"Kambing bandot, engkau tidak boleh lari begitu saja!" katanya dan sekali tangannya bergerak, Kim Hong sudah menyambar jenggot panjang itu dan membetotnya. Jaksa Wong berteriak kesakitan dan tubuhnya tertarik ke depan akan tetapi Kim Hong menyambut dengan tendangan ke dada sambil menarik jenggot itu kuat-kuat.
"Dukk! Prett.....!"
Tubuh Jaksa Wong terjengkang dan jenggotnya jebol tertinggal di tangan Kim Hong. Tentu saja kulit dagunya terkelupas dan berdarah, dan dadanya terasa sesak. Jaksa Wong menangis! Tangan kiri meraba dagu, tangan kanan menekan dada dan dia menangis karena kesakitan dan ketakutan. Tiga orang bawahannya hendak melarikan diri, akan tetapi tiga kali kaki Kim Hong menendang dan merekapun terlempar dan menimpa meja kursi!
Kim Hong berteriak lagi memanggil pelayan dan ketika tidak ada pelayan muncul, iapun dengan seenaknya memasuki dapur. Dilihatnya koki gendut bersembunyi di balik gentong dan dibentaknya orang itu.
"Hayo cepat bikinkan masakan yang enak untukku atau engkau yang akan kusembelih dan dagingmu kupangang!"
Koki itu tentu saja ketakutan dan dengan tubuh menggigil dan kedua tangan gemetar dia melaksanakan perintah Kim Hong. Gadis ini marah dan jengkel sekali. Perutnya amat lapar dan orang-orang telah mengganggunya, ia tidak perduli lagi ketika dua orang tulang pukul menyeret kaki mereka keluar dari rumah makan mengikuti majikan mereka yang juga terhuyung-huyung keluar bersama tiga orang bawahannya.
Juga Kim Hong tidak perduli betapa rumah makan yang sekarang kosong menjadi pusat perhatian orang yang berkerumun di luar rumah makan. Setelah hidangan matang, iapun makan minum seorang diri, tidak memperdulikan keadaan di luar yang semakin ribut karena berita tentang seorang gadis yang memukul Jaksa Wong dan kaki tangannya di rumah makan itu telah tersiar dengan cepat, menarik perhatian banyak orang karena berita itu sungguh luar biasa sekali.
Baru saja Kim Hong selesai makan, muncul belasan orang perajurit di pimpin oleh Wong Taijin sendiri yang kelihatan marah-marah. Pembesar ini masih kesakitan, jenggotnya lenyap dan dagunya yang tadi terluka kini sudah dibalut sehingga dia nampak lucu sekali. Telunjuknya menuding-¬nuding ke dalam rumah makan dan suaranya terdengar pelo karena dagunya dibalut.
"Tangkap perempuan itu! Tangkaaaap ....., telanjangi ia, seret sepanjang jalan agar semua orang melihat pemberontak itu.....!"
Tujuhbelas orang yang dipimpin seorang perwira memasuki rumah makan. Ketika mereka melihat bahwa di dalan rumah makan itu hanya ada seorang gadis cantik sedang duduk dengan sikap tenang, mereka menjadi ragu. Haruskah mereka, tujuhbelas orang perajurit pilihan, mengeroyok seorang gadis?
Perwira pasukan keamanan itu bagaimanapun juga masih memiliki keangkuhan dan harga diri. Dengan pedang melintang depan dada, diapun berkata kepada Kim Hong yang masih duduk dengan tenang,
"Nona, sebaiknya kalau nona menyerah saja dengan baik-baik agar kami tidak harus mempergunakan kekerasan terhadap seorang gadis."
Kim Hong bangkit berdiri, sikapnya masih tenang dan ia lebih sabar karena perutnya sudah kenyang dan masakan tadi memang lezat sekali.
"Sungguh mati, aku merasa heran sekali. Kalian ini orang-orang gagah kenapa diperintah oleh kambing bandot jenggot buntung yang menjemukan itu? Tidak malukah kalian?"
"Tangkap, seret dan telanjangi perempuan itu!" Wong Taijin mencak-mencak saking marahnya mendengar penghinaan itu.
"Hemm, kalau ada yang berani majulah! Aku akan menghajar kalian orang-orang yang suka menghina wanita, dan sekali ini aku tidak mau bersikap lunak lagi. Heii, bandot keparat, majulah dan aku akan mengirim nyawamu ke neraka jahanam!"
Akan tetapi sebelum para perajurit yang ragu-ragu itu sempat bergerak, tiba-tiba dari luar masuk seorang pria yang gagah perkasa. Seorang pria bertubuh tinggi besar, kulitnya hitam mukanya brewok dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang pejabat tinggi.
"Apa yang terjadi di sini?"
Suaranya nyaring dan parau, akan tetapi semua perajurit cepat memberi jalan dan memberi hormat kepada si tinggi besar ini. Bahkan Wong Taijin sendiri terkejut melihat orang itu dan cepat memberi hormat dengan membungkukkan.tubuh seperti pisau lipat.
"Jaksa Wong, kau di sini? Kenapa itu mukamu? Mana jenggotmu yang panjang itu? Apa sih yang terjadi sisini?"
"Maaf, Yang Mulia.... eh.,...... kami sedang hendak menangkap seorang wanita pemberontak! ia telah melukai saya dan pengawal saya, dan ia bahkan masih berani menghina kami, ia harus ditangkap dan dihukum berat!" kata jaksa itu.
Pria tinggi besar itu terbelalak
"Ehh? Ada yang begitu berani? Wanita malah? Bukan main! Mana ia?"
"Itu orangnya, Yang Mulia, gadis setan itulah pemberontaknya."
Jaksa Wong menuding ke arah Kim Hong yang berdiri bengong memandang pria tinggi besar berkulit hitam yang disebut Yang Mulia oleh Jaksa itu. Pria itu memutar tubuh memandang ke dalam dan bertemulah dua pasang mata itu, dan pria itu mengeluarkan seruan heran.
"Kau...... Kim Hong......! !"
"Suhu......!"
Kim Hong cepat memberi hormat dan hatinya merasa terharu bercampur heran. Terharu karena bagaimanapun juga, orang tua ini pernah memelihara dan mendidiknya penuh kasih sayang sehingga ia pernah menganggap kepala suku Khitan ini sebagai pengganti orang tuanya sendiri, dan ia merasa heran bagaimana sekarang gurunya itu disebut Yang Mulia oleh seorang pejabat tinggi!
"Apakah suhu dalam keadaan sehat saja?" akhirnya ia bertanya.
"Kim Hong, aihh, kiranya engkau ......! Betapa rindu kami kepadamu." lalu Bouw Hun, laki-laki tinggi besar itu, membalik dan menghadapi jaksa Wong yang terbelalak dan mukanya berubah pucat.
"Jaksa Wong! Apa-apaan ini? Gadis ini adalah muridku yang tersayang, dan engkau berani mengatakan bahwa ia pemberontak. Gilakah engkau?"
"Ampun, Yang Mulia.... saya..... saya tidak tahu dan ia...... ia memukul dan menghina saya....." tubuh jaksa itu gemetar ketakutan.
Siapa yang tidak akan takut berhadapan dengan Kok Su (guru negara atau penasihat Kaisar) yang amat ditakuti karena berjasa dan berkuasa besar itu? Jangankan baru Wong Taijin, seorang jaksa, bahkan para menteri sekalipun segan dan takut kepada Bouw Kok-su ini.
