Bukit itu disebut orang Bukit Hitam, berdiri tegar di seberang utara Sungai Yang-ce. Disebut Bukit Hitam karena memang bukit itu selalu nampak hitam! Pohon-pohon yang tumbuh di situ, hutan-hutan, nampaknya memang kehitam-hitaman atau hijau tua dan gelap. Dan bukit ini merupakan tempat yang ditakuti orang, karena selain terdapat banyak ular-ular yang beracun, juga menjadi tempat pelarian dan persembunyian para penjahat yang dikejar-kejar yang berwajib atau di kejar-kejar para pendekar. Bahkan terdengar desas-desus bahwa hutan-hutan di bukit itu juga dihuni oleh setan dan iblis, menjadi sarang siluman yang suka mengganggu manusia. Tidak mengherankan kalau hampir tidak pernah ada orang berani mendaki nya, bahkan para pemburu yang terkenal berani dan gagah sekalipun, akan berpikir seratus kali untuk memburu binatang hutan di bukit itu.
Akan tetapi, pada pagi hari itu para petani yang sedang menggarap sawah di kaki bukit sebelah timur, menghentikan pekerjaan mereka dan mata mereka terbelalak memandang kepada seorang gadis yang melenggang seorang diri melalui jalan dusun itu menuju ke arah Bukit Hitam! Kalau saja gadis itu merupakan seorang wanita yang berwajah mengerikan, atau setidaknya nampak seperti seorang wanita kang-ouw yang gagah perkasa, agaknya para petani tidak akan menjadi bengong memandangnya.
Akan tetapi, gadis itu demikian cantik jelita dan lembut, langkahnya juga lemah gemulai seperti orang menari saja. Gadis itu masih muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya, dan ia cantik jelita, wajahnya yang bulat telur dengan kulit muka putih kemerahan tanpa bedak dan gincu. Rambutnya hitam lebat dan agak berombak, dengan anak rambut bermain di dahi dan pelipis, melingkar-lingkar. Akan tetapi yang teramat indah adalah matanya dan mulutnya. Sepasang mata itu lebar dan bersinar--sinar, dengan kedua ujung agak menyerong ke atas dan mata itu makin indah karena dihias bulu mata yang panjang lentik. Dan mulutnya! Bibir itu selalu nampak basah dan merah segar, lengkungnya seperti gendewa terpentang, kalau senyum sedikit saja nampak lesung pipit di sebelah kiri mulutnya. Mulut itu menantang dan menggemaskan! Tubuhnya ramping dan padat, dengan lekuk lengkung yang sempurna. Pakaiannya memang sederhana, terbuat dari kain yang kasar, namun bersih dan karena bentuk tubuhnya memang menggairahkan, mengenakan pakaian apapun akan pantas saja.
Agaknya gadis yang melangkah seorang diri sambil senyum-senyum pada burung-burung yang beterbangan, kepada kerbau-kerbau yang meluku di sawah, kepada para petani, menyadari pula bahwa orang-orang itu berhenti bekerja dan memandangnya penuh perhatian. Namun, pandangan mata para petani itu jauh bedanya, bagaikan bumi dan langit dengan pandang mata para pemuda yang pernah dijumpainya selama ini. Pandang mata para pemuda, terutama pemuda kota mengandung kekurangajaran dan kegenitan. Sebaliknya, pandang mata para petani itu hanya membayangkan keheranan dan keinginan tahu. ia lalu menghampiri mereka.
"Para paman yang baik, benarkah dugaanku bahwa bukit di depan itu yang dinamakan orang Bukit Hitam?"
"Betul nona," kata seorang di antara mereka, seorang petani berusia lima puluh tahun lebih.
"Ah, kalau betul dugaanku. Nah, terima kasih, paman. Pagi ini cerah sekali, aku ingin cepat-cepat sampai di sana."
Gadis itu meninggalkan senyum yang manis sekali kepada mereka lalu memutar tubuh hendak melanjutkan perjalanannya sambil memandang ke arah bukit itu.
"Maaf, nona, apakah nona hendak pergi mendaki Bukit Hitam?"
Suara kakek itu yang membuat si gadis cepat membalikkan tubuh menghadapinya dan memandangnya. Dalam suara kakek itu terkandung kekhawatiran besar.
"Benar, paman. Kenapa?"
"Aahhh.......!"
Semua orang yang mendengar jawaban ini mengeluarkan suara seruan kaget dan khawatir, membuat gadis itu makin tertarik.
"Nona, kami tahu bahwa nona tentulah bukan orang dari daerah sini. Nona agaknya belum mengenal Bukit Hitam maka berani hendak mendakinya. Tentu nona belum pernah ke sana, bukan?"
Gadis itu menggeleng kepala.
"Belum pernah, paman, akan tetapi kenapa?"
"Aihh, kalau begitu, kami mohon sebaiknya nona jangan sekali-sekali mendaki bukit itu! Maut yang mengerikan menanti nona di sana!" Kakek itu menunjuk ke arah Bikit Hitam dan mukanya agak pucat.
"En, kenapa begitu? Ada apanya sih di atas sana?" Gadis Itu memandang dan menunjuk ke arah bukit, mulutnya tetap tersenyum.
"Apa saja yang dapat mencabut nyawa berada di sana, nona!" kata petani itu. "Binatang buas, ular-ular berbisa, penjahat-penjahat pelarian yang menyembunyikan diri, dan belum lagi... setan dan iblis, siluman dan segala macam arwah penasaran menjadi penghuni hutan di bukit itu!"
Gadis itu membelalakkan matanya yang lebar sehingga mata itu nampak seperti sepasang bintang yang cemerlang
"Ih, kalau benar di sana terdapat demikian banyaknya pencabut nyawa, kenapa kalian enak-enak saja bekerja di sini, di kaki bukit itu tanpa rasa takut?"
”Di sini lain lagi halnya, nona. Bukit itu telah menjadi bukit yang ditakuti semenjak nenek moyang kami yang tinggal di sini. Siapapun yang berani ke bukit itu, pasti akan mengalami kematian mengerikan. Akan tetapi, belum pernah penghuni di kaki bukit ada yang diganggu. Maka, sekali lagi, kalau nona hanya hendak melihat pemandangan alam, pergilah ke bukit lain, jangan ke Bukit Hitam."
"Benar, nona, jangan pergi ke sana. Engkau masih begini muda..... betapa mengerikan kalau engkau menjadi korban pula!" kata seorang petani lain.
Gadis itu tersenyum.
"Terima kasih atas nasihat para paman di sini. Akan tetapi aku mempunyai urusan dan keperluan di bukit itu. Nah, selamat tinggal!" Gadis itu melangkah lagi.
"Nona......, nona. . . . !" Petani itu masih berteriak gelisah. "Urusan apa yang nona punyai ditempat seperti itu?"
Sambil terus melangkah dan menoleh sedikit gadis itu manjawab,
"Urusanku justeru ingin bertemu dengan binatang buas, ular berbisa, penjahat dan setan siluman!"
Mendengar jawaban ini, para petani menjadi bengong! Kemudian, mata mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga ketika mereka melihat gadis itu berkelebat dan bayangannya lenyap ke arah bukit itu!
"Hiii.... ia..... ia...." seorang tergagap.
"si..... si... siluman.." yang lain menyambung.
