Ads

Thursday, August 22, 2013

Mustika Burung Hong Kemala Jilid 006

***Kembali

"Heii, itu kuda kami........!" teriak Kui Bi yang cepat meloncat berdiri, lalu berlari keluar, diikuti pula oleh encinya. Akan tetapi, setelah tiba di luar kedai, mereka hanya melihat bayangan dua ekor kuda mereka sudah berlari jauh sehingga akan sia-sia saja mengejar. Keduanya menjadi marah sekali, akan tetapi kalau Kui Lan hanya memandang dengan mata bersinar marah, Kui Bi mengepal tinju dan mengacung-ngacungkan ke arah bayangan dua orang pencuri kuda sambil memaki-maki

"Jahanam keparat, maling busuk pencuri laknat!"

Tiba-tiba terdengar suara laki laki di belakang mereka.
"Nona-nona kalau ingin mendapatkan kembali kuda kalian, serahkan saja kepada kami."

Dua orang gadis itu cepat membalikkan tubuh mereka dan mereka melihat bahwa lima orang laki-laki telah berdiri di depan mereka sambil menyeringai dengan sikap kurang ajar. Mereka berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun dan karena mereka hanya lima orang, maka tahulah kakak beradik itu, bahwa yang mencuri kuda adalah dua orang di antara mereka!

"Heii, itu buntalan kami. Kembalikan!" bentak Kui Lan yang melihat betapa buntalan pakaian mereka berdua kini telah berada dipunggung dua orang diantara lima laki-laki itu.

Akan tetapi lima orang itu hanya tertawa-tawa saja dan seorang di antara mereka, yang bertubuh jangkung dengan muka kekuning-kuningan, berkata dengan suaranya yang kecil tinggi seperti suara wanita.

"Nona-nona manis, apakah kalian berdua menginginkan agar kuda dan buntalan pakaian kalian kami kembalikan?"

Kui Bi memandang dengan mata seperti bernyala.
"Tentu saja! Kembalian kuda dan buntalan kami!"

"Boleh, boleh!" kata si muka kuning. "Akan tetapi kalian berdua ikutlah dengan kami. Kami akan menjadi pegawai dan pelindung kalian, dan kuda serta buntalan pakaian pasti tidak akan ada yang berani menyentuhnya!" Lima orang itu tertawa¬-tawa dan Kui Bi mengepal tinju.

Pada saat itu, pemilik kedai minuman, seorang kakek yang kurus, tergopoh keluar dan berkata kepada si muka kuning.

"Kalian sudah mengambil kuda dan pakaian ji-wi siocia (dua nona) ini, harap lepaskan dan jangan ganggu mereka lagi. Ji¬wi siocia, relakanlah kuda dan buntalan itu, mari masuk saja ke dalam," jelas bahwa pemilik kedai minuman itu merasa iba kepada kakak beradik itu dan hendak mencegah agar dua orang gadis itu tidak diganggu lagi setelah barang-barangnya dirampas.

Akan tetapi, dengan galak Kui Bi membentaknya.
"Engkau agaknya menjadi kaki tangan para perampok ini, ya? Awas, akan kuhancurkan kedaimu nanti!"

Laki-laki tua itu menggeleng-geIeng tangan dan kepalanya.
"Tidak, tidak.... aku tidak ikut-ikut......"

"Lo-sam, pergi atau kau ingin kami bunuh?" bentak si muka kuning dengan bengis dan pemilik kedai yang tua itu terbongkok-bongkok lagi memasuki kembali kedainya.

Yang Kui Bi sudah saling pandang dengan encinya.
"Enci, mereka ini perampok jahat! Ini tugas pertama kita"

Kui Lan tidak menjawab hanya mengangguk dan siap untuk berkelahi. Kui Bi ini melangkah maju menghampiri si muka kuning, mulutnya tersenyum akan tetapi matanya bersinar-sinar.