"Kenapa ia memukulmu? Hayo jawab! Pasti gadis ini belum gila, memukul tanpa sebab. Nah, katakan, apa sebabnya ia memukulmu?"
Wong Taijin semakin ketakutan.
"Saya...... saya........ tidak apa-apa, Yang Mulia..... saya hanya.... mengundang ia untuk makan minum bersama kami......"
"Hemm, aku tahu orang macam apa engkau ini!" Bouw Hun membentak marah. "Sudah kudengar bahwa engkau sering mempermainkan wanita. Engkau tentu mengganggunya, maka muridku menjadi marah. Kim Hong, apa yang dia lakukan kepadamu?"
Kim Hong tersenyum.
"Tidak apa, suhu, aku sudah menghajarnya cukup setimpal. Dia hendak memaksaku makan minum dengan dia, aku menghajar dia dan kaki tangannya, akan tetapi dia dating lagi membawa pasukan."
"Jahanam kau, berani mengganggu muridku?" Bouw Hun membentak.
Wong Taijin hampir terkencing-kencing saking takutnya.
"Ampunkan saya.... saya tidak tahu.... ampunkan.."
"Hayo berlutut dan minta ampun kepada muridku," bentak Bouw Hun.
Pembesar itu tanpa malu-malu lagi menjatuhkan diri berlutut menghadap Kim Hong dan mengangguk-angguk.
"Ampunkan saya, nona, ampunkan saya...."
Akan tetapi Kim Hong tidak memperdulikannya.
"Suhu, bagaimana suhu dapat berada di sini dan agaknya menjadi pembesar?" tanyanya kepada Bouw Hun membiarkan saja Wong Taijin yang masih berlutut dan mengangguk-angguk.
"Mari ikut pulang, Kim Hong. Kita bicara di rumah," kata Bouw Hun dan dia menggandeng tangan muridnya lalu mengajak muridnya meninggalkan rumah makan itu.
Wong Taijin yang masih berlutut, menjadi merah sekali mukanya. Dia bangkit berdiri, mengepal tinju, merasa malu bukan main dan diam-diam diapun mengutuk di dalam hatinya, menyumpah-nyumpah dan berjanji bahwa sekali waktu dia akan membalas dendam ini kepada Bouw Kok-su, betapa mustahilnya hal itu nampaknya. Lalu diapun pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, membuat perwira yang memimpin pasukan menjadi bengong, tak tahu harus berbuat apa dan akhirnya mengajak pasukannya pergi meninggalkan rumah makan itu. Barulah keadaan menjadi normal kembali dan rumah makan itu mulai dikunjungi tamu lagi, dan peristiwa tadi hanya tinggal menjadi kenangan dan gunjingan orang saja.
Banyak orang merasa senang melihat betapa Wong Taijin mengalami hajaran yang cukup hebat, bukan saja jenggotnya dicabut sehingga dagunya robek, juga menerima penghinaan, dipaksa berlutut minta ampun kepada seorang gadis di depan banyak orang. Banyak orang merasa tidak suka kepada pembesar ini yang terkenal galak, sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya sebagai jaksa. Sedikit-sedikit menuntut orang. Diminta anak gadisnya tidak diberikan saja dituntut dengan bermacam alasan, sebagai pemberontak, penjahat dan sebagainya. Dia terkenal menerima sogokan dari para hartawan, dan tidak segan dia menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah dalam urusan pengadilan, semua itu karena kekuasaan uang sogokan.
Banyak sekali bukti bahwa orang yang suka menjilat ke atas, tentu suka menginjak ke bawah. Orang yang mencari muka dan amat takut kepada atasannya, bukan taat melainkan takut dan menjilat, orang seperti itu biasanya menginjak dan menindas bawahannya. Orang seperti ini pada hakekatnya seorang pengecut dan mudah menjadi besar kepala dan sewenang-wenang kalau memperoleh kedudukan yang memberinya sedikit kekuasaan.
Dan demikian pula Jaksa Wong. Dia merasa malu dan terhina sekali, dan diam-diam dia menanam dendam di dalam hatinya. Maklum bahwa pangkatnya jauh kalah tinggi dibandingkan Bouw Koksu, dia tahu bahwa hanya dengan cara yang licik dan licin, yang teratur rapi dan terdapat kesempatan baik sajalah, maka dia akan mampu membalas dendamnya. Dan dia bersabar hati, seperti sabarnya seekor musang yang menanti munculnya ayam keluar dari dalam kandangnya.
Bagaimana Bouw Hun, kepala suku Khitan, dapat menjadi Kok-su (guru negara) di kota raja? Hal ini tidaklah mengherankan karena sejak pertama kali An Lu Shan memberontak, dia telah menjadi pembantu utama panglima pemberontak itu. An Lu Shan sendiri adalah seorang peranakan Khitan Turki, dan dari darah ibunya, dia masih terhitung sanak dengan Bouw Hun. Oleh karena itulah, dia menarik Bouw Hun dan anak buah kepala suku Khitan itu menjadi sekutu dan karena jasa Bouw Hun dan Bouw Ki, besar ketika pasukan mengadakan penyerbuan ke kota raja, maka ketika An Lu Shan mengangkat diri menjadi kaisar, dia mengangkat Bouw Hun menjadi kok-su, dan Bouw Ki diangkat menjadi seorang panglima muda!
Kim Hong terkagum-kagum ketika diajak masuk ke dalam sebuah gedung besar kuno yang amat indah. Hal ini tidak mengherankan karena gedung yang kini menjadi tempat tinggal Bouw Kok-su adalah bekas tempat tinggal Menteri Utama Yang Kok Tiong! Gedung kuno yang besar, megah dan masih lengkap prabot rumahnya yang serba mewah.
Nyonya Bouw Hun, seorang wanita Khitan yang sudah berusia empatpuluh tujuh tahun akan tapi berkulit putih dan masih cantik menyambut Kim Hong dengan rangkulan mesra. Wanita ini memang amat menyayang Kim Hong seperti anak sendiri. Sejak masih kecil sekali, belum juga berusia lima tahun, Kim Hong telah dirawat dididik suaminya, hidup dalam keluarga itu sebagai murid, akan tetapi seperti anak sendiri bagi Bouw Hun dan isterinya. Kepergian Kim Hong secara diam-diam itu sempat membuat Nyonya Bouw Hun berhari-hari menangis sedih dan kini melihat suaminya kembali bersama seorang gadis cantik berpakaian serba hitam, ia segera mengenal Kim Hong dan merangkulnya, dan Kim Hong juga sempat meneteskan air mata ketika dirangkul oleh nyonya itu dengan mesranya.
"Kim Hong.....ah, ke mana saja engkau pergi selama ini, anakku?" nyonya itu menciumi pipi gadis itu yang menjadi terharu sekali. ia merasa seolah bertemu dengan ibunya sendiri.
"Aku.... aku merantau dan mencari pengalaman, bibi," katanya, la memang selalu menyebut bibi kepada isteri gurunya itu.
"Kau sekarang bertambah dewasa, bertambah cantik !" wanita itu memuji. "Kakakmu tentu akan gembira sekali melihatmu!"
