Ads

Thursday, August 22, 2013

Mustika Burung Hong Kemala Jilid 008

***Kembali

"Kami tidak pernah mengenal siapa beliau, locianpwe, bahkan beliau memesan agar kami merahasiakan ajaran itu. Akan tetapi karena locianpwe telah mengenal ilmu pedang kami, terpaksa kami membuka rahasia ini."

"Ha-ha-ha-ha! Omitohud......! Si jembel tua itu sampai sekarang masih suka bersikap rahasia-rahasiaan! Jembel tua yang mengajarkan ilmu pedang itu kepada kalian adalah Sin¬tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti), seorang di antara tokoh-tokoh sakti dalam dunia persilatan. Kalian bangkitlah. Tidak perlu berlutut, mari kita bicara dengan baik. Pinceng melihat bahwa kalian bukanlah gadis-gadis kang-ouw biasa. Pakaian kalian dan kuda kalian menunjukkan bahwa kalian adalah gadis-gadis hartawan, dan sikap serta bicara kalian juga berbau bangsawan! Bagaimana gadis-gadis seperti kalian dapat berkeliaran di sini? Pinceng Kong Hwi Ho-siang paling tidak suka melihat kepalsuan, maka kalau kalian tidak ingin pinceng tinggalkan sekarang juga, ceritakan sejujurnya siapa kalian dan mengapa pula dapat berada di tempat ini."

Melihat wajah yang cerah dan penuh senyum itu kini nampak bersungguh-sungguh, Kui Bi tidak berani main-main lagi.

"locianpwe, karena locianpwe juga bersikap jujur, maka kami berjanji akan berterus terang kepada locianpwe. Kami kakak beradik, namaku Yang Kui Bi dan ini kakakku Yang Kui Lan. Kami dari kota raja........"

"She Yang dari kota raja?" Hwesio itu memotong dan kini sepasang alisnya berkerut, matanya mencorong. "Mengingatkan pin-ceng kepada Menteri Utama Yang Kok Tiong dan selir Kaisar Yang Kui Hui yang tersohor itu....!"

"Mereka adalah ayah dan bibi kami, locianpwe," kata Kui Lan dengan suara lirih.

Hwesio itu terbelalak, untuk beberapa detik lamanya wajahnya berubah, senyumnya hilang dan alisnya berkerut. Akan tetapi dia segera dapat menguasai dirinya dan nampak tenang kembali.

"Hemm, kalian adalah puteri Menteri Utama, bahkan keponakan selir Kaisar yang paling berpengaruh. Kalian kaya raya dan berkedudukan tinggi, berenang dalam lautan kemewahan dan kemuliaan. Kenapa dapat berkeliaran ke tempat sunyi ini tanpa pengawal?"

Kui Lan tidak dapat menjawab dan mengerling kepada adiknya, menyerahkan tugas kepada adiknya untuk menerangkan. Kui Bi tersenyum dan menatap tajam wajah hwesio itu.

"locianpwe sendiri merasa tidak senang mendengar bahwa kami dari keluarga Yang. Hal ini kami ketahui dari pandang mata dan sikap locianpwe. Apa lagi locianpwe, bahkan kami sendiripun muak dengan segala macam kepalsuan yang berada di kota raja, terutama di istana. Justeru karena kemuakan kami itulah kami meninggalkan kota raja dan merantau, locianpwe."

"Omitohud.....! Mana mungkin dapat dipercaya keterangan ini? Kalian puteri-puteri bangsawan, dekat dengan istana, bagaimana mungkin merasa muak dengan kehidupan mewah itu dan pergi meninggalkan rumah untuk merantau? Kepalsuan-kepalsuan apa yang kalian lihat dan rasakan?"

