Apa yang dikhawatirkan Yang Kok Tiong terjadilah. Setelah An Lu Shan dianggap tidak bersalah oleh kaisar, bahkan menerima hadiah dan pujian atas kesetiaannya, memang tidak nampak tanda-tanda bahwa panglima peranakan Khitan Turki itu akan memberontak. Bahkan kaisar juga tidak menaruh curiga ketika An Lu Shan memperkuat pasukannya dengan alas an untuk memperkuat penjagaan diperbatasan utara.
Akan tetapi dua tahun kemudian An Lu Shan membuka kedoknya. Diam-diam dia bukan hanya menghimpun kekuatan pasukannya, bahkan juga mengadakan hubungan dan persekongkolan dengan suku-suku asing di utara, terutama dengan suku Khitan. Mulailah dia menggerakkan pasukannya menuju ke selatan. Mula-mula ia tidak ada yang curiga melihat gerakan ini, karena bukankah pasukan yang dipimpin An Lu Shan merupakan pasukan Kerajaan Tang? Dan panglima An Lu Shan tentu saja memiliki pasukan pilihan yang terkuat dari Kerajaan Tang. Dia membawa pasukan besarnya menyeberang Sungai Kuning, kemudian menyerbu Lok-yang tanpa kesulitan. Pasukan yang menjaga Lok-yang yang merupakan kota raja yang kedua setelah kota raja Tiang-an dikejutkan oleh serbuan yang sama sekali tidak disangka-sangka itu. Lok-yang diduduki dengan mudahnya.
Gegerlah kota raja ketika kaisar mendengar berita itu. Dia bukan hanya terkejut, akan tetapi juga khawatir sekali. Dengan tergesa-gesa Kaisar mengerahkan seluruh pasukan untuk menyambut gerakan barisan pemberontak itu. Terjadilah pertempuran besar di Ling-pao yang berlangsung sampai dua pekan lebih. Namun, akhirnya pasukan pemerintah tidak kuat bertahan dan dapat dihancurkan dan sisa pasukan mundur ke benteng pasukan pemerintah di Terusan Tiong-koan.
Terjadi perang besar di benteng Tiong-koan ini. Namun, pasukan pemberontak yang sudah lama membuat persiapan penyerbuan itu dan keadaannya jauh lebih kuat, dapat menghancurkan pertahanan pasukan pemerintahan sehingga benteng Tiong-koan juga bobol. Benteng pertahanan terakhir yang merupakan pintu gerbang ke kota raja, jatuh. Tentu saja hal ini membuat Kaisar Hsuan Tsung atau Beng Ong yang sudah berusia tujuh puluh tahun ini menjadi gentar. Kepanikan melanda keluarga kaisar, dan dengan tergesa-gesa Kaisar melarikan diri mengungsi ke barat, menuju ke Se-cuan.
Demikianlah, pasca tahun 755, An Lu Shan memimpin pasukannya menyerbu ibu kota Tiang-an dan boleh dibilang hampir tidak mendapatkan perlawanan. Hanya ada beberapa orang panglima yang setia melakukan usaha yang sia-sia untuk melawan sampai mati, namun pasukan kecil mereka tidak ada artinya terhadap bala tentara besar yang menyerbu kota raja bagaikan air bah itu. Kota raja Tiang-an diduduki oleh An Lu Shan dan terjadilah apa yang ditakuti rakyat. Yaitu perampokan, perkosaan dan pembunuhan.
Sebagian besar keluarga kaisar tertumpas, para wanitanya yang muda dan cantik dipaksa menjadi selir atau dibunuh. Yang diajak pergi mengungsi bersama kaisar hanyalah keluarga dekat, bahkan selirnya yang tak pernah terpisah dari sisinya hanyalah Yang Kui Hui! Selain selir yang tercinta ini, juga ikut pula Menteri Utama: Yang Kok Tiong, kakak kandung selir Yang Kui Hui itu.
Yang Kok Tiong hanya seorang diri saja mengikuti kaisarnya yang melarikan diri, isterinya berkeras tidak mau meninggalkan gedungnya karena ia akan menunggu kembalinya tiga orang anaknya yang telah menghilang selama dua tahun. Akhirnya, dalam kerusuhan itu, ketika para perajurit pemberontak merampok rumahnya dan ia akan di perlakukan tidak senonoh oleh seorang di antara mereka, nyonya yang cantik dan lembut ini memilih kematian dengan minum racun yang memang sudah ia persiapkan!
Selain Menteri Yang Kok Tiong dan Selir Yang Kui Hui, ada pula pasukan pengawal yang terdiri dari seratus orang lebih mengawal rombongan kaisar. Pasukan ini dipimpin oleh Panglima Kok Cu It, panglima berusia empat puluh dua tahun yang terkenal setia kepada kaisar, Panglima Kok Cu ini pula yang mati-matian menghimpun pasukan dan melakukan perlawanan di Terusan Tung-ku-an, akan tetapi akhirnya pasukannya terpukul hancur karena memang kalah besar dan kalah persiapan. Kini, dengan pasukan pengawal yang hanya seratus orang lebih, panglima ini tidak mau melarikan diri seperti rekan-rekannya, melainkan dengan setia dia mengawal kaisar melarikan diri ke barat.
Semula, Kaisar Beng Ong yang sudah tua itu masih merasa terhibur dalam pelariannya. Selirnya tercinta berada di sampingnya. Dan di situ masih terdapat Menteri Yang Kok Tiong yang setia dan dapat menjadi penasihatnya, juga terdapat pula Panglima Kok Cu It yang dapat dipercaya akan membelanya mati-matian.
Akan tetapi, sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa malapetaka datang bukan dari luar, melainkan dari pasukan pengawal itu sendiri. Peristiwa yang tercatat dalam sejarah itu terjadi ketika rombongan pengungsi ini tiba di pos penjagaan di Ma-wei, di Sher si sebelah barat. Di tempat yang berada di perbatasan dengan Tibet ini, rombongan berhenti untuk beristirahat melewatkan malam. Para perajurit yang berjaga di pos itu berjumlah tiga losin orang dan mereka segera bergabung dengan pasukan pengawal yang menceritakan keadaan ditimur yang telah diduduki para pemberontak.
Menteri Yang Kok Tiong tidak tinggal diam. Dia maklum bahwa rombongan telah tiba di perbatasan dengan daerah Tibet, dan untuk menyelamatkan dan mengamankan kaisarnya, sebaiknya kalau dia dapat menghubungi para tokoh di Tibet untuk mencari perlindungan bagi kaisarnya. Oleh karena itu, diapun segera mengadakan hubungan dengan para kepala Lama, yaitu pendeta di Tibet yang memegang kekuasaan di daerah itu, agar para pendeta itu dapat menerima rombongan pengungsi sebagai sahabat.
