Ads

Thursday, August 22, 2013

Mustika Burung Hong Kemala Jilid 003

***Kembali

Pada waktu itu, Kerajaan Tang di pimpin oleh Kaisar Hsuan Tsung atau terkenal pula dengan sebutan Kaisar Beng Ong (712 -755). Akan tetapi, sejak Kaisar Beng Ong tergila-gila kepada seorang wanita yang bernama Yang Kui Hui, maka timbullah banyak kekacauan. Para menteri yang setia merasa gelisah melihat betapa kaisar yang tua itu dipermainkan oleh selirnya yang tersayang itu. Baru peristiwa ditariknya Yang kui Hui ke dalam istana sebagai selir kaisar saja sudah merupakan peristiwa yang membuat para menteri setia mengerutkan kening dan merasa tidak setuju sama sekali.

Peristiwa itu terjadi tujuh tahun yang lalu, yaitu sekitar tahun 1175 Pada waktu itu, Kaisar Beng Ong sudah berusia enam puluh tahun lebih dan Kerajaan Tang mengalami kemajuan pesat, terutama di bidang kebudayaan dan Agama Buddha yang terbukti dari perkembangan kesenian dan kesusasteraan yang pada masa itu tidak lepas dari agama. Kaisar Beng Ong sebetulnya bukan seorang yang mata keranjang, bukan seorang pria yang selalu diperbudak oleh nafsu berahinya. Akan tetapi, ketika pada suatu hari kebetulan dia melihat isteri dari seorang di antara puteranya, yaitu Pangeran Shouw, dia terpesona dan terpikat oleh kecantikan mantunya sendiri.

Isteri Pangeran Shouw itu, bernama Yang Kui Hui, memang merupakan seorang wanita yang amat cantik jelita, memiliki daya tarik yang amat kuat, bukan saja karena kecantikannya, akan tetapi juga oleh pembawaan dirinya yang pandai mengambil hati. lapun seorang wanita yang bukan aseli Han, melainkan seorang berdarah campuran. Memang suku atau bangsa yang berdarah campuran, selalu memiliki gadis-gadis yang cantik menarik. Bahkan dikabarkan orang bahwa selain cantik jelita, juga dari tubuh wanita ini keluar keringat yang berbau harum!

Dalam tahun 745 itu, setelah Kaisar Beng Ong terpesona oleh kecantikan Yang Kui Hui, terjadilah ketidak wajaran yang pertama, yaitu sang kaisar memaksa puteranya untuk menceraikan isterinya dan memberikan seorang gadis lain sebagai pengganti isteri Pangeran Shouw. Kemudian, kaisar menarik Yang Kui Hui yang dicerai secara paksa oleh suaminya itu ke dalam istana dan menjadilah ia selir terkasih dari Kaisar Beng Ong! Mantu sendiri dipaksa menjadi selirnya. Hal ini, biarpun tidak ada yang berani menentang, sudah menimbulkan perasaan tidak senang di hati para menteri setia, kecuali tentu saja, para menteri penjilat yang membenarkan tindakan kaisar untuk menyenangkan hati kaisar!

Kemudian, apa yang dikhawatirkan oleh para menteri setiapun terjadilah. Kaisar Beng Ong benar-benar mabok dalam pelukan selir baru Yang Kui Hui. Dan sang selir yang cantik inipun seorang yang haus akan kekuasaan dan amat cerdik. Mulailah ia mempengaruhi kaisar dan mulailah pula ia mencampuri urusan pemerintahan sehingga banyak keputusan yang diambil kaisar sesuai dengan yang dikehendaki Yang Kui Hui! Tidaklah mengherankan apa bila seorang kakak laki-laki dari selir itu, yang bernama Yang Kok Tiong, berkat bujukan Yang Kui Hui, diangkat sebagai seorang pejabat tinggi oleh Kaisar Beng Ong. Dan berkat kekuasaan Yang Kui Hui, sebentar saja Yang Kok Tiong mempunyai pengaruh yang besar di antara para menteri, dan para menteri segan terhadap dia hanya karena dia adalah kakak Yang Kui Hui dan disayang oleh kaisar!

Biarpun usia Yang Kui Hui sudah tidak begitu muda lagi, sudah empat puluh tahun, namun ia masih cantik jelita dan nampak muda, bukan hanya muda di tubuh, akan tetapi juga muda di hati. Maka, setelah ia mendapat kekuasaan yang besar dan mempermainkan kaisar seperti anak-anak mempermainkan tanah liat, mulailah selir yang cantik ini merasa tidak puas dengan suaminya yang jauh lebih tua, kini sudah hampir tujuh puluh tahun! Mulailah matanya mengerling ke sana sini dan iapun tertarik kepada seorang perwira yang muda dan gagah perkasa.