"locianpwe, kami adalah tiga bersaudara. Kami masih mempunyai seorang kakak kami bernama Yang Cin Han. Kami bertiga sejak kecil suka mempelajari silat dan juga kami membaca kitab-kitab sejarah. Kami melihat ketidak wajaran dan kepalsuan merajalela di istana. Sribaginda Kaisar seperti boneka di tangan bibi kami Yang Kui Hui. Ayah kamipun diangkat menjadi Menteri Utama bukan karena kecakapan dan kemampuan melainkan karena jasa bibi Yang Hui. Kami muak dengan semua itu dan kami bertiga meninggalkan rumah. Kami ingin bertualang, ingin bebas merdeka seperti burung--burung di angkasa. Kami ingin meluaskan pengalaman dan memperdalam ilmu kami. Kebetulan kami bertemu dengan locianpwe di sini, maka kami mohon sekali lagi, sudilah kiranya locianpwe menerima kami sebagai murid."

Setelah berkata demikian, Kui Bi memegang tangan kakaknya dan kembali mereka berdua menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio itu yang duduk bersila diatas batu besar.

"Omitohud...., sungguh menakjubkan! Betapa akan bahagianya bangsa dan negara kalau semua orang muda seperti kalian ini, tidak silau oleh kesenangan melainkan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun, agaknya masih sangat sukar untuk percaya begitu saja. Kalau kalian ingin menjadi murid pinceng, dapat pinceng menerima kalian namun dengan satu syarat."

"Apa syaratnya, locianpwe? Kami siap memenuhinya," kata Kui Bi dengan tegas.

"Syaratnya, kalian harus taat, dan selama dua tahun penuh kalian tidak boleh meninggalkan kuil di mana kalian akan pinceng titipkan. Selama dua tahun itu, apapun yang terjadi di kota raja, kalian tidak boleh meninggalkan kuil dan harus melatih semua ilmu yang pinceng ajarkan dengan tekun. Nah bersediakah kalian memenuhi syarat itu?"

"Sayabersedia!" kataKui Bi tegas.

"Saya..... saya.... bagaimana kalau ayah dan ibu menjadi gelisah dan sedih karena selama itu kita tidak pulang, Bi-moi?" Kui Lan meragu.

"Lan-ci, bukankah kita sudah bertekad meninggalkan semua itu? Setelah lewat dua tahun, baru kita pulang!” bantah adiknya.

"Omitohud...., kalau kalian tidak rela, jangan memaksa diri agar kelak tidak akan menyesal dan menyalahkan pin-ceng," kata hwesio itu dan tanpa diketahui dua orang gadis itu, dia memandang mereka dengan sinar mata yang tiba-tiba membayangkan perasaan iba yang mendalam!

"Sudahlah, Lan-ci, bagaimana kita dapat melewatkan kesempatan baik ini! Bukankah selama ini kita mendambakan seorang guru yang sakti?"

Kui Lan menyerah
"Baiklah, saya bersedia melaksanakan perintahdan memenuhi syarat itu,"katanya.

"Bagus! Nah, sekarang tunggangilah kuda kalian dan ikuti pin-ceng pergi dari sini!"

"Nanti dulu, locianpwe. Kami belum melakukan upacara pengangkatan guru." kata Kui Bi dan iapun kembali menggandeng tangan encinya untuk berlutut dan memberi hormat delapan kali kepada hwesio itu sambil menyebut "Suhu". Hwesio itu yang kini telah mendapatkan kembali kegembiraannya, tertawa-tawa sampai perutnya yang gendut itu bergerak-gerak, seolah ada kehidupan tersendiri dalam perut yang besar itu.

"Sudahlah, pin-ceng senang sekali mempunyai murid-murid seperti kalian," kata Kong Hwi Ho-siang dan sekali menggerakkan tangan, ujung lengan bajunya menyentuh pundak dua orang gadis itu dan luar biasa sekali, Kui Lan dan Kui Bi merasa seperti terangkat oleh angin yang amat kuat sehingga mau tidak mau mereka bangkit berdiri dan memandang kagum karena mereka mengerti bahwa gerakan guru mereka tadi merupakan pengerahan sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat.

"Akan tetapi, suhu. Bagaimana mungkin teecu berdua menunggang kuda sedangkan suhu berjalan kaki? Biarlah teecu dan enci Kui Lan berboncengan dan suhu menunggang kuda teecu (murid) ."

