kata orang ke tiga yang tubuhnya kurus kering seperti orang berpenyakitan dan mukanya selalu cemberut dan keruh. Inilah orang ke tiga dari Sam Mo-ong yang berjuluk Toat-beng Mo-ong (Raja Iblis Pencabut Nyawa) karena ia terkenal dengan sikap dan wataknya yang pemurung dan pemarah, sedikit saja sebabnya sudah membuat dia turun tangan membunuh orang!
Kim Hong menoleh kepada gurunya, akan tetapi suhunya itu diam saja tidak menanggapi dan kelihatan acuh saja, bahkan nampak mengerutkan alisnya, tanda bahwa orang tua itu merasa tidak senang.
"Ha-ha-ha, Hek-liong Kwan Bhok Cu, kenapa engkau diam saja?" Kini Hek bin Mo-ong berkata dan senyumnya mengejek. "Apakah engkau sudah menjadi tuli dan gagu? Atau engkau pura-pura tidak mengenal lagi kepada kami? Tidak mungkin engkau lupa kepada Sam Mo-ong, ha-ha-ha!"
Kim Hong berkata kepada gurunya.
"Suhu, iblis tua hitam ini adalah Hek-bin Mo-ong yang pernah bentrok dengan teecu karena dia hendak membunuhi semua pemuja ular di Bukit Hitam."
"Heh-heh, nona manis. Kiranya engkau murid Si Naga Hitam! Kalau saja engkau tidak mengeroyokku dengan para pemuja ular, tentu sekarang engkau sudah bersenang-senang dengan aku, dan gurumu tentu akan merasakan bagaimana penderitaan orang dikhianati teman sendiri!"
Kim Hong memandang kepada gurunya yang menggerak-¬gerakkan ranting di tangannya. Kim Hong membaca coretan¬-coretan di udara Itu.
"Katakan kepada mereka bahwa aku tidak mempunyai urusan dengan mereka dan agar mereka cepat pergi."
Kim Hong menghadapi tiga orang kakek itu dengan sikap menantang, lalu berkata,
"Sam Mo-ong, suhu tidak mempunyai urusan dengan kalian. Maka, jangan kalian mencari penyakit dan banyak mulut. Pergilah kalau kalian tidak ingin kami hajar sampai mampus!"
Tiga orang itu terbelalak dan nampak marah sekali.
"Bocah sombong, engkau belum tahu siapa kami!" bentak Hek-bin Mo-ong. "Dahulupun gurumu ini tidak mampu menandingi aku, apa lagi sekarang. Heii, Hek-liong Kwan Bhok Cu dengar baik-baik. Kami akan mengampuni semua perbuatanmu yang memalukan di masa lalu kalau sekarang kau serahkan ular hitam kepala merah dan muridmu yang molek ini kepada kami. Kalau tidak, terpaksa kami akan membunuhmu lebih dulu, lalu menggeledah pondokmu mencari ular itu, dan memaksa muridmu menjadi budak kami!"
Bukan main marahnya hati Kim Hong mendengar penghinaan yang dilontarkan raksasa hitam itu kepada gurunya. Akan tetapi diam-diam iapun terkejut. Bagaimana iblis ini mengetahui bahwa ia telah mendapatkan ular hitam kepala merah?
"Hek-bin Mo-ong, jangan ngawur! Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa suhu memiliki ular hitam kepala merah?"
"Ha-ha, nona manis Para pemuja ular boleh jadi akan bungkam menutup mulut, akan tetapi anggauta perempuan mereka mana mungkin dapat menutup mulut terhadap kami?"
Kim Hong membayangkan apa yang terjadi. Agaknya tiga orang iblis ini telah menangkap dan menyiksa anggauta para pemuja ular dan memaksanya mengaku sehingga karena tidak tahan akan siksaan yang tentu akan mengerikan, anggauta perempuan itu menceritakan segalanya.
"Jahanam busuk, engkau memang pegecut dan keji!" bentaknya dan ia sudah mencabut sepasang pisau terbangnya.
Akan tetapi, sentuhan ranting di lengannya membuat Kim Hong menengok dan membaca gerakan ranting di tangan uhunya itu.
"Hadapi si kurus kering, awas terhadap Cakar Iblis Beracun dan serang jalan darah dibagian kedua legannya!"
Setelah membaca coretan ranting, Kim Hong segera menggerakkan pisau terbangnya dan ia menyerang ke arah Toat-beng Mo-ong, orang ke tiga dari Sam Mo-ong. Sepasang pisaunya beterbangan dan membuat gerakan bersilang menyerang dari kanan kiri!
"Hemm, mampuslah!" bentak Toat-Beng Mo-ong dan diapun melangkah mundur untuk menghindarkan diri, kemudian kedua tangannya bergerak dan terdengar angin bercuitan ketika kedua lengan itu bergerak dan kedua tangannya membentuk cakar yang warnanya berubah-ubah, kadang merah dan kadang hitam! Tahulah Kim Hong bahwa kedua tangan yang membentuk cakar itu berbahaya sekali, mengandung racun yang dapat mematikan. Sekali saja terkena hantaman atau cakaran kedua tangan itu dapat mendatangkan maut. Maka, iapun menaati pesan gurunya dan sepasang pedangnya bergerak cepat menyambar¬-nyambar ke arah pergelangan tangan, siku dan pundak, ke arah jalan-jalan darah yang akan membuat kedua lengan itu lumpuh kalau terkena sedikit saja!
Sementara itu, melihat betapa To at-beng Mo-ong sudah bertanding melawan gadis itu dan mereka berdua yakin bahwa rekan mereka pasti menang, Hek-bin Mo-ong dan Siuaw-bin Mo-ong sudah menerjang dan menyerang Hek-li ong Kwan Bhok Cu. Hek-bin Mo-ong tidak menggunakan senjata.