Perwira itu bernama An Lu Shan yang sebetulnya bukan seorang Han. An Lu Shan adalah keturunan Turki dari suku Khitan yang dilahirkan di luar Tembok Besar, yaitu di Liao-tung atau Mancuria Selatan. Ketika remaja, dia bahkan menjadi budak belian, dan akhirnya sebagai budak belian dia jatuh ke tangan seorang perwira Han. Karena dia seorang yang cerdik dan berambisi, maka dia bekerja dengan rajin dan belajar segala macam ilmu, terutama ilmu silat dan ilmu perang. Akhirnya, dia mendapat kesempatan untuk memperlihatkan keberanian dalam pertempuran di mana dia menjadi perajurit sehingga sebentar saja dia mendapat kepercayaan dan menjadi perwira. Karena jasa-jasanya membasmi atau memadamkan api pemberontakan yang terjadi di perbatasan utara, akhirnya dia dihadapkan kepada kaisar. Ketika Yang Kui Hui melihat perwira muda ini, ia membisikkan rayuannya kepada kaisar agar An Lu Shan diangkat menjadi seorang perwira istana. Kaisar menurut saja dan demikianlah, An Lu Shan menjadi seorang kepercayaan diistana, dekat dengan kaisar!

Dengan sendirinya, perwira muda inipun dekat dengan Yang Kui Hui dan segera tersiar desas-desus bahwa terjadi hubungan tidak senonoh antara An Lu Shan dan selir kaisar itu. Namun, dengan amat cerdiknya Yang Kui Hui dapat mengatur siasat untuk menghadapi desas-desus itu. Berkat rayuannya, ia berhasil membujuk kaisar untuk mengangkat An Lu Shan sebagai seorang panglima besar yang memimpin pasukan besar di daerah utara, yaitu daerah Liao-tung tempat kelahirannya. Dengan menyingkirkan panglima itu ke luar istana, dengan sendirinya desas-desus itupun lenyap. Dan sebagai seorang panglima besar, apa lagi dia telah diangkat anak oleh Yang Kui Hui dan diberi gelar Pangeran, bebaslah bagi panglima ini untuk sewaktu-waktu berkunjung ke kota raja, memasuki istana dan mengadakan hubungan dengan Yang Kui Hui setiap terbuka kesempatan bagi mereka.

Demikianlah sekelumit tentang keadaan Kerajaan Tang pada waktu kisah ini terjadi. Pada suatu malam, Yang Kok Tiong, kakak dari selir kaisar yang berkuasa itu, duduk termenung di dalam kamarnya seperti orang yang bersedih. Isterinya datang menghampirinya dan dengan khawatir isterinya bertanya mengapa suaminya nampak demikian muram.

"Suamiku, kenapa engkau nampak murung? Bukankah kini engkau telah memperoleh kedudukan tertinggi sebagai Menteri Utama? Semestinya kita bersyukur dan bergembira, bukan termenung dengan wajah murung."

Menteri Yang Kok Tiong, pria berusia lima puluh tahun itu, menghela napas panjang.
"Ada dua hal yang membuat hatiku risau dan tidak pernah merasa puas. Yang pertama adalah anakmu, putera kita."

"Ehh? Kenapa dengan anak kita?" tanya isterinya, mengerutkan alisnya. "Dia anak tunggal yang amat baik, tampan, pandai dan cerdik, apa lagi kekurangannya?"

"Hemm, apa gunanya semua ketampanan, kepandaian bun (sastra) dan bu (silat) dan kecerdikannya itu kalau dia tidak pernah mau memegang jabatan? Sampai lelah dan jengkel aku membujuknya untuk suka kuberi kedudukan agar dapat menanjak dan kelak menjadi orang penting akan tetapi dia selalu menolak. Dia lebih senang berkeliaran. Huh semua ini karena engkau terlalu memanjakannya !"

"Suamiku, kenapa engkau marah-marah? Cin Han terlalu muda, baru sembilan belas tahun usianya, tentu dia masih suka bermain-main dengan kawan-kawan sebayanya dan ......"

"Itulah, engkau selalu membelanya dan memanjakannya! Sudahi ah, jangan bicara tentang dia, menjengkelkan saja. Ada hal lain lagi yang membuat hatiku risau bukan main dan semua ini gara-gara adikku Yang Kui Hui yang tidak tahu malu itu ! "

Kembali isteri menteri itu terbelalak heran.
"Aih, aih.... suamiku, bagaimana engkau dapat berkata seperti itu? Untung di kamar ini hanya ada kita berdua. Kalau sampai terdengar orang lain! Bagaimana engkau dapat memaki adikmu? Pada hal, engkau mendapatkan kedudukan sampai sekarang menjadi Menteri Utama, semua berkat jasa adikmu itu yang membujuk Kaisar, bukan?"

