Ads

Wednesday, September 11, 2013

Mustika Burung Hong Kemala Jilid 011

***Kembali

Kim Hong demikian tertarik sehingga dia agak lengah, tidak tahu bahwa ular besar putih itu bergerak perlahan menghampirinya dari belakang! Ular itu cukup besar, sebesar betis orang dewasa dan panjangnya ada dua meter!

Baru Kim Hong tersentak kaget ketika hidungnya mencium bau wangi aneh di belakangnya, ia menengok dan hampir menjerit saking jijiknya ketika melihat ular putih itu sudah berada dekat di belakangnya dengan mata mencorong dan lidah merah keluar masuk moncongnya! Jelas ular itu, seperti seekor anjing pelacak, sudah menemukan yang dicarinya dan kini siap untuk menyerang!

Kim Hong seorang gadis pemberani, bahkan tidak pernah mengenal takut. Apa lagi setelah kini ia menjadi lihai sekali karena gemblengan Hek-liong Kwan Bhok Cu, ia menjadi semakin berani. Akan tetapi, bagaimanapun juga ia tetap saja seorang wanita dan sebagian besar kaum wanita merasa ngeri dan jijik, bukan takut, kalau melihat ular. Kini, dalam keadaan jijik melihat ular putih itu tiba-tiba berada di belakangnya, setelah membalik dan berhadapan, Kim Hong tidak membuang waktu lagi. Pada saat ular itu membuka moncongnya hendak menyerang, ia mendahului dengan tusukan rantingnya yang tepat memasuki moncong itu dan menembus ke belakang kepala! Ular itu menggeliat-geliat, dengan ekornya ia memukul kekanan kiri sehingga menimbulkan suara gaduh.

Dan tiba-tiba saja Kim Hong sudah mendapatkan dirinya terkepung oleh tigabelas orang itu yang memandang kepadanya dengan mata mengandung kemarahan.

"Kiranya engkau, nona muda yang kejam, yang telah membunuh ular-ular kami! Agaknya engkau pula yang telah membunuhi beberapa orang kawan kami dengan kejam!" bentak si mata sipit dan tiga belas orang itu sudah mencabut senjata mereka, yaitu sebatang suling baja yang ujungnya runcing seperti tombak.

Agaknya para pawang ini mempunyai suling untuk memanggil ular dan alat inipun dipergunakan sebagai senjata. Kim Hong dapat menduga bahwa tentu ujung suling yang runcing itu mengandung racun mematikan, maka iapun bersikap waspada dan sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat ke arah tempat terbuka yang tadi dipergunakan untuk tempat sembahyang tigabelas orang itu. Maksudnya adalah untuk mencari tempat yang lapang agar leluasa ia menghadapi pengeroyokan mereka. Akan tetapi, ia mendapat kenyataan yang mengejutkan, ia lupa bahwa di situ berkumpul seratus ekor ular! Dan benar saja, begitu ia terkejut karena teringat akan ular-ular itu, terdengar suara melengking, mungkin suara sebatang suling yang ditiup, dan seratus ekor ular-ular itu serentak menyerangnya dengan ganas!

Kim Hong dalam keadaan serba salah, ia lalu meloncat pula dan tubuhnya sudah melayang naik ke atas pohon, aman dari serangan ular-ular itu.

"Tahan!" teriaknya kepada tiga belas orang itu. "Aku sama sekali tidak pernah membunuh kawan kalian dan kalau aku membunuh dua ekor ular itu, aku sekedar membela diri, bukan sengaja membunuh!"

Akan tetapi tigabelas orang itu agaknya sudah marah dan penasaran sekali melihat dua ekor ular mereka terbunuh. Mereka ramai-ramai mengepung pohon di mana Kim Hong berada dan mengacung-acungkan suling mereka dengan sikap mengancam.

