Ads

Thursday, August 22, 2013

Mustika Burung Hong Kemala Jilid 007

***Kembali

"Boleh, boleh! Jangankan hanya dua ekor kuda Itu, semua kuda yang kami miliki akan kuberikan kepadamu, manis, bahkan diriku ini kupersembahkan kepada kalian dua orang nona manis. Marilah kalian ikut denganku untuk menerima semua itu!"

Yang Kui Lan yang sejak tadi diam saja, tak dapat menahan kemarahanya mendengar ucapan yang maksudnya membalas dengan kata-kata tak senonoh itu.

"Jahanam busuk tahan mulutmu yang kotor!" bentaknya dan Kui Bi tersenyum melihat sikap encinya. Biasanya, encinya seorang yang penyabar dan jarang marah, kalaupun marah akan diam saja dan tidak sampai meledak seperti sekarang.

"Nah, babi gendut, enciku sudah marah. Cepat kembalikan kuda kami atau aku tidak akan menanggung-jawab kalau lehermu akan dipancung enciku yang sudah marah!"

Kui Lan mengerling kepada adiknya sebagai teguran. Dalam keadaan seperti itu, si bengal itu masih juga sempat berkelakar. Akan tetapi ucapan bernada mengejek dan menghina itu masih saja tidak memanaskan hati Kwi-jiauw Lo-mo. Dia adalah seorang datuk kaum sesat yang amat terkenal di dunia kang-ouw, yang sudah lama tidak pernah memperlihatkan diri. Kini, agaknya dia muncul dan memimpin gerombolan perampok. Hal yang sungguh mengherankan kalau diingat bahwa datuk sesat ini pernah memimpin gerombolan yang ratusan orang banyaknya. Semenjak gerombolannya dibasmi pasukan pemerintah yang di pimpin oleh seorang panglima yang lihai, dia menghilang dan baru sekarang, sepuluh tahun lebih kemudian, dia muncul lagi hanya sebagai pemimpin gerombolan yang terdiri dari dua puluh orang lebih saja.

"Nona-nona manis, kalian seperti dua ekor burung yang baru meninggalkan sarang, terlalu berani namun kurang perhitungan sehingga kalian berani menentang Kwi-jiauw Lo¬mo. Nah, majulah, akupun ingin berkenalan dengan dua orang gadis yang akan menjadi selir-selirku, heh-heh-heh!"

Ucapan ini demikian menusuk perasaan sehingga Kui Bi sendiri yang biasanya lincah Jenaka dan pandai bertengkar, menjadi bungkam, mukanya kemerahan dan matanya bersinar-sinar.

"Babi gemuk, engkau akan mampus oleh pedang kami!" bentaknya dan iapun sudah menerjang dengan pedangnya, mengirim tusukan dengan jurus Dewi mempersembahkan bunga yang amat cepat dan indah gerakannya, namun didukung tenaga dahsyat Kui Lan juga sudah menggerakkan pedangnya, membantu adiknya menyerang laki-laki pendek bundar itu.

"Trangg! Cringgg....!!"

Bunga api berpijar dan dua orang kakak beradik itu terkejut dan terhuyung ke belakang ketika pedang mereka bertemu dengan sepasang cakar setan itu. Bukan main kuatnya tenaga yang menangkis pedang mereka !

"Ha-ha-ha-ha, nona-nona manis kalian baru tahu hebatnya Kwi-jiauw Lo-mo! Ha-ha-ha!"

Dan kini, tubuh yang bulat itu menggelinding atau berputar-putar seperti bola, menerjang ke arah mereka secara aneh. Dua orang gadis itu cepat memutar pedang dan memainkan Sian-li Kiam-sut bagian pertahanan untuk melindungi diri mereka. Dan memang hebat ilmu pedang ini. Biarpun gerakan lawan amat dahsyat, namun dengan pertahanan ilmu pedang itu, Kui Lan dan Kui Bi masih mampu melindungi diri mereka sampai lewat belasan jurus. Tiba-tiba si pendek gendut yang bergerak seperti bola menggelinding ke sana sini itu meloncat ke belakang dan berdiri tegak .sambil tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kalian sungguh hebat, memiliki ilmu pedang aneh yang baik sekali. Akan tetapi, lihat jurusku ini!"

Tiba-tiba tubuhnya bergerak, tidak lagi bergulingan seperti tadi, melainkan meloncat seperti katak, dan tubuh itu berputar di udara dan menerjang ke arah Kui Bi seperti sebuah peluru besar yang berputar. Kui Bi terkejut, mencoba untuk membacok dengan pedangnya.

