Pemuda itu tidak pantas sekali menjadi pengemis. Dia berusia duapuluh satu tahun, mukanya bundar dan bersih, alis matanya tebal dan sinar matanya tajam, wajah yang tampan dan tubuh yang tegap sedang itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang pemuda yang lemah atau pemalas, yang pantas mengemis. Sama sekali tidak! Bahkan biarpun dia mengenakan pakaian yang penuh tambalan, namun pakaiannya bersih dan gerak geriknya halus lembut, bahkan agung. Akan tetapi kenyataannya, dia berada di kuil tua yang tak dipakai lagi itu, tempat yang biasanya hanya menjadi tempat persinggahan para pengemis, dengan pakaian tambal--tambalan, duduk bersila di lantai berhadapan dengan seorang pengemis lain yang usianya sudah enam puluh dua tahun, tubuhnya kurus kering dan bongkok, rambutnya riap-riapan kelabu, jenggotnya panjang, juga pakaiannya penuh tambalan. Akan tetapi, seperti juga pengemis muda tadi, biar pakaiannya penuh tambalan, namun pakaian itu bersih, dan tubuhnya juga bersih, tanda bahwa dia sering mandi membersihkan tubuhnya.
Mereka memang pengemis, pengemis istimewa, guru dan murid yang luar biasa karena pengemis tua itu terkenal sekali di dunia persilatan. Dia adalah Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti) yang namanya terkenal dari Tiang-an (kota raja) sampai ke Lok¬yang, ibu kota ke dua. Dan muridnya itupun seorang pengemis aneh, karena dia adalah seorang pemuda bangsawan, putera mendiang Menteri Yang Kok Tiong, keponakan mendiang selir kaisar Yang Kui Hui yang terkenal! Pemuda itu adalah Yang Cian Han yang seperti telah kita ketahui, dua tahun yang lalu menjadi murid pengemis tua itu dan kemanapun gurunya pergi, dia ikut dan juga dia hidup sebagai seorang pengemis. Pengemis aseli karena dia diharuskan mengemis untuk mendapatkan uang atau makanan bagi mereka berdua!
Dapat dibayangkan betapa hebat perubahan hidup yang dialami Cin Han. Tadinya, sebagai putera Menteri Yang Kok Tiong, dia hidup berenang dalam kemuliaan dan kemewahan. Pakaian apapun yang dikehendaki, makanan mahal bagaimanapun yang diinginkan, dia tinggal perintah saja dan semua itu akan dihadapkan kepadanya. Apa lagi mengemis! Makan makanan sederhanapun belum pernah dia rasakan. Selalu daging dan sayur pilihan yang serba mahal dan dimasak oleh koki yang pandai. Sekarang, untuk dapat makan bersama gurunya, dia diharuskan mengemis makanan seadanya atau uang pembeli makanan yang murah. Terpaksa Cin Han menaati perintah gurunya. Hanya satu hal dia pantang, yaitu menerima makanan bekas! Biar murah dan sederhana, makanan yang diberikan kepadanya haruslah baru dan bukan sisa!
"Suhu, teecu mohon suhu dapat mengijinkan teecu pergi. Teecu berjanji akan segera kembali menemani dan melayani suhu setelah teecu tahu apa yang telah terjadi dengan ayah dan ibu teecu," pemuda itu berkata dengan suara memohon.
Akan tetapi, kakek pengemis itu menggeleng kepalanya.
"Tenang dan sabarlah, Cin Han. Apakah percuma saja selama ini aku mengajarkan ketenangan dan kesabaran kepadamu?" tegur kakek itu.
Cin Han menghela napas. Tentu saja selama dua tahun ini, selain mendapatkan tambahan ilmu silat yang hebat dari gurunya, dia juga mendapatkan hal lain yang amat berharga. Kehidupan sebagai pengemis membuat dia dapat merasakan kesengsaraan orang-orang yang miskin dan kelaparan, membuat dia menjadi rendah hati, dan biarpun dahulu dia bukan seorang pemuda bangsawan yang sombong, namun semua sisa keangkuhan sebagai bangsawan, kini terhapus oleh kehidupan sebagai pengemis selama dua tahun ini.
"Suhu tentu telah mengetahui keadaan hati teecu. Teecu cukup sabar, akan tetapi, kalau teecu tidak cepat menyelidiki keadaan ayah ibu teecu, bukankah teecu menjadi seorang anak yang tidak berbakti terhadap orang tua? Tentu suhu juga tidak suka mempunyai seorang murid yang murtad kepada ayah ibu sendiri."
"Hemm, engkau tidak perlu memancing hatiku, Cin Han. Engkau tahu, peristiwa di kota raja adalah peristiwa pemberontakan perang dan kita sama sekali tidak dapat mencegahnya. Bagaimana mungkin kita mencegah gerakan ratusan ribu pasukan? Tuhan Maha Adil, siapa menanam dia menuai dan memakan hasil tanamannya. Itulah hukum karma, Cin Han. Kalau orang tuamu dahulu menanam bibit yang baik, tentu sekarang memetik hasil buah dari tanaman itu dan menikmatinya, kalau sebaliknya, jangan engkau penasaran! Aku mendengar bahwa Kaisar telah melarikan diri ke barat, dan kota raja telah diduduki pemberontak An Lu Shan. Engkau tidak dapat melakukan apapun untuk mengubahnya."
"Akan tetapi, suhu. Teccu hanya ingin melihat keadaan ayah dan ibu. Siapa tahu mereka membutuhkan bantuan teccu."
"Baik, engkau boleh meninggalkanku, akan tetapi engkau harus lebih dahulu menyempurnakan ilmu tongkat yang terakhir kuajarkan kepadamu."
"Tai-hong-pang (Tongkat Angin Ribut)? Wah, sukar sekali, suhu...."
"Tidak ada kata sukar bagi orang yang penuh semangat. Kalau engkau sudah menyempurnakan ilmu tongkat itu sehingga mampu menandingi ku selama lima puluh jurus dan tidak sampai roboh olehku, baru engkau boleh pergi. Kalau engkau diam-diam meninggalkan aku, aku akan mencarimu dan membunuhmu! Nah, aku sudah bicara, laksanakan!"
Melihat sikap gurunya, Cin Han tidak berani membantah. Dan saat itu juga, dia pergi ke belakang kuil tua dan berlatih ilmu silat tongkat yang baru dipelajarinya itu dengan tekun. Ilmu tongkat itu sukar bukan main, akan tetapi hasilnya juga luar biasa. Kalau gurunya yang memainkan tongkatnya dengan ilmu tongkat Angin Ribut itu, maka angin menyambar-¬nyambar seperti badai menyerang! Dia sudah dapat membuat tongkatnya bergerak mendatangkan angin kuat, akan tetapi belum dapat sambung menyambung seperti kalau suhunya yang bersilat.