Tiba-tiba terdengar angin menyambar dahsyat, sesosok bayangan berkelebat dan seorang di antara tiga belas orang itu roboh dengan kepala retak! Semua orang terkejut dan di situ telah berdiri seorang laki-laki raksasa yang menyeramkan! Pria itu berusia enam puluhan tahun, tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat seperti batu karang dan yang mengerikan adalah kulitnya yang hitam seperti arang! Yang nampak jelas hanya putih matanya saja karena rambutnya juga masih hitam semua. Mukanya penuh dengan brewok pula.

Duabelas orang penyembah ular itu kini melupakan Kim Hong dan mereka mengepung si raksasa hitam. Orang yang bermata sipit dan berhidung pesek menudingkan, sulingnya kepada orang itu dan berseru marah.

"Kiranya engkau yang telah membunuhi kawan-kawan kami selama beberapa hari ini?"

Kakek raksasa itu mengebut-ngebutkan ujung pakaiannya yang mewah sambil tertawa terkekeh-kekeh. Biarpun seluruh kulitnya hitam arang akan tetapi kakek raksasa itu berpakaian indah dan bersih, sampai sepatunyapun mengkilap dan dia seorang pesolek karena rambutnyapun tersisir rapi dan berkilauan karena diminyaki. Rambutnya diikat dengan sutera merah dan gelung rambutnya dihias tusuk gelung dari emas permata berbentuk seekor harimau.

"Ha-ha-heh-heh-heh, mereka tidak mau menyerahkan racun-racunnya kepadaku, maka kubunuh! Dan akupun membunuh temanmu itu, agar kalian tidak banyak cing-cong lagi. Cepat serahkan seluruh pengumpulan racun kalian kepadaku kalau kalian menghendaki hidup!"

Si mata sipit hidung pesek mengeluarkan suara melengking dari mulutnya, dan seratus ekor lebih ular-ular itu kini menyerbu ke arah si raksasa hitam. Kakek itu masih tertawa bergelak. dan kedua tangannya bergerak mendorong ke depan, ke arah ular-ular itu. Dan, serangkum angin keras dan kuat sekali menyambar ke arah ular-ular itu yang terlempar jauh ke belakang seperti sekumpulan daun kering diterbangkan angin taufan!

Duabelas orang itu terkejut dan merekapun serentak maju mengeroyok kakek raksasa. Akan tetapi, kembali kakek itu menggerakkan kedua tangannya dan empat orang yang berada paling dekat dengannya, terjengkang ke belakang dan terguling-guling. Kalau semua orang terkejut, kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kalau kalian semua mampus dan aku tidak memperoleh racun racun itu, berarti kita bersama menderita rugi! Sebaliknya, cepat serahkan semua racun yang telah kalian kumpulkan, dan aku tidak akan membunuh kalian, berarti kita bersama mendapat keuntungan!"

Jelas bahwa kakek itu tidak segera membunuh karena dia mengharapkan untuk memperoleh pel-pel beracun yang amat berharga dari sekelompok orang penyembah ular itu.

"Orang tua yang kejam, siapakah engkau yang begitu kejam membunuhi teman-teman kami, dan untuk apa engkau hendak merampas racun-racun dari kami? Racun-racun itu merupakan sumber nafkah kami, kenapa engkau begitu tidak tahu malu untuk merampok kami?"

"Hemm, kalau aku tidak membutuhkan racun-racun itu, untuk apa aku mengganggu kalian? Aku Hek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Hitam) tidak suka berurusan dengan orang-orang kecil macam kalian. Cepat serahkan semua racun, atau kalian tidak akan dapat melihat matahari besok!"

"Sam-mo-ong (Tiga Raja Iblis)... ..??" beberapa orang di antara para penyembah ular itu berbisik-bisik. Mendengar bisikan ini, Hek-bin Mo-ong tertawa.

"Bagus, kalian sudah mendengar nama kami bertiga. Aku memang seorang diantara Sam-mo-ong, akulah orang pertama! Nah, cepat serahkan semua racun kalau kalian tidak ingin mampus di tangan Hek-bin Mo-ong!"