"Tranggg......! !" pedang itu seperti bertemu bola baja yang amat kuat dan terlepas dari tangan Kui Bi karena sebetulnya, pedang Itu telah ditangkap dan direnggut oleh cakar baja dan sebelum gadis itu mampu mengelak, pinggangnya telah kena disepak oleh pinggir kaki. Untung tidak ditendang karena kalau terkena tendangan dari depan, tentu tubuhnya akan ditembusi besi runcing di ujung sepatu. Kui Bi mengeluh dan terpelanting roboh! Kui Lan marah dan menyerang dengan dahsyat sambil mengeluarkan bentakan nyaring.

"Haiiii........!"

Namun, lawannya melompat ke belakang, lalu seperti katak yang pandai membuat lompatan berganda, tubuh itu kembali meluncur balik ke arah Kui Lan dan seperti tadi, tubuhnya berputar. Kui Lan menusukkan pedangnya menyambut.

"Cringgg......!!"

Seperti halnya adiknya, pedang Kui Lan terampas dan iapun terpelanting di dekat adiknya, terkena sepakan pada bahunya. Selagi mereka bergerak hendak bangkit, tiba-tiba tubuh si pendek itu sudah berdiri di dekat mereka sambil tertawa bergeIak.

"Omitohud.....! Iblis dan setan bermunculan, pertanda bahwa dunia akan mengalami kekacauan," terdengar suara lembut, namun suara itu mengandung getaran yang sedemikian kuatnya sehingga Kwi-jiauw Lo-mo sendiri terkejut bukan main dan cepat dia membalikkan tubuh memandang.

Di depannya berdiri seorang hwesio yang berkepala gundul kelimis, mukanya segar dan kemerahan seperti muka kanak ¬kanak, tubuhnya gemuk dengan perut besar seperti arca Ji-lai¬hud, mata dan mulutnya demikian ramah selalu tersenyum seperti muka bayi yang sedang merasa nyaman tubuhnya, dan dia mengenakan jubah kuning yang longgar, sepatu kulit kayu dan memegang sebatang tongkat bambu ular, yaitu semacam bambu kuning yang bentuknya seperti ular, demikian pula warna garis dan totol-totol seperti kulit ular.

Kwi-jiauw Lo-mo adalah seorang datuk sesat yang sepuluh tahun lalu malang melintang di dunia kang-ouw, banyak pengalamannya dan mengenal para tokoh dunia persilatan. Akan tetapi dia tidak mengenal hwesio yang usianya kurang lebih enam puluh tahun ini! Biarpun demikian, dia tahu bahwa hwesio ini seorang sakti, dan dia tahu pula bahwa orang ¬orang yang telah menjadi pendeta, tidak mencari kemashuran nama, kedudukan atau harta benda sehingga banyak di antara mereka yang berilmu tinggi, tidak terkenal didunia kang-ouw.

"Hemm, hwesio yang baik, siapakah engkau dan mengapa seorang pendeta yang hanya sibuk dengan urusan nirwana, hari ini mencampuri urusan duniawi? Apakah engkau tidak takut jubahmu nanti dikotori urusan dunia?" ucapan ini bernada mengejek, akan tetapi juga cukup menghormat karena bagaimanapun juga, datuk sesat ini tidak berani memandang rendah para pendeta.

Mendengar teguran itu, hwesio gendut seperti arca Ji-lai¬hud itu masih tersenyum, akan tetapi matanya membayangkan kebingungan karena memang tidak semestinya seorang pendeta mencampuri urusan orang lain, apa lagi urusan tokoh-tokoh dunia sesat. Melihat kebimbangan sikap hwesio gendut itu, Kui Bi yang mengharapkan bantuan dan melihat adanya bahaya mengancam, segera berkata dengan suara lantang.

"Heii, babi gemuk Kwi-jiauw Lo-mo, apakah engkau yang sudah setua ini tidak tahu akan pendirian seorang yang berhati suci dan mulia? Ada pendapat nenek moyang yang bijaksana begini: Membiarkan kejahatan berlangsung di depan mata tanpa mencegahnya, sama saja dengan membantu berlangsungnya kejahatan itu sendiri! Engkau dan anak buahmu merampok kami enci dan adik, dan hendak menawan dan menghina kami. Kalau losuhu ini membiarkannya saja, berarti beliau telah membantu perbuatan keji dan jahat kalian dan beliau tentu tidak mau disebut antek perampok-perampok seperti kamu!"

"Bocah setan, tutup mulutmu!" Kwi-jiauw Lo-mo dengan marah membentak dan dia menubruk maju, menyerang dengan cakar kirinya untuk membunuh agar gadis itu tidak banyak cakap.