Siang malam Cin Han berlatih ilmu tongkat itu, hanya berhenti untuk makan kalau sudah lapar sekali dan tidur kalau sudah mengantuk sekali. Diapun tiada hentinya minta petunjuk gurunya. Dengan ketekunan yang luar biasa, semangat yang bernyala-nyala, akhirnya dalam waktu sebulan saja, Cin Han sudah memperoleh kemajuan pesat sehingga ketika Sin-tung Kai-ong mengujinya, dia mampu menahan tongkat suhunya selama lima puluh jurus!
"Bagus! Sekarang aku tidak khawatir lagi melepasmu, Cin Han Ketahuilah bahwa sebulan yang lalu aku sengaja menahanmu dan lihat hasilnya. Engkau berlatih dengan tekun sekali sehingga dalam waktu sebulan engkau sudah dapat menguasai Tai-hong-pang dengan baik. Sebulan yang lalu, terus terang saja, aku masih merasa khawatir membiarkan engkau pergi karena kalau bertemu lawan tangguh, engkau masih belum memiliki suatu ilmu yang benar-benar dapat diandalkan. Akan tetapi sekarang, dengan Tai-hong-tung, engkau akan dapat menjaga dirimu lebih baik. Nah, sekarang engkau boleh pergi, Cin Han."
Kalau sebulan yang lalu dia ingin sekali pergi meninggalkan gurunya untuk melihat keadaan orang .tuanya di kota raja, sekarang begitu gurunya menyuruh dia pergi, Cin Han tertegun. Selama dua tahun ini, dia sudah akrab sekali dengan pengemis tua itu yang menjadi gurunya, juga pengganti orang tuanya, dan juga sahabat baiknya. Dan kini dia di suruh pergi!
"Tapi.... setelah urusan teecu selesai, ke mana teecu harus mencari suhu?"
Mendengar pertanyaan ini, Sin-tung Kai-ong tertawa.
"Ha¬ha-ha, mau apa engkau mencariku? Apakah engkau akan hidup terus sebagai seorang pengemis? Tidak, Cin Han. Sudah cukup aku memberikan semua ilmuku kepadamu. Aku mempunyai tugas yang harus kau laksanakan dengan baik."
"Katakanlah, suhu. Perintah apa yang harus teecu kerjakan? Pasti akan teecu laksanakan sekuat dan semampu teecu!" kata Cin Han penuh semangat.
"Bagus! Aku tidak rela mendengar Kerajaan Tang dirobohkan oleh pemberontak An Lu Shan, seorang keturunan Khitan Turki! Aku ingin engkau menyusul kaisar yang melarikan diri ke barat, membantu kaisar menghadapi pemberontak!"
"Baik, suhu. Akan teecu laksanakan dengan taruhan nyawa!" jawab Cin Han yang menganggap bahwa tugas itu memang sudah sepantasnya. Andaikata tidak diperintah gurunya sekalipun, dia tentu akan membela kaisar dan menentang pemberontak.
"Akan tetapi ingat! Aku tidak ingin melihat engkau terperosok seperti ayahmu, tidak ingin engkau terseret ke dalam kelompok penjilat di istana yang saling memperebutkan kedudukan. Engkau membantu kaisar menentang pemberontakan karena engkau berkewajiban untuk membela kebenaran dan keadilan, meredakan kekacauan demi ketenteraman dan mencegah penindasan yang dilakukan oleh pemberontak Khitan itu."
"Teecu mengerti, suhu. Teecu juga sudah muak melihat kepalsuan yang memenuhi istana, kemunafikan dan perebutan kekuasaan."
Pada hari itu juga, Cin Han meninggalkan gurunya. Karena muridnya bukan anggauta kai-pang (perkumpulan pengemis), maka Sin-tung Kai-ong mengijinkan muridnya berganti pakaian seperti biasa. Akan tetapi, rasanya sudah keenakan bagi Cin Han mengenakan pakaian tambal-tambalan itu, apa lagi dia akan memasuki kota raja dan dia harus menyamar. Kalau sampai pemerintah pemberontak tahu bahwa dia adalah putera Menteri Yang Kok Tiong, tentu dia akan ditangkap dan dibunuh. Demikianlah, dia masih mengenakan pakaian tambal-tambalan seperti biasa, bahkan kini melengkapi dirinya dengan sebatang tongkat yang nampaknya saja butut, namun kalau dia memainkan tongkat itu dengan ilmu tongkat Angin Ribut, akibatnya tentu akan hebat bagi lawannya.
0odwo0
Semua tamu yang sedang makan minum dalam rumah makan itu tidak ada yang menoleh dan memandang gadis yang baru saja memasuki rumah makan dengan mata terbelalak penuh kekaguman dan keheranan. Gadis itu demikian cantik jelita dan gagah, dan pakaiannya yang serba hitam itu membuat kulit muka, leher dan tangannya yang nampak menjadi semakin putih mulus. Dan gerak gerik gadis itu demikian lincah. Seorang gadis muda, baru sembilan belas tahun usianya, memasuki rumah makan besar seorang diri dengan sikap demikian santai dan bebasnya, tidak kelihatan rikuh sama sekali walaupun puluhan pasang mata seperti hendak menelannya bulat-bulat.
Rumah makan itu merupakan rumah makan terbesar di kora raja Tiang-an. Semenjak kota raja itu diduduki pemberontak An Lu Shan yang mengangkat diri sendiri menjadi kaisar, rumah makan itu masih tetap buka karena mendapatkan dukungan dari seorang pembesar yang berkuasa dalam pemerintahan baru itu, dan harga makanannya amat mahal karena selain tidak ada rumah makan lain sebesar dan selengkap itu, juga masakannya serba mewah. Hanya orang-orang yang memiliki banyak uang saja berani masuk ke rumah makan itu dan makan minum. Pada siang hari itu, tidak kurang dari tiga puluh orang makan di situ, terdiri dari para pedagang dan pejabat. Ada juga wanita yang ikut makan, akan tetapi mereka itu terdiri dari keluarga bangsawan yang lembut atau gadis-gadis penghibur yang genit, yang diajak oleh para pria yang hendak bersenang¬senang.
Maka, muncullah gadis berpakaian serba hitam itu amat menonjol, bukan hanya karena kecantikannya, akan tetapi juga karena ia sungguh berbeda dengan para wanita yang berada di situ. ia sama sekali tidak nampak lembut, bahkan nampak gagah dan sinar matanya mencorong berani, juga sama sekali tidak genit, bahkan pada senyum di bibirnya terkandung sesuatu yang dingin dan galak.
Karena para pelayan sedang sibuk melayani banyak tamu, gadis berpakaian hitam itu menoleh ke sana sini mencari tempat kosong dan akhirnya ia menghampiri sebuah meja kosong yang berada di sudut kanan, Ia tidak perduli akan pandang mata semua orang yang ditujukan kepadanya, Ia sudah tahu betapa mata laki-laki sebagian besar berminyak kalau melihat gadis cantik, Ia tidak lagi merasa bangga, bahkan muak karena maklum bahwa kekaguman mereka itu mengandung berahi dan kenakalan, Ia hanya memandang ke kanan kiri, matanya mencari-cari dan akhirnya ia melihat seorang pelayan terdekat.