Belasan orang petani itu lalu bergerombol, saling berhimpitan dan dengan tubuh gemetar menanti melapetaka apa yang akan menimpa mereka. Baru setelah lewat sejam dan tidak terjadi sesuatu, mereka berani melanjutkan, akan tetapi sama sekali tidak berani membicarakan gadis tadi selama mereka bekerja di sawah. Baru nanti setelah mereka pulang, akan ramailah di dusun mereka mendengar kisah yang aneh tentang gadis cantik yang berani mendaki Bukit Hitam dan pandai menghilang. Mereka semua yakin bahwa gadis cantik tadi pastilah siluman!
Begitu banyaknya orang membicarakan tentang setan iblis dan siluman dan mereka semua takut kepada siluman. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang benar-benar melihat siluman. Mereka sudah banyak mendengar tentang setan, akan tetapi belum pernah melihatnya sendiri secara jelas. Kalau pun ada yang pernah melihatnya, yang terlihat hanya bayangan atau samar-samar saja sehingga tidak dapat ditentukan bahwa yang dilihatnya adalah setan! Justeru inilah yang mendatangkan rasa takut, justeru karena tidak dapat dilihat. Andaikata setan dan iblis dapat dilihat, maka dia tidak akan ditakuti manusia lagi. Mahluk yang paling buas dan besarpun, asalkan dia dapat dilihat, mudah ditaklukkan oleh manusia. Setan dan iblispun, kalau terlihat, tentu akan dapat ditaklukkan manusia.
Rasa takut timbul karena ulah permainan pikiran. Pikiran membayangkan dan mengkhayalkan yang seram-seram, yang mengerikan, dan timbullah rasa takut. Takut adalah permainan pikiran membayangkan hal yang belum ada, yang belum terjadi. Orang takut terkena penyakit karena dia belum sakit. Kalau dia sudah terkena penyakit, dia tidak takut lagi kepada penyakit itu, yang ditakuti adalah akibat lain yang belum terjadi, misalnya takut kalau-kalau sakitnya itu akan membuatnya mati, takut kalau kelak mati dia akan tersiksa dan sebagainya dan selanjutnya.
Siapakah gadis cantik jelita yang demikian besar nyalinya mendaki Bukit Hitam, bahkan yang seolah dapat menghilang dari pandang mata para petani? ia bukanlah siluman, bukan iblis atau setan, ia seorang manusia biasa, dari darah dan daging, dan ia bukan lain adalah Can Kim Hong!
Dua tahun telah lewat semenjak Kim Hong diselamatkan oleh seorang kakek gagu dari tangan gurunya sendiri dan putera gurunya, yaitu Bouw Hun dan puteranya, Bouw Ki. Bouw Ki, suhengnya itu, tergila-gila kepadanya dan hendak memaksanya menjadi isterinya, dibantu oleh ayah suhengnya atau gurunya sendiri. ia melarikan diri akan tetapi dapat disusul mereka, dan tentu ia akan terjatuh ke tangan mereka kalau saja tidak muncul kakek gagu yang mengalahkan ayah dan anak itu, kemudian yang mengantarkan Kim Hong menyeberangi sungai kepantai selatan.
Setelah tiba di tepi sungai sebelah selatan, Kim Hong hendak memberi upah kepada tukang perahu yang gagu itu, akan tetapi si tukang perahu menolak, kemudian mencoba untuk menyatakan isi hatinya dengan gerakan tangan. Namun, Kim Hong tidak mengerti.
"Aih, paman yang gagah dan baik, apa sih yang hendak kaukatakan dengan gerakan jari tangan itu? Aku tidak mengerti!" kata Kim Hong.
Si gagu tersenyum dan diam-diam Kim Hong merasa senang kepada kakek itu. Bukan hanya karena kakek itu dengan amat mudahnya mengalahkan gurunya yang merupakan datuk orang Khitan, akan tetapi juga senyum kakek itu membuat wajahnya nampak ramah dan menyenangkan, juga masih nampak betapa si gagu ini adalah seorang pria yang tampan. Dari bentuk wajahnya, sinar matanya, dapat diduga bahwa si gagu ini bukan orang kebanyakan, karena selain wajahnya tampan dan nampak rapi dan bersih, juga matanya mengandung wibawa yang besar. Pakaiannya serba hitam sederhana, bahkan caping lebar yang menutupi kepalanya juga hitam. Yang putih hanya rambutnya, yang panjang dan tiga perempat bagian sudah putih.
Sambil tersenyum si gagu lalu membuat coretan di atas tanah dengan sebatang ranting. Kim Hong membaca coret-¬coretan yang membentuk huruf itu.
"Di depan terdapat para penjahat yang jauh lebih berbahaya dari pada dua orang tadi," demikian bunyi tulisan itu.
Kim Hong tersenyum. Kiranya orang ini hendak memperingatkan ia bahwa kalau ia melanjutkan perjalanan, akan banyak menemui penjahat yang bahkan lebih lihai dari pada gurunya!
"Aku tidak takut, paman!" katanya.
Si gagu menulis lagi. Coretannya cepat dan bertenaga sehingoa membentuk huruf-huruf yang dalam dan mudah dibaca di atas tanah.
"Keberanian tanpa didasari kekuatan suatu kesombongan yang bodoh dan sia-sia. Nona berbakat, kalau mau menjadi muridku tentu akan memiliki bekal yang kuat untuk melakukan perjalanan seorang diri," kata tulisan itu.
Kim Hong tertegun dan termenung, ia harus mencari ayah kandungnya, akan tetapi kalau baru saja keluar sudah hampir gagal karena ia kurang mampu membela diri, bagaimana kalau di depan benar-benar bertemu lawan yang lebih lihai dari Bouw Hun? Usahanya akan sia sia, dan iapun akan tertimpa malapetaka. Setelah mempertimbangkan dan yakin akan kemampuan si gagu, tiba-tiba Kim Hong menjatuhkan diri berlutut didepan tukang perahu itu dan memberi hormat.
"Teecu (murid) Can Kim Hong memberi hormat kepada suhu......"
Kim Hong memandang ke atas tanah sebagai isyarat bahwa ia menunggu jawaban orang itu dengan tulisan. Si gagu kembali tersenyum lebar dan ujung ranting itu cepat mencoret beberapa huruf di atas tanah.
"Hek-Liong (Naga Hitam) Kwan Bhok Cu!" Kim Hong membaca dan ia kembali memberi hormat.
"Teecu Can Kim Hong memberi hormat kepada suhu Kwan Bhok Cu yang berjuluk Naga Hitam!"
Kembali pria itu menuliskan diatas tanah dengan ranting kemudian dia menghapus tulisan tadi sehingga permukaan tanah rata kembali.
"Aku mau menjadi gurumu, dengan syarat bahwa selama dua tahun engkau ikut ke manapun aku pergi, mentaati semua perintahku, berlatih dengan tekun dan sekali saja engkau mencoba meninggalkan aku sebelum kuberi ijin, aku akan membunuhmu. Bagaimana?"
Kim Hong terkejut. Betapa kerasnya peraturan orang ini. Akan tetapi, karena ia ingin sekali memiliki ilmu kepandaian yang dapat mengalahkan orang seperti gurunya, maka dengan nekat iapun mengangguk dan menjawab dengan suara yang tegas.
