Cin Han berjalan santai di jalan raya depan kuil itu. Banyak memang di depan kuil, di kanan kiri, terdapat para pengemis yang menanti para tamu keluar dari kuil untuk minta sedekah. Biasanya, orang yang memasuki kuil tentu untuk bersembahyang dan memohon sesuatu dan orang-orang seperti itulah yang biasanya suka memberi sedekah kepada para pengemis.
Suatu kekeliruan besar telah kita perbuat, sejak sejarah kehidupan manusia dimulai sampai sekarang, yaitu menjadi peminta-minta. Mungkin caranya yang berubah dan berbeda-¬beda, namun pada hakekatnya, tetap saja kita meminta-minta, mengemis. Kepada Tuhan, kepada para dewa, kepada arwah leluhur, bahkan kepada setan dan iblis kita selalu menadahkan tangan untuk minta-minta, untuk memohon sesuatu! Yang kita lakukan dalam sembahyang, selalu berisi penuh permintaan, permohonan! Dan dalam keadaan memohon sesuatu, masih kita sogok lagi dengan perbuatan yang dianggap baik, seperti beramal, memberi sedekah, menolong orang, semua itu untuk memperkuat doa kita agar permohonan kita terkabul! Kalau permintaan dengan segala macam bentuk sogokan itu ditujukan kepada para dewa, kepada arwah atau kepada segala macam setan dan iblis, masih dapat dimengerti, karena mereka memang mungkin masih membutuhkan sogokan. Akan tetapi kalau segala macam permintaan itu ditujukan kepada Tuhan Maha Pencipta, sungguh hal ini patut kita renungkan bersama.
Tuhan Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Kasih! Tuhan telah menciptakan Segala sesuatu dalam keadaan sempurna! Kitapun diciptakan ke dunia ini dalam keadaan yang sempurna, disertai segala macam alat yang paling lengkap untuk dapat hidup. Setiap helai rambut, Setiap lubang pori-¬pori, kuku, gigi, setiap lekukan jari, bulu mata, alis, Panca indera, hati akal pikiran, lengkap dengan segala macam yang ada pada diri kita luar dalam, semua itu mempunyai daya guna untuk dapat kita pergunakan demi kepentingan kehidupan di dunia ini. Sudah diberi sejak lahir secara lengkap. Berkah Tuhan juga, berlimpahan. Kita diberi tanah, udara, panas matahari, air, semua yang diperlukan untuk kehidupan tanam-tanaman yang akan menjadi makanan kita, sampai ke benih segala macam tumbuh-tumbuhan, jutaan macam banyaknya. Ada pula jutaan macam binatang yang dagingnya dapat pula menjadi makanan kita. Segala sudah tersedia, TINGGAL MENGERJAKAN saja. Namun, kita masih saja minta-minta!
Sepatutnya, dalam sembahyang, kita berbakti, kita memuja, kita bersyukur, berterima kasih, karena segalanya telah disediakan Tuhan untuk kita. Kita hanya tinggal mengerjakan segala yang ada pada kita, mengerjakan anggauta badan kita, hati akal pikiran kita, demi mencukupi kebutuhan hidup kita. Demikian Maha Kasih Tuhan sehingga dalam segala macam tumbuh-tumbuhan itu telah terdapat yang bisa mengenyangkan, yang bisa menguatkan, bahkan ada pula yang dapat menyembuhkan kita kalau kita terserang penyakit.
Hidup ini berarti gerak. Siapa tidak menggerakkan dirinya untuk bekerja, tentu akan terjadi gangguan pada dirinya. Bekerja, mempergunakan segala sarana yang telah diberikan Tuhan untuk kita, berarti kita tidak menyia-nyiakan pemberian Tuhan, berarti bahwa kita telah berdosa. Mengerjakan segala sarana yang telah diberikan Tuhan kepada kita berarti berbakti dan memuja kepada Sang Maha Pencipta. Karena itu, tidak ada gunanya memohon tanpa bekerja. Kalau kita lapar, kita harus mencari makanan sendiri, bukan minta makanan kepada Tuhan!
Demikianlah pula kalau kita sakit, kita harus berusaha mencari obatnya. Segala apapun yang kita butuhkan, harus kita cari sendiri. Itulah kewajiban manusia dalam kehidupan di dunia ini. Berikhtiar agar hidup ini terpenuhi semua kebutuhannya, kemudian berikhtiar agar hidup ini terisi oleh manfaat bagi manusia lain. Ikhtiar adalah wajib, dan tanpa mau berikhtiar, hanya memohon dan mengandalkan kepada Tuhan saja, sama dengan mempersekutukan Tuhan, membebani Tuhan dengan segala pekerjaan demi keenakan kita! Betapa besar dosanya kalau sikap ini kita pertahankan!
Sembahyang kepada Tuhan merupakan wajib, yaitu kewajiban kita untuk berbakti, bersyukur dan berterima kasih. Tuhan Maha Tahu Tidak usah kita minta, Tuhan sudah Tahu apa yang kita butuhkan, dan sudah disediakan segalanya, pasti akan kita dapatkan dengan jalan berikhtiar, dengan landasan iman dan kepasrahan kepada Tuhan yang menentukan segalanya. Puji syukur kepada Tuhan. Dan kalaupun ada suatu permohonan suatu permintaan, maka sepatutnya kalau satu-satunya permohonan kita adalah mohon ampun atas segala kesalahan kita yang lalu. Dengan penyerahan kepadaNya, pasrah, tawakal, ikhlas, sabar, maka kita akan mendapatkan bimbinganNya. Bukan dengan cara minta-minta, apa lagi menyogok. Perbuatan baik yang dilakukan dengan sengaja untuk mendapatkan balas jasa, bukan perbuatan baik lagi namanya, melainkan kepalsuan. Sama seperti kalau kita berbuat baik terhadap seorang pembesar dengan harapan agar kelak pembesar itu akan memberi suatu kemudahan bagi kita! Perbuatan baik seperti itu bukan lain hanyalah perbuatan menyogok, menyuap.
Cin Han akhirnya menemukan apa yang dicarinya di pagi hari itu. Kakek itu duduk melenggut di sudut pekarangan kuil. Dia tidak meratap meminta-minta kepada orang-orang yang berlalu-lalang di depannya seperti para pengemis lain. Dia bahkan melenggut dan mengantuk, kedua matanya terpejam, rambutnya yang riap-riapan kelabu itu bagian atasnya, menutupi ubun-ubun kepalanya, dilindungi sebuah topi butut yang bentuknya seperti tempurung kelapa. Tubuhnya yang kurus memang seperti ebi, seperti udang kering ketika dia melingkar di sudut itu. Yang membedakan dia dari para pengemis lain bukan hanya karena dia tidak merengek dan mengemis, akan tetapi kebersihan pada dirinya, baik pada rambutnya, pakaian dan mukanya. Bajunya memang butut dan tambal-tambalan, akan tetapi bersih! Dan sebatang tongkat hitam terletak diatas ke dua pahanya.
Jelas, inilah orangnya, pikir Cin Han, terheran-heran. Orang seperti ini memiliki ilmu silat yang amat tinggi? Sungguh amat sukar dipercaya. Melihat tubuh yang kerempeng itu, agaknya tertiup angin agak keraspun dia akan terpelanting! Berbeda dengan guru-gurunya, para jagoan istana, hampir semua bertubuh kokoh kuat. Akan tetapi, dari para gurunya itu dia sudah mendengar pula bahwa di dunia kang-ouw terdapat banyak orang aneh, orang-orang yang kelihatannya amat lemah, akan tetapi justeru memiliki kesaktian. Karena itu, dia tidak berani memandang rendah, apa lagi teringat akan cerita Kui Bi.