"Heii, bung pelayan, ke sinilah, aku hendak memesan makanan!" teriaknya dan suaranya yang merdu namun nyaring itu membuat orang-orang semakin tertarik, ia memang cantik jelita dan gagah, terutama sekali mata dan mulutnya. Pada mata dan mulutnyalah terletak daya tarik yang paling kuat dan kecantikannya nampak agak asing, seperti yang terdapat pada wanita-wanita peranakan. Seorang pelayan tergopoh menghampiri dan pelayan yang usianya sekitar tiga puluh tahun ini juga terheran melihat gadis itu duduk sendirian saja tanpa teman, tanpa pengawal pria.
"Nona hendak memesan apakah?" tanyanya sambil membungkuk, dengan kain lap dipundak.
"Berikan saja nasi putih dan tiga macam masakan yang paling lezat di restoran ini, dan anggur manis, juga air teh. Cepatan sedikit!" kata gadis itu.
Pelayan itu nampak tertegun.
"Tiga macam masakan? Apakah nona menanti kawan?"
Gadis itu menoleh dan sinar matanya yang mencorong membuat pelayan itu undur selangkah.
"Kawan? Apa maksudmu?"
"Tiga macam masakan itu banyak sekali, nona. Juga harganya amat mahal, apa lagi nona menghendaki yang paling lezat. Nona makan sendiri tidak akan habis dan membayarnya......"
"Tukk!" Gadis itu memukul meja dengan tangannya dan nampak sepotong emas di atas meja itu. "Apakah harganya lebih dari ini?"
Pelayan itu terbelalak, lalu tersenyum-senyum dan membungkuk-bungkuk.
"Tentu saja tidak, nona.... maafkan saya, akan saya sediakan secepatnya." Diapun mundur untuk memenuhi pesanan gadis itu.
Sejak tadi, empat orang yang duduk menghadapi sebuah meja yang penuh masakan dan guci arak, memperhatikan gadis itu dan seorang di antara mereka, pria berusia lima puluhan tahun yang matanya sipit dan sejak tadi mengelus jenggot panjangnya dengan mata seperti hendak menelan gadis itu bulat-bulat, segera berbisik kepada seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya. Ada dua orang laki-laki tinggi besar yang berdiri di belakang pria ini dan melihat pakaian mereka berdua, jelas dapat diketahui bahwa mereka adalah sebangsa tukang pukul atau pengawal pria itu yang melihat pakaiannya tentu seorang pejabat. Tiga orang lainnya juga berpakaian pejabat, akan tetapi melihat sikap mereka terhadap pria berjenggot panjang, dapat diduga bahwa mereka merupakan orang-orang bawahan. Agaknya pejabat itu makan minum ditemani tiga orang pejabat rendahan, dan dijaga oleh dua orang pengawal atau tukang pukul.
Seorang bawahan yang tubuhnya kurus dan mukanya penuh jerawat, usianya sekitar tiga puluh tahun, mendengar pula bisikan itu dan diapun tersenyum.
"Biarkan saya yang membujuknya, tai-jin," katanya.
Pejabat itu mengangguk-¬angguk senang dan bawahannya itu lalu bangkit berdiri, menghampiri meja gadis berpakaian hitam itu dan menyeringai lalu berbisik.
"Nona, engkau memperoleh kehormatan besar sekali. Hari ini engkau seperti kejatuhan bulan dan aku mengucapkan selamat atas keberuntunganmu, nona."
Gadis itu mengerutkan alisnya dan matanya mencorong.
"Hemm, apakah engkau ini mabok Atau memang miring otakmu? Pergilah, aku tidak mengerti apa yang kau ocehkan!"
Mendapat tanggapan seketus itu, si kurus kering menjadi merah mukanya, akan tetapi diapun memandang marah.
"Ihh, tak tahu diuntung! Kaulihat dia itu, nona. Dia adalah Wong¬taijin (Pembesar Wong), kedudukannya tinggi, berkuasa dan kaya raya. Dia tertarik kepadamu dan dia mengundangmu untuk duduk semeja dengan dia."
Gadis itu mengerling ke arah meja yang ditunjuk dan melihat si jenggot tersenyum menyeringai, memperlihatkan gigi yang hitam karena tembakau dan mengangguk-anggukan kepala dengan sikap angkuh akan tetapi genit.
"Katakan padanya bahwa melihat mukanya saja aku sudah muak, kalau makan bersamanya aku dapat muntah. Pergi lah!" kata gadis itu kepada si kurus kering, suaranya tidak lirih lagi sehingga dengan mudah dapat terdengar oleh mereka yang duduk di meja lain sehingga banyak di antara mereka yang memandang khawatir Gadis itu berani menghina Wong-Taijin!
Si kurus kering muka jerawat yang mendengar usiran itu, terbelalak akan tetapi dasar dia seorang penakut, diapun melangkah kembali ke meja atasannya, sikapnya seperti seekor anjing pergi ketakutan menekuk ekornya.
"Kalian bawa dia ke sini!" kata pembesar Wong dengan muka kemerahan ke pada dua orang pengawalnya yang bertubuh tinggi besar.
Mereka adalah kakak beradik, jagoan-¬jagoan yang diangkat sebagai pengawal oleh Wong Taijin, seorang yang menjabat kedudukan jaksa, jabatan yang memiliki kekuasaan besar dan ditakuti., dalam pemerintahan baru itu. Dua orang jagoan itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, keduanya memiliki tubuh yang tinggi besar berotot, yang seorang berkepala botak yang kedua brewok menakutkan, dan di pinggang mereka tergantung golok besar. Baru melihat saja orang tentu akan merasa gentar, apa lagi kalau mereka memandang dengan mata melotot dan wajah beringas. Dengan langkah lebar, dua orang jagoan itu menghampiri meja gadis berpakaian hitam. Si brewok berkata,
"Nona, majikan kami minta agar nona duduk semeja dengan beliau!"
Gadis itu hanya mengerling dan mendengus sambil membuang muka.
"Huh, kalian menyebalkan. Pergilah!"
Tentu saja si brewok menjadi marah. Kalau saja majikannya tidak menyuruh dia membawa gadis itu ke meja majikannya, tentu telah dijambak rambut gadis itu dan diseretnya. Dia tahu bahwa majikannya tertarik kepada gadis ini, maka dia tidak berani bersikap kasar, apa lagi menyakitinya.
"Nona,-kalau engkau tidak mau, terpaksa akan kuangkat bersama kursi yang nona duduki," berkata demikian, dia memegang sandaran kursi itu.
"Hemm, macam kamu ini kuat mengangkatku?" gadis itu mengejek.
Si brewok menjadi marah dan dia mengerahkan tenaga pada kedua lengannya dan mengangkat kursi itu. Dia merasa yakin akan mampu mengangkat kursi itu bersama gadis yang duduk di atasnya. Apa lagi baru gadis mungil yang tentu amat ringan itu, biar ditambah dua orang lagipun dia akan mampu mengangkatnya. Akan tetapi, terjadi keanehan yang bukan saja mengejutkan si brewok, melainkan juga mengherankan temannya yang botak dan empat orang pembesar yang duduk di meja sebelah. Biarpun dia mengerahkan tenaga sampai mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh, namun kursi itu tidak dapat terangkat! Sedikitpun tidak bergerak, apa lagi terangkat! Melihat keanehan itu, Jaksa Wong segera berkata kepada si botak.