"Teecu bersedia!"
Si gagu lalu memberi isyarat kepada Kim Hong untuk naik kembali ke dalam perahu kecil. Kim Hong mentaati dan merekapun kembali ke dalam perahu. Si gagu mendayung perahu yang meluncur cepat seperti anak panah terlepas dari busurnya.
Demikianlah, semenjak hari itu, Kim Hong menjadi murid Si Naga Hitam yang gagu. Dia digembleng dengan keras dan tekun, dan karena Kim Hong memiliki bakat yang baik, dan iapun sudah memiliki dasar ilmu silat yang cukup mendalam berkat pendidikan Bouw Hun, maka dalam dua tahun digembleng, ia memperoleh kemajuan yang amat pesat. Bukan hanya ilmu silat, tenaga sakti sin-kang dan juga ilmu meringankan tubuh, akan tetapi juga gadis itu menerima ilmu bermain di dalam air. ia bukan saja pandai renang seperti ikan, akan tetapi juga tahan menyelam sampai lama, tidak seperti kemampuan orang biasa, dan di dalam airpun ia dapat bergerak dengan gesit.
Selama dua tahun lebih, Kim Hong membuktikan bahwa biarpun ia suka berkelakar, lincah galak Jenaka dan ugal ugalan, namun ia taat dan tekun berlatih sehingga belum pernah gurunya yang gagu itu merasa kecewa atau menyesal. Bahkan sejak mempunyai Kim Hong sebagai muridnya, si gagu itu nampak selalu cerah dan berseri, selalu gembira dan diam-¬diam dia amat menyayang gadis itu seperti anaknya sendiri. Itulah sebabnya maka dia ingin menjadikan Kim Hong seorang gadis yang benar-benar tangguh.
Pada suatu hari, ia memanggil Kim Hong dan gadis itu seperti biasa, telah mempersiapkan sebatang ranting untuk menjadi alat tulis bagi gurunya sebagai pengganti kata-kata. Akan tetapi, kalau ada orang lain melihat cara guru itu "bicara" kepada muridnya melalui tulisan, mereka akan terlongong heran. Si Naga Hitam sama sekali tidak mencoret ke atas tanah lagi seperti dua tahun yang lalu, melainkan dia menggunakan ranting itu untuk membuat gerakan mencoret-¬coret di udara! Dan hebatnya, Kim Hong dapat mengikuti setiap gerakan corat-coret itu dan membacanya, walaupun tentu saja dipandang dari sudutnya yang berhadapan, huruf-¬huruf yang ditulis di udara itu terbalik! Inilah merupakan semacam ilmu yang dikuasainya karena kebiasaan.
Selama dua tahun, gurunya selalu bicara engan coretan huruf dan gadis itu sedemikian hafal dengan gerakan itu sehingga lambat laun, gurunya tidak perlu lagi menulis di atas tanah, cukup membuat gerakan menulis di udara. Dan "ilmu" ini ternyata mendatangkan kemajuan pesat bukan main dalam ilmu silat Kim Hong, karena pandang matanya kini amat peka dan tajam, dapat mengikuti gerakan ranting yang sengaja dipercepat oleh si gagu kalau dia menuliskan huruf di udara.
"Semua ilmu simpanan telah kuajarkan padamu," demikian bunyi coretn di udara itu, diikuti dengan seksam oleh Kim Hong. "Akan tetapi aku ingin engkau memiliki kekebalan terhadap segala macam racun sehingga engkau tidak dapat dicurangi lawan yang jahat dan yang suka menggunakan racun untuk menjatuhkan lawan. Untuk keperluan itu, sekarang juga engkau harus pergi mencarii Ang-thouw-hek¬coa (Ular Hitam Kepala Merah). Jangan kembali ke sini sebelum engkau membawa seekor Ang-thouw coa. Pergilah engkau ke Bukit Hitam di lembah sungai Yang-ce sebelah utara. Tempat itu amat berbahaya, dan engkau berhati-hatilah. Sekali terkena gigitan ular itu, kekuatan tubuhmu tidak akan mampu melindungimu. Nah, berangkat lah dan jangan ragu!"
Seperti biasa, Kim Hong menaati perintah ini. Setelah membawa bekal pakaian, iapun berangkat. Dan pada suatu pagi, tibalah ia di kaki Bukit Hitam dan sikapnya membuat para petani di kaki bukit itu terkejuf dan ketakutan, mengira ia seorang siluman.
Biarpun Kim Hong memiliki watak yang lincah Jenaka, galak dan ugal-ugalan, akan tetapi iapun selalu waspada dan tidak ceroboh. Apa lagi melihat sikap para petani di kaki bukit, ia tahu bahwa bukit yang didaki itu merupakan tempat yang berbahaya, Juga gurunya menuliskan bahwa Bukit Hitam merupakan tempat berbahaya dan ia harus berhati-hati. Itulah sebabnya, setelah memasuki hutan pertama, ia mendaki dengan hati-hati dan tidak tergesa-gesa waspada terhadap sekelilingnya.
Dalam keadaan seperti itu, gadis ini waspada dan seluruh pancaindera dan urat syarafnya dalam keadaan peka dan siap siaga sehingga ada gerakan sedikit saja, ada bau apa saja dan pendengaran apa saja, ia pasti dapat menangkapnya dengan cepat. Inilah hasil dari kepekaan yang didapat karena selama dua tahun lebih, setiap hari ia mengikuti dan menangkap gerakan ranting di tangan suhunya setiap kali berbicaran ke padanya. Bukan hanya matanya yang amat jeli, juga pendengarannya sehingga ia dapat mengikuti gerakan ranting di tangan suhunya dengan pendengarannya saja. Tanpa melihatpun, ia dapat mendengarkan dan mengetahui huruf apa yang ditulis suhunya di udara!
Tiba-tiba ia berhenti, hidungnya yang kecil mancung itu bergerak-gerak sedikit, atau lebih tepat lagi, cuping hidung yang tipis itu kembang kempis, ia mencium sesuatu! Di dalam hutan seperti itu yang hawanya lembab, memang terdapat banyak macam bau yang ditimbulkan oleh kebasahan tanah yang ditilami daun-daun kering membusuk, daun-daun yang basah, kembang-kembang hutan, kotoran binatang, dan sebagainya. Akan tetapi Kim Hong mencium bau bangkai!
Tentu saja karena tidak berpengalamanan dalam hal ini, ia tidak dapat membedakan bangkai apa yang menghamburkan bau busuk itu, bangkai binatang ataukah manusia, ia menghampiri dan menutupi hidungnya ketika melihat bahwa yang berbau busuk itu adalah mayat seorang manusia. Agaknya baru beberapa hari orang laki-laki itu tewas. Mukanya belum rusak, akan tetapi kulitnya sudah mulai rusak dan membusuk. Sekali pandang saja tahulah Kim Hong bahwa orang itu tewas karena luka berat di kepalanya, bahkan kepala itu melihat bentuknya sudah tidak utuh lagi, retak atau pecah. Dan ia melihat tanda menghitam seperti jari-jari tangan di pelipis kanan mayat itu.