Kim Hong teringat kepada Bouw Ki dan jantungnya berdebar. Bouw Ki yang membuat ia terpaksa minggat karena suhengnya itu hendak memaksanya menjadi selirnya! Pada saat itu terdengar suara langkah kaki dari luar disusul seruan yang lantang,
"Eh, ibu, siapakah gadis cantik itu? Perkenalkan kepadaku, ibu!"
Bouw Ki! Masih periang dan masih mata keranjang seperti biasa, pikir Kim Hong. Dan pemuda itupun muncul. Usia Bouw Ki sudah duapuluh tujuh tahun. Tubuhnya yang tinggi besar itu tampak semakin gagah dengan pakaian panglimanya yang gemerlapan! Dan wajah yang tampan dengan kumis melintang terpelihara rapi, dan matanya tajam seperti mata burung rajawali. Mata itu terbelalak, lalu berkilat-kilat ketika menjelajahi wajah gadis berpakaian hitam itu.
"Kim Hong....? Haiiii! Engkau benar Kim Hong....! Engkau semakin cantik saja, adik Hong!" katanya dan seolah-olah dia ingin menubruk dan merangkul gadis itu. Akan tetapi Kim Hong sudah mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.
"Kakak Bouw Ki, bagaimana keadaanmu? Sehat-sehat saja, bukan?"
"Sehat? Aku? Lihatlah sendiri!"
Dia mengembangkan kedua lengannya, memamerkan keadaan diri dan pakaiannya
"Bukan hanya sehat, aku telah menjadi seorang panglima, Kim Hong! Dan ayah telah menjadi Kok-su! Kami menjadi keluarga bangsawan tinggi, dekat dengan kaisar! Aha, tentu engkau girang sekali, bukan?"
"Tentu saja, suheng," kata Kim Hong sejujurnya.
"Aih, dahulu engkau melarikan diri dan menolakku, sekarang, sudah tiba saatnya engkau menjadi anggauta keluarga kami, menjadi isteri ku! Tentu ayah sekarang menyetujui Kim Hong menjadi isteriku, bukan begitu, ayah?"
Kim Hong terkejut sekali dan mengerutkan alisnya.
"Suheng, harap jangan berkata seperti itu. Aku tadi bertemu ayahmu dan aku ikut suhu ke sini karena akupun sudah rindu kepada keluarga suhu. Aku hanya singgah saja, bukan untuk menetap di sini."
"Tapi , sumoi......"
"Aihh, Bouw Ki! Engkau ini apa-apaan sih?" Tegur ibunya. “Adikmu baru saja tiba, dan engkau sudah bicara yang bukan-¬bukan tentang pernikahan. Mengapa engkau begitu tergesa-¬gesa seperti dikejar setan?"
"Bouw Ki, jangan membuat adikmu menjadi resah. Baru saja ia mengalami urusan yang membuatnya marah, dan kalau aku tidak cepat muncul, tentu ia membuat geger dan akan menjadi pusat perhatian orang di kotaraja."
Kini pemuda yang gagah itu membelalakan matanya.
"Wah, jadi engkaukah gadis di rumah makan yang telah memukul dan menghina Jaksa Wong itu, sumoi? Engkaukah orangnya?"
Kim Hong mengangguk.
"Ha-ha-ha, alangkah lucunya! Si kura-kura itu memang pantas menerima hajaran dan engkau yang melakukannya. Ha-ha, aku puas! Dan engkau mengagumkan sekali, Kim Hong, membuat aku semakin jatuh cinta. Katakanlah bahwa engkau sengaja datang ke kota raja untuk mencariku, dan menerima pinanganku."
"Bouw Ki, engkau sudah mempunyai lima orang selir, masihkah begitu kehausan? Biarkan Kim Hong beristirahat dulu, bahkan ia belum menceritakan pengalamannya selama dua tahun Ini," kata Bouw Hun dengan suara datar, seolah berita tentang puteranya memiliki lima orang selir itu merupakan hal biasa bagi pendengarnya.
Dia tidak tahu betapa Kim Hong muak mendengar ucapan itu. Memang pada jaman itu, kaum pria amat meremehkan martabat wanita sehingga wanita disamakan dengan benda-benda berharga saja, seperti benda yang indah dan mahal, atau seperti peliharaan yang langka, seekor burung dewata misalnya, atau seekor kucing dari negara barat! Sukar bagi mereka membayangkan bahwa wanita juga memiliki harga diri, memiliki perasaan dan matabat.
"Kim Hong, sekarang ceritakanlah pengalamanmu, kami ingin sekali mendengarnya," kata Nyonya Bouw Hun.
Mereka berempat duduk di ruangan dalam, dan Kim Hong lalu menceritakan pengalamannya dengan singkat bahwa ia menjadi murid seorang sakti, yaitu Hek-liong Kwan Bhok Cu dan selama dua tahun ini belajar ilmu silat dari gurunya. Setelah selesai belajar, ia mendengar tentang keributan di kota raja dan ingin melihat-lihat keadaan setelah perang selesai.
"Hemm, jadi tukang perahu berpakaian hitam bercaping lebar itukah yang menjadi gurumu?" tanya Bouw Hun kepada muridnya dengan alis berkerut, teringat betapa dia dan puteranya sama sekali tidak mampu menandingi orang sakti itu.
"Benar, suhu, dan beliau seorang pendekar gagu yang amat baik kepadaku."
"Aih, kalau begitu engkau sekarang tentu telah menjadi lihai bukan main, sumoi!" kata Bouw Ki sambil tersenyum. "Akan tetapi selama dua tahun ini, kalau engkau belajar silat, aku bahkan mempraktekkan dalam pertempuran dan perang, dan akupun memperoleh kemajuan pesat!"
"Suhu, kalau boleh aku mengetahui, bagaimana suhu sekeluarga dapat berada di sini dan tiba-tiba menjadi pejabat tinggi?" Kim Hong ingin sekali mengetahui.
Bouw Hun bangkit dan berkata.
"Kim Hong, biar Bouw Ki saja yang menceritakan semua itu kepadamu. Aku harus pergi ke istana sekarang menghadap Kaisar." Lalu kepada isterinya dia berkata, "Suruh pelayan mempersiapkan pesta kecil untuk keluarga kita, menyambut pulangnya Kim Hong."
Setelah berkata demikian, Bouw Hun dengan sikap agungnya seorang pejabat tinggi, meninggalkan rumahnya. Nyonya Bouw juga pergi ke belakang untuk memerintahkan para pelayan menyiapkan pesta untuk menyambut Kim Hong.
"Sumoi, mari kita pergi ke taman dan di sana akan kuceritakan padamu tentang semua pengalaman kami yang hebat," ajak Bouw Ki.
Kim Hong mengangguk dan merekapun keluar dan memasuki taman bunga luas indah yang berada di sebelah kiri bangunan besar itu. Kim Hong mengagumi taman itu yang memang amat indah, apa lagi pada waktu itu, musim semi belum habis dan bunga-bunga di taman sedang saling bersaing keindahan dengan bunga-bunga yang bermekaran.