"Bantu dia!"
Kini si botak, walaupun agak sungkan dan malu harus menggunakan tenaga dua orang untuk mengangkat seorang gadis mungil saja, melangkah maju dan ikut memegang kursi itu lalu mengerahkan tenaga bersama temannya. Mereka mengerahkan tenaga dalam waktu yang sama, mencoba untuk mengangkat kursi itu.
"Aughhhh krekkkk!!" Keduanya terhuyung dan hampir terpelanting ketika sandaran kursi itu patah, akan tetapi gadis itu masih tetap duduk dengan santai sambil memandang kepada mereka dengan senyum mengejek.
Kini semua orang terkejut dan heran. Baru kemunculannya seorang diri di rumah makan itu saja sudah menimbulkan keheranan, dan kini ditambah lagi gadis itu berani menghina Jaksa Wong, dan lebih-lebih lagi kini gadis itu mampu bertahan di kursinya dan dua orang tukang pukulnya itu tidak mampu mengangkatnya!
Hal ini tidak akan mengherankan bagi siapa yang mengenal gadis itu karena ia bukan lain adalah Can Kim Hong, murid tersayang dari Hek liong Kwan Bhok Cu! Gurunya memang sudah memesan agar ia berhati-hati dan tidak menonjolkan kepandaiannya di kota raja. Dan Kim Hong pun tadinya tidak ingin memamerkan kepandaiannya, hanya ingin makan di restoran besar itu karena dari luar saja bau masakannya sudah semerbak keluar dan membuat perutnya terasa lapar. Akan tetapi, kalau ada orang-orang bersikap keterlaluan kepadanya, hendak menghinanya, tentu saja gadis yang berwatak keras ini tidak mungkin tinggal diam saja.
"Hemm, kalian dua ekor monyet busuk. Pergilah kalian bersama majikan kalian si kambing bandot jenggot panjang itu. Kalian semua memualkan perut ku, dan aku lapar hendak makan. Jangan ganggu aku!" kata Kim Hong dan iapun berpindah ke kursi yang tidak rusak, duduk menghadapi meja dan membelakangi mereka seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
Semua orang menjadi pucat dan yang nyalinya kecil sudah cepat-cepat membayar harga makanan dan meninggalkan restoran itu. Gadis itu telah berani memaki Jaksa Wong sebagai kambing bandot jenggot panjang! Bukan main! Pasti akan hebat akibatnya. Bukan hanya dua orang tukang pukul itu saja jagoan si jaksa, bahkan dia mampu mengerahkan pasukan untuk menangkap gadis itu! Para tamu tidak ingin terbawa-bawa dalam urusan gawat itu, maka dalam waktu singkat restoran itu telah ditinggalkan para tamu. Yang berada di situ hanya tinggal Kim Hong, empat orang bersama dua orang tukang pukul itu. Bahkan para pelayan dan pengurus rumah makan sudah pergi entah ke mana!
Jaksa Wong baru pertama kali ini mengalami hal yang amat memalukan dan menghinanya. Biasanya, gadis manapun tidak akan ada yang berani menolaknya. Hampir semua gadis cantik yang tidak sempat melarikan diri ketika pemberontak menyerbu, menjadi korban keganasan para pemenang. Sebagian besar, yang tercantik, menjadi rebutan di antara para pejabat, dipaksa menjadi selir mereka, dan sebagian pula dijadikan perebutan antara para perajurit sehingga mereka itu bukan saja mengalami penghinaan yang tak terbayangkan ngerinya, bahkan juga akhirnya mereka tewas secara menyedihkan. Hanya para puteri pihak pemenang dan hartawan yang dapat menyogok sajalah yang selamat dari penghinaan dan perkosaan. Kini, Jaksa Wong ditolak, bahkan dihina, dimaki oleh seorang gadis biasa. Tentu saja darah naik ke kepalanya, dan dengan mata melotot dia menudingkan telunjuk kanannya kepada Kim Hong.
"Perempuan rendah, berani engkau menghina kami? Tidak tahukah engkau bahwa engkau berhadapan dengan Jaksa Wong? Cepat berlutut dan minta ampun, atau aku akan menyuruh orang-orangku menelanjangimu dan menyeretmu sepanjang jalan, kemudian kuberikan engkau kepada mereka untuk dikeroyok sampai mampus!" Ancaman ini sungguh mengerikan, akan tetapi membuat Kim Hong menjadi semakin marah. Makian, itu saja sudah menunjukkan macam apa orang yang dihadapinya itu.
"Biar engkau jaksa atau dewa sekalipun, aku tidak perduli. Yang kulawan bukan kedudukanmu, melainkan orangnya. Engkau orang yang jahat, kasar, suka menghina wanita, dan pantas dihajar. Andaikata engkau seorang pengemis sekalipun, kalau baik hati, tentu akan kuhormati!" Kim Hong juga menudingkan telunjuknya ke arah muka pejabat itu.
"Keparat! Tangkap dia!" teriak Jaksa Wong kepada dua orang pengawalnya. Dua orang laki-laki tinggi besar itu memang sudah merasa penasaran sekali dan ingin menebus kekalahannya tadi. Mereka tetap tidak akan berani menggunakan kekerasan terhadap gadis itu yang ditaksir majikan mereka. Akan tetapi kini, majikan mereka telah memerintahkan mereka untuk menangkap gadis itu! Keduanya menyeringai dan dengan langkah perlahan seperti dua ekor binatang marah, mereka menghampiri Kim Hong dari belakang dengan kedua lengan di kembangkan, siap untuk menubruk dan mendekap gadis cantik mungil itu!
Kim Hong pura-pura tidak melihat mereka, ia sedang jengkel karena sejak tadi, pesanannya belum juga dihidangkan.
"Heiii, bung pelayan! Di mana kamu? Mana pesananku? Kurang ajar, kenapa tidak ada orang sama sekali? Aku akan mengambil dan memasak sendiri hidangan itu didapur kalau kalian tidak cepat mengeluarkannya. Perutku sudah lapar!" ia berteriak-teriak lantang, tidak memperdulikan dua orang tinggi besar yang menghampirinya dari kanan kiri itu.
Akan tetapi, begitu kedua orang itu bergerak hendak menubruknya, tangannya cepat menyambar dua batang sumpit dan sekali kedua tangan itu bergerak, sumpit-sumpit itu menyambar ke arah dua orang yang menubruknya. Harus diingat bahwa keistimewaan gadis ini adalah mempergunakan Hui-kiam (Pedang terbang), maka sambitan sumpitnya meluncur bagaikan anak panah terlepas dari busurnya dan dua orang tukang pukul itu roboh terjengkang, mengaduh-aduh memegangi paha kanan mereka yang ditembusi sumpit dan terasa nyeri bukan mari. Mereka tidak dapat bangkit berdiri dan hanya mengaduh-aduh, tidak berani mencabut sumpit yang masih menembus paha mereka, takut kalau-kalau akan menjadi semakin nyeri!