Kim Hong melanjutkan perjalanannya, mendaki ke atas. Dan di sepanjang perjalanan mendaki yang sukar karena tempat itu licin dan banyak terdapat jurang yang curam, ia melihat mayat-mayat berserakan. Semua ada tujuh orang banyaknya! ia semakin waspada. Betul pesan suhunya, dan benar pula keterangan para petani tadi. Tempat ini berbahaya sekali. Melihat keadaan tujuh orang itu, yang tewas dengan tanda-tanda bekas jari menghitam, mereka tentulah bukan orang-orang sembarangan. Rata-rata bertubuh tegap dan kokoh kuat, dan di dekat mereka selalu terdapat senjata, agaknya senjata mayat itu. Ada pedang, golok, tombak dan lain-lain, yang kesemuanya menunjukkan senjata yang cukup baik. Ada pembunuh yang meninggalkan tapak jari hitam di tempat ini, pikirnya!
Suara mendesis dari sebelah kiri membuat Kim Hong meloncat dan menjauh. Seekor ular yang panjangnya satu setengah depa bergerak cepat ke arahnya. Ular itu agaknya galak, berani menyerang manusia. Akan tetapi bukan ular yang ia cari karena ular ini belang-belang, dan panjang. Pada hal Ang-thouw-hek-coa, menurut suhunya, hanya sebesar ibu jari tangan dan panjangnya tidak lebih dari dua tiga jengkal saja.
Tangan Kim Hong menyambar sebatang ranting dan sekali ranting bergerak, ular itu melingkar-lingkar dan menggeliat-geliat sekarat dengan kepala tertembus ujung ranting yang menghunjam ke dalam tanah.
Tiba-tiba pendengarannya menangkap suara nyanyian aneh, terdengar asing sekali baginya, lapun menyelinap di antara pohon-pohon dengan tetap waspada karena ia tidak mau kalau tiba-tiba kakinya dipagut ular berbisa, ia menyusup-nyusup sampai ke tempat dari mana suara itu datang dan tak lama kemudian, ia sudah mengintai dari balik semak belukar dengan mata terbelalak heran.
Tiga belas orang duduk bersila di tempat terbuka dalam setengah lingkaran. Di depan setiap orang nampak sebatang hio besar menancap di atas tanah dan terbakar membara, mengeluarkan asap yang baunya aneh. Bau ini tadi bahkan pernah tercium oleh Kim Hong, akan tetapi disangkanya bau itu datang dari semacam kembang yang tidak dikenalnya. Dan tiga belas orang inilah yang bernyanyi, nyanyian dalam bahasa aneh yang tidak dikenalnya. Melihat pakaian mereka, orang-¬orang itu tentu bangsa campuran. Ada yang berpakaian Han, ada yang seperti pakaian orang Uigur Man-cu, dan Mongol. Mereka terdiri dari sepuluh orang laki-laki dan tiga orang wanita, usia mereka sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun.
Suara nyanyian mereka semakin meninggi dan menggetarkan suasana. Kim Hong terkejut dan cepat mengerahkan sin-kan untuk melawan pengaruh suara yang menggetarkan jantungnya itu. Dan tak lama kemudian, tercium bau yang memuakkan, amis dan keras, dan nampak puluhan ekor ulat berbondong-bondong datang, berlenggang-¬lenggok memasuki tempat itu, ke dalam setengah lingkaran, berkumpul di tengah dan mereka nampak jinak-jinak! Ular-ular terus berdatangan sehingga jumlahnya tidak kurang dari seratus ekor, ada yang besar ada yang kecil dan dari bermacam warna. Dengan tertarik sekali Kim Hong memandang dan mengamati dari tempat pengintaiannya, akan tetapi hatinya kecewa. Tidak seekorpun di antara banyak ular itu yang warnya seperti ular yang dicarinya. Tidak ada Ang¬thouw-hek-coa di situ!
Melihat demikian banyaknya ular, biarpun ia tidak takut, namun ia merasa jijik dan otomatis tangannya menyambar sebatang ranting untuk mempersiap kan diri kalau-kalau ular-¬ular menjijikkan itu tiba-tiba menyerangnya. Gurunya yang pertama, yaitu Bouw Hun kepala suku Khitan, pernah memberi tahu kepadanya bahwa untuk menghadapi ular-ular, paling baik mempergunakan ranting, terutama sekali ranting bambu. Sekali saja terkena sabetan ranting yang sebesar jari tangan, ruas tulang seekor ular dapat dibuat terlepas dan binatang itu tentu tidak dapat lari lagi. Menggunakan pemukul yang besar tidak menguntungkan karena ular itu pandai mengelak dengan tubuhnya yang berkulit licin. Sabetan ranting kecil yang melintang tidak dapat dielakkan.
Kini tiga belas orang itu, yang tadinya bersila, berlutut dan menyembah-nyembah ke arah sekumpulan ular, dan mulut mereka masih mengeluarkan suara nyanyian aneh itu. Kim Hong dapat menduga bahwa mereka ini adalah segerombolan orang sesat penyembah ular! Pernah ia mendengar dari Bouw Hun bahwa memang terdapat orang-orang yang menyembah ular yang dianggap sebagai dewa-dewa tanah. Dan orang-¬orang seperti itu memiliki ilmu menalukkan ular, mereka adalah pawang-pawang ular yang pandai dan juga ahli racun ular sehingga merupakan musuh yang amat berbahaya!
Akan tetapi menurut guru pertamanya itu, para penyembah ular ini bukan orang yang suka melakukan kejahatan, tidak suka merampok atau mengganggu orang lain dan hanya bertindak keras kalau diganggu. Mereka mendapatkan penghasilan dari menjual racun-racun ular kepada rumah-rumah obat yang membutuhkan racun untuk berbagai keperluan pengobatan. Mereka ahli mengolah racun berbagai macam ular menjadi pel, dan setiap macam racun ular tertentu mempunyai manfaat tertentu pula. Racun-racun yang sudah menjadi pel itu amat mahal sehingga kehidupan para penyembah ular ini cukup makmur.
Tiba-tiba datang pula seekor ular besar dan ular itu menggigit bangkai seekor ular lain. Melihat ini, berdebar rasa jantung Kim Hong karena ia melihat betapa ular yang mati dan yang dibawa ular besar itu masih tertusuk ranting. Itulah ular yang menyerangnya tadi dan yang telah dibunuhnya!
Seorang di antara tiga belas orang itu, laki-laki berusia empat puluhan tahun, tubuhnya tinggi kurus seperti ular, matanya sipit dan hidungnya pesek, bangkit dan menghampiri ular besar, lalu memeriksa ular yang mati. Alisnya berkerut dan diapun berkata dalam bahasa Han kepada ular besar yang kulitnya keputih-putihan itu.
"Pek-coa, kau cari pembunuhnya dan bawa dia ke sini, hidup atau mati!"
Ular besar putih itu seolah mengerti apa yang diucapkan si mata sipit. Seperti seekor anjing pelacak, dia mencium-cium ke arah ranting yang masih menancap di kepala rekannya, kemudian diapun bergerak pergi dengan cepat, menghilang ke dalam rumpun ilalang!