Cin Han mengambil sepotong emas dari sakunya. Emas itu sedikitnya setail beratnya, puluhan kali lebih banyak dari pada keping emas yang pernah diberikan Kui Lan dan Kui Bi kepada kakek ini. Setelah melihat ke kanan kiri dan tidak ada seorangpun yang melihat apa yang diperbuatnya, Cin Han menghampiri kakek itu dan meletakkan sepotong emas itu ke dalam tangan kakek itu, menekankan emas itu di telapak tangannya sambil berkata,
"Kakek yang baik, terimalah sedekahku ini!"
Kakek Itu membuka mata dan setelah Cin Han melihat bahwa kakek itu memandang kepadanya, dia mengangguk sambil tersenyum, lalu melangkah pergi. Tanpa menoleh Cin Han pergi menuju ketimur dan keluar dari pintu gerbang kota raja. Dia lalu memilih tempat yang sunyi, yaitu di tepi Sungai Wei, sungai yang mengalir di tepi kota raja dan yang mengalir ke timur dan menjadi anak Sungai Kuning. Di tepi sungai itu dia duduk termenung. Dia merasa yakin bahwa kakek sakti itu pasti terpikat dan akan menemuinya di tempat itu, seperti dia menemui kedua orang adiknya yang telah memberinya hanya dua keping uang emas.
Apa yang diduga dan diharapkannya kemudian terbukti benar. Belum setengah jam dia duduk di tepi sungai yang lebar dan airnya tenang itu, terdengar suara orang batuk¬batuk di belakangnya. Dia menoleh dan melihat kakek tadi telah berdiri di situ, tubuhnya bungkuk dan dia berdiri bertopang pada tongkat hitamnya, matanya yang sipit itu mengamatinya, mulutnya menyeringai seperti orang mengejek.
Cin han segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek jembel itu. Melihat ini, kakek itu nampak terheran-heran dan mencoba untuk membelalakkan matanya yang sipit. Akan tetapi sia-sia, karena mata itu terlalu sipit, coba dibelalakkan malah menjadi semakin terpejam!
"Ah, kongcu, apa yang kaulakukan ini?" katanya.
"locianpwe, aku Yang Cin Han menghaturkan hormat kepada locianpwe," kata Cin Han dengan sikap hormat.
Kakek itu mengeluarkan suara tawa aneh dan mulutnya menyeringai.
"Heh-heh-heh, apa engkau sudah gila? Tadi engkau lewat dan sepotong emasmu terjatuh ke tanganku, sekarang engkau memberi hormat secara berlebihan kepadaku. Nah, kau terima kembali emasmu ini, kongcu."
"locianpwe, emas itu memang sengaja kuberikan kepadamu sebagai sedekah," kata Cin Han tegas.
"Ehh? Memberi sedekah sebanyak ini? Apa maksudmu memberi sedekah emas sebesar ini?"
"locianpwe, aku memberikan emas itu kepadamu dengan maksud agar locianpwe suka mengajarkan ilmu kepadaku. Aku tahu bahwa locianpwe adalah seorang ahli silat yang pandai., maka aku mohon agar locianpwe suka mengajarkan ilmu silat yang tinggi kepadaku ."
"Hemm, orang muda. Kaukira ilmu dapat dibeli dengan emas? Biar kau sediakan emas yang banyaknya seribu kali ini, engkau tidak akan dapat memaksa aku mengajarkan ilmu kepadamu!" Suara kakek itu mengandung teguran. "Biarpun engkau putera menteri, kaya raya, namun tidak akan dapat memaksaku mengajarkan ilmu kepadamu."
Mendengar ini, Cin Han mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi, locianpwe telah menerima dua keping emas dari dua orang adikku dan locianpwe telah mengajarkan Sian-li Kiam-sut kepada mereka! Kalau aku sekarang memberi sepotong emas kepada locianpwe dan minta agar locianpwe suka mengajarkan ilmu silat kepadaku seperti yang locianpwe lakukan kepada dua orang adikku, salahkah itu?"
Kakek itu tertawa.
"Heh-heh-heh, orang.muda. Kaukira aku mengajarkan silat kepada dua orang nona itu karena mereka telah memberi uang emas kepadaku? Sama sekali tidak! Aku mengajarkan silat kepada mereka bukan karena emas itu, melainkan karena budi mereka. Hem, emasnya memang sama, akan tetapi dasar yang mendorong pemberian itu yang sama sekali berbeda. Mereka memberikan emas kepadaku terdorong oleh perasaan iba sehingga mereka memberi tanpa pamrih karena merasa kasihan. Sebaliknya, engkau memberi emas kepadaku karena terdorong keinginanmu untuk dapat mempelajari ilmu silat dariku. Berarti, kau hendak menyogokku, hendak membeli ilmuku. Tak mungkin aku mau mengajarimu!" Berkata demikian, kakek itu menjatuhkan sepotong emas tadi ke depan Cin Han yang masih berlutut.
"Kalau begitu, locianpwe tidak adil! Sama sekali tidak adil!" kata Cin Han yang melihat betapa kedua kaki orang itu sudah diputar dan agaknya hendak meninggalkan dia yang masih berlutut terasa matanya seperti menjuling dan mendelik, akan tetapi tetap saja dia tidak dapat melihat kakek itu. Celaka, dia benar-benar pergi! Kakek yang keras hati, pikirnya. Akan tetapi, diapun kalau perlu dapat berkeras hati, pikirnya. Dia sudah berjanji akan berlutut terus. Biarlah dia berlutut terus sampai kakek itu kembali, atau sampai jatuh pingsan, biar orang lain yang mengangkat dan membangunkannya. Yang jelas, dia tidak akan bangun. Malu rasanya kalau melanggar janji sendiri. Biarpun dia tidak diajar silat, yang jelas sudah mendapatkan satu pelajaran dari kakek itu, yaitu harga diri! Kakek itu, biar diberi emas satu ton, tidak mau menjual ilmunya. Diapun, sudah berjanji, takkan melanggarnya. Ini namanya harga diri!
Dapat dibayangkan betapa lelahnya tubuh, terutama kedua kaki dan terutama sekali di bagian lutut, kalau orang berlutut terus sejak pagi sampai sore, bahkan sampai malam gelap tiba. Dan kakek itu sama sekali tidak nampak Kembali! Dan juga tempat itu sunyi, tidak ada seorangpun lewat! Untung jauh dari hutan, pikirnya. Kalau di dalam hutan lalu ada binatang buas datang, bagaimana? Dia sudah hampir tidak kuat bertahan lagi. Ingin sekali dia meloncat bangun dan lari pulang. Akan tetapi, Cin Han menggigit bibir dan bertahan terus!
Malam itu hawa udara dingin bukan main. Bagaimana kalau sungai itu banjir dan airnya menyambar tempat dia berlutut, pikirnya. Malam itu gelap dan suara angin bertiup pada pohon-pohon membuat daun bergoyang dan menimbulkan suara seperti ada seribu setan saling berbisik dan mentertawakannya! Bermacam penglihatan khayal menggoda Cin Han. Bulu kuduknya meremang ketika terdengar suara burung hantu diatas pohon.
Setelah lewat tengah malam dan kakek itu belum ada tanda-tandanya akan kembali, hati Cin Han mulai mengomel dan memaki-maki.