Para datuk sesat yang ilmunya sudah tinggi memang lebih suka menggunakan kedua tangan dari pada mengandalkan senjata. Kedua tangan mereka telah "terisi" dan seperti juga sepasang tangan Toat-beng Mo-ong yang sudah menjadi sepasang cakar iblis yang amat berbahaya, juga Hek-bin Mo¬ong yang menjadi orang pertama dari Sam Mo-ong, mengandalkan ilmu Jari Hitamnya. Ilmu ini membuat kedua lengannya kebal dan berubah menghitam, dan dalam keadaan seperti itu, jari-jari tangannya mampu menyambut senjata tajam lawan dan sekali saja tangannya mengenai tubuh lawan maka lawan akan terjungkal dan tewas keracunan. Orang ke dua dari Tiga Raja Iblis itu, si gendut Siauw-bin Mo-ong, juga memiliki ilmu pukulan yang beracun, akan tetapi bedanya, kalau lengan rekannya berubah menghitam, kalau dia sudah mengerahkan ilmu itu, lengannya dari pangkal sampai ke ujung jari berubah merah. Itulah ilmunya Jari Merah dan siapa terkena pukulannya, tubuh yang terkena akan terbakar hangus seperti tersentuh baja yang panas membara!
Si Naga Hitam menghadapi serangan dua orang pengeroyoknya dengan sikap tenang. Dia tetap memegang ranting kecii yang biasanya dia pergunakan untuk "bicara" dengan muridnya. Ranting itu hanya sebatang ranting kayu yang besarnya hanya seibu-jari, panjangnya sedepa. Akan tetapi, di tangan orang sakti ini, ranting itu bagaikan berubah menjadi sebatang baja yang amat kuat dan lihai, yang dia pergunakan untuk menyerang Jalan darah kedua orang pengeroyoknya dengan totokan-totokan maut yang selain amat kuat mengandung tenaga sin-kang yang dahsyat, juga amat cepat. Begitu ranting itu digerakkan, maka nampak gulungan sinar kehijauanyang mengeluarkan bunyi bercuitan!
Dua orang datuk itu terkejut bukan main. Belasan tahun yang lalu, tingkat kepandaian Si Naga Hitam ini masih sebanding dengan masing-masing dari mereka. Akan tetapi sekarang, mereka maju berdua dengan keyakinan pasti akan mampu merobohkan pengkhianat kaum kang-ouw itu dengan mudah, tidak tahunya kini mereka berdua bahkan terancam oleh totokan-totokan maut yang amat dahsyat! Kiranya selama sepuluh tahun lebih ini, ilmu kepandaian Si Naga Hitam telah meningkat dengan amar hebatnya.
"Aarrgghhh.....!!"
Hek-bin Mo-ong mengeluarkan teriakan seperti gerengan seekor srigala atau biruang marah, dan kedua tangannya sudah mencapai warna hitam yang paling gelap, bahkan kini dari telapak tangannya mengepul uap yang kehitaman! Diapun menerjang dengan dahsyat sekali, kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangannya menyerang dari semua penjuru, bahkan menutup jalan keluar!
Melihat serangan itu, bahkan Siauw-bin Mo-ong sendiri menjadi gentar kepada rekannya, khawatir kalau-kalau akan beradu tangan sendiri dengan Hek-bin Mo-ong sehingga dia akan menderita celaka. Dia mundur dan hanya siap untuk mengeroyok kalau kesempatannya tiba, karena serangan Hek-bin Mo-ong itu agaknya tidak akan dapat dielakkan lagi oleh Si Naga Hitam.
Akan tetapi, Si Naga Hitam sama sekali tidak mengelak. Ranting di tangan kanan yang menyambut telapak kiri lawan, menotok ke tengah telapak tangan agak mengarah celah antara telunjuk dan ibu jari, sedangkan tangan kirinya menotok telapak tangan kanan lawan dengan sebuah jari telunjuk. Itulah ilmu totokan lt-sin-ci (Satu Jari Sakti) yang amat hebat.
"Tuk-tukk.....!"
Adu tenaga melalui tangan itu membuat Hek-bin Mo-ong terhuyung ke belakang sedangkan Si Naga Hitam yang tergoyang sedikit yang membuktikan bahwa dalam hal tenaga sinkang, dia masih unggul dan lebih kuat dari pada si raksasa hitam! Akan tetapi, karena kedua telapak tangan Hek-bin Mo-ong mengandung hawa beracun yang amat jahat, ranting di tangan Si Naga Hitam menjadi hangus dan patah-patah ujungnya, dan telunjuk kirinya yang menotok telapak tangan lawan dengan ilmu totok It-sin-ci, menjadi hitam kukunya!
Hek-bin Mo-ong sendiri terluka dalam karena tenaganya membalik dalam adu tenaga sin-kang itu, maka dia hanya berdiri tegak sambil mengatur pernapasan dan untuk sementara tidak berani maju lagi. Dalam keadaan seperti itu, kalau dia maju mengadu tenaga sin-kang lagi, luka di dalam tubuhnya akan menjadi semakin parah dan berbahaya.
Melihat betapa Hek-bin Mo-ong agaknya terluka dalam mengadu tenaga sin-kang melawan Si Naga Hitam, Siuaw-bin Mo-ong terkejut sekali dan marah. Akan tetapi, si gendut bulat ini cerdik. Dia tahu bahwa kalau Hek-bin Mo-ong saja kalah kuat dalam tenaga sin-kang, dia sendiripun tidak akan mampu menandingi lawan dengan adu tenaga, maka diapun sudah menerjang dengan cepat. Tubuhnya yang bulat itu seperti sebutir bola raksasa menggelinding dan menerjang ke arah Si Naga Hitam Kwan Bhok Cu. Kakek gagu ini menyambut dengan gerakan rantingnya yang sudah menadi pendek karena ujungnya hangus dan patah tadi dan segera terjadi perkelahian yang seru antara mereka.
Sementara itu, perkelahian antara Kim Hong dan Toat-beng Mo-ong juga seru bukan main. Diam-diam Kim Hong bersukur bahwa selama dua tahun ini, ia belajar dengan tekun dibawah gemblengan gurunya yang juga bersungguh sungguh. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia mampu menahan serangan seorang datuk lihai seperti Toat-beng Mo-ong? Orang kurus kering yang mukanya muram ini bukan main lihainya. Setiap tangannya bergerak, menyambar hawa pukulan dahsyat yang mendatangkan angin yang bercuitan. Namun, sepasang pedang di tangan Kim Hong juga merupakan senjata yang ampuh sekali. Siang-hui-kiam (Sepasang Pedang Terbang) itu menyambar-yambar bagaikan dua ekor burung walet menyambari kupu-kupu sehingga nampak dua gulungan sinar yang menyilaukan mata dan membingungkan Toat-beng Mo¬ong. Juga, gerakan gadis itu lincah dan cepat, tubuhnya lenyap menjadi bayangan hitam dan gerakan tangannya mengandung sin-kang yang cukup kuat.