Diam-diam Kim Hong bergidik ngeri. Ketika ia memandang lagi, si mata sipit itu kini mengeluarkan sebatang pisau tajam, lalu melepaskan daging dan kulit ular yang mati itu dengan hati-hati agar jangan merusak tulangnya. Kemudian, daging itu dia kerat-kerat dan dia lemparkan ke arah ular-ular yang segera memperebutkannya seperti sekumpulan ayam kelaparan dilempar jagung. Dan tulang itu, masih utuh berikut kepalanya yang sudah dilepas dari ranting yang menembusnya, lalu dikubur di tengah¬tengah lingkaran itu dengan dibantu oleh teman-temannya, kemudian mereka bersembahyang di depan "Makam" kecil tulang ular itu!
Akan tetapi, pada pagi hari itu para petani yang sedang menggarap sawah di kaki bukit sebelah timur, menghentikan pekerjaan mereka dan mata mereka terbelalak memandang kepada seorang gadis yang melenggang seorang diri melalui jalan dusun itu menuju ke arah Bukit Hitam! Kalau saja gadis itu merupakan seorang wanita yang berwajah mengerikan, atau setidaknya nampak seperti seorang wanita kang-ouw yang gagah perkasa, agaknya para petani tidak akan menjadi bengong memandangnya.
Akan tetapi, gadis itu demikian cantik jelita dan lembut, langkahnya juga lemah gemulai seperti orang menari saja. Gadis itu masih muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya, dan ia cantik jelita, wajahnya yang bulat telur dengan kulit muka putih kemerahan tanpa bedak dan gincu. Rambutnya hitam lebat dan agak berombak, dengan anak rambut bermain di dahi dan pelipis, melingkar-lingkar. Akan tetapi yang teramat indah adalah matanya dan mulutnya. Sepasang mata itu lebar dan bersinar--sinar, dengan kedua ujung agak menyerong ke atas dan mata itu makin indah karena dihias bulu mata yang panjang lentik. Dan mulutnya! Bibir itu selalu nampak basah dan merah segar, lengkungnya seperti gendewa terpentang, kalau senyum sedikit saja nampak lesung pipit di sebelah kiri mulutnya. Mulut itu menantang dan menggemaskan! Tubuhnya ramping dan padat, dengan lekuk lengkung yang sempurna. Pakaiannya memang sederhana, terbuat dari kain yang kasar, namun bersih dan karena bentuk tubuhnya memang menggairahkan, mengenakan pakaian apapun akan pantas saja.
Agaknya gadis yang melangkah seorang diri sambil senyum-senyum pada burung-burung yang beterbangan, kepada kerbau-kerbau yang meluku di sawah, kepada para petani, menyadari pula bahwa orang-orang itu berhenti bekerja dan memandangnya penuh perhatian. Namun, pandangan mata para petani itu jauh bedanya, bagaikan bumi dan langit dengan pandang mata para pemuda yang pernah dijumpainya selama ini. Pandang mata para pemuda, terutama pemuda kota mengandung kekurangajaran dan kegenitan. Sebaliknya, pandang mata para petani itu hanya membayangkan keheranan dan keinginan tahu. ia lalu menghampiri mereka.
"Para paman yang baik, benarkah dugaanku bahwa bukit di depan itu yang dinamakan orang Bukit Hitam?"
"Betul nona," kata seorang di antara mereka, seorang petani berusia lima puluh tahun lebih.
"Ah, kalau betul dugaanku. Nah, terima kasih, paman. Pagi ini cerah sekali, aku ingin cepat-cepat sampai di sana."
Gadis itu meninggalkan senyum yang manis sekali kepada mereka lalu memutar tubuh hendak melanjutkan perjalanannya sambil memandang ke arah bukit itu.
"Maaf, nona, apakah nona hendak pergi mendaki Bukit Hitam?"
Suara kakek itu yang membuat si gadis cepat membalikkan tubuh menghadapinya dan memandangnya. Dalam suara kakek itu terkandung kekhawatiran besar.
"Benar, paman. Kenapa?"
"Aahhh.......!"
Semua orang yang mendengar jawaban ini mengeluarkan suara seruan kaget dan khawatir, membuat gadis itu makin tertarik.
"Nona, kami tahu bahwa nona tentulah bukan orang dari daerah sini. Nona agaknya belum mengenal Bukit Hitam maka berani hendak mendakinya. Tentu nona belum pernah ke sana, bukan?"
Gadis itu menggeleng kepala.
"Belum pernah, paman, akan tetapi kenapa?"
"Aihh, kalau begitu, kami mohon sebaiknya nona jangan sekali-sekali mendaki bukit itu! Maut yang mengerikan menanti nona di sana!" Kakek itu menunjuk ke arah Bikit Hitam dan mukanya agak pucat.
"En, kenapa begitu? Ada apanya sih di atas sana?" Gadis Itu memandang dan menunjuk ke arah bukit, mulutnya tetap tersenyum.
"Apa saja yang dapat mencabut nyawa berada di sana, nona!" kata petani itu. "Binatang buas, ular-ular berbisa, penjahat-penjahat pelarian yang menyembunyikan diri, dan belum lagi... setan dan iblis, siluman dan segala macam arwah penasaran menjadi penghuni hutan di bukit itu!"
Gadis itu membelalakkan matanya yang lebar sehingga mata itu nampak seperti sepasang bintang yang cemerlang
"Ih, kalau benar di sana terdapat demikian banyaknya pencabut nyawa, kenapa kalian enak-enak saja bekerja di sini, di kaki bukit itu tanpa rasa takut?"
”Di sini lain lagi halnya, nona. Bukit itu telah menjadi bukit yang ditakuti semenjak nenek moyang kami yang tinggal di sini. Siapapun yang berani ke bukit itu, pasti akan mengalami kematian mengerikan. Akan tetapi, belum pernah penghuni di kaki bukit ada yang diganggu. Maka, sekali lagi, kalau nona hanya hendak melihat pemandangan alam, pergilah ke bukit lain, jangan ke Bukit Hitam."
"Benar, nona, jangan pergi ke sana. Engkau masih begini muda..... betapa mengerikan kalau engkau menjadi korban pula!" kata seorang petani lain.
Gadis itu tersenyum.
"Terima kasih atas nasihat para paman di sini. Akan tetapi aku mempunyai urusan dan keperluan di bukit itu. Nah, selamat tinggal!" Gadis itu melangkah lagi.
"Nona......, nona. . . . !" Petani itu masih berteriak gelisah. "Urusan apa yang nona punyai ditempat seperti itu?"
Sambil terus melangkah dan menoleh sedikit gadis itu manjawab,
"Urusanku justeru ingin bertemu dengan binatang buas, ular berbisa, penjahat dan setan siluman!"
Mendengar jawaban ini, para petani menjadi bengong! Kemudian, mata mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga ketika mereka melihat gadis itu berkelebat dan bayangannya lenyap ke arah bukit itu!
"Hiii.... ia..... ia...." seorang tergagap.
"si..... si... siluman.." yang lain menyambung.
Belasan orang petani itu lalu bergerombol, saling berhimpitan dan dengan tubuh gemetar menanti melapetaka apa yang akan menimpa mereka. Baru setelah lewat sejam dan tidak terjadi sesuatu, mereka berani melanjutkan, akan tetapi sama sekali tidak berani membicarakan gadis tadi selama mereka bekerja di sawah. Baru nanti setelah mereka pulang, akan ramailah di dusun mereka mendengar kisah yang aneh tentang gadis cantik yang berani mendaki Bukit Hitam dan pandai menghilang. Mereka semua yakin bahwa gadis cantik tadi pastilah siluman!