"Kakek kejam! Kakek sadis! Tentu dia bukan orang baik-baik. Tentu dia seorang datuk sesat. Kalau dia manusia baik-baik tentu tidak sekejam ini, kakek berhati iblis” Demikian dia memaki-maki dalam hatinya, akan tetapi tetap saja dia tidak bangkit berdiri. Pertama karena dia masih ada sedikit sisa kenekatannya, dan kedua karena memang kedua kakinya sudah terasa kaku dan tidak dapat digerakkan sehingga kalau dia bangkit berdiri, tentu dia akan jatuh, dan ke tiga, malam begitu gelap, andaikata dapat berdiripun, dia tidak berani melanjutkan, salah-salah dia bisa tercebur ke dalam sungai!
Menjelang pagi, rasa lelah dan kantuk tak tertahankan lagi. Cin Han masih berlutut dan kini kepalanya semakin menunduk sampai akhirnya menyentuh tanah di depannya, kedua matanya terpejam dan rasanya dalam mimpi. Dalam mimpi itu, matanya melirik ke atas dan dia melihat dua buah tiang mencuat depan hidungnya dan tercium bau ya tidak enak. Dia mengingat-ingat karena walaupun bau itu tidak enak, akan tetapi seperti tidak asing bagi hidungnya, diapun teringat. Itu bau kaki! Biasa, kalau dia berganti kaus kaki, seperti itu baunya! Matanya melirik terus makin ke atas, dan dia bantu dengan mukanya yang dia angkat dan ..... kakek itu telah berdiri di depannya, kedua buah tiang itu adalah kaki pengemis tua itu dan yang bau adalah kakinya, kaki yang berdiri dekat hidungnya!
"locianpwe......!" kata Cin Han dengan girang.
"Heh-heh, agaknya keluarga Yang memang mempunyai darah keturunan orang yang bandel, keras hati dan tahan uji. Pantas Yang Kok Tiong menjadi Menteri utama dan Yang Kui Hui menjadi selir terkasih. Engkau cukup berkemauan keras dan tahan uji. Bangkitlah, Cin Han."
Makin kagumlah hati Cin Han terhadap kakek itu. Bukan orang sembarangan, pikirnya, buktinya sudah mengetahui nama ayah dan bibinya.
"Terima kasih, locianpwe," katanya dan dia menggerakkan tubuh untuk bangkit berdiri. Akan tetapi, kedua kakinya terasa kaku dan nyeri ketika dia bangkit berdiri sehingga dia jatuh berlutut kembali, menyeringai kesakitan.
Kakek itu kembali terkekeh dan tiba-tiba tongkatnya bergerak, bagaikan seekor capung bermain di atas air, ujung tongkatnya menyentuh kedua kaki Cin Han di beberapa bagian dan tiba¬-tiba pemuda itu merasa betapa kedua kakinya sudah pulih kembali!
Dia bangkit berdiri, lalu menjatuhkan diri berlutut memberi hormat lagi.
"Suhu, teecu menghaturkan terima kasih atas kebaikan hati suhu," katanya, langsung saja menyebut suhu dan memberi hormat delapan kali seperti sudah menjadi lajimnya seorang murid baru memberi hormat kepada gurunya.
Kakek itu membiarkannya saja memberi hormat. Dari keteguhan hati pemuda itu, dan ketika dia menggunakan tongkat menotoknya, dia dapat mengetahui bahwa pemuda ini memiliki bakat dan kemampuan yang tidak akan mengecewakan kalau menjadi muridnya.
"Bangkitlah sekarang, dan ketahuilah bahwa tidak mudah menjadi murid Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti)! Engkau harus berani berkorban."
Berdebar jantung dalam dada Cin Han ketika dia mengetahui bahwa kakek itu adalah Sin-tung Kai-ong. Jarang ada orang mengenalnya, akan tetapi namanya dikenal oleh semua jagoan istana yang pernah mengajarkan silat kepadanya. Nama itu adalah nama seorang datuk persilatan yang aneh, tidak pernah memihak, akan tetapi jelas tidak termasuk datuk sesat! Bahkan condong berwatak pendekar walaupun wataknya angin-anginan dan aneh.
"Teecu siap untuk melaksanakan segala perintah suhu, walaupun harus berkorban apa saja!" kata Cin Han dengan suara tegas dan wajah gembira. Lenyaplah semua perasaan lelah dan kantuknya karena luapan rasa gembira.
"Kalau engkau memang ingin menjadi muridku, sekarang juga engkau harus pergi ikut denganku, tidak boleh pulang dulu untuk berpamit atau mengambil bekal apapun. Sanggupkah engkau?"
Diam-diam Cin Han terkejut. Pergi begitu saja? Soal bekal tidak merupakan hal penting baginya, akan tetapi tidak pamit kepada ayahnya dan terutama kepada ibunya? Kemudian dia teringat akan siasat yang diusulkan oleh Kui Bi dan diam-diam dia tersenyum. Keadaan ini cocok sekali dengan apa yang diinginkan Kui Bi. Kui Bi tentu akan menghadap ayah mereka dan menyatakan ingin mencarinya bersama Kui Lan sehingga mereka berdua mendapat kesempatan untuk pergi merantau.
"Bagaimana? Benar-benarkah engkau rela berkorban?"
"Tentu saja, suhu. Teecu siap melaksanakan perintah suhu!"
"Kalau begitu, mari kita pergi dari sini."
Kakek itu lalu melangkah pergi, menuju ke selatan, langkahnya nampak biasa saja akan tetapi tubuhnya seperti terbang cepatnya meluncur ke depan. Cin Han terkejut dan terpaksa dia harus berloncatan dan mengerahkan tenaganya untuk mengejar agar jangan sampai tertinggal oleh suhunya.
Tepat seperti diduga oleh Cin Han dan sudah diperhitungkan oleh Kui Bi yang cerdik, setelah dua hari Cin Han tidak pulang, keluarga Yang menjadi panik. Yang Kok Tiong menjadi marah dan bingung, dan hatinya yang keras membuat dia memaki-maki puteranya dan memarahi isterinya yang dianggap terlalu memanjakan Cin Han. Sudah dikerahkan pasukan mencari Cin Han, namun tidak berhasil dan dalam keadaan seperti itu, Kui Bi mengajak Kui Lan menghadap ayah mereka.
"Ayah, aku dan enci Lan akan pergi mengejar dan mencari Han-koko sampai dapat. Kami berdua mengenal baik koko, dan kalau kami yang membujuknya, tentu dia akan suka pulang. Andaikata ada petugas yang berhasil menemukannya, kalau dia berkeras tidak mau pulang, petugas itu tentu tidak dapat memaksanya. Hanya kami berdua yang akan dapat mengajaknya pulang, ayah."
Andaikata Yang Kok Tiong tidak sedang pusing dan marah kepada puteranya, tentu dia akan mempertimbangkan permintaan kedua orang puterinya itu. Akan tetapi dia menghendaki agar puteranya pulang, putera tunggalnya, maka diapun tidak begitu memperhatikan atau memiliki ilmu kepandaian silat yang tangguh, maka diapun mengangguk dan menyetujuinya.
Mendapat ijin dari ayahnya, Kui Bi menarik tangan Kui Lan dan mereka berdua segera berkemas, membawa buntalan berisi pakaian dan perhiasan yang cukup banyak untuk bekal, tidak lupa membawa pedang mereka. Ibu-ibu mereka merasa cemas, akan tetapi kedua orang gadis itu dapat menghibur ibu masing-masing, mengatakan bahwa mereka pasti akan dapat menyusul dan mengajak pulang kakak mereka. Kemudian, mereka memilih kuda terbaik dan pada hari itu, pagi-pagi sekali, mereka berangkat, melalui pintu gerbang sebelah utara. Setelah mereka tiba di tepi sungai Wei, mereka menyusuri tepi sungai terus menuju ketimur.