Diam-diam To at ¬beng Mo-ong heran dan kagum bukan main. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu lawan seorang gadis muda selihai ini. Dan mengingat bahwa gadis ini murid Hek-liong Kwan Bhok Cu, dapat di bayangkan betapa lihainya sang guru. Teringat akan ini, dia melirik ke arah kedua orang rekannya. Diapun terkejut. Rekannya yang paling lihai, Hek-bin Mo ong, berdiri seperti patung dan mengatur pernapasan, tanda bahwa datuk ini telah terluka, sedangkan rekan kedua, Siauw¬ bin Mo-ong nampak menggelinding ke sana sini dikejar oleh bayangan ranting pendek di tangan Si Naga Hitam i-tu. Ceiaka, pikirnya. Dan hampir saja dia yang celaka. Karena memecahkan perhatiannya ke arah dua orang rekannya, hampir saja lehernya ditembus sebatang di antara sepasang pedang Kim Hong! Hanya kepekaannya yang terlatih saja menyelamatkan dengan cepat miringkan kepala. Namun tetap saja ujung daun telinga kirinya disambar senjata tajam sehingga terluka dan berdarah!
Pada saat itu, juga tubuh Siuaw-bin Mo-ong terkena tendangan kaki Hek-liong Kwan Bhok Cu. Ketiga Sam Mo-ong segera berlompatan ke belakang dan maklumlah mereka bahwa kalau perkelahian dilanjutkan, mereka bertiga akan kalah.
"Kwan Bhok Cu!" kata Hek-bin Mo-ong dengan marah. "Saat ini kami mengakui keunggulan engkau dan muridmu. Salah kami yang selama ini tidak memperdalam ilmu sehingga terkejar olehmu. Akan tetapi, jangan harap engkau akan mampu menyembunyikan diri lagi. Kami akan menuntut kepada Beng-kauw! Sampai jumpa!"
Tiga orang kakek itu berlompatan dan turun dari Bukit Nelayan. Si Naga Hitam sendiri lalu duduk bersila dan memejamkan mata, mengatur pernapasan karena dalam perkelahiannya mengadu tenaga sin-kang dengan Hek-bin Mo-ong tadi, isi dadanya terguncang dan sedikit banyak dia sudah terkena hawa beracun dari tangan hitam Hek-bin Mo-ong. Melihat ini, Kim Hong tidak mengganggu gurunya, bahkan iapun duduk bersila di dekatnya dan menghimpun hawa murni karena perkelahian melawan datuk tadi menguras tenaga sin-kangnya.
Setelah mendengar gurunya bergerak, Kim Hong membuka matanya dan mereka saling pandang. Si Naga Hitam mengangguk dan tersenyum, lalu menggerakkan ranting yang tinggal pendek itu di udara. Kim Hong memperhatikan dan gurunya menulis.
"Aku girang melihat kemajuanmu sehingga engkau mampu menandingi Toat-beng Mo-ong. Kalau engkau sudah minum darah Ang-thouw-hek-coa, engkau tentu tidak akan takut menghadapi pukulan beracun ke tiga Sam Mo-ong tadi. Bawa kesini ular hitam kepala merah itu.Cepat!"
Kim Hong menahan pertanyaan yang menyesak di dadanya, dan menaati perintah gurunya. Keranjang kecil berisi ular hitam keciL itu diletakkan di depan gurunya yang masih duduk bersila.
"Ambil sebuah cawan besar dan peti obatku ke sini." Gurunya menulis lagi dan perintah inipun cepat dilaksanakan oleh Kim Hong.
Si Naga Hitam lalu memilih beberapa obat bubuk berwarna putih dan merah, menuangkan sebagian dari bungkusan obat itu ke dalam cawan besar. Kemudian, dia membuka tutup keranjang dan begitu ular hitam kecil itu berdiri dan kepalanya keluar dari keranjang, secepat kilat tangannya menyambar dan dia telah menangkap ular itu dengan jepitan ibu jari dan telunjuk kanannya pada leher ular! Kemudian, jari-jari tangan lainnya menjepit tubuh ular itu dari leher, lalu ditarik ke bawah. Kulit tubuh itu pecah dan semua darah dan benda cair yang berada di tubuh ular itupun keluar, ditampung ke dalam cawan yang sudah diisi dua macam obat bubuk tadi. Ular itu seperti diperas, dan kini tubuh yang mati itu tinggal kulit dan daging yang kering dan gepeng!
Kim Hong bergidik ketika gurunya mengaduk cairan yang setengah cawan bercampur obat itu lalu disodorkan kepadanya, ia harus minum cairan darah dan obat itu! Baru melihatnya saja ia sudah hampir muntah! Gurunya tersenyum dan menulis diudara.
"Jepit hidungmu, pejamkan matamu,dan minum cepat!"
Kim Hong tidak berani membantah, ia tahu bahwa darah itu tentu berbahaya bukan main karena ular itu merupakan ular yang sangat berbisa. Darahnya tentu mengandung bisa yang amat berbahaya, dan kini gurunya minta agar ia meminumnya! Akan tetapi, ia percaya sepenuhnya kepada gurunya. Dengan tangan kanan memegang cawan, ia menggunakan tangan kiri menjepit hidungnya dan memejamkan matanya. Kini ia tidak dapat melihat lagi, tidak dapat mencium lagi, maka perasaan muakpun berkurang banyak, hanya yang tersisa dalam ingatan saja. Memang segala macam kemuakan timbul melalui penglihatan dan penciuman, juga pendengaran walaupun tidak sekuat yang pertama. Rasa tidak enak di mulutpun akan banyak berkurang apa bila hidung dipencet dan mata dipejam. Kim Hong menuangkan isi cawan dalam tenggorokannya dan menelannya.