"Hek-bin Mo-ong, engkau terkenal sebagai seorang datuk persilatan yang berkedudukan tinggi. Kenapa engkau membunuhi rekan-rekan kami yang tidak berdosa? Dan sekarang, setelah membunuh banyak rekan kami, engkau memaksa kami menyerahkan milik kami yang menjadi sumber nafkah kami. Tidak, kami tidak akan menyerahkannya!" teriak si mata sipit dan sebelas orang lainnya juga berteriak-teriak mendukungnya.

Sepasang alis yang tebal itu berkerut dan mata yang lebar itu mencorong.
"Kalian lebih memilih mampus? Keparat, kalau begitu, kalian mampus..."

Tiba-tiba dia terkejut karena terdengar suara bercuit nyaring, dan sebatang benda panjang meluncur ke arahnya dari atas. Dia mengira bahwa itu tentulah seekor ular terbang, maka cepat dia menangkis dengan lengan tangannya .

"Wuuutt..... brett.....!”

Ranting itu terpukul ke bawah dan menancap ke atas tanah sampai amblas lenyap, akan tetapi betapa kaget rasa hati Hek-bin Mo-ong ketika melihat betapa lengan bajunya robek dan kulit lengannya lecet. Padahal, yang menyerangnya tadi hanya sebatang ranting kecil! Bagaimana mungkin ranting dapat menembus kekebalannya?

Hek-bin Mo-ong menoleh ke arah pohon besar dari mana ranting itu tadi meluncur dan dia melihat sesosok bayangan hitam menyambar turun dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang gadis yang luar biasa cantiknya! Gadis itu mengenakan pakaian sederhana dari kain kasar yang berwarna serba hitam berkembang abu-abu dan gadis itu berdiri bertolak pinggang dan memandang kepadanya sambil tersenyum manis, senyum yang mengandung ejekan!

"Aih-aih, selama hidupku baru sekarang aku bertemu orang yang lahir batinnya berwarna hitam! Hek-bin Mo-ong, julukanmu Raja Iblis Muka Hitam, akan tetapi kulihat yang hitam bukan hanya mukamu melainkan seluruh kulitmu sampai menembus ke hati. Hatimu juga hitam dan jahat sekali!"

Hek-bin Mo-ong masih bengong memandang kepada Kim¬ hong. Belum pernah dia bertemu seorang gadis yang begini cantik dan lincah dan berani, juga dilihat dari luncuran ranting tadi, ia tentu memiliki ilmu kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan!

"Ha-ha-ha, akupun selama hidupku belum pernah bertemu seorang gadis yang begini cantik jelita! Manis, siapakah engkau dan mengapa pula engkau menyerangku tadi? Apakah engkau juga anggauta daripara penyembah ular ini?"

"Tidak ada hubunganku dengan mereka, akan tetapi aku paling membenci orang yang jahat dan kejam, bertindak sewenang-wenang seperti kamu ini! Pergilah dan jangan ganggu lagi mereka, atau aku terpaksa akan menghajarmu!" Sambil bertolak pinggang dan mengeluarkan ancaman seperti itu, lagak Kim Hong seperti seorang dewasa memarahi seorang anak kecil yang nakal saja.

"Ha-ha-ha, bocah sombong kau! Akan tetapi engkau sungguh menarik, engkau pantas untuk menemani aku bersenang-senang selama beberapa hari, ha-ha-ha!" Setelah berkata demikian, tiba tiba saja Hek-bin Mo-ong bergerak, kedua lengannya dikembangkan dan seperti seekor biruang hitam dia sudah menubruk dan menerkam ke arah Kim Hong.

Namun, sebelum dia menerkam, gerakannya telah diketahui gadis itu, dan dengan keringanan tubuhnya, dengan mudah Kim Hong mengelak dengan loncatan ke samping, kemudian ia membalik dan kakinya sudah menyambar dan menendang ke arah lambung lawan.

"Dukk! Uhhh!"