"Bi-moi, ke mana kita harus mencari Han-ko?" dalam perjalanan itu, sambil menjalankan kuda perlahan dan berdampingan dengan kuda adiknya, Kui Lan bertanya. Dua orang gadis yang sejak kecil mempelajari ilmu silat ini, sudah biasa pula menunggang kuda.
"Lan-ci, Han-koko tidak memberitahu kepada kita ke mana dia pergi, bagaimana mungkin dapat mencarinya. Sekarangpun, ketika kita menuju ke timur, mungkin saja dia sedang menuju ke jurusan lain atau bahkan berlawanan dengan arah yang kita tuju."
Kui Lan mengerutkan alisnya.
"Lalu, kalau begitu kenapa kita pergi mencarinya? Kita tidak akan mungkin berhasil."
"Memang kita tidak mengharapkan berhasil, enci. Bukankah kita pergi mencari Han-ko hanya untuk alasan agar kita diperbolehkan pergi merantau? Dan sekarang kita sudah berhasil meninggalkan kota raja memulai petualangan dan perantauan kira."
"Tapi..... tadinya aku bermaksud untuk ikut Han-ko merantau. Kalau hanya kita berdua.... ah, aku merasa khawatir juga, Bi-moi. Kemana kita akan pergi dan apa yang akan kita lakukan?"
"Aihh, Lan-ci, kenapa hatimu begitu kecil? Apa yang perlu kita khawatirkan? Kita mampu membela diri! Dan kita pergi ke mana saja untuk mencari pengalaman dan meluaskan pengetahuan, kalau mungkin menambah ilmu kita, mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi. Selain itu, untuk apa kita bersusah-payah mempelajari ilmu silat sejak kecil, enci? Kita harus mempergunakan ilmu kita untuk membantu pemerintah menenteramkan negara!"
"Wah, kalau ayah mendengar ucapanmu itu, tentu engkau akan ditertawakan dan dimarahi. Kita ini hanya wanita, apa yang dapat kita lakukan untuk membantu pemerintah?"
"Apa bedanya laki-laki dan perempuan? Lan-ci, kita melihat betapa kacaunya di istana. Mata melihat betapa kaum pria yang menduduki jabatan tinggi hanya bersaing dan saling bermusuhan memperebutkan kedudukan. Kita melihat pula betapa Sri baginda Kaisar dipermainkan oleh bibi Yang Kui Hui. Seperti juga Han-ko, aku muak melihat semua itu dan sekarang, selagi kita mendapat kesempatan, sebaiknya kalau kita bergembira, dapat melepaskan diri dari keadaan yang tidak menyenangkan di kota raja dan dapat beterbangan seperti burung bebas di udara. Senang, bukan?"
Kui Lan menghela napas panjang, ia selalu kalah kalau berbantahan dengan adik tirinya yang amat disayangnya ini.
"Baiklah, akan tetapi semua ada batasnya, adikku. Setelah kita puas berpesiar, kita harus kembali ke rumah orang tua kita."
"Tentu saja, enci. Akupun tidak ingin selamanya berkeliaran di luar. Kita hanya mencari pengalaman, seperti juga Han-ko. Dan siapa tahu, kita kebetulan akan dapat bertemu dengan dia."
"Tapi kenapa engkau memilih jurusan ini?" tanyaKuiLan .
"Enci Lan, sekarang ini keadaan .tidak aman dan banyak orang jahat suka mengganggu orang yang melakukan perjalanan. Jalan menyusuri sungai ini merupakan jalan yang paling ramai dan paling aman karena terdapat banyak dusun nelayan dan petani, selain itu tidak akan mudah tersesat. Sungai Wei ini akan bergabung dan masuk ke dalam Sungai Kuning di depan sana, enci, dan setelah tiba di Sungai Kuning, kita dapat melanjutkan perjalanan dengan kuda atau dengan perahu, kita lihat saja nanti bagaimana enaknya. Lihat, bukankah pemandangan alam di tepi sungai ini amat indahnya?"
Kui Lan melayangkan penglihatannya ke sekitarnya dan harus ia akui bahwa adiknya memang benar. Di dalam kota tidak ada pemandangan seindah dan sesegar ini. Serba hijau segar menyedapkan mata mengamankan hati. Tumbuh-¬tumbuhan dengan suburnya memenuhi sungai. Sawah ladang yang subur, dan biarpun tidak terlalu sering, namun mereka bertemu juga dengan pejalan kaki atau penunggang kuda, bahkan kereta yang berpapasan dengan mereka.
Lewat tengah hari, udara amat pasnya dan ketika kakak beradik itu melihat sebuah kedai minuman di tepi jalan, mereka merasa gembira. Mereka juga membawa tempat minum, akan tetapi mereka ingin minum air teh yang harum dan melepas lelah, juga memberi kesempatan kepada dua ekor kuda mereka untuk mengaso dan makan rumput yang tumbuh di belakang kedai. Kedai itu agaknya didirikan orang sengaja untuk memberi kesempatan kepada mereka yang melakukan perjalanan dan lewat di situ untuk mengaso dan minum-minum. Selain arak dan teh, juga di situ dijual makanan ringan.
Setelah menambatkan kuda mereka di belakang kedai dan membiarkan dua ekor itu melepas lelah dan makam rumput segar, kakak beradik itu lalu memasuki kedai sederhana namun cukup bersih dengan belasan buah meja dan bangku¬-bangku. Ketika mereka masuk, ternyata di situ telah duduk tujuh orang menghadapi dua meja, dibagi dua kelompok dari tiga dan empat orang. Mereka semua yang tadinya bercakap-cakap, bersendau-gurau, segera menghentikan percakapan mereka dan mereka semua memandang kepada enci dan adik yang memasuki kedai dengan sikap tenang. Kain buntalan mereka terisi pakaian dan perhiasan, juga pedang, maka Kui Lan Kui Bi membawa buntalan mereka masuk kedai. Mereka berdua maklum betapa pandang mata tujuh orang itu mengamati mereka dengan sinar mata mengandung keheranan, kekaguman, akan tetapi rata-rata mengandung kenakalan yang membuat kakak beradik ini maklum bahwa mereka bertujuh itu adalah orang-orang kasar yang kurang ajar. Tujuh orang itu tertawa-tawa dan pandang mata mereka semakin kurang ajar.
Kui Lan dan Kui Bi tidak mempedulikan mereka, dan memilih meja di sudut agar agak jauh dari tujuh orang yang agaknya mabok-mabokan itu. Kepada pelayan tua kurus yang menghampiri, meminta disediakan empat buah bak dan air teh secukupnya. Karena tidak mau memperdulikan tujuh orang itu, maka ia sengaja duduk membelakangi mereka, Kui Lan dan Kui Bi tidak melihat betapa tujuh orang itu berkasak-¬kusuk, berbisik dan mata mereka kadang dituju kepada enci adik itu dan kadang arah belakang kedai. Kemudian, tanpa di ketahui Kui Lan dan Kui Bi, dua orang di antara mereka menyelinap keluar dari kedai melalui pintu samping sehingga tidak kelihatan oleh dua orang disitu.