Cairan itu tertelan semua dan ia melepaskan cawan kosongnya ke atas tanah. ia membuka mata dan bertemu pandang dengan gurunya, ia tersenyum. Rasa masam dan manis, juga amis, memenuhi mulutnya. Tiba-tiba ia memejamkan matanya, kepalanya berdenyut-denyut pusing, pandang matanya berkunang, tubuhnya terasa panas seperti terbakar dan iapun mencoba untuk menahan, tetap saja ia tidak kuat karena tubuhnya seperti hanyut dan iapun terguling roboh dan pingsan!
"Hi-hik, ular badut!"
Kim Hong terkekeh dalam hatinya. Ular yang warnanya amat cerah, hitam mengkilap dan kepalanya merah seperti darah atau api itu, selain indah juga amat lucu, ia pernah melihat ular kobra. Rajanya ular ini pun hanya mampu mengangkat kepala dari bawah leher ke atas saja. Akan tetapi ular hitam kepala merah ini mampu berdiri, benar-¬benar berdiri di atas ekornya yang tidak runcing dan ber lenggang-lenggok!
Kemudian, si mata sipit menurunkan sulingnya sedangkan yang lain masih terus meniup suling masing-masing. Kini si mata sipit ikut menari! Sambil duduk bersila, kedua lengannya seperti dua ekor ular yang menari pula, meniru gerakan ular hitam. Agaknya, sang ular yang cerdik namun bodoh bagi manusia itu, menganggap bahwa dia ditemani dua ekor ular lain yang bentuknya aneh akan tetapi pandai menari seperti dia. Atau mungkin dia sudah terbiasa ditemani dua ekor "ular" itu. Tangan si mata sipit memang berbentuk moncong ular dan kini tiga "ekor" ular itu menari-nari saling mendekati, kadang bersenggolan. Seorang anggauta kelompok menurunkan sulingnya pula dan mengeluarkan seekor katak dari dalam kantung, seekor katak yang besar dan gendut.
Kemudian, tiba-tiba dengan gerakan cepat, si mata sipit telah menangkap leher dan belakang kepala ular hitam yang terpaksa membuka mulutnya lebar-lebar sehingga nampak gigi yang runcing melengkung ke dalam. Orang yang memegang katak tadi mendekatkan katak, lalu si mata sipit menyentuh katak itu dengan moncong ular yang segera menggigit katak. Katak itu meronta sebentar lalu terdiam. Si mata sipit menarik kepala ular sehingga terlepas, lalu menggigitkan lagi sampai berulang kali. Tubuh katak itu berubah menghitam! Dan gerakan ular itu makin lemah seolah-olah dia kehabisan tenaga, bahkan setelah katak yang sudah mati dan berubah hitam itu dimasukkan kantung kembali dan ular itu dilepas, dia nampak lemas dan gerakannya lambat.
Dan Kim Hong kini menyaksikan peristiwa yang amat mengherankan hatinya. Seekor ular kobra yang belang-belang sebesar lengan dan nampak ganas sekali, ditangkap oleh si mata sipit. Ular yang berbisa dan biasanya amat ganas ini jinak saja dan ketika dia dilepas di depan ular hitam kepala merah, ular kobra itu nampak ketakutan dan melingkar diam, meletakkan kepalanya di atas tanah di depan ular hitam yang lemas. Ular hitam agaknya kini dibangkitkan semangatnya oleh tiupan suling yang melengking-lengking, kemudian ular hitam itu menggerakkan kepalanya yang merah, moncongnya dibuka dan diapun menerkam dengan moncongnya ke.arah belakang kepala ular kobra. Ular kobra diam saja dan ular hitam Seperti menghisap sesuatu dari kepala bagian belakang ular kobra.
Ketika ular hitam yang kini menjadi agak gesit melepaskan gigitannya, ular kobra tidak mampu bergerak lagi dan telah mati. Lalu si mata sipit mengambil ular ke dua, ular yang ekornya besar dan ekor itu kalau di gerak-gerakkan dapat mengeluarkan bunyi berkerotokan! Sungguh merupakan ular yang aneh dan langka, akan tetapi yang racunnya jahat bukan main. Sekali terpagut ular ini, jangan harap dapat hidup lebih lama dari dua tiga jam! Seperti juga ular kobra tadi, ular ini "mendekam" di depan ular hitam yang kini menjadi lebih lincah. Si hitam kepala merah itu menerkam seperti tadi dan korbannya diam saja seperti terpesona, membiarkan racun di belakang kepalanya dihisap habis dan diapun tewas!
Baru setelah menghisap habis racun dari belakang kepala enam ekor ular yang paling berbisa, si hitam berkepala merah itu agaknya baru puas dan kenyang, lalu dia dimasukkan kembali ke dalam keranjang kecil oleh si mata sipit, melalui suara suling yang menuntunnya masuk kembali ke tempatnya.
Selesailah pertunjukan itu dan Kim Hong dipersilakan turun. Gadis ini kagum sekali.
"Aih, ular itu sungguh lucu. itukah Ang¬thouw-hek-coa yang di cari suhu?"
Si mata sipit tersenyum akan tetapi dia menghela napas seperti orang bersedih.
"Benar, sian-li. Dan seperti sian-li melihatnya sendiri tadi, demikianlah kami mengumpulkan racun dan membuatnya menjadi pel untuk dijual. Kami mengumpulkannya melalui ular hitam kepala merah. Ketika kami menggigitkannya kepada katak tadi, maka semua racunnya berpindah ke dalam tubuh katak dan kami akan memeras darah katak yang sudah penuh dengan racun itu. Kemudian, kami memberikan beberapa ekor ular yang paling berbisa untuk dihisap racunnya oleh ang-thouw-hek-coa dan seketika pulih kembali racun dalam tubuhnya. Dengan cara ini, maka setiap tiga hari sekali kami dapat mengumpulkan racun yang banyak karena gigitan ular hitam kepala merah itu mengeluarkan racun yang banyak sekali dan ampuh."
Kim Hong mengangguk-angguk.
"Kalau begitu pantas kalian menganggap ular hitam kepala merah itu sebagai sumber rejeki. Lalu bagaimana aku bisa mendapatkan ular seperti itu untuk memenuhi perintah suhu?"