Setelah berjalan-jalan mengagumi bunga-bunga dalam taman, Bouw Ki mengajak sumoinya duduk di bangku tepi kolam ikan emas, dan diapun menceritakan pengalaman dia dan ayahnya. Ayahnya di ajak bersekutu oleh Panglima An Lu Shan dan merekapun menyerbu ke barat. Dia sendiri menjadi seorang komandan pasukan yang terdiri dari orang-orang Khitan dan dia sudah memperlihatkan kegagahannya dan membuat banyak jasa sehingga setelah gerakan pemberontakan itu berhasil, ayahnya diangkat menjadi kok-su dan dia sendiri diangkat menjadi panglima muda oleh An Lu Shan.
Kim Hong mendengarkan dengan kagum.
"Kalau begitu, suhu telah menjadi seorang bangsawan besar, dan engkaupun telah menjadi seorang panglima muda yang mulia. Tentu senang sekali hidupmu, suheng, mulia dan mewah, dihormat orang dan memiliki kekuasaan besar”.
Bouw Ki menghela napas panjang dan berkata, wajahnya muram.
"Enak bagaimana, sumoi? Aku lebih senang kalau saat ini, ayah masih menjadi kepala suku di Lembah Huang-ho, dan aku berada di sana bersamamu. Hidup rasanya lebih bebas dan tak banyak pusing seperti sekarang."
"Eh? Kenapa banyak pusing dan kenapa pula tidak bebas?"
"Aku diikat oleh kedudukanku,"
Pemuda Khitan itu memandang pakaiannya yang dalam bulan-bulan pertama amat dibanggakan akan tetapi yang kini terasa seperti membelenggu dirinya itu.
"Waktuku sudah disita oleh tugas pekerjaan, dan tentu saja pusing karena Kerajaan baru ini masih menghadapi banyak tantangan. Pertama, Kaisar Kerajaan Tang masih ada, dan kini di barat sedang menyusun kekuatan. Mereka pasti tidak akan menerima begitu saja dan selama kaisar dan keluarganya itu belum terbunuh, ancaman masih akan terus membayangi kota raja ini. Selain itu, yang lebih memusingkan lagi, adanya persaingan dan permusuhan yang secara diam-diam telah timbul di antara keluarga dan para pimpinan kerajaan baru ini"
"Eh, kenapa begitu? Bukankah Panglima Besar An Lu Shan telah menjadi kaisar dan semua pembantunya, termasuk engkau dan suhu, telah diberi kedudukan?"
"Banyak yang tidak puas dengan kedudukan yang diberikan kepada mereka. Ada yang merasa dirinya lebih berjasa dan timbul saling iri. Aku khawatir persaingan ini akan menghancurkan kita dari dalam. Aku.....aku sungguh tidak puas dan tidak senang biarpun kini aku menjadi seorang panglima dari kerajaan besar. Masa depanku tidak begitu cerah, banyak tugas berat dan bahaya"
Kim Hong tersenyum. Suhengnya ini memang pernah menyakitkan hatinya karena hendak memaksanya menjadi selir, akan tetapi harus diakui bahwa suhengnya ini biarpun berhati keras, namun jujur, tidak seperti suhuiya.
"Aih, suheng. Mungkin hanya mulutmu saja yang mengeluh, akan tetapi hatimu kegirangan. Bukankah kini engkau telah menjadi seorang bangsawan muda yang mulia, bahkan telah memiliki lima orang selir? Tidak hebatkah itu?" ia mengejek.
"Hemm, itu hanya usaha ayah dan ibu untuk menghiburku, untuk mengurangi kerinduanku kepadamu, sumoi. Akan tetapi, biar aku diberi seratus orang selir yang bagaimana cantikpun, hatiku tidak akan tenteram dan bahagia selama engkau belum mau menjadi isteriku."
Kim Hong mengerutkan alisnya, lalu tersenyum mengejek.
"Aih, jadi engkau masih terus bertekad untuk memper-isteri aku, biarpun aku sudah berulang kali menyatakan tidak mencintamu, melainkan suka kepadamu sebagai suheng, sebagai kakak. Apakah engkau dan ayah juga masih ingin melanjutkan usaha kalian memaksaku agar suka menjadi isterimu?"
Bouw Ki menghela napas panjang.
"Sebetulnya, cara itu sama sekali tidak kusukai, sumoi. Aku ingin engkau menerima aku menjadi suamimu dengan suka rela, ingin kita menjadi suami isteri yang saling mencinta, bukan paksaan. Akan tetapi, engkau terlalu keras hati dan keras kepala. Jangan memaksa kami melakukan hal yang sama sekali tidak menyenangkan hatiku itu, Kim Hong."
Gadis itu diam-diam merasa mendongkol, ia datang ke rumah suhunya secara suka rela, akan tetapi ia datang seperti seekor harimau memasuki perangkap, atau lebih lagi, seperti seekor domba memasuki rumah jagal! Biarpun tidak dijelaskan, namun ia tahu bahwa agaknya suhunya dan suhengnya sudah mengambil keputusan untuk tidak membiarkan ia pergi lagi dari situ! Suhengnya ini benar-benar telah tergila-gila kepadanya, bertekad ingin memperisterinya, bahkan sejak dua tahun yang lalu, suhengnya tidak pernah melupakan diri nya! Dan sekarang, keadaannya bahka lebih terjepit dari pada dahulu. Biar pun kini ilmu kepandaiannya sudah demikian tingginya sehingga ia tidak takut menghadapi suhunya dan suhengnya, akan tetapi di belakang kedua orang ini terdapat pasukan yang terdiri dari puluhan ribu orang banyaknya. Bagaimana mungkin ia akan dapat meloloskan diri?
Akan tetapi, Kim Hong tidak merasa gelisah, bersikap tenang saja. seolah-olah ia belum melihat kenyataan pahit itu.
"Suheng, karena selama ini engkau telah banyak bertempur, tentu ilmu kepandaianmu maju pesat. Bagaimana kalau kita berlatih untuk saling melihat sampai di mana kemajuan yang kita capai?"
"Bagus, aku senang sekali, sumoi! Engkau tentu kini telah memperoleh kemajuan pesat. Dahulupun aku tidak dapat mengalahkanmu,.apalagi sekarang !"
"Ah, belum tentu, suheng. Bagaimanapun juga, aku belum mempunyai pengalaman bertanding, sedangkan engkau sudah mengalami perang dan pertempuran besar.”
"Mari kita berlatih dengan tangan kosong saja, jangan sampai kita salah tangan saling melukai. Memang aku sering kali berlatih silat di petak rumput itu, sumoi."
Mereka pergi ke petak rumput tak jauh dari kolam ikan dan di situ memang nyaman dan luas. Kim Hong hanya ingin mengukur sampai di mana kepandaian suhengnya itu agar kalau sewaktu-waktu ia harus melawannya, ia akan dapat mengetahui lebih dulu keadaan lawan.
Dengan gaya yang menarik, setelah melepaskan baju kebesarannya Bouw Ki memasang kuda-kuda. Kim Hong melihat bahwa ilmu silat suhengnya masih serupa dengan dahulu, maka iapun memasang kuda-kuda yang sama.
"Aku sudah siap, suheng. Mulailah!"
"Sumoi, awas seranganku!" bentak Bouw Ki yang merasa girang karena dalam latihan bertanding tangan kosong ini, setidaknya dia mendapat kesempatan untuk saling beradu tangan dengari gadis yang dirindukannya itu!