Yang Kui Bi cepat mengelak dengan melempar tubuh ke samping, akan tetapi angin pukulan yang dahsyat membuat ia terpelating. Gadis ini tabah dan cerdik. Begitu tubuhnya terpelanting, ia sudah bergulingan ke arah hwesio gemuk sambil berseru,

"Lebih baik mati gagah sebagai harimau dari pada hidup pengecut macam babi!" Jelas bahwa ucapan ini ditujukan kepada hwesio, untuk mengejeknya dengan maksud agar hati hwesio itu tersentuh.

"Hendak lari kemana kau!" bentak Kwi-jiauw Lo-mo.

Dia mengejar dan memukul lagi, tidak perduli kepada hwesio yang berada dekat gadis yang bergulingan itu.

"Plak! Duk!!" kedua cakar itu terpental dan tubuh Kwi-jiauw Lo-mo terhuyung ke belakang.

"Omitohud.... bukan pinceng (aku) suka usil mencampuri urusan orang lain, akan tetapi tanganku menjadi tak berguna dan batinku kotor kalau pinceng membiarkan saja orang bertindak jahat dan sewenang-wenang. Gadis ini benar, pinceng tidak ingin menjadi antek penjahat. Harap Lo-mo tidak mengganggu mereka lagi."

"Hwesio keparat!"

Dengan kemarahan membuat mukanya merah dan matanya melotot, Kwi-jiauw Lo-mo (iblis Tua Cakar Setan) itu kini menerjang dan menyerang hwesio gendut dengan kedua cakarnya, mengerahkan seluruh tenaganya karena dia maklum bahwa lawannya adalah seorang yang tangguh. Hwesio itupun menggerakkan tongkat bambunya untuk melindungi dirinya sambil menggeser kaki ke sana sini untuk menghindarkan diri dari amukan Si Cakar Setan.

Sementara itu, belasan orang anak buah Si Cakar Setan sudah pula mengeroyok Kui Lan dan Kui Bi. Dua orang gadis ini cepat mengambil pedang mereka dari atas tanah dan mereka berdua mengamuk. Kini, Kui Lan tidak lagi merasa ngeri dan ia menggerakkan pedangnya dengan cepat dan kuat, bahkan seolah tidak mau kalah dengan adiknya karena ia yakin bahwa kalau mereka berdua tidak dapat membasmi kawanan penjahat ini, mereka yang akan tertimpa malapetaka yang lebih mengerikan dari pada maut. Mereka berdua sudah memainkan Sian-li Kiam-sut, dan dengan ilmu pedang ini, belasan orang itu tidak berani menyerang terlalu dekat.

Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui merasa heran, terkejut dan kecelik bukan main ketika dia bertanding melawan hwesio bertongkat bambu kuning itu. Dia adalah seorang di antara tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw, bahkan dapat dibilang seorang di antara para datuk persilatan yang selain memiliki nama besar, juga terkenal lihai sekali dan sukar dicari tandingannya. Sepasang cakar setan yang menyambung kedua tangannya amat tangguh dan sukar dikalahkan. Akan tetapi sekali ini, dan baru pertama kali dialaminya, dia seperti seorang kanak-kanak saja ketika bertanding melawan hwesio yang perutnya gendut dan mirip arca Ji-lai-hud itu. Hwesio itu dengan tongkat bambunya mampu membuat kedua cakar setannya sama sekali tidak sempat menyentuh lawan. Jangankan menyentuh kulit tubuhnya, bahkan menyentuh jubahpun tidak mampu, kemanapun cakarnya menyerang, selalu terpental kalau bertemu dengan tongkat bambu, bahkan pergelangan dan siku lengannya selalu terancam totokan¬-totokan ujung bambu kuning yang gerakannya seperti seekor ular hidup saja! Padahal, dia tidak mengenal hwesio itu. Ini berarti bahwa hwesio gendut itu bukan seorang tokoh besar dunia persilatan, melainkan seorang pendeta yang sama sekali tidak ternama!

Saking geramnya karena sudah belasan kali semua serangannya gagal total, tiba-tiba Kwi-jiauw Lo-mo mengeluarkan suara gerangan seperti seekor biruang dan sepasang cakarnya menyambar dari kanan kiri dengan tenaga sepenuhnya. Agaknya, satu di antara cakar itu tentu akan mengenai sasaran karena tongkat itu mana mampu menangkis sepasang cakar yang datang pada saat yang bersamaan dari kanan kiri? Akan tetapi, tubuh yang gembrot itu ternyata mampu bergerak dengan ringan sekali seperti seekor burung saja tubuh itu sudah melayang ke belakang.