"Heh, muka kuning! Agaknya engkau yang menjadi kepala gerombolan perampok ini. Cepat kau perintahkan anak buahmu mengembalikan buntalan pakaian kami dan dua ekor kuda kami atau terpaksa kami akan menghajar kalian!"

Si muka kuning sengaja membelalakkan matanya.
"Kalian Menghajar kami? Ha-ha-ha-ha, dengar, kawan-kawan. Mereka ini hendak menghajar kita, ha-ha!"

Mereka semua tertawa dan seorang di antara mereka yang mukanya penuh bopeng bekas penyakit cacar dan tubuhnya tinggi besar kokoh kuat, melangkah maju sambil tertawa paling keras di antara mereka.

"Ha-ha-ha-ha, anak kucing bisa mengaum seperti harimau! Toako, biar kutangkapkan anak kucing cantik ini untukmu, heh-heh!" dan diapun sudah menubruk ke depan, seperti seorang yang benar-benar hendak menangkap seekor kucing saja, kedua tangannya menyambar dan hendak menangkap kedua pundak Kui Bi.

Akan tetapi, Kui Bi sudah siap siaga. Si bopeng itu hanya memiliki tenaga kasar yang besar saja, hanya mengandalkan keberanian dan kenekatan maka dengan mudah Kui Bi yang marah dapat menghindarkan diri dari tubrukannya. Dengan lincah Kui Bi mengelak miring lalu kakinya melangkah maju sehingga ia tiba di sisi kiri agak ke belakang tubuh lawan dan ketika tubuh tinggi besar itu luput tubrukannya dan mendorong ke depan, secepat kilat kaki Kui Bi menendang ke belakang lutut kaki kanan si bopeng yang menopang tubuhnya.

"Dukk!"

Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh tinggi besar itu terdorong dan tersungkur ke depan, hidungnya mencium tanah.

"Desss...., Brukkk.......!

Untung semalam turun hujan dan tanah di pekarangan itu basah dan tidak keras sehingga ketika tubuhnya jatuh tersungkur mencium tanah, bukit hidungnya tidak, remuk melainkan hanya kotor berlepotan tanah basah saja.

Akan tetapi, melihat segebrakan saja si bopeng roboh oleh gadis kecil mungil itu, empat orang perampok lainnya terkejut bukan main dan hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Terutama sekali si bopeng sendiri, bukan saja terkejut dan heran, akan tetapi lebih dari itu dia marah sekali Dia merangkak bangkit dan mukanya yang bopeng itu kini menjadi semakin buruk karena berlepotan tanah dan warnanya menghitam karena darah sudah naik ke kepala dan mukanya.

Si muka kuning yang menjadi pemimpin mereka, dan yang tentu saja paling tangguh di antara mereka, kini melangkah maju.

"Eh, kiranya engkau memiliki juga sedikit kepandaian, nona manis? Bagus, kami menjadi semakin kagum dan akan bangga kalau kalian ikut dengan kami!"

"Enci Lan, kauhadapi anjing muka kuning ini, aku yang merampas kembali buntalan kita," kata Kui Bi dan Kui Lan mengangguk. Tanpa banyak cakap lagi, Kui Lan yang pendiam akan tetapi yang juga sudah marah sekali itu menggerakkan kakinya dan tubuhnya dengan cepat seperti gerakan seekor burung walet, sudah menerjang ke depan, jari-jari tangannya meluncur dan menyerang si muka kuning dengan totokan.

Si muka kuning memang tidak seperti anak buahnya yang hanya mengandalkan tenaga kasar. Ternyata dia pandai ilmu silat dan melihat gadis cantik dan lembut itu menyerang dengan totokan yang mendatangkan angin bersiutan, dia tidak berani memandang ringan dan cepat melompat ke belakang untuk menghindarkan diri. Betapapun, dia tidak gentar dan tidak percaya bahwa gadis cantik lembut itu akan mampu menandinginya, maka begitu serangan pertama Kui Lan luput, dia sudah menerjang sambil mengeluarkan bentakan nyaring, tangan kirinya mencengkeram ke arah kepala Kui Lan sebagai gertakan, dan yang benar-benar menyerang adalah tangan kanan yang mencengkeram ke arah pinggang!