Kui Lan dan Kui Bi sudah makan bakpauw mereka dan sedang minum teh kemudian terdengar derap kaki kuda dari belakang kedai. Mereka terkejut dan cepat menoleh, masih sempat melihat betapa ada dua orang menunggangi kuda mereka yang berlari congklang meninggalkan pekarangan kedai minuman itu.
Suatu kekeliruan besar telah kita perbuat, sejak sejarah kehidupan manusia dimulai sampai sekarang, yaitu menjadi peminta-minta. Mungkin caranya yang berubah dan berbeda-¬beda, namun pada hakekatnya, tetap saja kita meminta-minta, mengemis. Kepada Tuhan, kepada para dewa, kepada arwah leluhur, bahkan kepada setan dan iblis kita selalu menadahkan tangan untuk minta-minta, untuk memohon sesuatu! Yang kita lakukan dalam sembahyang, selalu berisi penuh permintaan, permohonan! Dan dalam keadaan memohon sesuatu, masih kita sogok lagi dengan perbuatan yang dianggap baik, seperti beramal, memberi sedekah, menolong orang, semua itu untuk memperkuat doa kita agar permohonan kita terkabul! Kalau permintaan dengan segala macam bentuk sogokan itu ditujukan kepada para dewa, kepada arwah atau kepada segala macam setan dan iblis, masih dapat dimengerti, karena mereka memang mungkin masih membutuhkan sogokan. Akan tetapi kalau segala macam permintaan itu ditujukan kepada Tuhan Maha Pencipta, sungguh hal ini patut kita renungkan bersama.
Tuhan Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Kasih! Tuhan telah menciptakan Segala sesuatu dalam keadaan sempurna! Kitapun diciptakan ke dunia ini dalam keadaan yang sempurna, disertai segala macam alat yang paling lengkap untuk dapat hidup. Setiap helai rambut, Setiap lubang pori-¬pori, kuku, gigi, setiap lekukan jari, bulu mata, alis, Panca indera, hati akal pikiran, lengkap dengan segala macam yang ada pada diri kita luar dalam, semua itu mempunyai daya guna untuk dapat kita pergunakan demi kepentingan kehidupan di dunia ini. Sudah diberi sejak lahir secara lengkap. Berkah Tuhan juga, berlimpahan. Kita diberi tanah, udara, panas matahari, air, semua yang diperlukan untuk kehidupan tanam-tanaman yang akan menjadi makanan kita, sampai ke benih segala macam tumbuh-tumbuhan, jutaan macam banyaknya. Ada pula jutaan macam binatang yang dagingnya dapat pula menjadi makanan kita. Segala sudah tersedia, TINGGAL MENGERJAKAN saja. Namun, kita masih saja minta-minta!
Sepatutnya, dalam sembahyang, kita berbakti, kita memuja, kita bersyukur, berterima kasih, karena segalanya telah disediakan Tuhan untuk kita. Kita hanya tinggal mengerjakan segala yang ada pada kita, mengerjakan anggauta badan kita, hati akal pikiran kita, demi mencukupi kebutuhan hidup kita. Demikian Maha Kasih Tuhan sehingga dalam segala macam tumbuh-tumbuhan itu telah terdapat yang bisa mengenyangkan, yang bisa menguatkan, bahkan ada pula yang dapat menyembuhkan kita kalau kita terserang penyakit.
Hidup ini berarti gerak. Siapa tidak menggerakkan dirinya untuk bekerja, tentu akan terjadi gangguan pada dirinya. Bekerja, mempergunakan segala sarana yang telah diberikan Tuhan untuk kita, berarti kita tidak menyia-nyiakan pemberian Tuhan, berarti bahwa kita telah berdosa. Mengerjakan segala sarana yang telah diberikan Tuhan kepada kita berarti berbakti dan memuja kepada Sang Maha Pencipta. Karena itu, tidak ada gunanya memohon tanpa bekerja. Kalau kita lapar, kita harus mencari makanan sendiri, bukan minta makanan kepada Tuhan!
Demikianlah pula kalau kita sakit, kita harus berusaha mencari obatnya. Segala apapun yang kita butuhkan, harus kita cari sendiri. Itulah kewajiban manusia dalam kehidupan di dunia ini. Berikhtiar agar hidup ini terpenuhi semua kebutuhannya, kemudian berikhtiar agar hidup ini terisi oleh manfaat bagi manusia lain. Ikhtiar adalah wajib, dan tanpa mau berikhtiar, hanya memohon dan mengandalkan kepada Tuhan saja, sama dengan mempersekutukan Tuhan, membebani Tuhan dengan segala pekerjaan demi keenakan kita! Betapa besar dosanya kalau sikap ini kita pertahankan!
Sembahyang kepada Tuhan merupakan wajib, yaitu kewajiban kita untuk berbakti, bersyukur dan berterima kasih. Tuhan Maha Tahu Tidak usah kita minta, Tuhan sudah Tahu apa yang kita butuhkan, dan sudah disediakan segalanya, pasti akan kita dapatkan dengan jalan berikhtiar, dengan landasan iman dan kepasrahan kepada Tuhan yang menentukan segalanya. Puji syukur kepada Tuhan. Dan kalaupun ada suatu permohonan suatu permintaan, maka sepatutnya kalau satu-satunya permohonan kita adalah mohon ampun atas segala kesalahan kita yang lalu. Dengan penyerahan kepadaNya, pasrah, tawakal, ikhlas, sabar, maka kita akan mendapatkan bimbinganNya. Bukan dengan cara minta-minta, apa lagi menyogok. Perbuatan baik yang dilakukan dengan sengaja untuk mendapatkan balas jasa, bukan perbuatan baik lagi namanya, melainkan kepalsuan. Sama seperti kalau kita berbuat baik terhadap seorang pembesar dengan harapan agar kelak pembesar itu akan memberi suatu kemudahan bagi kita! Perbuatan baik seperti itu bukan lain hanyalah perbuatan menyogok, menyuap.
Cin Han akhirnya menemukan apa yang dicarinya di pagi hari itu. Kakek itu duduk melenggut di sudut pekarangan kuil. Dia tidak meratap meminta-minta kepada orang-orang yang berlalu-lalang di depannya seperti para pengemis lain. Dia bahkan melenggut dan mengantuk, kedua matanya terpejam, rambutnya yang riap-riapan kelabu itu bagian atasnya, menutupi ubun-ubun kepalanya, dilindungi sebuah topi butut yang bentuknya seperti tempurung kelapa. Tubuhnya yang kurus memang seperti ebi, seperti udang kering ketika dia melingkar di sudut itu. Yang membedakan dia dari para pengemis lain bukan hanya karena dia tidak merengek dan mengemis, akan tetapi kebersihan pada dirinya, baik pada rambutnya, pakaian dan mukanya. Bajunya memang butut dan tambal-tambalan, akan tetapi bersih! Dan sebatang tongkat hitam terletak diatas ke dua pahanya.
Jelas, inilah orangnya, pikir Cin Han, terheran-heran. Orang seperti ini memiliki ilmu silat yang amat tinggi? Sungguh amat sukar dipercaya. Melihat tubuh yang kerempeng itu, agaknya tertiup angin agak keraspun dia akan terpelanting! Berbeda dengan guru-gurunya, para jagoan istana, hampir semua bertubuh kokoh kuat. Akan tetapi, dari para gurunya itu dia sudah mendengar pula bahwa di dunia kang-ouw terdapat banyak orang aneh, orang-orang yang kelihatannya amat lemah, akan tetapi justeru memiliki kesaktian. Karena itu, dia tidak berani memandang rendah, apa lagi teringat akan cerita Kui Bi.