Tendangan itu mengenai lambung dan biarpun tidak dapat merobohkan raksasa itu, tetap saja membuat dia terkejut dan terbatuk karena isi lambungnya terguncang. Sebetulnya, Hek-bin Mo-ong adalah seorang datuk sesat yang memiliki tingkat kepandaian tinggi. Kalau dia dalam segebrakan terkena tendangan Kim Hong, hal itu adalah karena dia memandang rendah dan dia tadi menubruk seperti menghadapi seorang lawan ringan saja, yang dianggapnya sekali terkam dapat menangkap gadis yang lincah menggemaskan hati itu. Karena memandang rendah, dia lengah. Apa lagi Kim Hong memiliki gerakan yang amat cepat, Sebaliknya, Kim Hong diam-diam terkejut. Tendangannya itu dapat merobohkan seorang lawan yang kuat, akan tetapi ketika tendangan itu mengenai lambung raksasa ini, hanya sempat membuatnya terbatuk kecil saja. Ini membuktikan bahwa lawannya memang amat kuat dan kebal.

Hek-bin Mo-ong tentu saja menjadi marah bukan main. Sebagai seorang datuk besar, dalam segebrakan lambungnya terkena tendangan. Biarpun dia tidak roboh dan kalah, akan tetapi hal ini membuat dia merasa malu sekali. Maka, diapun mengeluarkan suara gerengan seperti seekor binatang buas dan ketika dia menggerakkan kedua tangannya di udara, digoyang-goyang seperti sepasang cakar harimau, tangan itu berubah warnya menjadi hitam tua sampai ke sikunya! Dan melihat ini, Kim Hong maklum bahwa bekas pukulan jari tangan inilah yang dilihatnya pada mayat-mayat itu, bekas pukulan maut.

"Bocah keparat, kuhancurkan kepalamu!" bentaknya dan diapun bergerak menerjang dengan bengisnya.

Namun, Kim Hong sudah cepat mencabut keluar sepasang senjatanya. Sebelum ia menjadi murid Hek-liong Kwan Bhok Cu, ia sudah mempelajari penggunaan delapan belas macam senjata dari gurunya yang pertama, yaitu Bouw Hun, dan iapun memiliki senjata yang khas seperti gurunya dan suhengnya, yaitu sebatang pedang yang bentuknya melengkung. Akan tetapi, gurunya kedua yang gagu mengajarkan penggunaan sepasang pedang pendek seperti pisau belati yang kedua gagangnya disambung dengan sehelai tali yang amat kuat.

Sepasang senjata ini oleh gurunya dinamakan siang-hui-kiam (sepasang pedang terbang) dan ia sudah mahir sekali memainkan sepasang pedang pendek ini. Sepasang senjata ini lebih indah dan lebih praktis, mudah disimpan karena tidak panjang seperti dua buah pisau belati saja. Dan sepasang pedang pendek ini terbuat dari baja pilihan yang amat baik sehingga mampu mematahkan senjata lain yang terbuat dari baja biasa saja.

Begitu Hek-bin Mo-ong menerjang dengan kedua tangannya yang berubah hitam sekali, Kim Hong cepat mengelak. Tangan kedua menyusul, akan tetapi, gadis ini memiliki kelincahan gerakan yang luar biasa, membuat beberapa kali sambaran kedua tangan itu luput. Sebaliknya, ia mulai menggerakkan senjatanya dan tiba-tiba saja ada sinar bercahaya menyambar ke arah leher raksasa itu. Si Raja Iblis Muka Hitam cepat menggerakkan tangan untuk menangkis dan mencengkeram ke arah sinar itu tanpa takut karena memang kedua tangannya kini menjadi kebal dan beracun.

"Tringgg......!"

Pedang pendek yang tertangkis itu mengeluarkan bunyi nyaring, akan tetapi tidak dapat tertangkap karena pedang itu telah terbang kembali ke tangan pemiliknya. Pedang yang diikat dengan tali itu ternyata dapat beterbangan, dikendalikan oleh tangan Kim Hong yang memegang talinya. Dan kini, dari kiri menyambar pula pedang terbang kedua, yang menyambar ke arah mata kanan lawan.

"Hemmm.....!"

Raksasa hitam itu menggereng marah akan tetapi juga kaget. Cepat dia menundukkan kepala, tubuhnya cenderung ke depan dan lengannya yang panjang telah mencengkeram ke arah dada gadis itu.