Gerakannya kasar dan bertenaga, seperti gerakan serangan seekor biruang saja. Namun, dengan mudah dan cepat Kui Lan berkelebat dan tubuhnya sudah lenyap dan berada di sebelah kiri lawan, dan serangan itupun hanya mengenai tempat kosong. Akan tetapi, si muka kuning sudah cepat memutar tubuh kekiri dan kini dia menyerang lagi, bukan hanya serangan untuk meringkus gadis cantik itu, melainkan serangan pukulan dengan kedua tangan secara bertubi. Kembali Kui Lan dapat mengelak dengan amat mudahnya. Gadis yang pendiam dan lembut ini telah memiliki ilmu silat yang lumayan tingkatnya, memiliki kecepatan gerakan dan telah menghimpun tenaga sakti, akan tetapi selama ini ia tidak pernah berkelahi!

Biarpun ia sudah mempelajari banyak jenis serangan, banyak macam pukulan dan tendangan yang lihai, namun belum pernah ia memukul atau menendang orang! Karena itu maka iapun masih berpikir-pikir dan memilih-milih, apa yang harus ia pergunakan untuk memukul lawan ini! Dan tiba-tiba seorang yang bertubuh pendek dan berkepala besar, yang melihat betapa pemimpinnya tidak dapat menundukkan gadis cantik itu, sudah maju dan mengeroyok Kui Lan. Menghadapi pengeroyokan itu dengan tenang saja karena ia dapat mengikuti gerak-gerik mereka dengan mudah, dan dapat menghindarkan diri tanpa banyak mengeluarkan tenaga.

Berbeda dengan encinya, walaupun Kui Bi juga belum pernah mempergunakan ilmu silat untuk memukul orang, namun ia adalah seorang gadis lincah yang mudah menyesuaikan diri dengan segala macam keadaan. Karena ia maklum bahwa lima orang itu amat jahat, maka iapun sudah mengambil keputusan untuk memberi hajaran keras kepada mereka, kalau perlu membunuh mereka. Ini merupakan kewajiban, karena para penjahat seperti itu hanya akan membahayakan kehidupan orang lain, dan mengacaukan keamanan. Begitu ia menyuruh encinya untuk menghadapi si muka kuning, tubuhnya sudah berkelebat ke depan dan pertama-tama yang diserangnya adalah orang yang menggendong buntalan pakaiannya, buntalan kain merah!

Orang itu bertubuh tinggi kurus dan wajahnya bengis. Melihat dirinya diserang dengan tamparan, orang ini tersenyum mengejek. Dia memandang rendah gadis yang masih belum dewasa benar itu dan inilah kesalahannya! Dia memandang rendah lawan yang jauh lebih kuat dan lebih lihai daripada dirinya sendiri dan melihat Kui Bi menggerakkan tangan kiri menampar.dari samping; dia menyambut dengan tangan kanan, bukan hanya untuk menangkis, melainkan untuk menangkap lengan yang kecil dan berkulit putih mulus itu! Melihat ini, Kui Bi yang tidak sudi membiarkan lengannya dipegang apa lagi ditangkap, cepat menarik kembali tangan kirinya dan secepat kilat kakinya sudah masuk dan mencium perut lawan.

"Ngekk!"

Ujung sepatu yang mencium perut itu kuat sekali, rasanya seperti tertusuk tombak tumpul, membuat orang tinggi besar itu merasa seperti napasnya terhenti dan otomatis ia membungkuk dan tangan kirinya memegang perut yang baru saja dicium sepatu. Ketika dia membungkuk inilah, tengkuknya disambar tangan kanan Kui Bi yang amat cepat dan kuat.

"Kekk..... !!"

Tubuh itu tersungkur dan pada saat itu, tangan kiri Kui Bi sudah berhasil merenggut lepas buntalan pakaiannya dari punggung orang itu.