Tentu saja Jaksa Wong terkejut bukan main, demikian pula tiga orang bawahannya. Mereka berempat serentak bangkit berdiri dan dengan muka pucat hendak berlari keluar. Akan tetapi, sekali menggerakkan kedua kakinya, Kim Hong sudah berkelebat dan yang nampak hanya bayangan hitam dan tahu-¬tahu ia telah berdiri menghadang empat orang itu. ia tersenyum mengejek, akan tetapi matanya mencorong.
Mereka memang pengemis, pengemis istimewa, guru dan murid yang luar biasa karena pengemis tua itu terkenal sekali di dunia persilatan. Dia adalah Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti) yang namanya terkenal dari Tiang-an (kota raja) sampai ke Lok¬yang, ibu kota ke dua. Dan muridnya itupun seorang pengemis aneh, karena dia adalah seorang pemuda bangsawan, putera mendiang Menteri Yang Kok Tiong, keponakan mendiang selir kaisar Yang Kui Hui yang terkenal! Pemuda itu adalah Yang Cian Han yang seperti telah kita ketahui, dua tahun yang lalu menjadi murid pengemis tua itu dan kemanapun gurunya pergi, dia ikut dan juga dia hidup sebagai seorang pengemis. Pengemis aseli karena dia diharuskan mengemis untuk mendapatkan uang atau makanan bagi mereka berdua!
Dapat dibayangkan betapa hebat perubahan hidup yang dialami Cin Han. Tadinya, sebagai putera Menteri Yang Kok Tiong, dia hidup berenang dalam kemuliaan dan kemewahan. Pakaian apapun yang dikehendaki, makanan mahal bagaimanapun yang diinginkan, dia tinggal perintah saja dan semua itu akan dihadapkan kepadanya. Apa lagi mengemis! Makan makanan sederhanapun belum pernah dia rasakan. Selalu daging dan sayur pilihan yang serba mahal dan dimasak oleh koki yang pandai. Sekarang, untuk dapat makan bersama gurunya, dia diharuskan mengemis makanan seadanya atau uang pembeli makanan yang murah. Terpaksa Cin Han menaati perintah gurunya. Hanya satu hal dia pantang, yaitu menerima makanan bekas! Biar murah dan sederhana, makanan yang diberikan kepadanya haruslah baru dan bukan sisa!
"Suhu, teecu mohon suhu dapat mengijinkan teecu pergi. Teecu berjanji akan segera kembali menemani dan melayani suhu setelah teecu tahu apa yang telah terjadi dengan ayah dan ibu teecu," pemuda itu berkata dengan suara memohon.
Akan tetapi, kakek pengemis itu menggeleng kepalanya.
"Tenang dan sabarlah, Cin Han. Apakah percuma saja selama ini aku mengajarkan ketenangan dan kesabaran kepadamu?" tegur kakek itu.
Cin Han menghela napas. Tentu saja selama dua tahun ini, selain mendapatkan tambahan ilmu silat yang hebat dari gurunya, dia juga mendapatkan hal lain yang amat berharga. Kehidupan sebagai pengemis membuat dia dapat merasakan kesengsaraan orang-orang yang miskin dan kelaparan, membuat dia menjadi rendah hati, dan biarpun dahulu dia bukan seorang pemuda bangsawan yang sombong, namun semua sisa keangkuhan sebagai bangsawan, kini terhapus oleh kehidupan sebagai pengemis selama dua tahun ini.
"Suhu tentu telah mengetahui keadaan hati teecu. Teecu cukup sabar, akan tetapi, kalau teecu tidak cepat menyelidiki keadaan ayah ibu teecu, bukankah teecu menjadi seorang anak yang tidak berbakti terhadap orang tua? Tentu suhu juga tidak suka mempunyai seorang murid yang murtad kepada ayah ibu sendiri."
"Hemm, engkau tidak perlu memancing hatiku, Cin Han. Engkau tahu, peristiwa di kota raja adalah peristiwa pemberontakan perang dan kita sama sekali tidak dapat mencegahnya. Bagaimana mungkin kita mencegah gerakan ratusan ribu pasukan? Tuhan Maha Adil, siapa menanam dia menuai dan memakan hasil tanamannya. Itulah hukum karma, Cin Han. Kalau orang tuamu dahulu menanam bibit yang baik, tentu sekarang memetik hasil buah dari tanaman itu dan menikmatinya, kalau sebaliknya, jangan engkau penasaran! Aku mendengar bahwa Kaisar telah melarikan diri ke barat, dan kota raja telah diduduki pemberontak An Lu Shan. Engkau tidak dapat melakukan apapun untuk mengubahnya."
"Akan tetapi, suhu. Teccu hanya ingin melihat keadaan ayah dan ibu. Siapa tahu mereka membutuhkan bantuan teccu."
"Baik, engkau boleh meninggalkanku, akan tetapi engkau harus lebih dahulu menyempurnakan ilmu tongkat yang terakhir kuajarkan kepadamu."
"Tai-hong-pang (Tongkat Angin Ribut)? Wah, sukar sekali, suhu...."
"Tidak ada kata sukar bagi orang yang penuh semangat. Kalau engkau sudah menyempurnakan ilmu tongkat itu sehingga mampu menandingi ku selama lima puluh jurus dan tidak sampai roboh olehku, baru engkau boleh pergi. Kalau engkau diam-diam meninggalkan aku, aku akan mencarimu dan membunuhmu! Nah, aku sudah bicara, laksanakan!"
Melihat sikap gurunya, Cin Han tidak berani membantah. Dan saat itu juga, dia pergi ke belakang kuil tua dan berlatih ilmu silat tongkat yang baru dipelajarinya itu dengan tekun. Ilmu tongkat itu sukar bukan main, akan tetapi hasilnya juga luar biasa. Kalau gurunya yang memainkan tongkatnya dengan ilmu tongkat Angin Ribut itu, maka angin menyambar-¬nyambar seperti badai menyerang! Dia sudah dapat membuat tongkatnya bergerak mendatangkan angin kuat, akan tetapi belum dapat sambung menyambung seperti kalau suhunya yang bersilat.
Siang malam Cin Han berlatih ilmu tongkat itu, hanya berhenti untuk makan kalau sudah lapar sekali dan tidur kalau sudah mengantuk sekali. Diapun tiada hentinya minta petunjuk gurunya. Dengan ketekunan yang luar biasa, semangat yang bernyala-nyala, akhirnya dalam waktu sebulan saja, Cin Han sudah memperoleh kemajuan pesat sehingga ketika Sin-tung Kai-ong mengujinya, dia mampu menahan tongkat suhunya selama lima puluh jurus!