Akan tetapi, pada saat Menteri Yang Kok Tiong mengadakan perundingan dengan beberapa tokoh pendeta Lama di tendanya, terjadi perundingan lain di antara pasukan. Para perajurit yang menderita dalam pelarian itu, lelah dan lapar, juga harapan mereka semakin tipis, masa depan demikian suram. Kalau mula-mula mereka hanya mengeluh, kemudian mereka merasa penasaran. Para perwira yang menjadi pembantu-pembantu panglima Kok Cu mulai menyinggung tentang kelemahan kaisar yang menjadi permainan Selir Yang Kui Hui.
"Coba bayangkan, orang macam Yang Kok Tiong diangkat menjadi Menteri Utama! Hanya karena dia kakak selir itu maka dia diangkat menempati kedudukan tertinggi sesudah kaisar!"
"Dan sekarang, lihat saja! Dia malah bersekongkol dengan para pendeta Lama!"
"Jangan-jangan dia hendak mengkhianati kaisar. Melihat kaisar telah jatuh, dia kini menjilat kepada para pendeta Lama!"
"Seret pengkhianat Yang Kok Tiong!"
Segera mereka bersorak-sorak dari memaki-maki Menteri Yang Kok Tiong! Bahkan seratus dua puluh orang lebih itu kini menyerbu ke arah tenda yang menjadi tempat tinggal sementara dari Menteri Yang Kok Tiong!
Ketika itu, para pendeta Lama telah meninggalkan tenda Menteri Yang! Tentu saja dia terkejut bukan main mendengar ribut-ribut di luar. Dia segera melangkah keluar, hanya untuk menghadapi amukan para perajurit. Menteri itu sama sekali tidak berdaya. Pada waktu itu, dia sudah tidak lagi dijaga oleh pengawal seperti ketika dia masih tinggal di kota raja. Dia tidak dapat melawan dan tewas seketika di bawah banyak senjata yang membuat tubuhnya hancur!
Mendengar keributan ini. Kaisar Beng Ong terkejut bukan main, demikian pula panglima Kok Cu It yang ketika peristiwa itu terjadi sedang berbincang-bincang dengan kaisar. Mereka berlari keluar dan Panglima Kok Cu sudah mencabut pedangnya untuk melindungi kasar.
Sementara itu, bagaikan srigala-srigala buas yang menjadi semakin ganas setelah merasakan sedikit darah, para perajurit pengawal setelah melumatkan tubuh Menteri Yang Kok Tiong yang mereka anggap menjadi seorang diantara mereka yang melemahkan negara dan mengakibatkan kerajaan jatuh ke tangan pemberontak, kini berbondong-bondong menuju ke pondok darurat yang di bangun untuk menjadi tempat tinggal sementara bagi kaisar.
"Bunuh Selir Yang Kui Hui!"
"Gantung iblis betina itu!"
Kaisar dan Panglima Kok Cu itu muncul di beranda loteng dan mereka melihat betapa semua pasukan telah berdiri di depan pondok dan sikap mereka seperti harimau yang haus darah! Ketika melihat kaisar dan Panglima Kok Cu It muncul di loteng, semua orang terdiam. Bagaimanapun juga, kaisar dan panglima itu masih memiliki wibawa besar yang membuat mereka gentar dan tunduk. Sekilas pandang saja tahulah Panglima Kok Cu bahwa semua perwira terlibat dalam unjuk perasaan itu, maka tidak mungkin melakukan tertib hukum militer. Kalau mereka itu dihukum, sama saja dengan melenyapkan pasukan pengawal!
"Apa artinya semua ini?" terdengar suara Kok Cu It yang menggelegar. ”Kami mendengar kalian telah membunuh Menteri Yang! Dan sekarang kalian membikin ribut di sini. Apakah kalian hendak memberontak terhadap Sribaginda Kaisar?"
Kaisar sendiri juga berusaha menenangkan hati mereka.
"Para perajurit dengarlah baik-baik. Kami mengerti bahwa kalian menderita kelaparan dan kehausan, kelelahan. Akan tetapi, kami tidak akan pernah melupakan jasa kalian. Jasa kalian masing-masing telah kami catat dan percayalah, Kerajaan Tang akan bangkit kembali dan setelah kita berhasil, kalian masing-masing akan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Kami percaya kalian adalah pahlawan-pahlawan, bukan pengkhianat."
Mendengar ucapan kaisar dan panglima mereka, para perajurit itu kini berteriak-teriak lagi.
"Hukum gantung Yang Kui Hui! ia telah meracuni istana, ia telah melemahkan kerajaan, mempermainkan Sribaginda!"
"Kami telah menghukum Yang Kok Tiong, dan kami akan menghukum Yang Kui Hui! Kerajaan Tang harus dibersihkan dari orang-orang yang mempermainkan kerajaan dan mau enaknya saja!"
Wajahkaisar menjadi pucat mendengar ini.
"Ah, bagaimana ini, Kok-ciangkun......?" bisiknya kepada panglimanya dengan suara gemetar.
Kok Cu It mengamati keadaan para anak buahnya. Pendengarannya yang tajam mendengar bahwa di antara teriakan-teriakan mereka terdapat ancaman, bahwa kalau Kaisar tidak menghukum mati Yang Kui Hui, mereka akan membakar pondok itu dan membunuh seluruh keluarga kaisar!
Pangeran Su Tsung, yaitu putera mahkota yang ikut pula naik keberanda loteng dan sejak tadi berdiri di belakang kaisar bersama Selir Yang Kui Hui juga mendengar teriakan-teriakan itu Juga Yang Kui Hui mendengar teriakan itu. Selir ini sudah merasa sedih dan sakit hati sekali mendengar bahwa kakaknya dibunuh oleh para perajurit dan kini mereka berteriak-teriak menuntut agar ia dihukum mati!
"Sribaginda, hamba tidak melihat lain jalan...." kata Panglima Kok Cu It.
Diam-diam, jauh di dasar lubuk hatinya, panglima ini tidak dapat menyalahkan sikap pasukannya. Memang semua orang tahu betapa Yang Kui Hui telah melemahkan istana, melemahkan kaisar dan dengan sendirinya juga melemahkan negara. Wanita ini menjadi rebutan antara anak dan ayah. Isteri Pangeran houw ini direbut oleh mertuanya sendiri dan setelah menjadi selir kaisar, semua kekuasaan kaisar dikendalikannya!
"Hukum Yang Kui Hui!"