Kim Hong terpaksa melompat ke belakang, akan tetapi lawannya juga meloncat dan menyusulkan serangan yang bertubi-tubi, menggunakan sepasang lengan panjang yang memiliki cakar yang hitam beracun dan amat kuat itu. Kim Hong maklum akan bahayanya jari-jari tangan itu, maka iapun mempergunakan kelincahannya untuk mengelak ke sana sini sambil mencari kesempatan untuk membalas serangan lawan dengan sepasang pedang terbangnya.

Duabelas orang pemuda ular yang tadinya tertegun melihat gadis yang mereka serang tadi tiba-tiba bahkan membantu mereka menghadapi Hek-bin Mo-ong, kini bergerak dan dipimpin oleh si mata sipit, mereka maju mengepung dan membantu Kim Hong mengeroyok kakek raksasa itu. Mereka menggunakan suling yang ujungnya runcing dan mengandung racun yang amat kuat, maka begitu dikeroyok, Hek-bin Mo¬ong menjadi sibuk juga. Menghadapi Kim Hong seorang saja, raksasa itu masih belum mampu menang, apa lagi kini ditambah duabelas orang pemuda ular yang rata-rata memiliki ilmu silat lumayan dan terutama sekali racun yang mereka pergunakan amat berbahaya .

Si mata sipit, mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya dan begitu dia menaburkan isinya ke arah Hek bin Mo-ong, tercium bau yang amat keras dan kakek hitam itu cepat menahan napas dan tubuhnya sudah melayang naik ke atas pohon! Juga Kim Hong menahan napas dan menjauh.

"Nona telanlah pel ini untuk menjaga diri!" kata si mata sipit sambil melemparkan sebuah pel hitam ke arah Kim Hong.

Gadis ini sudah merasa betapa lengan kirinya gatal, mungkin terkena bubuk yang disebarkan tadi. ia menyambut benda yang dilemparkan kepadanya, dan tanpa ragu iapun menelan pel hitam kecil itu. Dan memang hebat sekali, begitu tertelan, dalam waktu beberapa detik saja, seluruh tubuhnya terasa hangat dan rasa gatal di lengannya pun lenyap! Kini ia berani mendekati mereka tanpa takut terkena bubuk yang di taburkan tadi

Mereka semua memandang ke arah pohon, akan tetapi tidak melihat raksasa hitam itu di sana. Dan tiba-tiba dari pohon lain yang letaknya agak jauh, terdengar suara si raksasa hitam.

"Nona, kalau engkau bukan seorang pengecut rendah, katakan siapa namamu dan di mana engkau tinggal!"

Mendengar ini, si mata sipit cepat memberi isyarat kepada Kim Hong dengan gelengan kepala agar tidak mau mengaku. Akan tetapi, satu pantangan besar bagi seorang yang gagah, apa lagi yang wataknya keras seperti Kim Hong, adalah kalau ia disangka pengecut!

"Heii, Hek-bin Mo-ong manusia sombong! Ternyata kepandaianmu tidak sebesar nama julukanmu! Engkaulah yang pengecut besar, buktinya engkau melarikan diri. Namaku tidak perlu kau ketahui, akan tetapi kalau engkau merasa penasaran dan hendak mencari aku, datang saja ke puncak Bukit Nelayan ditepi Sungai Huai. Jelas?"

Tidak ada jawaban dari Hek-bin Mo-ong, akan tetapi Kim Hong yakin bahwa datuk itu tentu telah mencatat tempat tinggalnya dan mungkin sekali akan muncul di sana. ia menertawakan dalam hati. Kalau dia berani muncul di sana dan bertemu suhu, berarti dia seperti seekor ular mencari penggebuk!

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh dua belas orang pemuja ular itu yang menjatuhkan diri berlutut dan menghadap kepadanya! Tentu saja ia merasa heran.

"Eh-eh, apa-apaan kalian ini?"