Dua orang anggauta gerombolan itu terkejut dan marah. Orang yang mengendong buntalan pakaian kain kuning milik Kui Lan, selain marah juga khawatir kalau-kalau buntalan di punggungnya itu akan terampas pula, maka sudah mencabut golok dari pinggangnya. Juga kawannya yang mukanya brewokan sudah mencabut golok dan mereka berdua menerjang Kui Bi dengan serangan golok yang dilakukan dengan sengit untuk membunuh. Lenyap sudah dari pandangan mereka semua kecantikan yang menggairahkan dari gadis itu, yang nampak kini hanyalah seorang gadis yang merupakan lawan berbahaya dan harus dibunuh segera!

"Singggg......!" nampak sinar menyilaukan mata dan tahu¬-tahu Kui Bi sudah memegang sebatang pedang. pedangnya yang diambilnya dari dari buntalan pakaiannya.

Begitu pedang digerakkan, lenyaplah ujud pedang, berubah menjadi gulungan sinar yang seperti seekor naga melayang-layang dan menyambar ke arah dua orang lawannya yang memutar golok. Terdengar suara berkerontangan dan tiba-tiba ujung pedangnya sudah melukai pundak kiri orang yang menggendong buntalan pakaian kain kuning. Ketika orang itu terhuyung memegangi pundak yang berdarah, Kui Bi sudah meloncat, menyambar dan buntalan milik encinya sudah pula dapat dirampasnya!

Ketika menengok untuk melihat keadaan encinya, Kui Bi mengerutkan alisnya. Encinya dikeroyok dua, si muka kuning dan seorang bertubuh pendek. Kedua orang itu juga menggunakan golok sedangkan encinya bertangan kosong. Sebetulnya, biar dikeroyok dua oleh mereka yang memegang senjata, encinya tidak kalah. Hanya sayang, agaknya encinya itu merasa ragu-ragu untuk menjatuhkan lawan, maka hanya mengelak dan berloncatan ke sana sini saja menghindarkan diri dari sambaran golok dua orang lawannya, ia juga melihat betapa kini tiga orang lawannya sendiri sudah mengepungnya, dengan golok di tangan. Si bopeng, si tinggi besar dan si brewok sudah siap untuk mengeroyoknya dan wajah mereka bengis sekali.

"Enci, kaupergunakan pedangmu ini!" seru Kui Bi kepada encinya.

Mendengar ini, Kui Lan meloncat ke belakang menjauhi dua orang pengeroyoknya dan Kui Bi melemparkan buntalan kuning milik encinya. Kui Lan girang menyambut buntalan itu, mengeluarkan pedangnya dan dengan sikap tenang menggendong buntalan itu di punggungnya. Semua ini ia lakukan dengan tenang sekali walaupun dua orang lawannya kini sudah siap untuk menyerangnya dengan golok.

Begitu dua orang itu, si muka kuning dan si pendek menerjang dengan sengit, Kui Lan menggerakkan pedangnya. Terdengar bunyi berdencing nyaring dan dua orang pengeroyok itu terhuyung ke belakang. Demikian hebat gerakan pedang Kui Lan yang kini merasa lebih tabah karena ia tidak harus menggunakan tangan kosong merobohkan lawan, berarti jari-jari tangannya akan menyentuh tubuh lawan! Dan begitu ia memainkan Sian-li Kiam-sut (ilmu Pedang Dewi) yang gerakannya amat indah juga aneh, dua orang lawannya menjadi bingung dan terdesak hebat, hanya mampu mundur-mundur dan memutar golok melindungi tubuh saja.

Demikian pula dengan tiga orang pengeroyok yang melawan Kui Bi. Tadinya mereka dengan dahsyat dan bengis menerjang, akan tetapi begitu Kui Bi memainkan Ilmu Pedang Dewi, mereka bertiga juga menjadi bingung, pandang mata mereka silau oleh gerakan pedang yang cepat dan aneh, dan hanya mampu mundur saja..