Dia menyerang, bukan dengan pukulan melainkan dengan cengkeraman¬-cengkeraman, karena sesuai dengan dorongan perasaan hatinya, ingin dia dapat menangkap lengan sumoinya, atau setidaknya merabai tubuhnya untuk melepaskan kerinduannya.
"Dukk! Prett.....!"
Tubuh Jaksa Wong terjengkang dan jenggotnya jebol tertinggal di tangan Kim Hong. Tentu saja kulit dagunya terkelupas dan berdarah, dan dadanya terasa sesak. Jaksa Wong menangis! Tangan kiri meraba dagu, tangan kanan menekan dada dan dia menangis karena kesakitan dan ketakutan. Tiga orang bawahannya hendak melarikan diri, akan tetapi tiga kali kaki Kim Hong menendang dan merekapun terlempar dan menimpa meja kursi!
Kim Hong berteriak lagi memanggil pelayan dan ketika tidak ada pelayan muncul, iapun dengan seenaknya memasuki dapur. Dilihatnya koki gendut bersembunyi di balik gentong dan dibentaknya orang itu.
"Hayo cepat bikinkan masakan yang enak untukku atau engkau yang akan kusembelih dan dagingmu kupangang!"
Koki itu tentu saja ketakutan dan dengan tubuh menggigil dan kedua tangan gemetar dia melaksanakan perintah Kim Hong. Gadis ini marah dan jengkel sekali. Perutnya amat lapar dan orang-orang telah mengganggunya, ia tidak perduli lagi ketika dua orang tulang pukul menyeret kaki mereka keluar dari rumah makan mengikuti majikan mereka yang juga terhuyung-huyung keluar bersama tiga orang bawahannya.
Juga Kim Hong tidak perduli betapa rumah makan yang sekarang kosong menjadi pusat perhatian orang yang berkerumun di luar rumah makan. Setelah hidangan matang, iapun makan minum seorang diri, tidak memperdulikan keadaan di luar yang semakin ribut karena berita tentang seorang gadis yang memukul Jaksa Wong dan kaki tangannya di rumah makan itu telah tersiar dengan cepat, menarik perhatian banyak orang karena berita itu sungguh luar biasa sekali.
Baru saja Kim Hong selesai makan, muncul belasan orang perajurit di pimpin oleh Wong Taijin sendiri yang kelihatan marah-marah. Pembesar ini masih kesakitan, jenggotnya lenyap dan dagunya yang tadi terluka kini sudah dibalut sehingga dia nampak lucu sekali. Telunjuknya menuding-¬nuding ke dalam rumah makan dan suaranya terdengar pelo karena dagunya dibalut.
"Tangkap perempuan itu! Tangkaaaap ....., telanjangi ia, seret sepanjang jalan agar semua orang melihat pemberontak itu.....!"
Tujuhbelas orang yang dipimpin seorang perwira memasuki rumah makan. Ketika mereka melihat bahwa di dalan rumah makan itu hanya ada seorang gadis cantik sedang duduk dengan sikap tenang, mereka menjadi ragu. Haruskah mereka, tujuhbelas orang perajurit pilihan, mengeroyok seorang gadis?
Perwira pasukan keamanan itu bagaimanapun juga masih memiliki keangkuhan dan harga diri. Dengan pedang melintang depan dada, diapun berkata kepada Kim Hong yang masih duduk dengan tenang,
"Nona, sebaiknya kalau nona menyerah saja dengan baik-baik agar kami tidak harus mempergunakan kekerasan terhadap seorang gadis."
Kim Hong bangkit berdiri, sikapnya masih tenang dan ia lebih sabar karena perutnya sudah kenyang dan masakan tadi memang lezat sekali.
"Sungguh mati, aku merasa heran sekali. Kalian ini orang-orang gagah kenapa diperintah oleh kambing bandot jenggot buntung yang menjemukan itu? Tidak malukah kalian?"
"Tangkap, seret dan telanjangi perempuan itu!" Wong Taijin mencak-mencak saking marahnya mendengar penghinaan itu.
"Hemm, kalau ada yang berani majulah! Aku akan menghajar kalian orang-orang yang suka menghina wanita, dan sekali ini aku tidak mau bersikap lunak lagi. Heii, bandot keparat, majulah dan aku akan mengirim nyawamu ke neraka jahanam!"
Akan tetapi sebelum para perajurit yang ragu-ragu itu sempat bergerak, tiba-tiba dari luar masuk seorang pria yang gagah perkasa. Seorang pria bertubuh tinggi besar, kulitnya hitam mukanya brewok dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang pejabat tinggi.
"Apa yang terjadi di sini?"
Suaranya nyaring dan parau, akan tetapi semua perajurit cepat memberi jalan dan memberi hormat kepada si tinggi besar ini. Bahkan Wong Taijin sendiri terkejut melihat orang itu dan cepat memberi hormat dengan membungkukkan.tubuh seperti pisau lipat.
"Jaksa Wong, kau di sini? Kenapa itu mukamu? Mana jenggotmu yang panjang itu? Apa sih yang terjadi sisini?"
"Maaf, Yang Mulia.... eh.,...... kami sedang hendak menangkap seorang wanita pemberontak! ia telah melukai saya dan pengawal saya, dan ia bahkan masih berani menghina kami, ia harus ditangkap dan dihukum berat!" kata jaksa itu.
Pria tinggi besar itu terbelalak
"Ehh? Ada yang begitu berani? Wanita malah? Bukan main! Mana ia?"
"Itu orangnya, Yang Mulia, gadis setan itulah pemberontaknya."
Jaksa Wong menuding ke arah Kim Hong yang berdiri bengong memandang pria tinggi besar berkulit hitam yang disebut Yang Mulia oleh Jaksa itu. Pria itu memutar tubuh memandang ke dalam dan bertemulah dua pasang mata itu, dan pria itu mengeluarkan seruan heran.
"Kau...... Kim Hong......! !"
"Suhu......!"
Kim Hong cepat memberi hormat dan hatinya merasa terharu bercampur heran. Terharu karena bagaimanapun juga, orang tua ini pernah memelihara dan mendidiknya penuh kasih sayang sehingga ia pernah menganggap kepala suku Khitan ini sebagai pengganti orang tuanya sendiri, dan ia merasa heran bagaimana sekarang gurunya itu disebut Yang Mulia oleh seorang pejabat tinggi!
"Apakah suhu dalam keadaan sehat saja?" akhirnya ia bertanya.
"Kim Hong, aihh, kiranya engkau ......! Betapa rindu kami kepadamu." lalu Bouw Hun, laki-laki tinggi besar itu, membalik dan menghadapi jaksa Wong yang terbelalak dan mukanya berubah pucat.
"Jaksa Wong! Apa-apaan ini? Gadis ini adalah muridku yang tersayang, dan engkau berani mengatakan bahwa ia pemberontak. Gilakah engkau?"
"Ampun, Yang Mulia.... saya..... saya tidak tahu dan ia...... ia memukul dan menghina saya....." tubuh jaksa itu gemetar ketakutan.
Siapa yang tidak akan takut berhadapan dengan Kok Su (guru negara atau penasihat Kaisar) yang amat ditakuti karena berjasa dan berkuasa besar itu? Jangankan baru Wong Taijin, seorang jaksa, bahkan para menteri sekalipun segan dan takut kepada Bouw Kok-su ini.