"Iblisbetina itu kekasih AnLu han sipemberontak!"
Teriakan-teriakan semakin berani. Yang Kui Hui maklum bahwa tidak ada lagi harapan baginya, lapun kini teringat akan semua sikap dan perbuatannya, yang dilakukan demi kesenangan iri sendiri dan keluarganya. Kini semua itu mengalami kegagalan dan ia harus berani menerima kenyataan. Maka, iapun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kaisar.
"Sribaginda, hukumlah hamba, gantunglah hamba kalau itu dapat meredakan kemarahan mereka..... hamba rela mati.... untuk menyelamatkan paduka..." katanya sambil menangis.
Kaisar yang amat mencinta selirnya ini terharu, mengangkat selirnya berdiri dan merangkulnya. Mereka berangkulan sambil menangis.
"Tidak......, tidak......... Kui Hui, engkau tidak boleh dihukum mati ......" rintih kaisar yang tua itu dengan memelas.
Melihat adegan romantis di atas loteng, di mana kaisar itu rangkulan dengan selir yang dibenci pasukan itu, mereka berteriak-teriak semakin ganas.
"Sribaginda...... relakan hamba..... hamba sudah menerima kasih sayang paduka yang berlimpahan..... sekaranglah saatnya hamba membalas jasa... dengan nyawa hamba untuk menyelamatkan paduka....." Kui Hui berkata di antara isak tangisnya. Iapun melepaskan diri dari pelukan kaisar.
"Kok-ciangkun, minta mereka menanti sebentar, aku mau berganti pakaian dulu, baru. aku akan menggantung diri di sini agar mereka semua dapat melihatnya ."
"Kui Hui......!"
Kaisar berseru, akan tetapi selir itu telah berlari turun ke kamarnya. Kaisar tua itu hendak mengejarnya, akan tetapi terhuyung dan cepat Pangeran Su Tsung merangkulnya.
"Sribaginda, tidak ada jalan lain, harap paduka menguatkan hati paduka, semua ini demi negara!" kata Kok-ciangkun dan mendengar kalimat terakhir ini, kaisar mendapatkan tenaga baru, dan diapun mengangguk. Demi negara! Demi kerajaan! Dia harus mengorbankan Yang Kui Hui, selir tercinta.
Kok Cu It lalu berdiri di tepi loteng dan berseru dengan suara lantang bahwa Selir Yang Kui Hui siap menerima hukuman mati, dan agar para perajurit tenang. Mendengar teriakan ini, semua perajurit menjadi diam dan suasana menjadi hening, namun mencekam sekali, menegangkan perasaan.
Tak lama kemudian Yang Kui Hui naik ke loteng dan ia telah mengenakan pakaian serba putih dari sutera halus, rambutnya yang masih hitam dan panjang itu dibiarkan terurai dan ia tidak mengenakan perhiasan sebuahpun. Namun, dalam pakaian sederhana serba putih dan mengurai rambut itu, makin nampak kecantikannya yang aseli dan memang wanita ini memiliki kecantikan yang sukar dicari bandingnya! Melihat selirnya sudah siap untuk mati, kaisar merangkulnya lagi.
"Kui Hui ah, Kui Hui........ bagaimana aku dapat membiarkan engkau mati meninggalkan aku......?"
Kui Hui juga menangis, akan tetapi ia menghibur kaisar.
"Sribaginda, harap relakan hamba. Hamba akan menanti paduka di sana...."
Selir itu lalu melepaskan rangkulan dan ia menyerahkan sebuah sabuk sutera putih kepada Kok Cu It untuk dipasangkan di balok melintang. Kok-ciangkun tanpa ragu lagi segera membuat tali penjirat yang tergantung di balok melintang, kemudian, setelah Yang Kui Hui merangkul dan mencium kaisar, ia lari dan dibantu Kok Cu It, selir ini memasukkan kepalanya di lubang jiratan yang dibuat di ujung sabuk, kemudian ia meloncat dan tubuhnya terayun-ayun, lehernya tergantung!
"Kui Hui......!"
Kaisar merintih dan terkulai pingsan dalam rangkulan pangeran mahkota Su Tsung. Melihat tubuh selir itu tergantung dan meronta sebentar lalu terkulai para perajurit yang menonton dari bawah bersorak gembira. Timbul lagi semangat mereka setelah kini dua orang yang mereka benci, yaitu Yang Kok Tiong dan Yang Kui Hui, telah tewas.
Setelah terjadinya peristiwa yang membuat hati kaisar terbenam dalam duka, rombongan itu melanjutkan pengungsian mereka ke daerah Se-cuan. Dan di sepanjang jalan, Panglima Kok Cu it berhasil menghimpun pasukannya, yaitu menampung para perajurit yang melarikan diri dan yang menyusul ke barat untuk bergabung dengan kaisar mereka.
Setelah Yang Kui Hui tidak ada lagi, Kaisar Hsuan Tsung atau Kaisar Beng Ong yang berusa tujuh puluh tahun itu tidak mempunyai semangat lagi dan diapun melimpahkan tahta kerajaan kepada pangeran mahkota, yaitu Pangeran Su Tsung.
Dan di tempat pengungsian ini, Kaisar yang baru, Kaisar Su Tsung, dibantu oleh Panglima Kok Cu It dan para pengawal yang masih setia, membangun kembali kekuatan Kerajaan Tang. Berkat kebijaksanaan Panglima Kok Cu It yang menjanjikan imbalan besar kepada mereka, pasukan Kerajaan Tang mendapat bantuan dari orang-orang Turki, bahkan mendapat bantuan pula dari Caliph, yaitu panglima kerajaan Arab, dan beberapa suku bangsa lain. Akhirnya, dengan bala tentara campuran ini, Panglima Ko Cu It mulai bergerak ke timur untuk merebut kembali Kerajaan Tang yang terjatuh ke tangan An Lu Shan. Dan terjadilah perang yang berkepanjangan.
Setelah jenazah Yang Kui Hui dikubur secara sepantasnya, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan, Kaisar Hsuan Tsung mengadakan percakapan rahasia dengan Pangeran Mahkota dan dengan Panglima Kok Cu It. Hanya mereka bertiga saja yang bicara di dalam ruangan itu, tidak boleh dihadiri orang lain.
Mula-mula kaisar dan pangeran mahkota berdua saja yang duduk di dalam ruangan itu, dan para pengawal disuruh menjaga di luar ruangan. Kemudian datanglah Panglima Kok Cu It dengan wajah muram, dan begitu dia muncul, kaisar sudah cepat bertanya.
"Bagaimana, ciangkun, berhasilkah menemukannya?"