Kui Bi berbeda dengan Kui Lan, hatinya lebih tabah dan lebih keras, maka begitu ia memegang pedang dan menyerang ia tidak mau memberi hati lagi kepada tiga orang lawannya. Juga karena tiga orang lawannya itu hanya memiliki ilmu silat biasa saja, berbeda dengan Si muka kuning lawan Kui Lan yang jauh lebih lihai dari pada anak buahnya, maka belum sampai sepuluh jurus, pedang Kui Bi telah menyambar--nyambar dan tiga orang lawannya terjungkal roboh. Si bopeng mengaduh-aduh dengan paha kanan robek dan tidak mampu bangkit kembali, si tinggi besar terbacok pundaknya sehingga menembus tulang pundak yang menjadi putus, dan si brewok hampir putus pangkal lengan kirinya !

Kui Bi tersenyum dan memandang kepada tiga orang lawan yang sudah roboh itu. Kemudian ia memutar tubuhnya untuk melihat keadaan encinya. ia tidak merasa khawatir dan memang kini encinya sudah membuat dua orang lawan itu terdesak terus, akan tetapi encinya nampak masih ragu-ragu untuk melukai dua orang lawan itu.

"Lan-ci, kalau mereka mendapat kesempatan mereka yang akan membunuhmu! Cepat robohkan mereka!" katanya sambil menggeleng-geleng kepalanya. Encinya itu selalu tidak tega, pada hal ia tahu bahwa encinya lebih berbakat dari pada ia sendiri dalam hal ilmu silat. Kalau mereka berlatihpun, ia merasa berat menandingi encinya. akan tetapi encinya selalu khawatir kalau-kalau melukainya dan sengaja mengalah.

Mendengar ini, Kui Lan menoleh dan melihat adiknya telah merobohkan tiga orang pengeroyoknya, iapun menekan perasaannya, menggigit bibirnya dan begitu pedangnya berdesing-desing, si muka kuning berteriak, pedang di tangan Kui Lan menembus bahu kanannya membuat goloknya terlepas, dan si pendek juga roboh dengan pundak terluka parah!

Pemilik kedai minuman dan para pembantunya yang tadi mengintai dengan ketakutan, kini berdiri di depan pintu, bengong memandang bagaimana dua orang gadis itu merobohkan lima orang perampok yang ganas itu dengan mudahnya! Kui Bi meloncat dan kini pedangnya menempel di leher si muka kuning.

"Kalau engkau tidak cepat menyuruh orang-orangmu mengembalikan kuda kami, aku akan menyayat-nyayat kalian berlima sampai tidak berbentuk manusia lagi!"

Si muka kuning dan kawan-kawannya merasa kecelik. Dia kini tahu bahwa mereka berhadapan dengan dua orang gadis yang hebat, yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Biarpun mereka merasa penasaran, namun sekali ini benar-benar merasa tidak berdaya. Mendengar ancaman gadis yang kecil mungil kelihatan masih remaja itu, yang menempelkan pedang di lehernya, diapun mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan rasa penasaran dan dendamnya.

"Baik, lihiap (pendekar wanita), bebaskan kami dan kami akan cepat menyuruh dua orang kami mengembalikan kuda ji¬wi lihiap (pendekar wanita berdua)."

"Huh, kaukira kami bodoh? Suruh saja seorang dari temanmu yang masih dapat berlari, engkau dan tiga yang lain tinggal di sini. Kalau dalam waktu satu jam kuda kami belum kembali, kalian berempat akan kusayat-sayat!"

Si muka kuning melihat betapa empat orang kawannya semua terluka parah. Si bopeng jelas tidak dapat berlari karena paha kanannya terluka, si brewok juga hampir putus pangkal lengan kirinya, temannya si pendek terluka parah pundaknya, hanya dapat mengaduh dan merintih, dan biarpun si tinggi besar juga terbacok pundaknya sampai menembus tulang pundak yang putus, dia seoranglah yang agaknya masih dapat berlari cepat.

"Akhun, cepat engkau yang pergi melapor dan bawa kembali dua ekor kuda itu!" katanya.