Hwesio itu tertawa bergelak dan mulutnya terbuka. Dua orang gadis itu memandang dengan heran melihat betapa mulut itu sama sekali tidak mempunyai gigi lagi, seperti mulut bayi! Dan tertawa seperti itu, memang wajah Kong Hwi Ho¬siang mirip wajah seorang bayi

"Ha-ha-ha-ha, pin-ceng telah di kurniai sepasang kaki yang kuat, kenapa mesti pinjam kaki kuda untuk berdiri? Sudahlah, kalian tunggangi saja kuda kalian dan pin-ceng berjalan kaki Kau kira gurumu ini tidak akan mampu menandingi larinya kuda?"

Dua orang gadis itu saling pandang, merasa heran, kagum dan juga bangga, akan tetapi ada pula perasaan ingin membuktikan dan penasaran. Boleh jadi suhunya memiliki ilmu silat yang hebat, akan tetapi lari menandingi kuda? Melihat kedua orang murid itu nampak tertegun dan ragu, Kong Hwi Ho-siang memberi isyarat dengan tangan agar keduanya cepat meloncat ke atas punggung kuda.

"Nah, ikuti pin-ceng!" katanya dan tubuhnya berkelebat ke depan dan melesat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya!

Dua orang gadis itu terkejut dan cepat menggebrak kendali agar kuda mereka berlari cepat mengejar bayangan guru mereka yang sudah jauh itu. Mereka membalapkan kuda, akan tetapi tetap saja tidak mampu menyusul bayangan yang bergerak meluncur menyusuri sungai. Padahal, mereka melihat betapa hwesio itu seperti melangkah biasa saja, namun jubahnya yang lebar berkibar-kibar!

Mereka tentu saja menjadi kagum bukan main dan kini lenyap pula sedikit keraguan yang masih bersisa di hati Kui Lan. Kegembiraan melihat kenyataan akan kesaktian gurunya membuat gadis ini dapat melupakan bayangan kerinduan terhadap orang tuanya. Guru seperti hwesio ini sukar ditemukan dan mereka beruntung sekali, tidak saja tadi diselamatkan dari malapetaka mengerikan, bahkan kini diterima menjadi murid.

Ketika akhirnya mereka menghentikan larinya kuda di pekarangan sebuah kuil yang berada di tempat sunyi, di tepi sungai dan di kaki sebuah bukit, kuda mereka terengah dan berpeluh, akan tetapi hwesio itu sama sekali tidak berkeringat, dan napasnya biasa saja, masih tersenyum lebar.

"Wah, suhu hebat sekali! Suhu lari melebihi kecepatan kuda kami!" Kui Bi berseru kagum sambil melompat turun. "Suhu harus mengajarkan ilmu berlari cepat seperti itu kepada teecu!"

"Hushh, Bi-moi, mana ada murid mengharuskan gurunya!" Kui Lan menegur, khawatir kalau guru mereka menjadi marah mendengar kelancangan adiknya.

"Omitohud....! Kakak beradik memiliki watak yang jauh berbeda, akan tetapi keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Demikianlah segala.apa yang berada di dunia ini, termasuk manusia. Ada kelebihannya pasti ada kekurangannya, ha-ha-ha. Kalian jangan khawatir. Kalau kalian tekun berlatih, dalam dua tahun pinceng akan menurunkan ilmu-ilmu simpanan pin-ceng kepada kalian. Ilmu berlari cepat seperti tadi bukan apa-apa, walaupun amat penting, yaitu kalau-kalau kalian terpaksa melarikan diri, tidak akan mudah, dikejar, ha-ha-ha!"

Dua orang gadis itupun tersenyum mendengar kelakar guru mereka yang kadang penampilannya tidak mirip pendeta bahkan lebih mirip kanak-kanak.