Cin Han mengambil sepotong emas dari sakunya. Emas itu sedikitnya setail beratnya, puluhan kali lebih banyak dari pada keping emas yang pernah diberikan Kui Lan dan Kui Bi kepada kakek ini. Setelah melihat ke kanan kiri dan tidak ada seorangpun yang melihat apa yang diperbuatnya, Cin Han menghampiri kakek itu dan meletakkan sepotong emas itu ke dalam tangan kakek itu, menekankan emas itu di telapak tangannya sambil berkata,
"Kakek yang baik, terimalah sedekahku ini!"
Kakek Itu membuka mata dan setelah Cin Han melihat bahwa kakek itu memandang kepadanya, dia mengangguk sambil tersenyum, lalu melangkah pergi. Tanpa menoleh Cin Han pergi menuju ketimur dan keluar dari pintu gerbang kota raja. Dia lalu memilih tempat yang sunyi, yaitu di tepi Sungai Wei, sungai yang mengalir di tepi kota raja dan yang mengalir ke timur dan menjadi anak Sungai Kuning. Di tepi sungai itu dia duduk termenung. Dia merasa yakin bahwa kakek sakti itu pasti terpikat dan akan menemuinya di tempat itu, seperti dia menemui kedua orang adiknya yang telah memberinya hanya dua keping uang emas.
Apa yang diduga dan diharapkannya kemudian terbukti benar. Belum setengah jam dia duduk di tepi sungai yang lebar dan airnya tenang itu, terdengar suara orang batuk¬batuk di belakangnya. Dia menoleh dan melihat kakek tadi telah berdiri di situ, tubuhnya bungkuk dan dia berdiri bertopang pada tongkat hitamnya, matanya yang sipit itu mengamatinya, mulutnya menyeringai seperti orang mengejek.
Cin han segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek jembel itu. Melihat ini, kakek itu nampak terheran-heran dan mencoba untuk membelalakkan matanya yang sipit. Akan tetapi sia-sia, karena mata itu terlalu sipit, coba dibelalakkan malah menjadi semakin terpejam!
"Ah, kongcu, apa yang kaulakukan ini?" katanya.
"locianpwe, aku Yang Cin Han menghaturkan hormat kepada locianpwe," kata Cin Han dengan sikap hormat.
Kakek itu mengeluarkan suara tawa aneh dan mulutnya menyeringai.
"Heh-heh-heh, apa engkau sudah gila? Tadi engkau lewat dan sepotong emasmu terjatuh ke tanganku, sekarang engkau memberi hormat secara berlebihan kepadaku. Nah, kau terima kembali emasmu ini, kongcu."
"locianpwe, emas itu memang sengaja kuberikan kepadamu sebagai sedekah," kata Cin Han tegas.
"Ehh? Memberi sedekah sebanyak ini? Apa maksudmu memberi sedekah emas sebesar ini?"
"locianpwe, aku memberikan emas itu kepadamu dengan maksud agar locianpwe suka mengajarkan ilmu kepadaku. Aku tahu bahwa locianpwe adalah seorang ahli silat yang pandai., maka aku mohon agar locianpwe suka mengajarkan ilmu silat yang tinggi kepadaku ."
"Hemm, orang muda. Kaukira ilmu dapat dibeli dengan emas? Biar kau sediakan emas yang banyaknya seribu kali ini, engkau tidak akan dapat memaksa aku mengajarkan ilmu kepadamu!" Suara kakek itu mengandung teguran. "Biarpun engkau putera menteri, kaya raya, namun tidak akan dapat memaksaku mengajarkan ilmu kepadamu."
Mendengar ini, Cin Han mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi, locianpwe telah menerima dua keping emas dari dua orang adikku dan locianpwe telah mengajarkan Sian-li Kiam-sut kepada mereka! Kalau aku sekarang memberi sepotong emas kepada locianpwe dan minta agar locianpwe suka mengajarkan ilmu silat kepadaku seperti yang locianpwe lakukan kepada dua orang adikku, salahkah itu?"
Kakek itu tertawa.
"Heh-heh-heh, orang.muda. Kaukira aku mengajarkan silat kepada dua orang nona itu karena mereka telah memberi uang emas kepadaku? Sama sekali tidak! Aku mengajarkan silat kepada mereka bukan karena emas itu, melainkan karena budi mereka. Hem, emasnya memang sama, akan tetapi dasar yang mendorong pemberian itu yang sama sekali berbeda. Mereka memberikan emas kepadaku terdorong oleh perasaan iba sehingga mereka memberi tanpa pamrih karena merasa kasihan. Sebaliknya, engkau memberi emas kepadaku karena terdorong keinginanmu untuk dapat mempelajari ilmu silat dariku. Berarti, kau hendak menyogokku, hendak membeli ilmuku. Tak mungkin aku mau mengajarimu!" Berkata demikian, kakek itu menjatuhkan sepotong emas tadi ke depan Cin Han yang masih berlutut.
"Kalau begitu, locianpwe tidak adil! Sama sekali tidak adil!" kata Cin Han yang melihat betapa kedua kaki orang itu sudah diputar dan agaknya hendak meninggalkan dia yang masih berlutut terasa matanya seperti menjuling dan mendelik, akan tetapi tetap saja dia tidak dapat melihat kakek itu. Celaka, dia benar-benar pergi! Kakek yang keras hati, pikirnya. Akan tetapi, diapun kalau perlu dapat berkeras hati, pikirnya. Dia sudah berjanji akan berlutut terus. Biarlah dia berlutut terus sampai kakek itu kembali, atau sampai jatuh pingsan, biar orang lain yang mengangkat dan membangunkannya. Yang jelas, dia tidak akan bangun. Malu rasanya kalau melanggar janji sendiri. Biarpun dia tidak diajar silat, yang jelas sudah mendapatkan satu pelajaran dari kakek itu, yaitu harga diri! Kakek itu, biar diberi emas satu ton, tidak mau menjual ilmunya. Diapun, sudah berjanji, takkan melanggarnya. Ini namanya harga diri!
Dapat dibayangkan betapa lelahnya tubuh, terutama kedua kaki dan terutama sekali di bagian lutut, kalau orang berlutut terus sejak pagi sampai sore, bahkan sampai malam gelap tiba. Dan kakek itu sama sekali tidak nampak Kembali! Dan juga tempat itu sunyi, tidak ada seorangpun lewat! Untung jauh dari hutan, pikirnya. Kalau di dalam hutan lalu ada binatang buas datang, bagaimana? Dia sudah hampir tidak kuat bertahan lagi. Ingin sekali dia meloncat bangun dan lari pulang. Akan tetapi, Cin Han menggigit bibir dan bertahan terus!
Malam itu hawa udara dingin bukan main. Bagaimana kalau sungai itu banjir dan airnya menyambar tempat dia berlutut, pikirnya. Malam itu gelap dan suara angin bertiup pada pohon-pohon membuat daun bergoyang dan menimbulkan suara seperti ada seribu setan saling berbisik dan mentertawakannya! Bermacam penglihatan khayal menggoda Cin Han. Bulu kuduknya meremang ketika terdengar suara burung hantu diatas pohon.
Setelah lewat tengah malam dan kakek itu belum ada tanda-tandanya akan kembali, hati Cin Han mulai mengomel dan memaki-maki.