Panglima itu dengan murung menggeleng kepala.
"Tidak berhasil, Sribaginda. Hamba tidak dapat menemukannya di dalam pakaian yang dipakainya, juga di antara perbekalan di dalam tendanya, hamba tidak dapat menemukan pusaka itu."
Panglima itu dipersilakan duduk dan mereka bertiga nampak murung.
"Akan tetapi, kenapa ayahanda menitipkan pusaka yang amat penting itu kepada Paman Yang Kok Tiong?" kata sang pangeran dengan nada suara menyesal.
Ayahnya menghela napas panjang
"Keadaan amat gawat dan kami tidak melupakan untuk membawa pusaka itu ketika mengungsi. Dan kami yakin bahwa pusaka itu tentu akhirnya akan diperebutkan orang, karena menjadi lambang kekuasaan. Untuk mengamankan, diam-diam kami titipkan kepada Menteri Yang. tidak akan dicari orang, dan tidak akan ada yang mengira bahwa pusaka ada padanya. Siapa tahu hari ini terjadi malapetaka yang mendadak tidak disangka¬-sangka?"
"Ampun, Sribaginda. Kiranya tidak perlu disesalkan hal yang telah terjadi. Yang terpenting, kita harus dapat menemukan kembali pusaka itu dan sementara ini kehilangan itu harus dirahasiakan karena kalau sampai terdengar rakyat, tentu dukungan mereka terhadap paduka menjadi lemah ”
"Apa yang dikatakan Paman Panglima Kok memang benar, ayahanda. Tanpa adanya pusaka itu, hamba sendiri akan merasa lemah menunaikan tugas."
Kaisar mengangguk-angguk dan mereka bertiga terbenam ke dalam kekhawatiran. Pusaka apa yang membuat mereka bertiga begitu cemas karena dinyatakan hilang?
Sejak Kerajaan Tang berdiri, satu setengah abad yang lalu, semenjak kaisar pertama Kerajaan Tang memerintah, yaitu Kaisar Tang Kaocu, Kerajaan Tang memiliki banyak pusaka yang menjadi pusaka kerajaan. Akan tetapi di antara semua pusaka yang ada, yang dianggap terpenting dan sebagai pusaka tanda kekuasaan adalah sebuah benda mustika yang amat kuno dan amat indah. Benda itu adalah sebuah kemala yang amat luar biasa karena dalam sebongkah kemala itu terdapat warna merah, putih, hijau dan hitam. Jarang ada kemala yang mengandung beraneka warna seperti itu.
Hiasan kemala itu diukir amat halusnya, berbentuk seekor burung Hong yang sedang terbang membentangkan sayapnya. Ukiran itu sedemikian halusnya sehingga seolah hidup saja, dan sepasang matanya juga mengeluarkan sinar. Bukan Saja benda ini amat indah dan amat berharga, merupakan benda langka, namun lebih dari pada itu, benda ini dianggap memiliki daya atau pengaruh sehingga menjadi kepercayaan umum bahwa siapa yang memiliki benda itu, dialah yang mendapat wahyu untuk menjadi kaisar! Seolah benda itu diturunkan dari langit sebagai tanda kekuasaan Kaisar! Kepercayaan ini merupakan tahyul yang sudah berakar mendalam di hati keluarga Kerajaan Tang dan bahkan semua ponggawanya.
Inilah sebabnya, mengapa ketika kaisar Hsuan Tsung kehilangan mestika itu, dia, pangeran mahkota, dan panglima Kok termangu dan berduka. Kalau sampai berita tentang kehilangan mestika itu terdengar keluar, maka sukar sekali mengharapkan dukungan rakyat untuk bergerak dan bangkit kembali. Raja yang sudah kehilangan giok-hong (Hong Kemala) berarti sudah kehilangan hak untuk menjadi raja!
"Ah, mungkinkah dia mengkhianati kami?" Kaisar yang tua itu mengepal tinju. "Keparat engkau Yang Kok Tiong kalau engkau mengkhianati kami dan memberikan mestika itu kepada orang lain!"
"Ayahanda tentu maklum bahwa Paman Yang mempunyai tiga orang anak, seorang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Bahkan kabarnya ketika terjadi penyerbuan di kota raja, tiga orang anaknya itu belum pulang. Mereka tentu selamat dan mengapa mereka tidak menyusul kita, padahal ayah mereka berada bersama kita? Ini tentu ada sebabnya. Hamba tidak akan merasa heran kalau kelak ternyata bahwa mestika itu berada di tangan seorang di antara anaknya!"
"Mungkin sekali itu. Keparat engkau, Yang Kok Tiong!" Kaisar memaki-maki menterinya yang sudah tewas.
Panglima Kok Cu It menyabarkan dan menenangkan hati ayah dan anak itu.
"Hamba kira, hal itu kelak akan dapat kita selidiki. Hamba kelak akan berdaya upaya sekuat tenaga untuk menemukan kembali mestika itu. Sekarang, sebaiknya kita tidak ribut-ribut dan merahasiakan hal ini, seolah mestika itu masih ada pada paduka. Yang terpenting sekarang adalah menghimpun tenaga agar kita dapat membalas kekalahan kita dari An Lu Shan."
Kaisar tua mengangguk-angguk. Pangeran mahkota Su Tsung yang masih cemas dengan kehilangan mestika itu yang akan membuat dia merasa hampa kalau kelak menjadi kaisar tanpa memilikinya, segera bertanya,
"Akan tetapi, Paman Panglima. Bagaimana kalau nanti para pimpinan kelompok yang kita mintai bantuan mengetahui bahwa mestika itu tidak ada pada kita lagi? Bagaimana kalau mereka minta agar ayahanda Kaisar memperlihatkan mestika itu kepada mereka? Ingat, suku-suku bangsa di sini, terutama bangsa Uigur yang kita harapkan sekali bantuannya, amat percaya akan lambang kekuasaan itu."
"Paduka benar, Pangeran, akan tetapi jangan khawatir, hamba akan mempersiapkan tiruannya!"
Demikianlah, kehilangan mestika itu tetap menjadi rahasia karena setelah tukang yang pandai membuatkan sebuah mestika tiruan yang dilihat begitu saja serupa dengan yang aseli, diam-diam Panglima Kok Cu membunuhnya. Mestika Hong Kemala yang palsu itu lalu diserahkan kepada Kaisar. Ketika kaisar menyerahkan kedudukannya kepada Pangeran MaKkota, maka mestika palsu itupun diberikan kepadanya.