"Bagus! Sekarang aku tidak khawatir lagi melepasmu, Cin Han Ketahuilah bahwa sebulan yang lalu aku sengaja menahanmu dan lihat hasilnya. Engkau berlatih dengan tekun sekali sehingga dalam waktu sebulan engkau sudah dapat menguasai Tai-hong-pang dengan baik. Sebulan yang lalu, terus terang saja, aku masih merasa khawatir membiarkan engkau pergi karena kalau bertemu lawan tangguh, engkau masih belum memiliki suatu ilmu yang benar-benar dapat diandalkan. Akan tetapi sekarang, dengan Tai-hong-tung, engkau akan dapat menjaga dirimu lebih baik. Nah, sekarang engkau boleh pergi, Cin Han."
Kalau sebulan yang lalu dia ingin sekali pergi meninggalkan gurunya untuk melihat keadaan orang .tuanya di kota raja, sekarang begitu gurunya menyuruh dia pergi, Cin Han tertegun. Selama dua tahun ini, dia sudah akrab sekali dengan pengemis tua itu yang menjadi gurunya, juga pengganti orang tuanya, dan juga sahabat baiknya. Dan kini dia di suruh pergi!
"Tapi.... setelah urusan teecu selesai, ke mana teecu harus mencari suhu?"
Mendengar pertanyaan ini, Sin-tung Kai-ong tertawa.
"Ha¬ha-ha, mau apa engkau mencariku? Apakah engkau akan hidup terus sebagai seorang pengemis? Tidak, Cin Han. Sudah cukup aku memberikan semua ilmuku kepadamu. Aku mempunyai tugas yang harus kau laksanakan dengan baik."
"Katakanlah, suhu. Perintah apa yang harus teecu kerjakan? Pasti akan teecu laksanakan sekuat dan semampu teecu!" kata Cin Han penuh semangat.
"Bagus! Aku tidak rela mendengar Kerajaan Tang dirobohkan oleh pemberontak An Lu Shan, seorang keturunan Khitan Turki! Aku ingin engkau menyusul kaisar yang melarikan diri ke barat, membantu kaisar menghadapi pemberontak!"
"Baik, suhu. Akan teecu laksanakan dengan taruhan nyawa!" jawab Cin Han yang menganggap bahwa tugas itu memang sudah sepantasnya. Andaikata tidak diperintah gurunya sekalipun, dia tentu akan membela kaisar dan menentang pemberontak.
"Akan tetapi ingat! Aku tidak ingin melihat engkau terperosok seperti ayahmu, tidak ingin engkau terseret ke dalam kelompok penjilat di istana yang saling memperebutkan kedudukan. Engkau membantu kaisar menentang pemberontakan karena engkau berkewajiban untuk membela kebenaran dan keadilan, meredakan kekacauan demi ketenteraman dan mencegah penindasan yang dilakukan oleh pemberontak Khitan itu."
"Teecu mengerti, suhu. Teecu juga sudah muak melihat kepalsuan yang memenuhi istana, kemunafikan dan perebutan kekuasaan."
Pada hari itu juga, Cin Han meninggalkan gurunya. Karena muridnya bukan anggauta kai-pang (perkumpulan pengemis), maka Sin-tung Kai-ong mengijinkan muridnya berganti pakaian seperti biasa. Akan tetapi, rasanya sudah keenakan bagi Cin Han mengenakan pakaian tambal-tambalan itu, apa lagi dia akan memasuki kota raja dan dia harus menyamar. Kalau sampai pemerintah pemberontak tahu bahwa dia adalah putera Menteri Yang Kok Tiong, tentu dia akan ditangkap dan dibunuh. Demikianlah, dia masih mengenakan pakaian tambal-tambalan seperti biasa, bahkan kini melengkapi dirinya dengan sebatang tongkat yang nampaknya saja butut, namun kalau dia memainkan tongkat itu dengan ilmu tongkat Angin Ribut, akibatnya tentu akan hebat bagi lawannya.
0odwo0
Semua tamu yang sedang makan minum dalam rumah makan itu tidak ada yang menoleh dan memandang gadis yang baru saja memasuki rumah makan dengan mata terbelalak penuh kekaguman dan keheranan. Gadis itu demikian cantik jelita dan gagah, dan pakaiannya yang serba hitam itu membuat kulit muka, leher dan tangannya yang nampak menjadi semakin putih mulus. Dan gerak gerik gadis itu demikian lincah. Seorang gadis muda, baru sembilan belas tahun usianya, memasuki rumah makan besar seorang diri dengan sikap demikian santai dan bebasnya, tidak kelihatan rikuh sama sekali walaupun puluhan pasang mata seperti hendak menelannya bulat-bulat.
Rumah makan itu merupakan rumah makan terbesar di kora raja Tiang-an. Semenjak kota raja itu diduduki pemberontak An Lu Shan yang mengangkat diri sendiri menjadi kaisar, rumah makan itu masih tetap buka karena mendapatkan dukungan dari seorang pembesar yang berkuasa dalam pemerintahan baru itu, dan harga makanannya amat mahal karena selain tidak ada rumah makan lain sebesar dan selengkap itu, juga masakannya serba mewah. Hanya orang-orang yang memiliki banyak uang saja berani masuk ke rumah makan itu dan makan minum. Pada siang hari itu, tidak kurang dari tiga puluh orang makan di situ, terdiri dari para pedagang dan pejabat. Ada juga wanita yang ikut makan, akan tetapi mereka itu terdiri dari keluarga bangsawan yang lembut atau gadis-gadis penghibur yang genit, yang diajak oleh para pria yang hendak bersenang¬senang.
Maka, muncullah gadis berpakaian serba hitam itu amat menonjol, bukan hanya karena kecantikannya, akan tetapi juga karena ia sungguh berbeda dengan para wanita yang berada di situ. ia sama sekali tidak nampak lembut, bahkan nampak gagah dan sinar matanya mencorong berani, juga sama sekali tidak genit, bahkan pada senyum di bibirnya terkandung sesuatu yang dingin dan galak.
Karena para pelayan sedang sibuk melayani banyak tamu, gadis berpakaian hitam itu menoleh ke sana sini mencari tempat kosong dan akhirnya ia menghampiri sebuah meja kosong yang berada di sudut kanan, Ia tidak perduli akan pandang mata semua orang yang ditujukan kepadanya, Ia sudah tahu betapa mata laki-laki sebagian besar berminyak kalau melihat gadis cantik, Ia tidak lagi merasa bangga, bahkan muak karena maklum bahwa kekaguman mereka itu mengandung berahi dan kenakalan, Ia hanya memandang ke kanan kiri, matanya mencari-cari dan akhirnya ia melihat seorang pelayan terdekat.
"Heii, bung pelayan, ke sinilah, aku hendak memesan makanan!" teriaknya dan suaranya yang merdu namun nyaring itu membuat orang-orang semakin tertarik, ia memang cantik jelita dan gagah, terutama sekali mata dan mulutnya. Pada mata dan mulutnyalah terletak daya tarik yang paling kuat dan kecantikannya nampak agak asing, seperti yang terdapat pada wanita-wanita peranakan. Seorang pelayan tergopoh menghampiri dan pelayan yang usianya sekitar tiga puluh tahun ini juga terheran melihat gadis itu duduk sendirian saja tanpa teman, tanpa pengawal pria.
"Nona hendak memesan apakah?" tanyanya sambil membungkuk, dengan kain lap dipundak.