"Kenapa ia memukulmu? Hayo jawab! Pasti gadis ini belum gila, memukul tanpa sebab. Nah, katakan, apa sebabnya ia memukulmu?"
Wong Taijin semakin ketakutan.
"Saya...... saya........ tidak apa-apa, Yang Mulia..... saya hanya.... mengundang ia untuk makan minum bersama kami......"
"Hemm, aku tahu orang macam apa engkau ini!" Bouw Hun membentak marah. "Sudah kudengar bahwa engkau sering mempermainkan wanita. Engkau tentu mengganggunya, maka muridku menjadi marah. Kim Hong, apa yang dia lakukan kepadamu?"
Kim Hong tersenyum.
"Tidak apa, suhu, aku sudah menghajarnya cukup setimpal. Dia hendak memaksaku makan minum dengan dia, aku menghajar dia dan kaki tangannya, akan tetapi dia dating lagi membawa pasukan."
"Jahanam kau, berani mengganggu muridku?" Bouw Hun membentak.
Wong Taijin hampir terkencing-kencing saking takutnya.
"Ampunkan saya.... saya tidak tahu.... ampunkan.."
"Hayo berlutut dan minta ampun kepada muridku," bentak Bouw Hun.
Pembesar itu tanpa malu-malu lagi menjatuhkan diri berlutut menghadap Kim Hong dan mengangguk-angguk.
"Ampunkan saya, nona, ampunkan saya...."
Akan tetapi Kim Hong tidak memperdulikannya.
"Suhu, bagaimana suhu dapat berada di sini dan agaknya menjadi pembesar?" tanyanya kepada Bouw Hun membiarkan saja Wong Taijin yang masih berlutut dan mengangguk-angguk.
"Mari ikut pulang, Kim Hong. Kita bicara di rumah," kata Bouw Hun dan dia menggandeng tangan muridnya lalu mengajak muridnya meninggalkan rumah makan itu.
Wong Taijin yang masih berlutut, menjadi merah sekali mukanya. Dia bangkit berdiri, mengepal tinju, merasa malu bukan main dan diam-diam diapun mengutuk di dalam hatinya, menyumpah-nyumpah dan berjanji bahwa sekali waktu dia akan membalas dendam ini kepada Bouw Kok-su, betapa mustahilnya hal itu nampaknya. Lalu diapun pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, membuat perwira yang memimpin pasukan menjadi bengong, tak tahu harus berbuat apa dan akhirnya mengajak pasukannya pergi meninggalkan rumah makan itu. Barulah keadaan menjadi normal kembali dan rumah makan itu mulai dikunjungi tamu lagi, dan peristiwa tadi hanya tinggal menjadi kenangan dan gunjingan orang saja.
Banyak orang merasa senang melihat betapa Wong Taijin mengalami hajaran yang cukup hebat, bukan saja jenggotnya dicabut sehingga dagunya robek, juga menerima penghinaan, dipaksa berlutut minta ampun kepada seorang gadis di depan banyak orang. Banyak orang merasa tidak suka kepada pembesar ini yang terkenal galak, sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya sebagai jaksa. Sedikit-sedikit menuntut orang. Diminta anak gadisnya tidak diberikan saja dituntut dengan bermacam alasan, sebagai pemberontak, penjahat dan sebagainya. Dia terkenal menerima sogokan dari para hartawan, dan tidak segan dia menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah dalam urusan pengadilan, semua itu karena kekuasaan uang sogokan.
Banyak sekali bukti bahwa orang yang suka menjilat ke atas, tentu suka menginjak ke bawah. Orang yang mencari muka dan amat takut kepada atasannya, bukan taat melainkan takut dan menjilat, orang seperti itu biasanya menginjak dan menindas bawahannya. Orang seperti ini pada hakekatnya seorang pengecut dan mudah menjadi besar kepala dan sewenang-wenang kalau memperoleh kedudukan yang memberinya sedikit kekuasaan.
Dan demikian pula Jaksa Wong. Dia merasa malu dan terhina sekali, dan diam-diam dia menanam dendam di dalam hatinya. Maklum bahwa pangkatnya jauh kalah tinggi dibandingkan Bouw Koksu, dia tahu bahwa hanya dengan cara yang licik dan licin, yang teratur rapi dan terdapat kesempatan baik sajalah, maka dia akan mampu membalas dendamnya. Dan dia bersabar hati, seperti sabarnya seekor musang yang menanti munculnya ayam keluar dari dalam kandangnya.
Bagaimana Bouw Hun, kepala suku Khitan, dapat menjadi Kok-su (guru negara) di kota raja? Hal ini tidaklah mengherankan karena sejak pertama kali An Lu Shan memberontak, dia telah menjadi pembantu utama panglima pemberontak itu. An Lu Shan sendiri adalah seorang peranakan Khitan Turki, dan dari darah ibunya, dia masih terhitung sanak dengan Bouw Hun. Oleh karena itulah, dia menarik Bouw Hun dan anak buah kepala suku Khitan itu menjadi sekutu dan karena jasa Bouw Hun dan Bouw Ki, besar ketika pasukan mengadakan penyerbuan ke kota raja, maka ketika An Lu Shan mengangkat diri menjadi kaisar, dia mengangkat Bouw Hun menjadi kok-su, dan Bouw Ki diangkat menjadi seorang panglima muda!
Kim Hong terkagum-kagum ketika diajak masuk ke dalam sebuah gedung besar kuno yang amat indah. Hal ini tidak mengherankan karena gedung yang kini menjadi tempat tinggal Bouw Kok-su adalah bekas tempat tinggal Menteri Utama Yang Kok Tiong! Gedung kuno yang besar, megah dan masih lengkap prabot rumahnya yang serba mewah.
Nyonya Bouw Hun, seorang wanita Khitan yang sudah berusia empatpuluh tujuh tahun akan tapi berkulit putih dan masih cantik menyambut Kim Hong dengan rangkulan mesra. Wanita ini memang amat menyayang Kim Hong seperti anak sendiri. Sejak masih kecil sekali, belum juga berusia lima tahun, Kim Hong telah dirawat dididik suaminya, hidup dalam keluarga itu sebagai murid, akan tetapi seperti anak sendiri bagi Bouw Hun dan isterinya. Kepergian Kim Hong secara diam-diam itu sempat membuat Nyonya Bouw Hun berhari-hari menangis sedih dan kini melihat suaminya kembali bersama seorang gadis cantik berpakaian serba hitam, ia segera mengenal Kim Hong dan merangkulnya, dan Kim Hong juga sempat meneteskan air mata ketika dirangkul oleh nyonya itu dengan mesranya.
"Kim Hong.....ah, ke mana saja engkau pergi selama ini, anakku?" nyonya itu menciumi pipi gadis itu yang menjadi terharu sekali. ia merasa seolah bertemu dengan ibunya sendiri.
"Aku.... aku merantau dan mencari pengalaman, bibi," katanya, la memang selalu menyebut bibi kepada isteri gurunya itu.
"Kau sekarang bertambah dewasa, bertambah cantik !" wanita itu memuji. "Kakakmu tentu akan gembira sekali melihatmu!"
Kim Hong teringat kepada Bouw Ki dan jantungnya berdebar. Bouw Ki yang membuat ia terpaksa minggat karena suhengnya itu hendak memaksanya menjadi selirnya! Pada saat itu terdengar suara langkah kaki dari luar disusul seruan yang lantang,
"Eh, ibu, siapakah gadis cantik itu? Perkenalkan kepadaku, ibu!"