Beberapa kali mestika itu diperlihatkan sepintas lalu kepada para pimpinan kelompok atau suku bangsa sehingga mereka semua percaya bahwa kaisar baru itu masih memiliki Mestika Hong Kemala, maka mereka bersemangat membantunya karena mereka percaya bahwa barang siapa memiliki mestika itu, dipastikan berhasil menjadi raja!
Akan tetapi dua tahun kemudian An Lu Shan membuka kedoknya. Diam-diam dia bukan hanya menghimpun kekuatan pasukannya, bahkan juga mengadakan hubungan dan persekongkolan dengan suku-suku asing di utara, terutama dengan suku Khitan. Mulailah dia menggerakkan pasukannya menuju ke selatan. Mula-mula ia tidak ada yang curiga melihat gerakan ini, karena bukankah pasukan yang dipimpin An Lu Shan merupakan pasukan Kerajaan Tang? Dan panglima An Lu Shan tentu saja memiliki pasukan pilihan yang terkuat dari Kerajaan Tang. Dia membawa pasukan besarnya menyeberang Sungai Kuning, kemudian menyerbu Lok-yang tanpa kesulitan. Pasukan yang menjaga Lok-yang yang merupakan kota raja yang kedua setelah kota raja Tiang-an dikejutkan oleh serbuan yang sama sekali tidak disangka-sangka itu. Lok-yang diduduki dengan mudahnya.
Gegerlah kota raja ketika kaisar mendengar berita itu. Dia bukan hanya terkejut, akan tetapi juga khawatir sekali. Dengan tergesa-gesa Kaisar mengerahkan seluruh pasukan untuk menyambut gerakan barisan pemberontak itu. Terjadilah pertempuran besar di Ling-pao yang berlangsung sampai dua pekan lebih. Namun, akhirnya pasukan pemerintah tidak kuat bertahan dan dapat dihancurkan dan sisa pasukan mundur ke benteng pasukan pemerintah di Terusan Tiong-koan.
Terjadi perang besar di benteng Tiong-koan ini. Namun, pasukan pemberontak yang sudah lama membuat persiapan penyerbuan itu dan keadaannya jauh lebih kuat, dapat menghancurkan pertahanan pasukan pemerintahan sehingga benteng Tiong-koan juga bobol. Benteng pertahanan terakhir yang merupakan pintu gerbang ke kota raja, jatuh. Tentu saja hal ini membuat Kaisar Hsuan Tsung atau Beng Ong yang sudah berusia tujuh puluh tahun ini menjadi gentar. Kepanikan melanda keluarga kaisar, dan dengan tergesa-gesa Kaisar melarikan diri mengungsi ke barat, menuju ke Se-cuan.
Demikianlah, pasca tahun 755, An Lu Shan memimpin pasukannya menyerbu ibu kota Tiang-an dan boleh dibilang hampir tidak mendapatkan perlawanan. Hanya ada beberapa orang panglima yang setia melakukan usaha yang sia-sia untuk melawan sampai mati, namun pasukan kecil mereka tidak ada artinya terhadap bala tentara besar yang menyerbu kota raja bagaikan air bah itu. Kota raja Tiang-an diduduki oleh An Lu Shan dan terjadilah apa yang ditakuti rakyat. Yaitu perampokan, perkosaan dan pembunuhan.
Sebagian besar keluarga kaisar tertumpas, para wanitanya yang muda dan cantik dipaksa menjadi selir atau dibunuh. Yang diajak pergi mengungsi bersama kaisar hanyalah keluarga dekat, bahkan selirnya yang tak pernah terpisah dari sisinya hanyalah Yang Kui Hui! Selain selir yang tercinta ini, juga ikut pula Menteri Utama: Yang Kok Tiong, kakak kandung selir Yang Kui Hui itu.
Yang Kok Tiong hanya seorang diri saja mengikuti kaisarnya yang melarikan diri, isterinya berkeras tidak mau meninggalkan gedungnya karena ia akan menunggu kembalinya tiga orang anaknya yang telah menghilang selama dua tahun. Akhirnya, dalam kerusuhan itu, ketika para perajurit pemberontak merampok rumahnya dan ia akan di perlakukan tidak senonoh oleh seorang di antara mereka, nyonya yang cantik dan lembut ini memilih kematian dengan minum racun yang memang sudah ia persiapkan!
Selain Menteri Yang Kok Tiong dan Selir Yang Kui Hui, ada pula pasukan pengawal yang terdiri dari seratus orang lebih mengawal rombongan kaisar. Pasukan ini dipimpin oleh Panglima Kok Cu It, panglima berusia empat puluh dua tahun yang terkenal setia kepada kaisar, Panglima Kok Cu ini pula yang mati-matian menghimpun pasukan dan melakukan perlawanan di Terusan Tung-ku-an, akan tetapi akhirnya pasukannya terpukul hancur karena memang kalah besar dan kalah persiapan. Kini, dengan pasukan pengawal yang hanya seratus orang lebih, panglima ini tidak mau melarikan diri seperti rekan-rekannya, melainkan dengan setia dia mengawal kaisar melarikan diri ke barat.
Semula, Kaisar Beng Ong yang sudah tua itu masih merasa terhibur dalam pelariannya. Selirnya tercinta berada di sampingnya. Dan di situ masih terdapat Menteri Yang Kok Tiong yang setia dan dapat menjadi penasihatnya, juga terdapat pula Panglima Kok Cu It yang dapat dipercaya akan membelanya mati-matian.
Akan tetapi, sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa malapetaka datang bukan dari luar, melainkan dari pasukan pengawal itu sendiri. Peristiwa yang tercatat dalam sejarah itu terjadi ketika rombongan pengungsi ini tiba di pos penjagaan di Ma-wei, di Sher si sebelah barat. Di tempat yang berada di perbatasan dengan Tibet ini, rombongan berhenti untuk beristirahat melewatkan malam. Para perajurit yang berjaga di pos itu berjumlah tiga losin orang dan mereka segera bergabung dengan pasukan pengawal yang menceritakan keadaan ditimur yang telah diduduki para pemberontak.
Menteri Yang Kok Tiong tidak tinggal diam. Dia maklum bahwa rombongan telah tiba di perbatasan dengan daerah Tibet, dan untuk menyelamatkan dan mengamankan kaisarnya, sebaiknya kalau dia dapat menghubungi para tokoh di Tibet untuk mencari perlindungan bagi kaisarnya. Oleh karena itu, diapun segera mengadakan hubungan dengan para kepala Lama, yaitu pendeta di Tibet yang memegang kekuasaan di daerah itu, agar para pendeta itu dapat menerima rombongan pengungsi sebagai sahabat.