"Berikan saja nasi putih dan tiga macam masakan yang paling lezat di restoran ini, dan anggur manis, juga air teh. Cepatan sedikit!" kata gadis itu.
Pelayan itu nampak tertegun.
"Tiga macam masakan? Apakah nona menanti kawan?"
Gadis itu menoleh dan sinar matanya yang mencorong membuat pelayan itu undur selangkah.
"Kawan? Apa maksudmu?"
"Tiga macam masakan itu banyak sekali, nona. Juga harganya amat mahal, apa lagi nona menghendaki yang paling lezat. Nona makan sendiri tidak akan habis dan membayarnya......"
"Tukk!" Gadis itu memukul meja dengan tangannya dan nampak sepotong emas di atas meja itu. "Apakah harganya lebih dari ini?"
Pelayan itu terbelalak, lalu tersenyum-senyum dan membungkuk-bungkuk.
"Tentu saja tidak, nona.... maafkan saya, akan saya sediakan secepatnya." Diapun mundur untuk memenuhi pesanan gadis itu.
Sejak tadi, empat orang yang duduk menghadapi sebuah meja yang penuh masakan dan guci arak, memperhatikan gadis itu dan seorang di antara mereka, pria berusia lima puluhan tahun yang matanya sipit dan sejak tadi mengelus jenggot panjangnya dengan mata seperti hendak menelan gadis itu bulat-bulat, segera berbisik kepada seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya. Ada dua orang laki-laki tinggi besar yang berdiri di belakang pria ini dan melihat pakaian mereka berdua, jelas dapat diketahui bahwa mereka adalah sebangsa tukang pukul atau pengawal pria itu yang melihat pakaiannya tentu seorang pejabat. Tiga orang lainnya juga berpakaian pejabat, akan tetapi melihat sikap mereka terhadap pria berjenggot panjang, dapat diduga bahwa mereka merupakan orang-orang bawahan. Agaknya pejabat itu makan minum ditemani tiga orang pejabat rendahan, dan dijaga oleh dua orang pengawal atau tukang pukul.
Seorang bawahan yang tubuhnya kurus dan mukanya penuh jerawat, usianya sekitar tiga puluh tahun, mendengar pula bisikan itu dan diapun tersenyum.
"Biarkan saya yang membujuknya, tai-jin," katanya.
Pejabat itu mengangguk-¬angguk senang dan bawahannya itu lalu bangkit berdiri, menghampiri meja gadis berpakaian hitam itu dan menyeringai lalu berbisik.
"Nona, engkau memperoleh kehormatan besar sekali. Hari ini engkau seperti kejatuhan bulan dan aku mengucapkan selamat atas keberuntunganmu, nona."
Gadis itu mengerutkan alisnya dan matanya mencorong.
"Hemm, apakah engkau ini mabok Atau memang miring otakmu? Pergilah, aku tidak mengerti apa yang kau ocehkan!"
Mendapat tanggapan seketus itu, si kurus kering menjadi merah mukanya, akan tetapi diapun memandang marah.
"Ihh, tak tahu diuntung! Kaulihat dia itu, nona. Dia adalah Wong¬taijin (Pembesar Wong), kedudukannya tinggi, berkuasa dan kaya raya. Dia tertarik kepadamu dan dia mengundangmu untuk duduk semeja dengan dia."
Gadis itu mengerling ke arah meja yang ditunjuk dan melihat si jenggot tersenyum menyeringai, memperlihatkan gigi yang hitam karena tembakau dan mengangguk-anggukan kepala dengan sikap angkuh akan tetapi genit.
"Katakan padanya bahwa melihat mukanya saja aku sudah muak, kalau makan bersamanya aku dapat muntah. Pergi lah!" kata gadis itu kepada si kurus kering, suaranya tidak lirih lagi sehingga dengan mudah dapat terdengar oleh mereka yang duduk di meja lain sehingga banyak di antara mereka yang memandang khawatir Gadis itu berani menghina Wong-Taijin!
Si kurus kering muka jerawat yang mendengar usiran itu, terbelalak akan tetapi dasar dia seorang penakut, diapun melangkah kembali ke meja atasannya, sikapnya seperti seekor anjing pergi ketakutan menekuk ekornya.
"Kalian bawa dia ke sini!" kata pembesar Wong dengan muka kemerahan ke pada dua orang pengawalnya yang bertubuh tinggi besar.
Mereka adalah kakak beradik, jagoan-¬jagoan yang diangkat sebagai pengawal oleh Wong Taijin, seorang yang menjabat kedudukan jaksa, jabatan yang memiliki kekuasaan besar dan ditakuti., dalam pemerintahan baru itu. Dua orang jagoan itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, keduanya memiliki tubuh yang tinggi besar berotot, yang seorang berkepala botak yang kedua brewok menakutkan, dan di pinggang mereka tergantung golok besar. Baru melihat saja orang tentu akan merasa gentar, apa lagi kalau mereka memandang dengan mata melotot dan wajah beringas. Dengan langkah lebar, dua orang jagoan itu menghampiri meja gadis berpakaian hitam. Si brewok berkata,
"Nona, majikan kami minta agar nona duduk semeja dengan beliau!"
Gadis itu hanya mengerling dan mendengus sambil membuang muka.
"Huh, kalian menyebalkan. Pergilah!"
Tentu saja si brewok menjadi marah. Kalau saja majikannya tidak menyuruh dia membawa gadis itu ke meja majikannya, tentu telah dijambak rambut gadis itu dan diseretnya. Dia tahu bahwa majikannya tertarik kepada gadis ini, maka dia tidak berani bersikap kasar, apa lagi menyakitinya.
"Nona,-kalau engkau tidak mau, terpaksa akan kuangkat bersama kursi yang nona duduki," berkata demikian, dia memegang sandaran kursi itu.
"Hemm, macam kamu ini kuat mengangkatku?" gadis itu mengejek.
Si brewok menjadi marah dan dia mengerahkan tenaga pada kedua lengannya dan mengangkat kursi itu. Dia merasa yakin akan mampu mengangkat kursi itu bersama gadis yang duduk di atasnya. Apa lagi baru gadis mungil yang tentu amat ringan itu, biar ditambah dua orang lagipun dia akan mampu mengangkatnya. Akan tetapi, terjadi keanehan yang bukan saja mengejutkan si brewok, melainkan juga mengherankan temannya yang botak dan empat orang pembesar yang duduk di meja sebelah. Biarpun dia mengerahkan tenaga sampai mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh, namun kursi itu tidak dapat terangkat! Sedikitpun tidak bergerak, apa lagi terangkat! Melihat keanehan itu, Jaksa Wong segera berkata kepada si botak.
"Bantu dia!"
Kini si botak, walaupun agak sungkan dan malu harus menggunakan tenaga dua orang untuk mengangkat seorang gadis mungil saja, melangkah maju dan ikut memegang kursi itu lalu mengerahkan tenaga bersama temannya. Mereka mengerahkan tenaga dalam waktu yang sama, mencoba untuk mengangkat kursi itu.