Begitu banyaknya orang membicarakan tentang setan iblis dan siluman dan mereka semua takut kepada siluman. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang benar-benar melihat siluman. Mereka sudah banyak mendengar tentang setan, akan tetapi belum pernah melihatnya sendiri secara jelas. Kalau pun ada yang pernah melihatnya, yang terlihat hanya bayangan atau samar-samar saja sehingga tidak dapat ditentukan bahwa yang dilihatnya adalah setan! Justeru inilah yang mendatangkan rasa takut, justeru karena tidak dapat dilihat. Andaikata setan dan iblis dapat dilihat, maka dia tidak akan ditakuti manusia lagi. Mahluk yang paling buas dan besarpun, asalkan dia dapat dilihat, mudah ditaklukkan oleh manusia. Setan dan iblispun, kalau terlihat, tentu akan dapat ditaklukkan manusia.
Rasa takut timbul karena ulah permainan pikiran. Pikiran membayangkan dan mengkhayalkan yang seram-seram, yang mengerikan, dan timbullah rasa takut. Takut adalah permainan pikiran membayangkan hal yang belum ada, yang belum terjadi. Orang takut terkena penyakit karena dia belum sakit. Kalau dia sudah terkena penyakit, dia tidak takut lagi kepada penyakit itu, yang ditakuti adalah akibat lain yang belum terjadi, misalnya takut kalau-kalau sakitnya itu akan membuatnya mati, takut kalau kelak mati dia akan tersiksa dan sebagainya dan selanjutnya.
Siapakah gadis cantik jelita yang demikian besar nyalinya mendaki Bukit Hitam, bahkan yang seolah dapat menghilang dari pandang mata para petani? ia bukanlah siluman, bukan iblis atau setan, ia seorang manusia biasa, dari darah dan daging, dan ia bukan lain adalah Can Kim Hong!
Dua tahun telah lewat semenjak Kim Hong diselamatkan oleh seorang kakek gagu dari tangan gurunya sendiri dan putera gurunya, yaitu Bouw Hun dan puteranya, Bouw Ki. Bouw Ki, suhengnya itu, tergila-gila kepadanya dan hendak memaksanya menjadi isterinya, dibantu oleh ayah suhengnya atau gurunya sendiri. ia melarikan diri akan tetapi dapat disusul mereka, dan tentu ia akan terjatuh ke tangan mereka kalau saja tidak muncul kakek gagu yang mengalahkan ayah dan anak itu, kemudian yang mengantarkan Kim Hong menyeberangi sungai kepantai selatan.
Setelah tiba di tepi sungai sebelah selatan, Kim Hong hendak memberi upah kepada tukang perahu yang gagu itu, akan tetapi si tukang perahu menolak, kemudian mencoba untuk menyatakan isi hatinya dengan gerakan tangan. Namun, Kim Hong tidak mengerti.
"Aih, paman yang gagah dan baik, apa sih yang hendak kaukatakan dengan gerakan jari tangan itu? Aku tidak mengerti!" kata Kim Hong.
Si gagu tersenyum dan diam-diam Kim Hong merasa senang kepada kakek itu. Bukan hanya karena kakek itu dengan amat mudahnya mengalahkan gurunya yang merupakan datuk orang Khitan, akan tetapi juga senyum kakek itu membuat wajahnya nampak ramah dan menyenangkan, juga masih nampak betapa si gagu ini adalah seorang pria yang tampan. Dari bentuk wajahnya, sinar matanya, dapat diduga bahwa si gagu ini bukan orang kebanyakan, karena selain wajahnya tampan dan nampak rapi dan bersih, juga matanya mengandung wibawa yang besar. Pakaiannya serba hitam sederhana, bahkan caping lebar yang menutupi kepalanya juga hitam. Yang putih hanya rambutnya, yang panjang dan tiga perempat bagian sudah putih.
Sambil tersenyum si gagu lalu membuat coretan di atas tanah dengan sebatang ranting. Kim Hong membaca coret-¬coretan yang membentuk huruf itu.
"Di depan terdapat para penjahat yang jauh lebih berbahaya dari pada dua orang tadi," demikian bunyi tulisan itu.
Kim Hong tersenyum. Kiranya orang ini hendak memperingatkan ia bahwa kalau ia melanjutkan perjalanan, akan banyak menemui penjahat yang bahkan lebih lihai dari pada gurunya!
"Aku tidak takut, paman!" katanya.
Si gagu menulis lagi. Coretannya cepat dan bertenaga sehingoa membentuk huruf-huruf yang dalam dan mudah dibaca di atas tanah.
"Keberanian tanpa didasari kekuatan suatu kesombongan yang bodoh dan sia-sia. Nona berbakat, kalau mau menjadi muridku tentu akan memiliki bekal yang kuat untuk melakukan perjalanan seorang diri," kata tulisan itu.
Kim Hong tertegun dan termenung, ia harus mencari ayah kandungnya, akan tetapi kalau baru saja keluar sudah hampir gagal karena ia kurang mampu membela diri, bagaimana kalau di depan benar-benar bertemu lawan yang lebih lihai dari Bouw Hun? Usahanya akan sia sia, dan iapun akan tertimpa malapetaka. Setelah mempertimbangkan dan yakin akan kemampuan si gagu, tiba-tiba Kim Hong menjatuhkan diri berlutut didepan tukang perahu itu dan memberi hormat.
"Teecu (murid) Can Kim Hong memberi hormat kepada suhu......"
Kim Hong memandang ke atas tanah sebagai isyarat bahwa ia menunggu jawaban orang itu dengan tulisan. Si gagu kembali tersenyum lebar dan ujung ranting itu cepat mencoret beberapa huruf di atas tanah.
"Hek-Liong (Naga Hitam) Kwan Bhok Cu!" Kim Hong membaca dan ia kembali memberi hormat.
"Teecu Can Kim Hong memberi hormat kepada suhu Kwan Bhok Cu yang berjuluk Naga Hitam!"
Kembali pria itu menuliskan diatas tanah dengan ranting kemudian dia menghapus tulisan tadi sehingga permukaan tanah rata kembali.
"Aku mau menjadi gurumu, dengan syarat bahwa selama dua tahun engkau ikut ke manapun aku pergi, mentaati semua perintahku, berlatih dengan tekun dan sekali saja engkau mencoba meninggalkan aku sebelum kuberi ijin, aku akan membunuhmu. Bagaimana?"
Kim Hong terkejut. Betapa kerasnya peraturan orang ini. Akan tetapi, karena ia ingin sekali memiliki ilmu kepandaian yang dapat mengalahkan orang seperti gurunya, maka dengan nekat iapun mengangguk dan menjawab dengan suara yang tegas.
"Teecu bersedia!"
Si gagu lalu memberi isyarat kepada Kim Hong untuk naik kembali ke dalam perahu kecil. Kim Hong mentaati dan merekapun kembali ke dalam perahu. Si gagu mendayung perahu yang meluncur cepat seperti anak panah terlepas dari busurnya.