"Kami menganggap sian-li sebagai dewi penolong, maka kami hadiahkan ular ini kepada sian-li untuk diserahkan kepada Si Naga Hitam, guru sian-li!" kata si mata sipit dan semua orang mengangguk-angguk sehingga Kim Hong merasa terharu sekali.
"Akan tetapi..... itu amat merugikan kalian! Lalu bagaimana kalian dapat mengumpulkan racun untuk dijual?" tanyanya agak ragu walaupun tentu saja di dalam hatinya ia merasa girang sekali.
"Jangan khawatir, sian-li. Kami akan mengumpulkan racun seperti dahulu sebelum kami memiliki ular hitam kepala merah, yaitu dengan mengumpulkan dari ular-ular berbisa sedikit demi sedikit. Tentu saja tidak dapat secepat kalau melalui ular hitam kepala merah. Kalau dengan dia kami bisa mengumpulkan sebanyak itu setiap tiga hari, tanpa dia kami akan dapat mengumpulkan racun sebanyak itu dalam waktu tigapuluh hari ."
"Aihh! Kalau begitu aku hanya membuat kalian menderita!" seru Kim Hong terkejut.
"Tidak, sian-li. Kamipun sudah kehilangan banyak kawan sehingga jumlah kami tinggal dua belas orang, kami tidak mempunyai kebutuhan yang banyak. Pula, sekitar dua tahun lagi kami akan dapat mencari anak ular ini yang tentu sudah besar dan dapat menggantikan pekerjaan itu."
Akhirnya Kim Hong menerima pemberian itu dan iapun turun dari Bukit Hitam, ditemani oleh duabelas orang itu sampai di bawah kaki bukit. Mereka saling berpisah dan Kim Hong mengucapkan terima kasih kepada mereka.
Di puncak Bukit Nelayan, Hek-li-ong Kwan Bhok Cu yang gagu menerima ke datangan muridnya dengan wajah gembira. Dengan caranya sendiri, yaitu menggerak-gerakkan ranting mencorat-coret huruf di udara, dia "bicara" kepada Kim Hong.
"Engkau dapat cepat pulang membawa ular hitam kepala merah, hal ini menunjukkan bahwa tidak sia-sia aku mendidikmu selama dua tahun lebih ini. 0rang lain belum tentu bisa mendapatkan ular itu selama hidupnya, apalagi dalam waktu sesingkat ini. Akan tetapi aku melihat dari atas tadi bahwa ada tiga bayangan orang yang ikut naik mengikutimu."
Kim Hong terkejut. Kalau sampai ia sendiri tidak melihat dirinya dibayangi orang dari bawah bukit, hal itu membuktikan bahwa tiga orang yang membayanginya tentulah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
"Cepat simpan ular itu ke dalam!" kata pula Hek-liong Kwab Bhok Cu melalui coretan rantingnya. Kim Hong segera menaati perintah gurunya. Dibawanya keranjang kecil ke dalam pondok dan disembunyikannya keranjang Itu ke bawah tempat tidurnya. Setelah itu, ia pun cepat berlari keluar dan berdiri di samping gurunya menanti datangnya tiga bayangan orang yang bergerak dengan cepat seperti terbang mendaki puncak Bukit Nelayan.
Kim Hong memandang dengan penuh perhatian dan setelah tiga orang itu tiba di depannya, diam-diam ia terkejut mengenal bahwa seorang di antara mereka adalah si raksasa hitam Hek-bin Mo-ong! ia tadi belum sempat menceritakan pengalamannya dengan Raja Iblis Muka Hitam kepada gurunya. Tentu saja gurunya tidak mengenal siapa raksasa hitam itu. Dan melihat dua orang yang lain, ia dapat menduga bahwa agaknya mereka itu adalah rekan-rekan si raksasa hitam. Agaknya tiga orang inilah yang disebut Sam Mo-ong (Tiga Raja Iblis). Tentu si raksasa hitam itu setelah kalah menghadapi pengeroyokan para pemuja ular yang dibantunya, pergi mengundang dua orang rekannya lalu pergi ke Bukit Nelayan, bukan membayanginya. Kini ia teringat betapa ia mengaku kepada raksasa hitam itu bahwa ia bertempat tinggal di Pulau Nelayan.
Akan tetapi, betapa heran rasa hatinya ketika ia melihat tiga orang itu tidak memandang kepadanya, melainkan kepada gurunya dan mereka bertiga tersenyum-senyum.
"Aha, kiranya Si Naga Hitam Kwan Bhok Cu yang berada di sini!” kata seorang di antara mereka yang tubuhnya pendek berperut gendut sehingga dia nampak bulat. Kakinya pendek dan tertutup jubahnya yang panjang sehingga kalau dia berjalan ke depan, nampaknya seperti menggelundung saja.
Orang ini merupakan orang ke dua dari Sam Mo-ong dan di dunia kang-ouw terkenal sebagai datuk yang berjuluk Siauw¬ bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Ketawa) . Melihat wajahnya yang selalu ketawa atau senyum lebar, dia nampak ramah dan baik hati, akan tetapi orang akan merasa ngeri kalau melihat sepak terjangnya. Dia kejam bukan main, suka menyiksa orang sehingga mukanya yang tertawa itu hanya sebagai kedok.
"Hemm, Kwan Bhok Cu ternyata belum mampus seperti dikabarkan orang, dan bersembunyi di tempat ini! Kalau begitu, para pimpinan Hek-kauw telah berbohong, membohongi dunia kangouw!" kata orang ke tiga yang tubuhnya kurus kering seperti orang berpenyakitan dan mukanya selalu cemberut dan keruh. Inilah orang ke tiga dari Sam Mo-ong yang berjuluk Toat-beng Mo-ong (Raja Iblis Pencabut Nyawa) karena ia terkenal dengan sikap dan wataknya yang pemurung dan pemarah, sedikit saja sebabnya sudah membuat dia turun tangan membunuh orang!
Kim Hong menoleh kepada gurunya, akan tetapi suhunya itu diam saja tidak menanggapi dan kelihatan acuh saja, bahkan nampak mengerutkan alisnya, tanda bahwa orang tua itu merasa tidak senang.