"Kakek kejam! Kakek sadis! Tentu dia bukan orang baik-baik. Tentu dia seorang datuk sesat. Kalau dia manusia baik-baik tentu tidak sekejam ini, kakek berhati iblis” Demikian dia memaki-maki dalam hatinya, akan tetapi tetap saja dia tidak bangkit berdiri. Pertama karena dia masih ada sedikit sisa kenekatannya, dan kedua karena memang kedua kakinya sudah terasa kaku dan tidak dapat digerakkan sehingga kalau dia bangkit berdiri, tentu dia akan jatuh, dan ke tiga, malam begitu gelap, andaikata dapat berdiripun, dia tidak berani melanjutkan, salah-salah dia bisa tercebur ke dalam sungai!
Menjelang pagi, rasa lelah dan kantuk tak tertahankan lagi. Cin Han masih berlutut dan kini kepalanya semakin menunduk sampai akhirnya menyentuh tanah di depannya, kedua matanya terpejam dan rasanya dalam mimpi. Dalam mimpi itu, matanya melirik ke atas dan dia melihat dua buah tiang mencuat depan hidungnya dan tercium bau ya tidak enak. Dia mengingat-ingat karena walaupun bau itu tidak enak, akan tetapi seperti tidak asing bagi hidungnya, diapun teringat. Itu bau kaki! Biasa, kalau dia berganti kaus kaki, seperti itu baunya! Matanya melirik terus makin ke atas, dan dia bantu dengan mukanya yang dia angkat dan ..... kakek itu telah berdiri di depannya, kedua buah tiang itu adalah kaki pengemis tua itu dan yang bau adalah kakinya, kaki yang berdiri dekat hidungnya!
"locianpwe......!" kata Cin Han dengan girang.
"Heh-heh, agaknya keluarga Yang memang mempunyai darah keturunan orang yang bandel, keras hati dan tahan uji. Pantas Yang Kok Tiong menjadi Menteri utama dan Yang Kui Hui menjadi selir terkasih. Engkau cukup berkemauan keras dan tahan uji. Bangkitlah, Cin Han."
Makin kagumlah hati Cin Han terhadap kakek itu. Bukan orang sembarangan, pikirnya, buktinya sudah mengetahui nama ayah dan bibinya.
"Terima kasih, locianpwe," katanya dan dia menggerakkan tubuh untuk bangkit berdiri. Akan tetapi, kedua kakinya terasa kaku dan nyeri ketika dia bangkit berdiri sehingga dia jatuh berlutut kembali, menyeringai kesakitan.
Kakek itu kembali terkekeh dan tiba-tiba tongkatnya bergerak, bagaikan seekor capung bermain di atas air, ujung tongkatnya menyentuh kedua kaki Cin Han di beberapa bagian dan tiba¬-tiba pemuda itu merasa betapa kedua kakinya sudah pulih kembali!
Dia bangkit berdiri, lalu menjatuhkan diri berlutut memberi hormat lagi.
"Suhu, teecu menghaturkan terima kasih atas kebaikan hati suhu," katanya, langsung saja menyebut suhu dan memberi hormat delapan kali seperti sudah menjadi lajimnya seorang murid baru memberi hormat kepada gurunya.
Kakek itu membiarkannya saja memberi hormat. Dari keteguhan hati pemuda itu, dan ketika dia menggunakan tongkat menotoknya, dia dapat mengetahui bahwa pemuda ini memiliki bakat dan kemampuan yang tidak akan mengecewakan kalau menjadi muridnya.
"Bangkitlah sekarang, dan ketahuilah bahwa tidak mudah menjadi murid Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti)! Engkau harus berani berkorban."
Berdebar jantung dalam dada Cin Han ketika dia mengetahui bahwa kakek itu adalah Sin-tung Kai-ong. Jarang ada orang mengenalnya, akan tetapi namanya dikenal oleh semua jagoan istana yang pernah mengajarkan silat kepadanya. Nama itu adalah nama seorang datuk persilatan yang aneh, tidak pernah memihak, akan tetapi jelas tidak termasuk datuk sesat! Bahkan condong berwatak pendekar walaupun wataknya angin-anginan dan aneh.
"Teecu siap untuk melaksanakan segala perintah suhu, walaupun harus berkorban apa saja!" kata Cin Han dengan suara tegas dan wajah gembira. Lenyaplah semua perasaan lelah dan kantuknya karena luapan rasa gembira.
"Kalau engkau memang ingin menjadi muridku, sekarang juga engkau harus pergi ikut denganku, tidak boleh pulang dulu untuk berpamit atau mengambil bekal apapun. Sanggupkah engkau?"
Diam-diam Cin Han terkejut. Pergi begitu saja? Soal bekal tidak merupakan hal penting baginya, akan tetapi tidak pamit kepada ayahnya dan terutama kepada ibunya? Kemudian dia teringat akan siasat yang diusulkan oleh Kui Bi dan diam-diam dia tersenyum. Keadaan ini cocok sekali dengan apa yang diinginkan Kui Bi. Kui Bi tentu akan menghadap ayah mereka dan menyatakan ingin mencarinya bersama Kui Lan sehingga mereka berdua mendapat kesempatan untuk pergi merantau.
"Bagaimana? Benar-benarkah engkau rela berkorban?"
"Tentu saja, suhu. Teecu siap melaksanakan perintah suhu!"
"Kalau begitu, mari kita pergi dari sini."
Kakek itu lalu melangkah pergi, menuju ke selatan, langkahnya nampak biasa saja akan tetapi tubuhnya seperti terbang cepatnya meluncur ke depan. Cin Han terkejut dan terpaksa dia harus berloncatan dan mengerahkan tenaganya untuk mengejar agar jangan sampai tertinggal oleh suhunya.
Tepat seperti diduga oleh Cin Han dan sudah diperhitungkan oleh Kui Bi yang cerdik, setelah dua hari Cin Han tidak pulang, keluarga Yang menjadi panik. Yang Kok Tiong menjadi marah dan bingung, dan hatinya yang keras membuat dia memaki-maki puteranya dan memarahi isterinya yang dianggap terlalu memanjakan Cin Han. Sudah dikerahkan pasukan mencari Cin Han, namun tidak berhasil dan dalam keadaan seperti itu, Kui Bi mengajak Kui Lan menghadap ayah mereka.
"Ayah, aku dan enci Lan akan pergi mengejar dan mencari Han-koko sampai dapat. Kami berdua mengenal baik koko, dan kalau kami yang membujuknya, tentu dia akan suka pulang. Andaikata ada petugas yang berhasil menemukannya, kalau dia berkeras tidak mau pulang, petugas itu tentu tidak dapat memaksanya. Hanya kami berdua yang akan dapat mengajaknya pulang, ayah."
Andaikata Yang Kok Tiong tidak sedang pusing dan marah kepada puteranya, tentu dia akan mempertimbangkan permintaan kedua orang puterinya itu. Akan tetapi dia menghendaki agar puteranya pulang, putera tunggalnya, maka diapun tidak begitu memperhatikan atau memiliki ilmu kepandaian silat yang tangguh, maka diapun mengangguk dan menyetujuinya.
Mendapat ijin dari ayahnya, Kui Bi menarik tangan Kui Lan dan mereka berdua segera berkemas, membawa buntalan berisi pakaian dan perhiasan yang cukup banyak untuk bekal, tidak lupa membawa pedang mereka. Ibu-ibu mereka merasa cemas, akan tetapi kedua orang gadis itu dapat menghibur ibu masing-masing, mengatakan bahwa mereka pasti akan dapat menyusul dan mengajak pulang kakak mereka. Kemudian, mereka memilih kuda terbaik dan pada hari itu, pagi-pagi sekali, mereka berangkat, melalui pintu gerbang sebelah utara. Setelah mereka tiba di tepi sungai Wei, mereka menyusuri tepi sungai terus menuju ketimur.