Mereka memasuki kuil. Kuil yang tidak besar itu berada di tepi Sungai Wei, di kaki Bukit Bangau. Tempat yang cukup sunyi karena berada di luar dusun, bahkan jauh dari kota Mereka di sambut oleh seorang nikouw (pendeta wanita) yang bertubuh kurus dan nampak bersih dan rapi. Usianya sekitar lima puluh tahun, masih cantik akan tetap dirinya di bungkus kesederhanaan yang wajar, matanya lembut dan gerak-geriknya nampak ringkih.

"Susiok (paman guru)!" Nikow itu memberi hormat kepada Kong Hwi Ho-siang yang tertawa-tawa.

"Pek-lian, ini adalah murid-murid pin-ceng, namanya Yang Kui Lan dan adiknya, Yang Kui Bi. Kui Lan dan Kui Bi, ini adalah murid keponakan pinceng, namanya Pek-lian Nikouw. Kalian boleh menyebut suci (kakak seperguruan) kepadanya dan dapat mengharapkan petunjuknya. Jangan mengira ia lemah ia memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang membuat gerakan pin-ceng akan nampak lamban sekali!" Hwesio itu tertawa dan dua orang gadis itu terkejut dan kagum bukan main. Kalau guru mereka yang memiliki ilmu berlari secepat itu masih memuji ginkang nikow ini, sudah tentu ia memiliki kepandaian hebat bukan main.

"Omitohud. susiok selalu berkelakar dan terlalu memuji.," kata nikouw tua dengan lembut dan senyumnya amat ramah. "Dalam hal ilmu silat, pin-ni (saya) seperti semut dibandingkan susiok yang seperti gajah. Pin-ni hanya belajar sedikit ilmu untuk melarikan diri dari bahaya."

Kong Hwi Ho-siang tertawa terpingkal-pingkal.
"Ha-ha¬heh-heh, pin-ceng seperti gajah? Ha-ha-ha, sungguh tepat. Ketahuilah, PeK-lian, pin-ceng hendak menitipkan dua orang murid pin-ceng itu di sini. Tidak, mereka tidak harus menjadi nikouw, mereka hanya pinceng titipkan selama pin-ceng mengajar ilmu silat kepada mereka."

"Tentu saja, susiok. Mereka boleh tinggal di sini selama mereka sukai, asal tempat yang sederhana ini tidak membosankan hati mereka. Mari, kedua sumoi, mari masuk dan pin-ni pilihkan kamar yang pantas untuk kalian."

"Aih, suci, tidak perlu repot-repot mengurus kami. Sebaiknya kalau kami berkenalan dulu dengan para nikouw yang tinggal di sini," kata kui bi. Mereka lalu diperkenalkan dengan lima orang nikouw lain yang tinggal di kuil Thian-bun¬tang itu.

Demikianlah, sejak hari itu, Kui Lan dan Kui Bi tinggal di kuil Thian-bun-tang dan setiap hari mereka melatih diri dengan ilmu-ilmu silat yang diajarkan oleh guru mereka. Kong Hwi Ho-siang sendiri tidak tinggal di kuil itu, hanya seminggu sekali datang untuk menggembleng dua orang muridnya dari pagi hingga malam. Juga mereka berdua mendapatkan petunjuk ilmu meringankan tubuh dari Pek-lian Nikouw dan mempelajari isi kitab-kitab agama dari para nikouw lain.

Atas kehendak Kong Hwi Ho-siang dua orang gadis ini tidak pernah keluar dari kuil sehingga tidak ada orang lain yang mengetahui bahwa di kuil itu tinggal dua orang gadis cantik jelita Inilah sebabnya mengapa semua usaha Menteri Yang untuk mencari kedua orang puterinya itu gagal.

Karena kakak beradik ini memang berbakat baik, apa lagi di bawah bimbingan yang tekun dari Kong Hwi Ho-siang, juga lingkungan hidup yang bersih rajin dan tekun dengan para nikouw, kedua orang gadis bangsawan itu memperoleh kemajuan pesat sekali. Pelajaran keagamaan juga merupakan hiburan yang baik, sekali dan dapat mengobati kerinduan mereka terhadap orang tua.

**** 008 ****

***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 009
***Kembali

No comments:

Post a Comment