"Ha-ha-ha, Hek-liong Kwan Bhok Cu, kenapa engkau diam saja?" Kini Hek bin Mo-ong berkata dan senyumnya mengejek. "Apakah engkau sudah menjadi tuli dan gagu? Atau engkau pura-pura tidak mengenal lagi kepada kami? Tidak mungkin engkau lupa kepada Sam Mo-ong, ha-ha-ha!"
Kim Hong berkata kepada gurunya.
"Suhu, iblis tua hitam ini adalah Hek-bin Mo-ong yang pernah bentrok dengan teecu karena dia hendak membunuhi semua pemuja ular di Bukit Hitam."
"Heh-heh, nona manis. Kiranya engkau murid Si Naga Hitam! Kalau saja engkau tidak mengeroyokku dengan para pemuja ular, tentu sekarang engkau sudah bersenang-senang dengan aku, dan gurumu tentu akan merasakan bagaimana penderitaan orang dikhianati teman sendiri!"
Kim Hong memandang kepada gurunya yang menggerak-¬gerakkan ranting di tangannya. Kim Hong membaca coretan¬-coretan di udara Itu.
"Katakan kepada mereka bahwa aku tidak mempunyai urusan dengan mereka dan agar mereka cepat pergi."
Kim Hong menghadapi tiga orang kakek itu dengan sikap menantang, lalu berkata,
"Sam Mo-ong, suhu tidak mempunyai urusan dengan kalian. Maka, jangan kalian mencari penyakit dan banyak mulut. Pergilah kalau kalian tidak ingin kami hajar sampai mampus!"
Tiga orang itu terbelalak dan nampak marah sekali.
"Bocah sombong, engkau belum tahu siapa kami!" bentak Hek-bin Mo-ong. "Dahulupun gurumu ini tidak mampu menandingi aku, apa lagi sekarang. Heii, Hek-liong Kwan Bhok Cu dengar baik-baik. Kami akan mengampuni semua perbuatanmu yang memalukan di masa lalu kalau sekarang kau serahkan ular hitam kepala merah dan muridmu yang molek ini kepada kami. Kalau tidak, terpaksa kami akan membunuhmu lebih dulu, lalu menggeledah pondokmu mencari ular itu, dan memaksa muridmu menjadi budak kami!"
Bukan main marahnya hati Kim Hong mendengar penghinaan yang dilontarkan raksasa hitam itu kepada gurunya. Akan tetapi diam-diam iapun terkejut. Bagaimana iblis ini mengetahui bahwa ia telah mendapatkan ular hitam kepala merah?
"Hek-bin Mo-ong, jangan ngawur! Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa suhu memiliki ular hitam kepala merah?"
"Ha-ha, nona manis Para pemuja ular boleh jadi akan bungkam menutup mulut, akan tetapi anggauta perempuan mereka mana mungkin dapat menutup mulut terhadap kami?"
Kim Hong membayangkan apa yang terjadi. Agaknya tiga orang iblis ini telah menangkap dan menyiksa anggauta para pemuja ular dan memaksanya mengaku sehingga karena tidak tahan akan siksaan yang tentu akan mengerikan, anggauta perempuan itu menceritakan segalanya.
"Jahanam busuk, engkau memang pegecut dan keji!" bentaknya dan ia sudah mencabut sepasang pisau terbangnya.
Akan tetapi, sentuhan ranting di lengannya membuat Kim Hong menengok dan membaca gerakan ranting di tangan uhunya itu.
"Hadapi si kurus kering, awas terhadap Cakar Iblis Beracun dan serang jalan darah dibagian kedua legannya!"
Setelah membaca coretan ranting, Kim Hong segera menggerakkan pisau terbangnya dan ia menyerang ke arah Toat-beng Mo-ong, orang ke tiga dari Sam Mo-ong. Sepasang pisaunya beterbangan dan membuat gerakan bersilang menyerang dari kanan kiri!
"Hemm, mampuslah!" bentak Toat-Beng Mo-ong dan diapun melangkah mundur untuk menghindarkan diri, kemudian kedua tangannya bergerak dan terdengar angin bercuitan ketika kedua lengan itu bergerak dan kedua tangannya membentuk cakar yang warnanya berubah-ubah, kadang merah dan kadang hitam! Tahulah Kim Hong bahwa kedua tangan yang membentuk cakar itu berbahaya sekali, mengandung racun yang dapat mematikan. Sekali saja terkena hantaman atau cakaran kedua tangan itu dapat mendatangkan maut. Maka, iapun menaati pesan gurunya dan sepasang pedangnya bergerak cepat menyambar¬-nyambar ke arah pergelangan tangan, siku dan pundak, ke arah jalan-jalan darah yang akan membuat kedua lengan itu lumpuh kalau terkena sedikit saja!
Sementara itu, melihat betapa To at-beng Mo-ong sudah bertanding melawan gadis itu dan mereka berdua yakin bahwa rekan mereka pasti menang, Hek-bin Mo-ong dan Siuaw-bin Mo-ong sudah menerjang dan menyerang Hek-li ong Kwan Bhok Cu. Hek-bin Mo-ong tidak menggunakan senjata.
Para datuk sesat yang ilmunya sudah tinggi memang lebih suka menggunakan kedua tangan dari pada mengandalkan senjata. Kedua tangan mereka telah "terisi" dan seperti juga sepasang tangan Toat-beng Mo-ong yang sudah menjadi sepasang cakar iblis yang amat berbahaya, juga Hek-bin Mo¬ong yang menjadi orang pertama dari Sam Mo-ong, mengandalkan ilmu Jari Hitamnya. Ilmu ini membuat kedua lengannya kebal dan berubah menghitam, dan dalam keadaan seperti itu, jari-jari tangannya mampu menyambut senjata tajam lawan dan sekali saja tangannya mengenai tubuh lawan maka lawan akan terjungkal dan tewas keracunan. Orang ke dua dari Tiga Raja Iblis itu, si gendut Siauw-bin Mo-ong, juga memiliki ilmu pukulan yang beracun, akan tetapi bedanya, kalau lengan rekannya berubah menghitam, kalau dia sudah mengerahkan ilmu itu, lengannya dari pangkal sampai ke ujung jari berubah merah. Itulah ilmunya Jari Merah dan siapa terkena pukulannya, tubuh yang terkena akan terbakar hangus seperti tersentuh baja yang panas membara!