"Bi-moi, ke mana kita harus mencari Han-ko?" dalam perjalanan itu, sambil menjalankan kuda perlahan dan berdampingan dengan kuda adiknya, Kui Lan bertanya. Dua orang gadis yang sejak kecil mempelajari ilmu silat ini, sudah biasa pula menunggang kuda.
"Lan-ci, Han-koko tidak memberitahu kepada kita ke mana dia pergi, bagaimana mungkin dapat mencarinya. Sekarangpun, ketika kita menuju ke timur, mungkin saja dia sedang menuju ke jurusan lain atau bahkan berlawanan dengan arah yang kita tuju."
Kui Lan mengerutkan alisnya.
"Lalu, kalau begitu kenapa kita pergi mencarinya? Kita tidak akan mungkin berhasil."
"Memang kita tidak mengharapkan berhasil, enci. Bukankah kita pergi mencari Han-ko hanya untuk alasan agar kita diperbolehkan pergi merantau? Dan sekarang kita sudah berhasil meninggalkan kota raja memulai petualangan dan perantauan kira."
"Tapi..... tadinya aku bermaksud untuk ikut Han-ko merantau. Kalau hanya kita berdua.... ah, aku merasa khawatir juga, Bi-moi. Kemana kita akan pergi dan apa yang akan kita lakukan?"
"Aihh, Lan-ci, kenapa hatimu begitu kecil? Apa yang perlu kita khawatirkan? Kita mampu membela diri! Dan kita pergi ke mana saja untuk mencari pengalaman dan meluaskan pengetahuan, kalau mungkin menambah ilmu kita, mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi. Selain itu, untuk apa kita bersusah-payah mempelajari ilmu silat sejak kecil, enci? Kita harus mempergunakan ilmu kita untuk membantu pemerintah menenteramkan negara!"
"Wah, kalau ayah mendengar ucapanmu itu, tentu engkau akan ditertawakan dan dimarahi. Kita ini hanya wanita, apa yang dapat kita lakukan untuk membantu pemerintah?"
"Apa bedanya laki-laki dan perempuan? Lan-ci, kita melihat betapa kacaunya di istana. Mata melihat betapa kaum pria yang menduduki jabatan tinggi hanya bersaing dan saling bermusuhan memperebutkan kedudukan. Kita melihat pula betapa Sri baginda Kaisar dipermainkan oleh bibi Yang Kui Hui. Seperti juga Han-ko, aku muak melihat semua itu dan sekarang, selagi kita mendapat kesempatan, sebaiknya kalau kita bergembira, dapat melepaskan diri dari keadaan yang tidak menyenangkan di kota raja dan dapat beterbangan seperti burung bebas di udara. Senang, bukan?"
Kui Lan menghela napas panjang, ia selalu kalah kalau berbantahan dengan adik tirinya yang amat disayangnya ini.
"Baiklah, akan tetapi semua ada batasnya, adikku. Setelah kita puas berpesiar, kita harus kembali ke rumah orang tua kita."
"Tentu saja, enci. Akupun tidak ingin selamanya berkeliaran di luar. Kita hanya mencari pengalaman, seperti juga Han-ko. Dan siapa tahu, kita kebetulan akan dapat bertemu dengan dia."
"Tapi kenapa engkau memilih jurusan ini?" tanyaKuiLan .
"Enci Lan, sekarang ini keadaan .tidak aman dan banyak orang jahat suka mengganggu orang yang melakukan perjalanan. Jalan menyusuri sungai ini merupakan jalan yang paling ramai dan paling aman karena terdapat banyak dusun nelayan dan petani, selain itu tidak akan mudah tersesat. Sungai Wei ini akan bergabung dan masuk ke dalam Sungai Kuning di depan sana, enci, dan setelah tiba di Sungai Kuning, kita dapat melanjutkan perjalanan dengan kuda atau dengan perahu, kita lihat saja nanti bagaimana enaknya. Lihat, bukankah pemandangan alam di tepi sungai ini amat indahnya?"
Kui Lan melayangkan penglihatannya ke sekitarnya dan harus ia akui bahwa adiknya memang benar. Di dalam kota tidak ada pemandangan seindah dan sesegar ini. Serba hijau segar menyedapkan mata mengamankan hati. Tumbuh-¬tumbuhan dengan suburnya memenuhi sungai. Sawah ladang yang subur, dan biarpun tidak terlalu sering, namun mereka bertemu juga dengan pejalan kaki atau penunggang kuda, bahkan kereta yang berpapasan dengan mereka.
Lewat tengah hari, udara amat pasnya dan ketika kakak beradik itu melihat sebuah kedai minuman di tepi jalan, mereka merasa gembira. Mereka juga membawa tempat minum, akan tetapi mereka ingin minum air teh yang harum dan melepas lelah, juga memberi kesempatan kepada dua ekor kuda mereka untuk mengaso dan makan rumput yang tumbuh di belakang kedai. Kedai itu agaknya didirikan orang sengaja untuk memberi kesempatan kepada mereka yang melakukan perjalanan dan lewat di situ untuk mengaso dan minum-minum. Selain arak dan teh, juga di situ dijual makanan ringan.
Setelah menambatkan kuda mereka di belakang kedai dan membiarkan dua ekor itu melepas lelah dan makam rumput segar, kakak beradik itu lalu memasuki kedai sederhana namun cukup bersih dengan belasan buah meja dan bangku¬-bangku. Ketika mereka masuk, ternyata di situ telah duduk tujuh orang menghadapi dua meja, dibagi dua kelompok dari tiga dan empat orang. Mereka semua yang tadinya bercakap-cakap, bersendau-gurau, segera menghentikan percakapan mereka dan mereka semua memandang kepada enci dan adik yang memasuki kedai dengan sikap tenang. Kain buntalan mereka terisi pakaian dan perhiasan, juga pedang, maka Kui Lan Kui Bi membawa buntalan mereka masuk kedai. Mereka berdua maklum betapa pandang mata tujuh orang itu mengamati mereka dengan sinar mata mengandung keheranan, kekaguman, akan tetapi rata-rata mengandung kenakalan yang membuat kakak beradik ini maklum bahwa mereka bertujuh itu adalah orang-orang kasar yang kurang ajar. Tujuh orang itu tertawa-tawa dan pandang mata mereka semakin kurang ajar.
Kui Lan dan Kui Bi tidak mempedulikan mereka, dan memilih meja di sudut agar agak jauh dari tujuh orang yang agaknya mabok-mabokan itu. Kepada pelayan tua kurus yang menghampiri, meminta disediakan empat buah bak dan air teh secukupnya. Karena tidak mau memperdulikan tujuh orang itu, maka ia sengaja duduk membelakangi mereka, Kui Lan dan Kui Bi tidak melihat betapa tujuh orang itu berkasak-¬kusuk, berbisik dan mata mereka kadang dituju kepada enci adik itu dan kadang arah belakang kedai. Kemudian, tanpa di ketahui Kui Lan dan Kui Bi, dua orang di antara mereka menyelinap keluar dari kedai melalui pintu samping sehingga tidak kelihatan oleh dua orang disitu.
Kui Lan dan Kui Bi sudah makan bakpauw mereka dan sedang minum teh kemudian terdengar derap kaki kuda dari belakang kedai. Mereka terkejut dan cepat menoleh, masih sempat melihat betapa ada dua orang menunggangi kuda mereka yang berlari congklang meninggalkan pekarangan kedai minuman itu.
***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 006
***Kembali

No comments:
Post a Comment