"Aughhhh krekkkk!!" Keduanya terhuyung dan hampir terpelanting ketika sandaran kursi itu patah, akan tetapi gadis itu masih tetap duduk dengan santai sambil memandang kepada mereka dengan senyum mengejek.
Kini semua orang terkejut dan heran. Baru kemunculannya seorang diri di rumah makan itu saja sudah menimbulkan keheranan, dan kini ditambah lagi gadis itu berani menghina Jaksa Wong, dan lebih-lebih lagi kini gadis itu mampu bertahan di kursinya dan dua orang tukang pukulnya itu tidak mampu mengangkatnya!
Hal ini tidak akan mengherankan bagi siapa yang mengenal gadis itu karena ia bukan lain adalah Can Kim Hong, murid tersayang dari Hek liong Kwan Bhok Cu! Gurunya memang sudah memesan agar ia berhati-hati dan tidak menonjolkan kepandaiannya di kota raja. Dan Kim Hong pun tadinya tidak ingin memamerkan kepandaiannya, hanya ingin makan di restoran besar itu karena dari luar saja bau masakannya sudah semerbak keluar dan membuat perutnya terasa lapar. Akan tetapi, kalau ada orang-orang bersikap keterlaluan kepadanya, hendak menghinanya, tentu saja gadis yang berwatak keras ini tidak mungkin tinggal diam saja.
"Hemm, kalian dua ekor monyet busuk. Pergilah kalian bersama majikan kalian si kambing bandot jenggot panjang itu. Kalian semua memualkan perut ku, dan aku lapar hendak makan. Jangan ganggu aku!" kata Kim Hong dan iapun berpindah ke kursi yang tidak rusak, duduk menghadapi meja dan membelakangi mereka seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
Semua orang menjadi pucat dan yang nyalinya kecil sudah cepat-cepat membayar harga makanan dan meninggalkan restoran itu. Gadis itu telah berani memaki Jaksa Wong sebagai kambing bandot jenggot panjang! Bukan main! Pasti akan hebat akibatnya. Bukan hanya dua orang tukang pukul itu saja jagoan si jaksa, bahkan dia mampu mengerahkan pasukan untuk menangkap gadis itu! Para tamu tidak ingin terbawa-bawa dalam urusan gawat itu, maka dalam waktu singkat restoran itu telah ditinggalkan para tamu. Yang berada di situ hanya tinggal Kim Hong, empat orang bersama dua orang tukang pukul itu. Bahkan para pelayan dan pengurus rumah makan sudah pergi entah ke mana!
Jaksa Wong baru pertama kali ini mengalami hal yang amat memalukan dan menghinanya. Biasanya, gadis manapun tidak akan ada yang berani menolaknya. Hampir semua gadis cantik yang tidak sempat melarikan diri ketika pemberontak menyerbu, menjadi korban keganasan para pemenang. Sebagian besar, yang tercantik, menjadi rebutan di antara para pejabat, dipaksa menjadi selir mereka, dan sebagian pula dijadikan perebutan antara para perajurit sehingga mereka itu bukan saja mengalami penghinaan yang tak terbayangkan ngerinya, bahkan juga akhirnya mereka tewas secara menyedihkan. Hanya para puteri pihak pemenang dan hartawan yang dapat menyogok sajalah yang selamat dari penghinaan dan perkosaan. Kini, Jaksa Wong ditolak, bahkan dihina, dimaki oleh seorang gadis biasa. Tentu saja darah naik ke kepalanya, dan dengan mata melotot dia menudingkan telunjuk kanannya kepada Kim Hong.
"Perempuan rendah, berani engkau menghina kami? Tidak tahukah engkau bahwa engkau berhadapan dengan Jaksa Wong? Cepat berlutut dan minta ampun, atau aku akan menyuruh orang-orangku menelanjangimu dan menyeretmu sepanjang jalan, kemudian kuberikan engkau kepada mereka untuk dikeroyok sampai mampus!" Ancaman ini sungguh mengerikan, akan tetapi membuat Kim Hong menjadi semakin marah. Makian, itu saja sudah menunjukkan macam apa orang yang dihadapinya itu.
"Biar engkau jaksa atau dewa sekalipun, aku tidak perduli. Yang kulawan bukan kedudukanmu, melainkan orangnya. Engkau orang yang jahat, kasar, suka menghina wanita, dan pantas dihajar. Andaikata engkau seorang pengemis sekalipun, kalau baik hati, tentu akan kuhormati!" Kim Hong juga menudingkan telunjuknya ke arah muka pejabat itu.
"Keparat! Tangkap dia!" teriak Jaksa Wong kepada dua orang pengawalnya. Dua orang laki-laki tinggi besar itu memang sudah merasa penasaran sekali dan ingin menebus kekalahannya tadi. Mereka tetap tidak akan berani menggunakan kekerasan terhadap gadis itu yang ditaksir majikan mereka. Akan tetapi kini, majikan mereka telah memerintahkan mereka untuk menangkap gadis itu! Keduanya menyeringai dan dengan langkah perlahan seperti dua ekor binatang marah, mereka menghampiri Kim Hong dari belakang dengan kedua lengan di kembangkan, siap untuk menubruk dan mendekap gadis cantik mungil itu!
Kim Hong pura-pura tidak melihat mereka, ia sedang jengkel karena sejak tadi, pesanannya belum juga dihidangkan.
"Heiii, bung pelayan! Di mana kamu? Mana pesananku? Kurang ajar, kenapa tidak ada orang sama sekali? Aku akan mengambil dan memasak sendiri hidangan itu didapur kalau kalian tidak cepat mengeluarkannya. Perutku sudah lapar!" ia berteriak-teriak lantang, tidak memperdulikan dua orang tinggi besar yang menghampirinya dari kanan kiri itu.
Akan tetapi, begitu kedua orang itu bergerak hendak menubruknya, tangannya cepat menyambar dua batang sumpit dan sekali kedua tangan itu bergerak, sumpit-sumpit itu menyambar ke arah dua orang yang menubruknya. Harus diingat bahwa keistimewaan gadis ini adalah mempergunakan Hui-kiam (Pedang terbang), maka sambitan sumpitnya meluncur bagaikan anak panah terlepas dari busurnya dan dua orang tukang pukul itu roboh terjengkang, mengaduh-aduh memegangi paha kanan mereka yang ditembusi sumpit dan terasa nyeri bukan mari. Mereka tidak dapat bangkit berdiri dan hanya mengaduh-aduh, tidak berani mencabut sumpit yang masih menembus paha mereka, takut kalau-kalau akan menjadi semakin nyeri!
Tentu saja Jaksa Wong terkejut bukan main, demikian pula tiga orang bawahannya. Mereka berempat serentak bangkit berdiri dan dengan muka pucat hendak berlari keluar. Akan tetapi, sekali menggerakkan kedua kakinya, Kim Hong sudah berkelebat dan yang nampak hanya bayangan hitam dan tahu-¬tahu ia telah berdiri menghadang empat orang itu. ia tersenyum mengejek, akan tetapi matanya mencorong.
***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 015
***Kembali


No comments:
Post a Comment