Si Naga Hitam menghadapi serangan dua orang pengeroyoknya dengan sikap tenang. Dia tetap memegang ranting kecii yang biasanya dia pergunakan untuk "bicara" dengan muridnya. Ranting itu hanya sebatang ranting kayu yang besarnya hanya seibu-jari, panjangnya sedepa. Akan tetapi, di tangan orang sakti ini, ranting itu bagaikan berubah menjadi sebatang baja yang amat kuat dan lihai, yang dia pergunakan untuk menyerang Jalan darah kedua orang pengeroyoknya dengan totokan-totokan maut yang selain amat kuat mengandung tenaga sin-kang yang dahsyat, juga amat cepat. Begitu ranting itu digerakkan, maka nampak gulungan sinar kehijauanyang mengeluarkan bunyi bercuitan!
Dua orang datuk itu terkejut bukan main. Belasan tahun yang lalu, tingkat kepandaian Si Naga Hitam ini masih sebanding dengan masing-masing dari mereka. Akan tetapi sekarang, mereka maju berdua dengan keyakinan pasti akan mampu merobohkan pengkhianat kaum kang-ouw itu dengan mudah, tidak tahunya kini mereka berdua bahkan terancam oleh totokan-totokan maut yang amat dahsyat! Kiranya selama sepuluh tahun lebih ini, ilmu kepandaian Si Naga Hitam telah meningkat dengan amar hebatnya.
"Aarrgghhh.....!!"
Hek-bin Mo-ong mengeluarkan teriakan seperti gerengan seekor srigala atau biruang marah, dan kedua tangannya sudah mencapai warna hitam yang paling gelap, bahkan kini dari telapak tangannya mengepul uap yang kehitaman! Diapun menerjang dengan dahsyat sekali, kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangannya menyerang dari semua penjuru, bahkan menutup jalan keluar!
Melihat serangan itu, bahkan Siauw-bin Mo-ong sendiri menjadi gentar kepada rekannya, khawatir kalau-kalau akan beradu tangan sendiri dengan Hek-bin Mo-ong sehingga dia akan menderita celaka. Dia mundur dan hanya siap untuk mengeroyok kalau kesempatannya tiba, karena serangan Hek-bin Mo-ong itu agaknya tidak akan dapat dielakkan lagi oleh Si Naga Hitam.
Akan tetapi, Si Naga Hitam sama sekali tidak mengelak. Ranting di tangan kanan yang menyambut telapak kiri lawan, menotok ke tengah telapak tangan agak mengarah celah antara telunjuk dan ibu jari, sedangkan tangan kirinya menotok telapak tangan kanan lawan dengan sebuah jari telunjuk. Itulah ilmu totokan lt-sin-ci (Satu Jari Sakti) yang amat hebat.
"Tuk-tukk.....!"
Adu tenaga melalui tangan itu membuat Hek-bin Mo-ong terhuyung ke belakang sedangkan Si Naga Hitam yang tergoyang sedikit yang membuktikan bahwa dalam hal tenaga sinkang, dia masih unggul dan lebih kuat dari pada si raksasa hitam! Akan tetapi, karena kedua telapak tangan Hek-bin Mo-ong mengandung hawa beracun yang amat jahat, ranting di tangan Si Naga Hitam menjadi hangus dan patah-patah ujungnya, dan telunjuk kirinya yang menotok telapak tangan lawan dengan ilmu totok It-sin-ci, menjadi hitam kukunya!
Hek-bin Mo-ong sendiri terluka dalam karena tenaganya membalik dalam adu tenaga sin-kang itu, maka dia hanya berdiri tegak sambil mengatur pernapasan dan untuk sementara tidak berani maju lagi. Dalam keadaan seperti itu, kalau dia maju mengadu tenaga sin-kang lagi, luka di dalam tubuhnya akan menjadi semakin parah dan berbahaya.
Melihat betapa Hek-bin Mo-ong agaknya terluka dalam mengadu tenaga sin-kang melawan Si Naga Hitam, Siuaw-bin Mo-ong terkejut sekali dan marah. Akan tetapi, si gendut bulat ini cerdik. Dia tahu bahwa kalau Hek-bin Mo-ong saja kalah kuat dalam tenaga sin-kang, dia sendiripun tidak akan mampu menandingi lawan dengan adu tenaga, maka diapun sudah menerjang dengan cepat. Tubuhnya yang bulat itu seperti sebutir bola raksasa menggelinding dan menerjang ke arah Si Naga Hitam Kwan Bhok Cu. Kakek gagu ini menyambut dengan gerakan rantingnya yang sudah menadi pendek karena ujungnya hangus dan patah tadi dan segera terjadi perkelahian yang seru antara mereka.
Sementara itu, perkelahian antara Kim Hong dan Toat-beng Mo-ong juga seru bukan main. Diam-diam Kim Hong bersukur bahwa selama dua tahun ini, ia belajar dengan tekun dibawah gemblengan gurunya yang juga bersungguh sungguh. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia mampu menahan serangan seorang datuk lihai seperti Toat-beng Mo-ong? Orang kurus kering yang mukanya muram ini bukan main lihainya. Setiap tangannya bergerak, menyambar hawa pukulan dahsyat yang mendatangkan angin yang bercuitan. Namun, sepasang pedang di tangan Kim Hong juga merupakan senjata yang ampuh sekali. Siang-hui-kiam (Sepasang Pedang Terbang) itu menyambar-yambar bagaikan dua ekor burung walet menyambari kupu-kupu sehingga nampak dua gulungan sinar yang menyilaukan mata dan membingungkan Toat-beng Mo¬ong. Juga, gerakan gadis itu lincah dan cepat, tubuhnya lenyap menjadi bayangan hitam dan gerakan tangannya mengandung sin-kang yang cukup kuat.