Si tinggi besar bangkit berdiri dengan wajah menyeringai kesakitan, akan tetapi dia memaksa diri untuk berlari sambil memegangi lengan yang pundaknya terbacok.

Kui Bi mengajak encinya untuk kembali memasuki kedai, duduk dan memesan teh. Arak di kedai itu terlampau keras untuk mereka yang biasanya hanya dapat minum teh dan anggur yang tidak begitu keras. Kini mereka menanti sambil duduk minum teh, menghadap ke luar agar mereka dapat mengamati empat orang yang masih merintih-rintih itu. Kini empat orang itu saling bantu untuk mengobati luka mereka dengan obat luka yang selalu terdapat di kantung baju mereka. Kui Bi menggapai kepada kakek pemilik kedai minuman. Dengan terbongkok-bongkok kakek itu mendekat

"Paman, siapakah sebetulnya mereka?"

"Wah, celaka, lihiap...... ji-wi (kalian berdua) telah bermusuhan dengan anak buah Kwi-jiauw Lo-mo (Iblis Tua Cakar Setan). Karena ji-wi berada di sini dan keributan terjadi di sini kalau mereka datang bukan hanya ji-wi yang akan ditangkap, bahkan kedai kami inipun akan dihancurkan dan mungkin kami akan dibunuh!" Kakek itu menangis tanpa suara.

"Hemm, jangan khawatir, kami berdua akan membasmi mereka!" kata Kui Bi dengan gagah.

"Takkan ada gunanya andaikata ji-wi menang juga, karena setelah ji-wi pergi, kami tentu akan menjadi penumpahan dendam mereka. Kalau ji-wi lihiap kasihan kepada kami, harap ji-wi segera pergi dari sini dan mengambil sendiri kuda ji-wi. Sarang mereka berada di bukit depan Itu, bukit kecil di tepi sungai yang nampak dari sini."

Kui Lan bangkit berdiri.
"Bi-moi tidak baik kalau mengakibatkan paman tertimpa malapetaka. Mari kita tinggalkan tempat ini dan mengambil sendiri kuda kita."

Kui Bi mengangguk.
"Baik, marilah, enci."

Mereka keluar dari kedai menggendong buntalan mereka. Ketika tiba di pekarangan di mana empat orang itu masih duduk di atas tanah, Kui Bi berkata,

"Nanti dulu, Lan-ci. Aku akan membereskan mereka!"

"Adik Bi, jangan bunuh orang..!" Kui Lan berseru, alisnya berkerut ia khawatir adiknya akan membunuh empat orang yang sudah terluka itu, Kui Bi tersenyum.

"Lan-ci, para guru kita mengatakan bahwa seorang pendekar tidak akan membunuh lawan yang sudah tidak dapat melawan lagi. Tidak, aku tidak akan pembunuh mereka, hanya memberi hajaran agar mereka jera dan lain kali tidak berani mengganggu wanita!"

Melihat Kui Bi menghampiri mereka, empat orang itu menjadi ketakutan. Kui Bi tersenyum mengejek melihat mereka berempat berhimpitan dengan sikap ketakutan seperti empat ekor kelinci melihat harimau. Begitulah watak orang-¬orang jahat, ganas menindas kalau sedang menang, takut dan pengecut kala berhadapan dengan yang lebih kuat.

"Kau, monyet muka kuning, engkau harus antar kami menyusul orangmu yang mengambil kuda, agar lebih cepat!" kata Kui Bi .

Nampak sinar mata si muka kuning berkilat dan wajahnya membayangkan kegembiraan sekilas mendengar perintah ini. Tergopoh dia bangkit berdiri.

"Baik, lihiap. Mari saya antar......"

Kui Bi menggerakkan kakinya tiga kali dan tiga orang yang lain itu mengeluh dan roboh terjengkang, pingsan disambar ujung sepatu gadis itu.