Akan tetapi, pada saat Menteri Yang Kok Tiong mengadakan perundingan dengan beberapa tokoh pendeta Lama di tendanya, terjadi perundingan lain di antara pasukan. Para perajurit yang menderita dalam pelarian itu, lelah dan lapar, juga harapan mereka semakin tipis, masa depan demikian suram. Kalau mula-mula mereka hanya mengeluh, kemudian mereka merasa penasaran. Para perwira yang menjadi pembantu-pembantu panglima Kok Cu mulai menyinggung tentang kelemahan kaisar yang menjadi permainan Selir Yang Kui Hui.
"Coba bayangkan, orang macam Yang Kok Tiong diangkat menjadi Menteri Utama! Hanya karena dia kakak selir itu maka dia diangkat menempati kedudukan tertinggi sesudah kaisar!"
"Dan sekarang, lihat saja! Dia malah bersekongkol dengan para pendeta Lama!"
"Jangan-jangan dia hendak mengkhianati kaisar. Melihat kaisar telah jatuh, dia kini menjilat kepada para pendeta Lama!"
"Seret pengkhianat Yang Kok Tiong!"
Segera mereka bersorak-sorak dari memaki-maki Menteri Yang Kok Tiong! Bahkan seratus dua puluh orang lebih itu kini menyerbu ke arah tenda yang menjadi tempat tinggal sementara dari Menteri Yang Kok Tiong!
Ketika itu, para pendeta Lama telah meninggalkan tenda Menteri Yang! Tentu saja dia terkejut bukan main mendengar ribut-ribut di luar. Dia segera melangkah keluar, hanya untuk menghadapi amukan para perajurit. Menteri itu sama sekali tidak berdaya. Pada waktu itu, dia sudah tidak lagi dijaga oleh pengawal seperti ketika dia masih tinggal di kota raja. Dia tidak dapat melawan dan tewas seketika di bawah banyak senjata yang membuat tubuhnya hancur!
Mendengar keributan ini. Kaisar Beng Ong terkejut bukan main, demikian pula panglima Kok Cu It yang ketika peristiwa itu terjadi sedang berbincang-bincang dengan kaisar. Mereka berlari keluar dan Panglima Kok Cu sudah mencabut pedangnya untuk melindungi kasar.
Sementara itu, bagaikan srigala-srigala buas yang menjadi semakin ganas setelah merasakan sedikit darah, para perajurit pengawal setelah melumatkan tubuh Menteri Yang Kok Tiong yang mereka anggap menjadi seorang diantara mereka yang melemahkan negara dan mengakibatkan kerajaan jatuh ke tangan pemberontak, kini berbondong-bondong menuju ke pondok darurat yang di bangun untuk menjadi tempat tinggal sementara bagi kaisar.
"Bunuh Selir Yang Kui Hui!"
"Gantung iblis betina itu!"
Kaisar dan Panglima Kok Cu itu muncul di beranda loteng dan mereka melihat betapa semua pasukan telah berdiri di depan pondok dan sikap mereka seperti harimau yang haus darah! Ketika melihat kaisar dan Panglima Kok Cu It muncul di loteng, semua orang terdiam. Bagaimanapun juga, kaisar dan panglima itu masih memiliki wibawa besar yang membuat mereka gentar dan tunduk. Sekilas pandang saja tahulah Panglima Kok Cu bahwa semua perwira terlibat dalam unjuk perasaan itu, maka tidak mungkin melakukan tertib hukum militer. Kalau mereka itu dihukum, sama saja dengan melenyapkan pasukan pengawal!
"Apa artinya semua ini?" terdengar suara Kok Cu It yang menggelegar. ”Kami mendengar kalian telah membunuh Menteri Yang! Dan sekarang kalian membikin ribut di sini. Apakah kalian hendak memberontak terhadap Sribaginda Kaisar?"
Kaisar sendiri juga berusaha menenangkan hati mereka.
"Para perajurit dengarlah baik-baik. Kami mengerti bahwa kalian menderita kelaparan dan kehausan, kelelahan. Akan tetapi, kami tidak akan pernah melupakan jasa kalian. Jasa kalian masing-masing telah kami catat dan percayalah, Kerajaan Tang akan bangkit kembali dan setelah kita berhasil, kalian masing-masing akan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Kami percaya kalian adalah pahlawan-pahlawan, bukan pengkhianat."
Mendengar ucapan kaisar dan panglima mereka, para perajurit itu kini berteriak-teriak lagi.
"Hukum gantung Yang Kui Hui! ia telah meracuni istana, ia telah melemahkan kerajaan, mempermainkan Sribaginda!"
"Kami telah menghukum Yang Kok Tiong, dan kami akan menghukum Yang Kui Hui! Kerajaan Tang harus dibersihkan dari orang-orang yang mempermainkan kerajaan dan mau enaknya saja!"
Wajahkaisar menjadi pucat mendengar ini.
"Ah, bagaimana ini, Kok-ciangkun......?" bisiknya kepada panglimanya dengan suara gemetar.
Kok Cu It mengamati keadaan para anak buahnya. Pendengarannya yang tajam mendengar bahwa di antara teriakan-teriakan mereka terdapat ancaman, bahwa kalau Kaisar tidak menghukum mati Yang Kui Hui, mereka akan membakar pondok itu dan membunuh seluruh keluarga kaisar!
Pangeran Su Tsung, yaitu putera mahkota yang ikut pula naik keberanda loteng dan sejak tadi berdiri di belakang kaisar bersama Selir Yang Kui Hui juga mendengar teriakan-teriakan itu Juga Yang Kui Hui mendengar teriakan itu. Selir ini sudah merasa sedih dan sakit hati sekali mendengar bahwa kakaknya dibunuh oleh para perajurit dan kini mereka berteriak-teriak menuntut agar ia dihukum mati!
"Sribaginda, hamba tidak melihat lain jalan...." kata Panglima Kok Cu It.
Diam-diam, jauh di dasar lubuk hatinya, panglima ini tidak dapat menyalahkan sikap pasukannya. Memang semua orang tahu betapa Yang Kui Hui telah melemahkan istana, melemahkan kaisar dan dengan sendirinya juga melemahkan negara. Wanita ini menjadi rebutan antara anak dan ayah. Isteri Pangeran houw ini direbut oleh mertuanya sendiri dan setelah menjadi selir kaisar, semua kekuasaan kaisar dikendalikannya!
"Hukum Yang Kui Hui!"
"Iblisbetina itu kekasih AnLu han sipemberontak!"
Teriakan-teriakan semakin berani. Yang Kui Hui maklum bahwa tidak ada lagi harapan baginya, lapun kini teringat akan semua sikap dan perbuatannya, yang dilakukan demi kesenangan iri sendiri dan keluarganya. Kini semua itu mengalami kegagalan dan ia harus berani menerima kenyataan. Maka, iapun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kaisar.