Si mata sipit mewakili kawan-kawannya berkata,
"Nona telah menyelamatkan kami dan menolong kami dari ancaman Hek-bin Mo-ong. Bagi kami, nona adalah dewi penolong dan karena itu mulai saat ini, kami menganggap nona seorang di antara para dewi dan kami memberi nama kehormatan bagi nona, yaitu Ouw-coa Sian-li (Dewi Ular Hitam)!"

Duabelas orang itu memberi hormat sambil berlutut dan mulut mereka tiada hentinya menyebut Ouw-coa Sian-li, lalu mereka bernyanyi seperti tadi. Dan bermunculanlah ular-ular tadi dan kini semua ular mengelilingi tempat Kim Hong berdiri! Meremang rasanya semua bulu di tubuh gadis itu. ia merasa seperti bukan manusia lagi, disembah duabelas orang yang menyanyikan lagu aneh, dan dikelilingi ratusan ekor ular yang seolah juga menyembahnya.

"Saudara-saudara sekalian, sudah, cukuplah semua ini. Sesungguhnya aku datang ke Bukit Hitam ini karena suatu keperluan, akan tetapi setelah bertemu dengan kalian, aku jadi sungkan untuk mengatakan apa keperluanku itu karena mungkin sekali kalian tidak setuju, walaupun agaknya hanya kalian pula yang akan mampu membantuku."

Si mata sipit berkata,
"Sian-li (Dewi), engkau kami anggap sebagai dewi pelindung. Apapun yang kauinginkan, kami akan membantu, walau hal itu membahayakan nyawa kami sekalipun."

"Aku disuruh oleh guruku untuk mencari seekor ular!"

"Ahhh......!"

Semua orang terkejut dan hal ini sudah diduga oleh Kim Hong. Orang-orang ini memuja ular dan begitu sayang kepada ular, tentu tidak akan senang mendengar ia datang untuk mencari seekor ular!

"Sekali lagi maafkan, tadi aku memang telah membunuh dua ekor ular, akan tetapi hal itu hanya terjadi karena mereka menyerangku."

"Sianli mencari seekor ular? Ular apakah itu?" tanya si mata sipit.

"Ular istimewa yang tidak kulihat di antara semua ular ini. Menurut suhu, ular itu disebut ang-thouw-hek-coa......."

"Ahhh.......!" kembali dua belas orang itu berseru dan sekali ini semua mata terbelalak memandang kepada Kim Hong.

"Sianli, untuk apakah engkau mencari ular hitam kepala merah itu? Ular itu langka sekali di dunia, dan di Bukit Hitam ini pun, hanya ada sejodoh dan setiap kali bertelur, hanya sebuah!"

Kim Hong merasa girang. Jawaban itu saja menunjukkan bahwa mereka ini tentu tahu di mana adanya ular yang dicarinya.

"Harap kalian semua jangan berlutut dan marilah kita duduk bicara dengan baik setelah kini kita menjadi sahabat."

Si mata sipit menurut. Dia bangkit dan semua orang mengikutinya, dan kini mereka duduk sekelompok menghadapi Kim Hong. Gadis ini adalah seorang yang cerdik, ia tahu bahwa agaknya, tanpa bantuan mereka ini, tidak akan mudah baginya untuk mendapatkan ular yang dicarinya. Maka, ia harus dapat menyenangkan hati mereka dan tidak menonjolkan keinginannya sendiri.

"Sekarang kuharap kalian lebih dahulu mengurus jenazah rekan kalian yang terbunuh oleh iblis tua tadi, juga jenazah-¬jenazah yang kulihat di mana-mana itu. Setelah semua jenazah itu dikubur baik-baik barulah kita bicara. Aku akan menemani kalian agar tidak di ganggu lagi oleh iblis tua tadi."

Si mata sipit menghaturkan terima kasih dan mereka semua kelihatan gembira. Semua ada tujuh orang yang terbunuh oleh Hek-bin Lo-mo, sehingga kini sisa kelompok mereka hanya tinggal duabelas orang. Dengan ditemani Kim Hong, mereka mengambil semua jenazah dan mengumpulkannya di tempat terbuka itu, kemudian, setelah melakukan upacara sembahyang yang aneh, diramaikan pula upacara itu dengan sebuah tarian yang berlenggang-lenggok mirip tubuh ular, dilakukan tiga orang anggauta wanita dan tiga orang anggauta pria semua jenazah itu lalu dibakar.