"Mari kita berangkat" kata Kui Bi dan si muka kuning tanpa dapat bicara segera melangkah ke arah timur, menyusuri sungai, menahan rasa nyeri pada bahu kanannya yang terluka, dan di belakangnya kakak beradik itu berjalan dengan sikap tenang namun waspada. Setelah mereka pergi, pemilik kedai dan anak buahnya cepat menolong tiga orang anggauta perampok itu dan membawa mereka masuk ke dalam kedai untuk merawat mereka. Hal ini terpaksa mereka lakukan agar mereka tidak dilanda amukan para penjahat.

Diam-diam si muka kuning bergembira karena dua orang gadis ini dianggapnya sebagai dua ekor domba yang dia tuntun masuk kedalam rumah jagal! Kalau dua orang gadis ini tiba di lereng bukit karang di depan, yang menjadi sarang dari mereka, pasti mereka tak akan mampu melawan. Dan sudah saatnya dia dan kawan-kawannya membalas dendam! Kalau saja pemimpin besar mereka, Kwi-jiauw Lo-mo, tidak memborong dua orang gadis yang amat cantik jelita ini. Iblis Tua itu terkenal haus akan wanita! Akan tetapi setidaknya, seperti menjadi kebiasaannya, dia mudah bosan dan sebentar saja dua orang gadis ini tentu akan dilemparkan kepada anak buahnya. Nah, pada saat itulah dia akan membalas dendam ini!

Akan tetapi belum ada setengah jam mereka berjalan, dan mereka tiba di tepi sungai yang berada di kaki bukit karang itu, terdengar derap kaki kuda dari depan. Si muka kuning mengangkat mukanya yang nampak bergembira dan suaranya juga terdengar lantang.

"Itu mereka sudah datang!"

Dua orang gadis itu sudah siap siaga. Merekapun tahu bahwa suara itu bukan hanya derap kaki dua ekor kuda, melainkan banyak! Mereka dapat menduga mengapa si muka kuning ini nampak gembira dan setelah rombongan penunggang kuda itu tiba di situ, baru mereka melihat bahwa dugaan mereka benar Dua orang pencuri kuda yang menjadi anak buah si muka kuning itu, bersama si tinggi besar yang tadi disuruh mengambil kuda mereka, datang bersama serombongan orang yang terdiri dari belasan orang banyaknya! Tentu si tinggi besar melapor kepada para pimpinan gerombolan tentang kekalahan lima orang perampok itu dan kini kawan-kawannya datang, bukan untuk mengembalikan kuda melainkan untuk mengeroyok!

Kui Lan dan Kui Bi Sudah siap. Mereka sudah mencabut pedang mereka dan dengan marah Kui Bi menggerakkan pedangnya ke arah si muka kuning yang berteriak dan.roboh. Pahanya disabet pedang sampai terluka parah dan diapun merintih dan mengaduh-aduh. Belasan orang itupun sudah berloncatan dari atas kuda dan dengan golok di tangan, mereka mengepung dan mengeroyok enci dan adik itu. Kui Lan dan Kui Bi memutar pedang mereka dan memainkan Ilmu Pedang Dewi. Nampak dua gulungan sinar pedang yang menyambar-nyambar, membuat para pengeroyok terpaksa mundur dan melebarkan kepungan karena pedang di tangan dua orang gadis itu ampuh bukan main. Dalam waktu kurang dari sepuluh jurus saja, dua orang pengeroyok sudah roboh, padahal, belasan orang itu merupakan tokoh-tokoh yang paling tangguh di antara mereka. Tingkat kepandaian mereka sebanding dengan tingkat si muka kuning.

"Enci Lan, mereka ini srigala-srigala busuk, kita bunuh saja mereka semua!" teriak Kui Bi yang marah sekali. Pedangnya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Akan tetapi, Kui Lan masih membatasi tenaganya karena ia tidak bermaksud melakukan pembunuhan.