Bouw Ki! Masih periang dan masih mata keranjang seperti biasa, pikir Kim Hong. Dan pemuda itupun muncul. Usia Bouw Ki sudah duapuluh tujuh tahun. Tubuhnya yang tinggi besar itu tampak semakin gagah dengan pakaian panglimanya yang gemerlapan! Dan wajah yang tampan dengan kumis melintang terpelihara rapi, dan matanya tajam seperti mata burung rajawali. Mata itu terbelalak, lalu berkilat-kilat ketika menjelajahi wajah gadis berpakaian hitam itu.
"Kim Hong....? Haiiii! Engkau benar Kim Hong....! Engkau semakin cantik saja, adik Hong!" katanya dan seolah-olah dia ingin menubruk dan merangkul gadis itu. Akan tetapi Kim Hong sudah mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.
"Kakak Bouw Ki, bagaimana keadaanmu? Sehat-sehat saja, bukan?"
"Sehat? Aku? Lihatlah sendiri!"
Dia mengembangkan kedua lengannya, memamerkan keadaan diri dan pakaiannya
"Bukan hanya sehat, aku telah menjadi seorang panglima, Kim Hong! Dan ayah telah menjadi Kok-su! Kami menjadi keluarga bangsawan tinggi, dekat dengan kaisar! Aha, tentu engkau girang sekali, bukan?"
"Tentu saja, suheng," kata Kim Hong sejujurnya.
"Aih, dahulu engkau melarikan diri dan menolakku, sekarang, sudah tiba saatnya engkau menjadi anggauta keluarga kami, menjadi isteri ku! Tentu ayah sekarang menyetujui Kim Hong menjadi isteriku, bukan begitu, ayah?"
Kim Hong terkejut sekali dan mengerutkan alisnya.
"Suheng, harap jangan berkata seperti itu. Aku tadi bertemu ayahmu dan aku ikut suhu ke sini karena akupun sudah rindu kepada keluarga suhu. Aku hanya singgah saja, bukan untuk menetap di sini."
"Tapi , sumoi......"
"Aihh, Bouw Ki! Engkau ini apa-apaan sih?" Tegur ibunya. “Adikmu baru saja tiba, dan engkau sudah bicara yang bukan-¬bukan tentang pernikahan. Mengapa engkau begitu tergesa-¬gesa seperti dikejar setan?"
"Bouw Ki, jangan membuat adikmu menjadi resah. Baru saja ia mengalami urusan yang membuatnya marah, dan kalau aku tidak cepat muncul, tentu ia membuat geger dan akan menjadi pusat perhatian orang di kotaraja."
Kini pemuda yang gagah itu membelalakan matanya.
"Wah, jadi engkaukah gadis di rumah makan yang telah memukul dan menghina Jaksa Wong itu, sumoi? Engkaukah orangnya?"
Kim Hong mengangguk.
"Ha-ha-ha, alangkah lucunya! Si kura-kura itu memang pantas menerima hajaran dan engkau yang melakukannya. Ha-ha, aku puas! Dan engkau mengagumkan sekali, Kim Hong, membuat aku semakin jatuh cinta. Katakanlah bahwa engkau sengaja datang ke kota raja untuk mencariku, dan menerima pinanganku."
"Bouw Ki, engkau sudah mempunyai lima orang selir, masihkah begitu kehausan? Biarkan Kim Hong beristirahat dulu, bahkan ia belum menceritakan pengalamannya selama dua tahun Ini," kata Bouw Hun dengan suara datar, seolah berita tentang puteranya memiliki lima orang selir itu merupakan hal biasa bagi pendengarnya.
Dia tidak tahu betapa Kim Hong muak mendengar ucapan itu. Memang pada jaman itu, kaum pria amat meremehkan martabat wanita sehingga wanita disamakan dengan benda-benda berharga saja, seperti benda yang indah dan mahal, atau seperti peliharaan yang langka, seekor burung dewata misalnya, atau seekor kucing dari negara barat! Sukar bagi mereka membayangkan bahwa wanita juga memiliki harga diri, memiliki perasaan dan matabat.
"Kim Hong, sekarang ceritakanlah pengalamanmu, kami ingin sekali mendengarnya," kata Nyonya Bouw Hun.
Mereka berempat duduk di ruangan dalam, dan Kim Hong lalu menceritakan pengalamannya dengan singkat bahwa ia menjadi murid seorang sakti, yaitu Hek-liong Kwan Bhok Cu dan selama dua tahun ini belajar ilmu silat dari gurunya. Setelah selesai belajar, ia mendengar tentang keributan di kota raja dan ingin melihat-lihat keadaan setelah perang selesai.
"Hemm, jadi tukang perahu berpakaian hitam bercaping lebar itukah yang menjadi gurumu?" tanya Bouw Hun kepada muridnya dengan alis berkerut, teringat betapa dia dan puteranya sama sekali tidak mampu menandingi orang sakti itu.
"Benar, suhu, dan beliau seorang pendekar gagu yang amat baik kepadaku."
"Aih, kalau begitu engkau sekarang tentu telah menjadi lihai bukan main, sumoi!" kata Bouw Ki sambil tersenyum. "Akan tetapi selama dua tahun ini, kalau engkau belajar silat, aku bahkan mempraktekkan dalam pertempuran dan perang, dan akupun memperoleh kemajuan pesat!"
"Suhu, kalau boleh aku mengetahui, bagaimana suhu sekeluarga dapat berada di sini dan tiba-tiba menjadi pejabat tinggi?" Kim Hong ingin sekali mengetahui.
Bouw Hun bangkit dan berkata.
"Kim Hong, biar Bouw Ki saja yang menceritakan semua itu kepadamu. Aku harus pergi ke istana sekarang menghadap Kaisar." Lalu kepada isterinya dia berkata, "Suruh pelayan mempersiapkan pesta kecil untuk keluarga kita, menyambut pulangnya Kim Hong."
Setelah berkata demikian, Bouw Hun dengan sikap agungnya seorang pejabat tinggi, meninggalkan rumahnya. Nyonya Bouw juga pergi ke belakang untuk memerintahkan para pelayan menyiapkan pesta untuk menyambut Kim Hong.
"Sumoi, mari kita pergi ke taman dan di sana akan kuceritakan padamu tentang semua pengalaman kami yang hebat," ajak Bouw Ki.
Kim Hong mengangguk dan merekapun keluar dan memasuki taman bunga luas indah yang berada di sebelah kiri bangunan besar itu. Kim Hong mengagumi taman itu yang memang amat indah, apa lagi pada waktu itu, musim semi belum habis dan bunga-bunga di taman sedang saling bersaing keindahan dengan bunga-bunga yang bermekaran.
Setelah berjalan-jalan mengagumi bunga-bunga dalam taman, Bouw Ki mengajak sumoinya duduk di bangku tepi kolam ikan emas, dan diapun menceritakan pengalaman dia dan ayahnya. Ayahnya di ajak bersekutu oleh Panglima An Lu Shan dan merekapun menyerbu ke barat. Dia sendiri menjadi seorang komandan pasukan yang terdiri dari orang-orang Khitan dan dia sudah memperlihatkan kegagahannya dan membuat banyak jasa sehingga setelah gerakan pemberontakan itu berhasil, ayahnya diangkat menjadi kok-su dan dia sendiri diangkat menjadi panglima muda oleh An Lu Shan.