"Sribaginda, hukumlah hamba, gantunglah hamba kalau itu dapat meredakan kemarahan mereka..... hamba rela mati.... untuk menyelamatkan paduka..." katanya sambil menangis.
Kaisar yang amat mencinta selirnya ini terharu, mengangkat selirnya berdiri dan merangkulnya. Mereka berangkulan sambil menangis.
"Tidak......, tidak......... Kui Hui, engkau tidak boleh dihukum mati ......" rintih kaisar yang tua itu dengan memelas.
Melihat adegan romantis di atas loteng, di mana kaisar itu rangkulan dengan selir yang dibenci pasukan itu, mereka berteriak-teriak semakin ganas.
"Sribaginda...... relakan hamba..... hamba sudah menerima kasih sayang paduka yang berlimpahan..... sekaranglah saatnya hamba membalas jasa... dengan nyawa hamba untuk menyelamatkan paduka....." Kui Hui berkata di antara isak tangisnya. Iapun melepaskan diri dari pelukan kaisar.
"Kok-ciangkun, minta mereka menanti sebentar, aku mau berganti pakaian dulu, baru. aku akan menggantung diri di sini agar mereka semua dapat melihatnya ."
"Kui Hui......!"
Kaisar berseru, akan tetapi selir itu telah berlari turun ke kamarnya. Kaisar tua itu hendak mengejarnya, akan tetapi terhuyung dan cepat Pangeran Su Tsung merangkulnya.
"Sribaginda, tidak ada jalan lain, harap paduka menguatkan hati paduka, semua ini demi negara!" kata Kok-ciangkun dan mendengar kalimat terakhir ini, kaisar mendapatkan tenaga baru, dan diapun mengangguk. Demi negara! Demi kerajaan! Dia harus mengorbankan Yang Kui Hui, selir tercinta.
Kok Cu It lalu berdiri di tepi loteng dan berseru dengan suara lantang bahwa Selir Yang Kui Hui siap menerima hukuman mati, dan agar para perajurit tenang. Mendengar teriakan ini, semua perajurit menjadi diam dan suasana menjadi hening, namun mencekam sekali, menegangkan perasaan.
Tak lama kemudian Yang Kui Hui naik ke loteng dan ia telah mengenakan pakaian serba putih dari sutera halus, rambutnya yang masih hitam dan panjang itu dibiarkan terurai dan ia tidak mengenakan perhiasan sebuahpun. Namun, dalam pakaian sederhana serba putih dan mengurai rambut itu, makin nampak kecantikannya yang aseli dan memang wanita ini memiliki kecantikan yang sukar dicari bandingnya! Melihat selirnya sudah siap untuk mati, kaisar merangkulnya lagi.
"Kui Hui ah, Kui Hui........ bagaimana aku dapat membiarkan engkau mati meninggalkan aku......?"
Kui Hui juga menangis, akan tetapi ia menghibur kaisar.
"Sribaginda, harap relakan hamba. Hamba akan menanti paduka di sana...."
Selir itu lalu melepaskan rangkulan dan ia menyerahkan sebuah sabuk sutera putih kepada Kok Cu It untuk dipasangkan di balok melintang. Kok-ciangkun tanpa ragu lagi segera membuat tali penjirat yang tergantung di balok melintang, kemudian, setelah Yang Kui Hui merangkul dan mencium kaisar, ia lari dan dibantu Kok Cu It, selir ini memasukkan kepalanya di lubang jiratan yang dibuat di ujung sabuk, kemudian ia meloncat dan tubuhnya terayun-ayun, lehernya tergantung!
"Kui Hui......!"
Kaisar merintih dan terkulai pingsan dalam rangkulan pangeran mahkota Su Tsung. Melihat tubuh selir itu tergantung dan meronta sebentar lalu terkulai para perajurit yang menonton dari bawah bersorak gembira. Timbul lagi semangat mereka setelah kini dua orang yang mereka benci, yaitu Yang Kok Tiong dan Yang Kui Hui, telah tewas.
Setelah terjadinya peristiwa yang membuat hati kaisar terbenam dalam duka, rombongan itu melanjutkan pengungsian mereka ke daerah Se-cuan. Dan di sepanjang jalan, Panglima Kok Cu it berhasil menghimpun pasukannya, yaitu menampung para perajurit yang melarikan diri dan yang menyusul ke barat untuk bergabung dengan kaisar mereka.
Setelah Yang Kui Hui tidak ada lagi, Kaisar Hsuan Tsung atau Kaisar Beng Ong yang berusa tujuh puluh tahun itu tidak mempunyai semangat lagi dan diapun melimpahkan tahta kerajaan kepada pangeran mahkota, yaitu Pangeran Su Tsung.
Dan di tempat pengungsian ini, Kaisar yang baru, Kaisar Su Tsung, dibantu oleh Panglima Kok Cu It dan para pengawal yang masih setia, membangun kembali kekuatan Kerajaan Tang. Berkat kebijaksanaan Panglima Kok Cu It yang menjanjikan imbalan besar kepada mereka, pasukan Kerajaan Tang mendapat bantuan dari orang-orang Turki, bahkan mendapat bantuan pula dari Caliph, yaitu panglima kerajaan Arab, dan beberapa suku bangsa lain. Akhirnya, dengan bala tentara campuran ini, Panglima Ko Cu It mulai bergerak ke timur untuk merebut kembali Kerajaan Tang yang terjatuh ke tangan An Lu Shan. Dan terjadilah perang yang berkepanjangan.
Setelah jenazah Yang Kui Hui dikubur secara sepantasnya, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan, Kaisar Hsuan Tsung mengadakan percakapan rahasia dengan Pangeran Mahkota dan dengan Panglima Kok Cu It. Hanya mereka bertiga saja yang bicara di dalam ruangan itu, tidak boleh dihadiri orang lain.
Mula-mula kaisar dan pangeran mahkota berdua saja yang duduk di dalam ruangan itu, dan para pengawal disuruh menjaga di luar ruangan. Kemudian datanglah Panglima Kok Cu It dengan wajah muram, dan begitu dia muncul, kaisar sudah cepat bertanya.
"Bagaimana, ciangkun, berhasilkah menemukannya?"
Panglima itu dengan murung menggeleng kepala.
"Tidak berhasil, Sribaginda. Hamba tidak dapat menemukannya di dalam pakaian yang dipakainya, juga di antara perbekalan di dalam tendanya, hamba tidak dapat menemukan pusaka itu."