Ternyata bahwa ilmu pedang yang dikuasai dua orang kakak beradik itu merupakan ilmu yang hebat. Para pengeroyok itu rata-rata memiliki ilmu silat lumayan, mereka berpengalaman dan sudah terbiasa menggunakan kekerasan dan merekapun memiliki tenaga yang kuat. Namun, menghadapi pedang dua orang gadis itu, mereka tidak dapat berbuat banyak bahkan mereka tidak berani mengepung terlalu ketat karena pedang di tangan kakak beradik itu bukan main ganasnya. Nampaknya lembut dan indah, seperti gerakan gadis-gadis menari-nari, akan tetapi siapa berani mendekat dia akan terbabat atau tertusuk.

"Tahan senjata! Kalian semua mundur!" terdengar seruan suara yang mengguntur dan belasan orang itu berlompatan ke belakang, lalu berdiri tegak dengan sikap menghormat.

Kui Lan dan Kui Bi berdiri tegak pula, berdampingan dan dengan pedang melintang depan dada, waspada dan siaga. Mereka melihat munculnya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, tubuhnya pendek gemuk sehingga kelihatan seperti bulat, kepalanya bulat besar dan botak, matanya, hidungnya, mulutnya, telinganya, semua berbentuk bulat-bulat sehingga dia nampak lucu seperti sebuah boneka besar. Akan tetapi kalau orang melihat ke arah kaki dan tangannya, orang akan merasa ngeri. Kedua tangannya yang berlengan pendek besar itu disambung dua buah cakar besi yang kelihatan kebiruan dan mengkilap, runcing tajam melengkung, dan kedua kakinya mengenakan sepatu yang ujungnya dipasangi besi runcing! Melihat kedua tangan yang dipasangi cakar itu, teringatlah Kui Lan dan Kui Bi akan keterangan pemilik kedai minuman tentang tokoh pemimpin gerombolan penjahat yang dijuluki Kwi-jiauw Lo-mo (Iblis Tua Cakar Setan).

Kui Bi menudingkan pedang dengan tangan kanannya ke arah muka si pendek gendut itu, dan tangan kirinya bertolak pinggang, mulutnya dan pandang matanya mengejek.

“Hemm, kiranya badut ini yang memakai julukan Kwi-jiauw Lo-mo?"

Mendengar ucapan itu, si pendek tidak marah, bahkan tertawa dan nampak giginya yang besar-besar dan juga bentuknya bulat-bulat! Agaknya orang memang diciptakan dengan suatu keistimewaan, yaitu serba bulat, demikian pikir Kui Bi.

"Ha-ha-ha-ha, dua orang nona manis telah memperlihatkan kepandaian. Kalian begini cantik jelita, begini halus lembut dan mulus, akan tetapi gagah memiliki kepandaian lumayan. Sungguh mengagumkan! Dan engkau sudah mengenal pula julukanku, nona manis ya lincah?" Dia memandang kepada Kui Bi merasa betapa mata yang bulat itu seperti mengeluarkan sinar yang hendak menelannya bulat-bulat. Hati gadis ini merasa ngeri juga, akan tetapi ia sengaja mengeluarkan suara yang mendengus dari hidung dan tertawa mengejek.

"Hiiih, apa sih sukarnya menebak bahwa engkau yang berjuluk Iblis Tua Muka Setan? Rupamu seperti iblis dan dua tanganmu memakai cakar baja. Engkau seperti seorang badut yang hanya dapat menakut-nakuti anak kecil saja!"

"Heh-heh, manis. Engkau dan kainmu itu bukan anak kecil lagi maka tidak takut. Dan akupun tidak ingin kalian takut kepadaku, ha-ha-ha!"

"Sudahlah, muak perutku bicara dengan iblis macam kamu! Kwi-jiauw Lo-mo, cepat kembalikan dua ekor kuda milik kami dan kamipun akan melanjutkan perjalanan, tidak akan membunuhi anak buahmu lagi." Ucapan Kui Bi ini memang terdengar tinggi hati sekali dan memang ini disengaja untuk membalas ucapan si.pendek yang mengandung maksud tertentu yang menjijikkan hatinya.

***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 007
***Kembali

No comments:

Post a Comment