Demikianlah, semenjak hari itu, Kim Hong menjadi murid Si Naga Hitam yang gagu. Dia digembleng dengan keras dan tekun, dan karena Kim Hong memiliki bakat yang baik, dan iapun sudah memiliki dasar ilmu silat yang cukup mendalam berkat pendidikan Bouw Hun, maka dalam dua tahun digembleng, ia memperoleh kemajuan yang amat pesat. Bukan hanya ilmu silat, tenaga sakti sin-kang dan juga ilmu meringankan tubuh, akan tetapi juga gadis itu menerima ilmu bermain di dalam air. ia bukan saja pandai renang seperti ikan, akan tetapi juga tahan menyelam sampai lama, tidak seperti kemampuan orang biasa, dan di dalam airpun ia dapat bergerak dengan gesit.
Selama dua tahun lebih, Kim Hong membuktikan bahwa biarpun ia suka berkelakar, lincah galak Jenaka dan ugal ugalan, namun ia taat dan tekun berlatih sehingga belum pernah gurunya yang gagu itu merasa kecewa atau menyesal. Bahkan sejak mempunyai Kim Hong sebagai muridnya, si gagu itu nampak selalu cerah dan berseri, selalu gembira dan diam-¬diam dia amat menyayang gadis itu seperti anaknya sendiri. Itulah sebabnya maka dia ingin menjadikan Kim Hong seorang gadis yang benar-benar tangguh.
Pada suatu hari, ia memanggil Kim Hong dan gadis itu seperti biasa, telah mempersiapkan sebatang ranting untuk menjadi alat tulis bagi gurunya sebagai pengganti kata-kata. Akan tetapi, kalau ada orang lain melihat cara guru itu "bicara" kepada muridnya melalui tulisan, mereka akan terlongong heran. Si Naga Hitam sama sekali tidak mencoret ke atas tanah lagi seperti dua tahun yang lalu, melainkan dia menggunakan ranting itu untuk membuat gerakan mencoret-¬coret di udara! Dan hebatnya, Kim Hong dapat mengikuti setiap gerakan corat-coret itu dan membacanya, walaupun tentu saja dipandang dari sudutnya yang berhadapan, huruf-¬huruf yang ditulis di udara itu terbalik! Inilah merupakan semacam ilmu yang dikuasainya karena kebiasaan.
Selama dua tahun, gurunya selalu bicara engan coretan huruf dan gadis itu sedemikian hafal dengan gerakan itu sehingga lambat laun, gurunya tidak perlu lagi menulis di atas tanah, cukup membuat gerakan menulis di udara. Dan "ilmu" ini ternyata mendatangkan kemajuan pesat bukan main dalam ilmu silat Kim Hong, karena pandang matanya kini amat peka dan tajam, dapat mengikuti gerakan ranting yang sengaja dipercepat oleh si gagu kalau dia menuliskan huruf di udara.
"Semua ilmu simpanan telah kuajarkan padamu," demikian bunyi coretn di udara itu, diikuti dengan seksam oleh Kim Hong. "Akan tetapi aku ingin engkau memiliki kekebalan terhadap segala macam racun sehingga engkau tidak dapat dicurangi lawan yang jahat dan yang suka menggunakan racun untuk menjatuhkan lawan. Untuk keperluan itu, sekarang juga engkau harus pergi mencarii Ang-thouw-hek¬coa (Ular Hitam Kepala Merah). Jangan kembali ke sini sebelum engkau membawa seekor Ang-thouw coa. Pergilah engkau ke Bukit Hitam di lembah sungai Yang-ce sebelah utara. Tempat itu amat berbahaya, dan engkau berhati-hatilah. Sekali terkena gigitan ular itu, kekuatan tubuhmu tidak akan mampu melindungimu. Nah, berangkat lah dan jangan ragu!"
Seperti biasa, Kim Hong menaati perintah ini. Setelah membawa bekal pakaian, iapun berangkat. Dan pada suatu pagi, tibalah ia di kaki Bukit Hitam dan sikapnya membuat para petani di kaki bukit itu terkejuf dan ketakutan, mengira ia seorang siluman.
Biarpun Kim Hong memiliki watak yang lincah Jenaka, galak dan ugal-ugalan, akan tetapi iapun selalu waspada dan tidak ceroboh. Apa lagi melihat sikap para petani di kaki bukit, ia tahu bahwa bukit yang didaki itu merupakan tempat yang berbahaya, Juga gurunya menuliskan bahwa Bukit Hitam merupakan tempat berbahaya dan ia harus berhati-hati. Itulah sebabnya, setelah memasuki hutan pertama, ia mendaki dengan hati-hati dan tidak tergesa-gesa waspada terhadap sekelilingnya.
Dalam keadaan seperti itu, gadis ini waspada dan seluruh pancaindera dan urat syarafnya dalam keadaan peka dan siap siaga sehingga ada gerakan sedikit saja, ada bau apa saja dan pendengaran apa saja, ia pasti dapat menangkapnya dengan cepat. Inilah hasil dari kepekaan yang didapat karena selama dua tahun lebih, setiap hari ia mengikuti dan menangkap gerakan ranting di tangan suhunya setiap kali berbicaran ke padanya. Bukan hanya matanya yang amat jeli, juga pendengarannya sehingga ia dapat mengikuti gerakan ranting di tangan suhunya dengan pendengarannya saja. Tanpa melihatpun, ia dapat mendengarkan dan mengetahui huruf apa yang ditulis suhunya di udara!
Tiba-tiba ia berhenti, hidungnya yang kecil mancung itu bergerak-gerak sedikit, atau lebih tepat lagi, cuping hidung yang tipis itu kembang kempis, ia mencium sesuatu! Di dalam hutan seperti itu yang hawanya lembab, memang terdapat banyak macam bau yang ditimbulkan oleh kebasahan tanah yang ditilami daun-daun kering membusuk, daun-daun yang basah, kembang-kembang hutan, kotoran binatang, dan sebagainya. Akan tetapi Kim Hong mencium bau bangkai!
Tentu saja karena tidak berpengalamanan dalam hal ini, ia tidak dapat membedakan bangkai apa yang menghamburkan bau busuk itu, bangkai binatang ataukah manusia, ia menghampiri dan menutupi hidungnya ketika melihat bahwa yang berbau busuk itu adalah mayat seorang manusia. Agaknya baru beberapa hari orang laki-laki itu tewas. Mukanya belum rusak, akan tetapi kulitnya sudah mulai rusak dan membusuk. Sekali pandang saja tahulah Kim Hong bahwa orang itu tewas karena luka berat di kepalanya, bahkan kepala itu melihat bentuknya sudah tidak utuh lagi, retak atau pecah. Dan ia melihat tanda menghitam seperti jari-jari tangan di pelipis kanan mayat itu.
Kim Hong melanjutkan perjalanannya, mendaki ke atas. Dan di sepanjang perjalanan mendaki yang sukar karena tempat itu licin dan banyak terdapat jurang yang curam, ia melihat mayat-mayat berserakan. Semua ada tujuh orang banyaknya! ia semakin waspada. Betul pesan suhunya, dan benar pula keterangan para petani tadi. Tempat ini berbahaya sekali. Melihat keadaan tujuh orang itu, yang tewas dengan tanda-tanda bekas jari menghitam, mereka tentulah bukan orang-orang sembarangan. Rata-rata bertubuh tegap dan kokoh kuat, dan di dekat mereka selalu terdapat senjata, agaknya senjata mayat itu. Ada pedang, golok, tombak dan lain-lain, yang kesemuanya menunjukkan senjata yang cukup baik. Ada pembunuh yang meninggalkan tapak jari hitam di tempat ini, pikirnya!