Diam-diam To at ¬beng Mo-ong heran dan kagum bukan main. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu lawan seorang gadis muda selihai ini. Dan mengingat bahwa gadis ini murid Hek-liong Kwan Bhok Cu, dapat di bayangkan betapa lihainya sang guru. Teringat akan ini, dia melirik ke arah kedua orang rekannya. Diapun terkejut. Rekannya yang paling lihai, Hek-bin Mo ong, berdiri seperti patung dan mengatur pernapasan, tanda bahwa datuk ini telah terluka, sedangkan rekan kedua, Siauw¬ bin Mo-ong nampak menggelinding ke sana sini dikejar oleh bayangan ranting pendek di tangan Si Naga Hitam i-tu. Ceiaka, pikirnya. Dan hampir saja dia yang celaka. Karena memecahkan perhatiannya ke arah dua orang rekannya, hampir saja lehernya ditembus sebatang di antara sepasang pedang Kim Hong! Hanya kepekaannya yang terlatih saja menyelamatkan dengan cepat miringkan kepala. Namun tetap saja ujung daun telinga kirinya disambar senjata tajam sehingga terluka dan berdarah!
Pada saat itu, juga tubuh Siuaw-bin Mo-ong terkena tendangan kaki Hek-liong Kwan Bhok Cu. Ketiga Sam Mo-ong segera berlompatan ke belakang dan maklumlah mereka bahwa kalau perkelahian dilanjutkan, mereka bertiga akan kalah.
"Kwan Bhok Cu!" kata Hek-bin Mo-ong dengan marah. "Saat ini kami mengakui keunggulan engkau dan muridmu. Salah kami yang selama ini tidak memperdalam ilmu sehingga terkejar olehmu. Akan tetapi, jangan harap engkau akan mampu menyembunyikan diri lagi. Kami akan menuntut kepada Beng-kauw! Sampai jumpa!"
Tiga orang kakek itu berlompatan dan turun dari Bukit Nelayan. Si Naga Hitam sendiri lalu duduk bersila dan memejamkan mata, mengatur pernapasan karena dalam perkelahiannya mengadu tenaga sin-kang dengan Hek-bin Mo-ong tadi, isi dadanya terguncang dan sedikit banyak dia sudah terkena hawa beracun dari tangan hitam Hek-bin Mo-ong. Melihat ini, Kim Hong tidak mengganggu gurunya, bahkan iapun duduk bersila di dekatnya dan menghimpun hawa murni karena perkelahian melawan datuk tadi menguras tenaga sin-kangnya.
Setelah mendengar gurunya bergerak, Kim Hong membuka matanya dan mereka saling pandang. Si Naga Hitam mengangguk dan tersenyum, lalu menggerakkan ranting yang tinggal pendek itu di udara. Kim Hong memperhatikan dan gurunya menulis.
"Aku girang melihat kemajuanmu sehingga engkau mampu menandingi Toat-beng Mo-ong. Kalau engkau sudah minum darah Ang-thouw-hek-coa, engkau tentu tidak akan takut menghadapi pukulan beracun ke tiga Sam Mo-ong tadi. Bawa kesini ular hitam kepala merah itu.Cepat!"
Kim Hong menahan pertanyaan yang menyesak di dadanya, dan menaati perintah gurunya. Keranjang kecil berisi ular hitam keciL itu diletakkan di depan gurunya yang masih duduk bersila.
"Ambil sebuah cawan besar dan peti obatku ke sini." Gurunya menulis lagi dan perintah inipun cepat dilaksanakan oleh Kim Hong.
Si Naga Hitam lalu memilih beberapa obat bubuk berwarna putih dan merah, menuangkan sebagian dari bungkusan obat itu ke dalam cawan besar. Kemudian, dia membuka tutup keranjang dan begitu ular hitam kecil itu berdiri dan kepalanya keluar dari keranjang, secepat kilat tangannya menyambar dan dia telah menangkap ular itu dengan jepitan ibu jari dan telunjuk kanannya pada leher ular! Kemudian, jari-jari tangan lainnya menjepit tubuh ular itu dari leher, lalu ditarik ke bawah. Kulit tubuh itu pecah dan semua darah dan benda cair yang berada di tubuh ular itupun keluar, ditampung ke dalam cawan yang sudah diisi dua macam obat bubuk tadi. Ular itu seperti diperas, dan kini tubuh yang mati itu tinggal kulit dan daging yang kering dan gepeng!
Kim Hong bergidik ketika gurunya mengaduk cairan yang setengah cawan bercampur obat itu lalu disodorkan kepadanya, ia harus minum cairan darah dan obat itu! Baru melihatnya saja ia sudah hampir muntah! Gurunya tersenyum dan menulis diudara.
"Jepit hidungmu, pejamkan matamu,dan minum cepat!"
Kim Hong tidak berani membantah, ia tahu bahwa darah itu tentu berbahaya bukan main karena ular itu merupakan ular yang sangat berbisa. Darahnya tentu mengandung bisa yang amat berbahaya, dan kini gurunya minta agar ia meminumnya! Akan tetapi, ia percaya sepenuhnya kepada gurunya. Dengan tangan kanan memegang cawan, ia menggunakan tangan kiri menjepit hidungnya dan memejamkan matanya. Kini ia tidak dapat melihat lagi, tidak dapat mencium lagi, maka perasaan muakpun berkurang banyak, hanya yang tersisa dalam ingatan saja. Memang segala macam kemuakan timbul melalui penglihatan dan penciuman, juga pendengaran walaupun tidak sekuat yang pertama. Rasa tidak enak di mulutpun akan banyak berkurang apa bila hidung dipencet dan mata dipejam. Kim Hong menuangkan isi cawan dalam tenggorokannya dan menelannya.
Cairan itu tertelan semua dan ia melepaskan cawan kosongnya ke atas tanah. ia membuka mata dan bertemu pandang dengan gurunya, ia tersenyum. Rasa masam dan manis, juga amis, memenuhi mulutnya. Tiba-tiba ia memejamkan matanya, kepalanya berdenyut-denyut pusing, pandang matanya berkunang, tubuhnya terasa panas seperti terbakar dan iapun mencoba untuk menahan, tetap saja ia tidak kuat karena tubuhnya seperti hanyut dan iapun terguling roboh dan pingsan!
***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 013
***Kembali

No comments:
Post a Comment