Kim Hong mendengarkan dengan kagum.
"Kalau begitu, suhu telah menjadi seorang bangsawan besar, dan engkaupun telah menjadi seorang panglima muda yang mulia. Tentu senang sekali hidupmu, suheng, mulia dan mewah, dihormat orang dan memiliki kekuasaan besar”.
Bouw Ki menghela napas panjang dan berkata, wajahnya muram.
"Enak bagaimana, sumoi? Aku lebih senang kalau saat ini, ayah masih menjadi kepala suku di Lembah Huang-ho, dan aku berada di sana bersamamu. Hidup rasanya lebih bebas dan tak banyak pusing seperti sekarang."
"Eh? Kenapa banyak pusing dan kenapa pula tidak bebas?"
"Aku diikat oleh kedudukanku,"
Pemuda Khitan itu memandang pakaiannya yang dalam bulan-bulan pertama amat dibanggakan akan tetapi yang kini terasa seperti membelenggu dirinya itu.
"Waktuku sudah disita oleh tugas pekerjaan, dan tentu saja pusing karena Kerajaan baru ini masih menghadapi banyak tantangan. Pertama, Kaisar Kerajaan Tang masih ada, dan kini di barat sedang menyusun kekuatan. Mereka pasti tidak akan menerima begitu saja dan selama kaisar dan keluarganya itu belum terbunuh, ancaman masih akan terus membayangi kota raja ini. Selain itu, yang lebih memusingkan lagi, adanya persaingan dan permusuhan yang secara diam-diam telah timbul di antara keluarga dan para pimpinan kerajaan baru ini"
"Eh, kenapa begitu? Bukankah Panglima Besar An Lu Shan telah menjadi kaisar dan semua pembantunya, termasuk engkau dan suhu, telah diberi kedudukan?"
"Banyak yang tidak puas dengan kedudukan yang diberikan kepada mereka. Ada yang merasa dirinya lebih berjasa dan timbul saling iri. Aku khawatir persaingan ini akan menghancurkan kita dari dalam. Aku.....aku sungguh tidak puas dan tidak senang biarpun kini aku menjadi seorang panglima dari kerajaan besar. Masa depanku tidak begitu cerah, banyak tugas berat dan bahaya"
Kim Hong tersenyum. Suhengnya ini memang pernah menyakitkan hatinya karena hendak memaksanya menjadi selir, akan tetapi harus diakui bahwa suhengnya ini biarpun berhati keras, namun jujur, tidak seperti suhuiya.
"Aih, suheng. Mungkin hanya mulutmu saja yang mengeluh, akan tetapi hatimu kegirangan. Bukankah kini engkau telah menjadi seorang bangsawan muda yang mulia, bahkan telah memiliki lima orang selir? Tidak hebatkah itu?" ia mengejek.
"Hemm, itu hanya usaha ayah dan ibu untuk menghiburku, untuk mengurangi kerinduanku kepadamu, sumoi. Akan tetapi, biar aku diberi seratus orang selir yang bagaimana cantikpun, hatiku tidak akan tenteram dan bahagia selama engkau belum mau menjadi isteriku."
Kim Hong mengerutkan alisnya, lalu tersenyum mengejek.
"Aih, jadi engkau masih terus bertekad untuk memper-isteri aku, biarpun aku sudah berulang kali menyatakan tidak mencintamu, melainkan suka kepadamu sebagai suheng, sebagai kakak. Apakah engkau dan ayah juga masih ingin melanjutkan usaha kalian memaksaku agar suka menjadi isterimu?"
Bouw Ki menghela napas panjang.
"Sebetulnya, cara itu sama sekali tidak kusukai, sumoi. Aku ingin engkau menerima aku menjadi suamimu dengan suka rela, ingin kita menjadi suami isteri yang saling mencinta, bukan paksaan. Akan tetapi, engkau terlalu keras hati dan keras kepala. Jangan memaksa kami melakukan hal yang sama sekali tidak menyenangkan hatiku itu, Kim Hong."
Gadis itu diam-diam merasa mendongkol, ia datang ke rumah suhunya secara suka rela, akan tetapi ia datang seperti seekor harimau memasuki perangkap, atau lebih lagi, seperti seekor domba memasuki rumah jagal! Biarpun tidak dijelaskan, namun ia tahu bahwa agaknya suhunya dan suhengnya sudah mengambil keputusan untuk tidak membiarkan ia pergi lagi dari situ! Suhengnya ini benar-benar telah tergila-gila kepadanya, bertekad ingin memperisterinya, bahkan sejak dua tahun yang lalu, suhengnya tidak pernah melupakan diri nya! Dan sekarang, keadaannya bahka lebih terjepit dari pada dahulu. Biar pun kini ilmu kepandaiannya sudah demikian tingginya sehingga ia tidak takut menghadapi suhunya dan suhengnya, akan tetapi di belakang kedua orang ini terdapat pasukan yang terdiri dari puluhan ribu orang banyaknya. Bagaimana mungkin ia akan dapat meloloskan diri?
Akan tetapi, Kim Hong tidak merasa gelisah, bersikap tenang saja. seolah-olah ia belum melihat kenyataan pahit itu.
"Suheng, karena selama ini engkau telah banyak bertempur, tentu ilmu kepandaianmu maju pesat. Bagaimana kalau kita berlatih untuk saling melihat sampai di mana kemajuan yang kita capai?"
"Bagus, aku senang sekali, sumoi! Engkau tentu kini telah memperoleh kemajuan pesat. Dahulupun aku tidak dapat mengalahkanmu,.apalagi sekarang !"
"Ah, belum tentu, suheng. Bagaimanapun juga, aku belum mempunyai pengalaman bertanding, sedangkan engkau sudah mengalami perang dan pertempuran besar.”
"Mari kita berlatih dengan tangan kosong saja, jangan sampai kita salah tangan saling melukai. Memang aku sering kali berlatih silat di petak rumput itu, sumoi."
Mereka pergi ke petak rumput tak jauh dari kolam ikan dan di situ memang nyaman dan luas. Kim Hong hanya ingin mengukur sampai di mana kepandaian suhengnya itu agar kalau sewaktu-waktu ia harus melawannya, ia akan dapat mengetahui lebih dulu keadaan lawan.
Dengan gaya yang menarik, setelah melepaskan baju kebesarannya Bouw Ki memasang kuda-kuda. Kim Hong melihat bahwa ilmu silat suhengnya masih serupa dengan dahulu, maka iapun memasang kuda-kuda yang sama.
"Aku sudah siap, suheng. Mulailah!"
"Sumoi, awas seranganku!" bentak Bouw Ki yang merasa girang karena dalam latihan bertanding tangan kosong ini, setidaknya dia mendapat kesempatan untuk saling beradu tangan dengari gadis yang dirindukannya itu!
Dia menyerang, bukan dengan pukulan melainkan dengan cengkeraman¬-cengkeraman, karena sesuai dengan dorongan perasaan hatinya, ingin dia dapat menangkap lengan sumoinya, atau setidaknya merabai tubuhnya untuk melepaskan kerinduannya.
***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 016
***Kembali
No comments:
Post a Comment