Malam itu, Kim Hong melewatkan malam dengan mereka, di dekat tempat pembakaran mayat. Baru setelah pada ke esokan harinya semua abu jenazah ditabur-taburkan terbawa angin ke mana-mana dari puncak bukit, Kim Hong mengajak mereka bercakap-cakap tentang ular hitam kepala merah. ia menceritakan bahwa ia diutus gurunya untuk mencari ular itu sampai dapat dan ia tidak boleh kembali kalau belum membawa ular itu!

"Sian-li, kalau boleh kami mengetahui, siapakah guru sian-li yang mulia?" tanya si mata sipit.
"Guruku adalah Hek-liong Kwan Bhok Cu.......!" kata Kim Hong yang memandang heran melihat sikap semua orang mendengar nama gurunya. "Apakah-kalian telah mengenal nama suhu?"

Si mata sipit menggeleng kepalanya.
"Aih, memang sudah nasib, sudah digariskan oleh dewa-dewa ular! Kalau guru sian¬li berjuluk Hek-liong (Naga Hitam), maka tentu saja kami semua harus mengalah. Naga Hitam membutuhkan Ular Hitam, tentu saja sudah sepatutnya. Ketahuilah, sian-li. Ang¬thouw-hek-coa yang dimaksudkan itu ada pada kami. Racunnya pula yang dicari-cari oleh iblis tua tadi. Dan ular sakti inilah yang menjadi sumber rejeki kami."

"Ahh.... kalau begitu,. bagaimana mungkin aku sampai hati untuk merampas sumber rejeki kalian?" kata Kim Hong dengan cerdik.

Si mata sipit tersenyum.
"Sebelum kita melanjutkan, kami harap sian-li melihat apa yang akan terjadi, bagaimana kami memanfaatkan daya guna Ang-thouw-hek-coa untuk memberi rejeki kepada kami."

Dia lalu memberi isyarat kepada kawan-¬kawannya dan duabelas orang itu kini membentuk setengah lingkaran seperti kemarin, lalu mereka menyanyikan lagu yang aneh itu.

Kim Hong dipersilakan menonton pertunjukan itu dari cabang pohon karena kata mereka, kalau gadis itu berada di atas tanah, ada saja bahayanya diserang ular. Kim Hong meloncat dan nongkrong di atas cabang pohon paling rendah sehingga ia memperoleh tempat yang paling tepat untuk menonton apa yang akan terjadi di bawahnya.

Kini simata sipit meniup sulingnya. Suara yang melengking¬-lengking terdengar dan tak lama kemudian, ular-ular sudah berkumpul di tempat itu seperti kemarin. Akan tetapi sekali ini lebih banyak, seolah seluruh ular di bukit itu berkumpul. Mereka nampak jinak dan melingkar-lingkar di tengah tempat terbuka itu.

Kemudian, si mata sipit mengeluarkan sebuah keranjang dan membuka tutupnya. Dari atas Kim Hong dapat melihat dengan jelas bahwa keranjang itu berisi seekor ular yang kecil saja, sebesar ibu jari tangannya, tubuhnya sepanjang dua jengkal lebih dan kulit tubuh itu hitam legam mengkilat. Akan tetapi yang mengagumkan adalah kepalanya. Kepala itu merah seperti api! Dan sepasang mata ular lebih merah lagi, seperti inti api dan mencorong menyeramkan walaupun ularnya hanya sekecil itu.

Kini duabelas orang itu meniup suling mereka. Suara duabelas batang suling yang ditiup melengking-lengking itu senada dan seirama, sehingga terdengar amat menghanyutkan perasaan. Kim Hong sendiri sampai merasa tergetar sehingga cepat ia mengerahkan sin-kang agar jangan sampai gemetar dan terjatuh dari atas pohon.

***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 012
***Kembali

No comments:

Post a Comment