Suara mendesis dari sebelah kiri membuat Kim Hong meloncat dan menjauh. Seekor ular yang panjangnya satu setengah depa bergerak cepat ke arahnya. Ular itu agaknya galak, berani menyerang manusia. Akan tetapi bukan ular yang ia cari karena ular ini belang-belang, dan panjang. Pada hal Ang-thouw-hek-coa, menurut suhunya, hanya sebesar ibu jari tangan dan panjangnya tidak lebih dari dua tiga jengkal saja.
Tangan Kim Hong menyambar sebatang ranting dan sekali ranting bergerak, ular itu melingkar-lingkar dan menggeliat-geliat sekarat dengan kepala tertembus ujung ranting yang menghunjam ke dalam tanah.
Tiba-tiba pendengarannya menangkap suara nyanyian aneh, terdengar asing sekali baginya, lapun menyelinap di antara pohon-pohon dengan tetap waspada karena ia tidak mau kalau tiba-tiba kakinya dipagut ular berbisa, ia menyusup-nyusup sampai ke tempat dari mana suara itu datang dan tak lama kemudian, ia sudah mengintai dari balik semak belukar dengan mata terbelalak heran.
Tiga belas orang duduk bersila di tempat terbuka dalam setengah lingkaran. Di depan setiap orang nampak sebatang hio besar menancap di atas tanah dan terbakar membara, mengeluarkan asap yang baunya aneh. Bau ini tadi bahkan pernah tercium oleh Kim Hong, akan tetapi disangkanya bau itu datang dari semacam kembang yang tidak dikenalnya. Dan tiga belas orang inilah yang bernyanyi, nyanyian dalam bahasa aneh yang tidak dikenalnya. Melihat pakaian mereka, orang-¬orang itu tentu bangsa campuran. Ada yang berpakaian Han, ada yang seperti pakaian orang Uigur Man-cu, dan Mongol. Mereka terdiri dari sepuluh orang laki-laki dan tiga orang wanita, usia mereka sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun.
Suara nyanyian mereka semakin meninggi dan menggetarkan suasana. Kim Hong terkejut dan cepat mengerahkan sin-kan untuk melawan pengaruh suara yang menggetarkan jantungnya itu. Dan tak lama kemudian, tercium bau yang memuakkan, amis dan keras, dan nampak puluhan ekor ulat berbondong-bondong datang, berlenggang-¬lenggok memasuki tempat itu, ke dalam setengah lingkaran, berkumpul di tengah dan mereka nampak jinak-jinak! Ular-ular terus berdatangan sehingga jumlahnya tidak kurang dari seratus ekor, ada yang besar ada yang kecil dan dari bermacam warna. Dengan tertarik sekali Kim Hong memandang dan mengamati dari tempat pengintaiannya, akan tetapi hatinya kecewa. Tidak seekorpun di antara banyak ular itu yang warnya seperti ular yang dicarinya. Tidak ada Ang¬thouw-hek-coa di situ!
Melihat demikian banyaknya ular, biarpun ia tidak takut, namun ia merasa jijik dan otomatis tangannya menyambar sebatang ranting untuk mempersiap kan diri kalau-kalau ular-¬ular menjijikkan itu tiba-tiba menyerangnya. Gurunya yang pertama, yaitu Bouw Hun kepala suku Khitan, pernah memberi tahu kepadanya bahwa untuk menghadapi ular-ular, paling baik mempergunakan ranting, terutama sekali ranting bambu. Sekali saja terkena sabetan ranting yang sebesar jari tangan, ruas tulang seekor ular dapat dibuat terlepas dan binatang itu tentu tidak dapat lari lagi. Menggunakan pemukul yang besar tidak menguntungkan karena ular itu pandai mengelak dengan tubuhnya yang berkulit licin. Sabetan ranting kecil yang melintang tidak dapat dielakkan.
Kini tiga belas orang itu, yang tadinya bersila, berlutut dan menyembah-nyembah ke arah sekumpulan ular, dan mulut mereka masih mengeluarkan suara nyanyian aneh itu. Kim Hong dapat menduga bahwa mereka ini adalah segerombolan orang sesat penyembah ular! Pernah ia mendengar dari Bouw Hun bahwa memang terdapat orang-orang yang menyembah ular yang dianggap sebagai dewa-dewa tanah. Dan orang-¬orang seperti itu memiliki ilmu menalukkan ular, mereka adalah pawang-pawang ular yang pandai dan juga ahli racun ular sehingga merupakan musuh yang amat berbahaya!
Akan tetapi menurut guru pertamanya itu, para penyembah ular ini bukan orang yang suka melakukan kejahatan, tidak suka merampok atau mengganggu orang lain dan hanya bertindak keras kalau diganggu. Mereka mendapatkan penghasilan dari menjual racun-racun ular kepada rumah-rumah obat yang membutuhkan racun untuk berbagai keperluan pengobatan. Mereka ahli mengolah racun berbagai macam ular menjadi pel, dan setiap macam racun ular tertentu mempunyai manfaat tertentu pula. Racun-racun yang sudah menjadi pel itu amat mahal sehingga kehidupan para penyembah ular ini cukup makmur.
Tiba-tiba datang pula seekor ular besar dan ular itu menggigit bangkai seekor ular lain. Melihat ini, berdebar rasa jantung Kim Hong karena ia melihat betapa ular yang mati dan yang dibawa ular besar itu masih tertusuk ranting. Itulah ular yang menyerangnya tadi dan yang telah dibunuhnya!
Seorang di antara tiga belas orang itu, laki-laki berusia empat puluhan tahun, tubuhnya tinggi kurus seperti ular, matanya sipit dan hidungnya pesek, bangkit dan menghampiri ular besar, lalu memeriksa ular yang mati. Alisnya berkerut dan diapun berkata dalam bahasa Han kepada ular besar yang kulitnya keputih-putihan itu.
"Pek-coa, kau cari pembunuhnya dan bawa dia ke sini, hidup atau mati!"
Ular besar putih itu seolah mengerti apa yang diucapkan si mata sipit. Seperti seekor anjing pelacak, dia mencium-cium ke arah ranting yang masih menancap di kepala rekannya, kemudian diapun bergerak pergi dengan cepat, menghilang ke dalam rumpun ilalang!
Diam-diam Kim Hong bergidik ngeri. Ketika ia memandang lagi, si mata sipit itu kini mengeluarkan sebatang pisau tajam, lalu melepaskan daging dan kulit ular yang mati itu dengan hati-hati agar jangan merusak tulangnya. Kemudian, daging itu dia kerat-kerat dan dia lemparkan ke arah ular-ular yang segera memperebutkannya seperti sekumpulan ayam kelaparan dilempar jagung. Dan tulang itu, masih utuh berikut kepalanya yang sudah dilepas dari ranting yang menembusnya, lalu dikubur di tengah¬tengah lingkaran itu dengan dibantu oleh teman-temannya, kemudian mereka bersembahyang di depan "Makam" kecil tulang ular itu!
***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 011
***Kembali

No comments:
Post a Comment