Panglima itu dipersilakan duduk dan mereka bertiga nampak murung.
"Akan tetapi, kenapa ayahanda menitipkan pusaka yang amat penting itu kepada Paman Yang Kok Tiong?" kata sang pangeran dengan nada suara menyesal.
Ayahnya menghela napas panjang
"Keadaan amat gawat dan kami tidak melupakan untuk membawa pusaka itu ketika mengungsi. Dan kami yakin bahwa pusaka itu tentu akhirnya akan diperebutkan orang, karena menjadi lambang kekuasaan. Untuk mengamankan, diam-diam kami titipkan kepada Menteri Yang. tidak akan dicari orang, dan tidak akan ada yang mengira bahwa pusaka ada padanya. Siapa tahu hari ini terjadi malapetaka yang mendadak tidak disangka¬-sangka?"
"Ampun, Sribaginda. Kiranya tidak perlu disesalkan hal yang telah terjadi. Yang terpenting, kita harus dapat menemukan kembali pusaka itu dan sementara ini kehilangan itu harus dirahasiakan karena kalau sampai terdengar rakyat, tentu dukungan mereka terhadap paduka menjadi lemah ”
"Apa yang dikatakan Paman Panglima Kok memang benar, ayahanda. Tanpa adanya pusaka itu, hamba sendiri akan merasa lemah menunaikan tugas."
Kaisar mengangguk-angguk dan mereka bertiga terbenam ke dalam kekhawatiran. Pusaka apa yang membuat mereka bertiga begitu cemas karena dinyatakan hilang?
Sejak Kerajaan Tang berdiri, satu setengah abad yang lalu, semenjak kaisar pertama Kerajaan Tang memerintah, yaitu Kaisar Tang Kaocu, Kerajaan Tang memiliki banyak pusaka yang menjadi pusaka kerajaan. Akan tetapi di antara semua pusaka yang ada, yang dianggap terpenting dan sebagai pusaka tanda kekuasaan adalah sebuah benda mustika yang amat kuno dan amat indah. Benda itu adalah sebuah kemala yang amat luar biasa karena dalam sebongkah kemala itu terdapat warna merah, putih, hijau dan hitam. Jarang ada kemala yang mengandung beraneka warna seperti itu.
Hiasan kemala itu diukir amat halusnya, berbentuk seekor burung Hong yang sedang terbang membentangkan sayapnya. Ukiran itu sedemikian halusnya sehingga seolah hidup saja, dan sepasang matanya juga mengeluarkan sinar. Bukan Saja benda ini amat indah dan amat berharga, merupakan benda langka, namun lebih dari pada itu, benda ini dianggap memiliki daya atau pengaruh sehingga menjadi kepercayaan umum bahwa siapa yang memiliki benda itu, dialah yang mendapat wahyu untuk menjadi kaisar! Seolah benda itu diturunkan dari langit sebagai tanda kekuasaan Kaisar! Kepercayaan ini merupakan tahyul yang sudah berakar mendalam di hati keluarga Kerajaan Tang dan bahkan semua ponggawanya.
Inilah sebabnya, mengapa ketika kaisar Hsuan Tsung kehilangan mestika itu, dia, pangeran mahkota, dan panglima Kok termangu dan berduka. Kalau sampai berita tentang kehilangan mestika itu terdengar keluar, maka sukar sekali mengharapkan dukungan rakyat untuk bergerak dan bangkit kembali. Raja yang sudah kehilangan giok-hong (Hong Kemala) berarti sudah kehilangan hak untuk menjadi raja!
"Ah, mungkinkah dia mengkhianati kami?" Kaisar yang tua itu mengepal tinju. "Keparat engkau Yang Kok Tiong kalau engkau mengkhianati kami dan memberikan mestika itu kepada orang lain!"
"Ayahanda tentu maklum bahwa Paman Yang mempunyai tiga orang anak, seorang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Bahkan kabarnya ketika terjadi penyerbuan di kota raja, tiga orang anaknya itu belum pulang. Mereka tentu selamat dan mengapa mereka tidak menyusul kita, padahal ayah mereka berada bersama kita? Ini tentu ada sebabnya. Hamba tidak akan merasa heran kalau kelak ternyata bahwa mestika itu berada di tangan seorang di antara anaknya!"
"Mungkin sekali itu. Keparat engkau, Yang Kok Tiong!" Kaisar memaki-maki menterinya yang sudah tewas.
Panglima Kok Cu It menyabarkan dan menenangkan hati ayah dan anak itu.
"Hamba kira, hal itu kelak akan dapat kita selidiki. Hamba kelak akan berdaya upaya sekuat tenaga untuk menemukan kembali mestika itu. Sekarang, sebaiknya kita tidak ribut-ribut dan merahasiakan hal ini, seolah mestika itu masih ada pada paduka. Yang terpenting sekarang adalah menghimpun tenaga agar kita dapat membalas kekalahan kita dari An Lu Shan."
Kaisar tua mengangguk-angguk. Pangeran mahkota Su Tsung yang masih cemas dengan kehilangan mestika itu yang akan membuat dia merasa hampa kalau kelak menjadi kaisar tanpa memilikinya, segera bertanya,
"Akan tetapi, Paman Panglima. Bagaimana kalau nanti para pimpinan kelompok yang kita mintai bantuan mengetahui bahwa mestika itu tidak ada pada kita lagi? Bagaimana kalau mereka minta agar ayahanda Kaisar memperlihatkan mestika itu kepada mereka? Ingat, suku-suku bangsa di sini, terutama bangsa Uigur yang kita harapkan sekali bantuannya, amat percaya akan lambang kekuasaan itu."
"Paduka benar, Pangeran, akan tetapi jangan khawatir, hamba akan mempersiapkan tiruannya!"
Demikianlah, kehilangan mestika itu tetap menjadi rahasia karena setelah tukang yang pandai membuatkan sebuah mestika tiruan yang dilihat begitu saja serupa dengan yang aseli, diam-diam Panglima Kok Cu membunuhnya. Mestika Hong Kemala yang palsu itu lalu diserahkan kepada Kaisar. Ketika kaisar menyerahkan kedudukannya kepada Pangeran MaKkota, maka mestika palsu itupun diberikan kepadanya.
Beberapa kali mestika itu diperlihatkan sepintas lalu kepada para pimpinan kelompok atau suku bangsa sehingga mereka semua percaya bahwa kaisar baru itu masih memiliki Mestika Hong Kemala, maka mereka bersemangat membantunya karena mereka percaya bahwa barang siapa memiliki mestika itu, dipastikan berhasil menjadi raja!
**** 009 ****
***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 010
***Kembali

No comments:
Post a Comment