"Tranggg......!!"

Bunga api berpijar ketika sepasang cakar itu saling berbenturan. Sungguh merupakan senjata yang mengerikan!

Sementara itu, kakak beradik Kui Lan dan Kui Bi mengamuk dengan pedang mereka dan membuat belasan orang pengeroyok mereka kocar-kacir. Banyak di antara mereka yang terluka oleh pedang kedua orang gadis itu. Setelah dua orang roboh tewas dan lima yang lain terluka, para pengeroyok itu menjadi gentar dan sambil menyeret kawan¬-kawan yang terluka, mereka lalu melarikan diri.

Melihat betapa anak buahnya melarikan diri dan dia sendiripun tidak mampu menandingi tongkat bambu yang amat lihai itu, Kwi-jiauw Lo-mo maklum bahwa kalau dia nekat melanjutkan perkelahian, akhirnya dia akan mendapat malu.

"Hwesio usil! Biar lain kali aku mencarimu untuk membuat perhitungan!" katanya sambil melompat ke belakang Melihat hwesio itu hanya menyeringai lebar dan tidak mengejar, diapun melompat dan melarikan diri. Dua ekor kuda milik kakak beradik itu ditinggalkan oleh kawanan perampok.

"Omitohud, hanya dengan kemampuan seperti itu sudah berani memaksakan kehendak mengganggu orang lain!" kata hwesio itu sambil tersenyum.

Kalau dia menghendaki, tidak akan terlalu sukar baginya untuk merobohkan Si Cakar Setan itu tadi. Akan tetapi dia tidak mau melakukan itu dan kini dia memandang kepada dua orang gadis yang sudah menjatuhkan diri berlutut di depan kakinya.

"locianpwe telah menyelamatkan nyawa kami!" kata Kui Lan .

"Kami menghaturkan terima kasih locianpwe,," kata pula Kui Bi, "kami akan membalas budi locianpwe dengan melayani semua kebutuhan Locianpwe kalau sudi menerima kami sebagai murid."

Hwesio itu tersenyum, memandang kepada mereka dan matanya berseri ketika dia memandang kepada Kui Bi.

"Omitohud..... kalian ini gadis-gadis petualang telah memaksa pinceng sehingga terseret ke dalam perkelahian! Luar biasa sekali!"

"Maaf, locianpwe," kata Kui Bi yang memang lincah dan pandai bicara. ”Bukan kami yang memaksa Locianpwe, melainkan kemuliaan hati locianpwe sebagai seorang pendeta suci dan orang tua gagah perkasa berwatak pendekar yang memaksa locianpwe turun tangan menolong kami."

Hwesio itu menghela napas panjang dan menggeleng-¬geleng kepalanya yang gundul dan bundar seperti bola, akan tetapi wajahnya masih berseri dan mulutnya masih tersenyum.

"Bukan itu yang menarik sekali hati dan perhatian pinceng, nona. Biasanya, pinceng tidak mau usil mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi, melihat permainan pedang kalian, pinceng merasa tertarik sekali. Bukankah ilmu pedang yang kalian mainkan itu adalah Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Dewi)?"

Kakak beradik itu saling pandang dengan heran, lalu keduanya mengangguk
"Tepat sekali dugaan locianpwe. Memang kami tadi memainkan Sian-li Kiam-sut, akan tetapi karena kami baru saja mempelajarinya, latihan kami belum matang......" kata Kui Lan .

Hwesio itu mengangguk-angguk
"Hemm, engkau benar, nona. Kalau latihan kalian sudah matang, mana mungkin Si Cakar Setan itu akan mampu mengalahkan kalian dengan mudah? Jadi kalian ini murid Sin-tung Kai-ong? Inilah yang menarik hati pinceng untuk turun tangan tadi."

Kui Bi yang cerdik hendak mengatakan benar, akan tetapi kakaknya lebih cepat, Kui Lan seorang berwatak lembut dan sama sekali tidak suka berbohong, dan ia sudah khawatir kalau adiknya berbohong.

"Tidak, locianpwe kami bukan murid orang yang namanya locianpwe sebut tadi."

"Ehh? Lalu dari mana kalian dapat memainkan Sian-li Kiam¬sut? Siapa yang mengajarkannya kepada kalian?"

Dengan singkat namun jelas Kui Lan menceritakan pengalaman mereka ketika bertemu dengan seorang pengemis tua yang kemudian secara rahasia mengajarkan ilmu pedang itu kepada mereka.

***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 008
***Kembali

No comments:

Post a Comment