"Semua itu benar, akan tetapi sekarang dia membuat aku merasa malu, juga khawatir sekali akan keselamatan Sribaginda Kaisar dan Kerajaan Tang."

"Ehhh......?" Isterinya memandang dengan muka berubah pucat. "Apa.. apa yang telah terjadi......?"

"An Lu Shan itu! Karena kegantengannya, dia berhasil mempengaruhi Yang Kui Hui!"

"Akan tetapi, itu hanya desas-desus dan fitnah, bukan? Panglima An Lu Shan itu bahkan telah diangkat menjadi anak oleh adikmu, dan bukankah hal itu pantas mengingat jasa-jasa panglima itu dan mengingat pula bahwa diapun masih mempunyai darah Khitan seperti juga engkau dan adikmu?"

"Kalau itu saja aku masih dapat menerima. Aku mengenal adikku, dan desas-desus itu bukan kosong. Akupun tidak mau mencampuri. Yang membuat hati ku kesal adalah melihat betapa An Lu Shan kini mendapatkan kedudukan yang amat penting. Dia diangkat menjadi panglima besar yang memimpin pasukan besar di Liao-tung, juga dia mendapat kekuasaan untuk keluar masuk istana seenak perutnya sendiri!"

"Akan tetapi, suamiku. Apa salahnya dengan itu? Dia mendapatkan kekuasaan di bidang ketentaraan, sedangkan engkau juga mendapatkan kekuasaan besar di bidang pemerintahan, semua ini jasa adikmu. Apakah engkau..... iri seperti terhadap An Lu Shan?"

Disentuh kelemahannya, wajah menteri utama itu menjadi merah.
"Engkau tahu apa? Dengan kedudukan itu, aku khawatir suatu saat An Lu Shan akan memberontak. Bahkan aku sudah menyebar para penyelidik dan ada gejala-gejala bahwa dia mempersiapkan kekuatan untuk melakukan pemberontakan."

"Ahhh.....?" Isterinya menjadi pucat dan tidak berani membantah lagi. pada keesokan harinya, Menteri Utara Yang Kok Tiong segera mengutarakan kecurigaannya terhadap An Lu Shan kepada Sribaginda Kaisar.

"Hamba mohon agar paduka berhati-hati. Menghadapi An Lu Shan yang menguasai pasukan besar sekali di utara, seyogianya kalau paduka mengadakan pengawasan yang ketat. Hamba mendengar bahwa An Lu Shan menyusun kekuatan besar di utara, bahkan menerima perajuit-perajurit baru dari kalangan rakyat. Hamba khawatir kalau-kalau dia mempunyai itikad buruk terhadap Kerajaan paduka."

Menerima nasihat menteri utamanya itu, Kaisar Beng Ong merasa curiga juga.
"Akan kami panggil dia, dan kalau benar dia hendak melakukan pemberontakan tentu akan kami hukum berat. Kalau dia tidak datang memenuhi panggilan kami, berarti memang dia hendak memberontak dan kita serbu dan hancurkan pasukannya."

Biarpun di dalam kamarnya kaisar dihibur dan dibujuk Yang Kui Hui agar jangan mencurigai An Lu Shan, namun kaisar tetap memanggil datang An Lu Shan dari markasnya di perbatasan utara. Kecurigaan Yang Kok Tiong memang tidak tanpa dasar. Di utara, An Lu Shan menyusun kekuatan dan memperbesar pasukannya dengan menerima pasukan bayaran dari rakyat berbagai suku di utara. Ketika dia menerima panggilan Kaisar dan dari mata-matanya dia mendengar bahwa dia dicurigai, dia menjadi bimbang. Akan tetapi, pada saat itu, dia merasa belum kuat benar untuk memulai pemberontakan, maka dia bertekad untuk memenuhi panggilan karena hal inipun merupakan bukti akan kesetiaannya terhadap kaisar.

Demikianlah, ketika An Lu Shan menghadap kaisar, para menteri, termasuk menteri utama Yang Kok Tiong, tercengang dan merekapun merasa bimbang.

"An Lu Shan, kami mendengar bahwa engkau hendak melakukan pemberontakan terhadap kami. Benarkah itu?"

An Lu Shan memperlihatkan sikap kaget, mukanya berubah kemerahan dan dia cepat memberi hormat sambil berlutut dan membentur-benturkan dahinya di lantai.

"Ampun, Sribaginda, ampun beribu ampun. Hamba sungguh terkejut mendengar sabda paduka tadi. Hamba.... memberontak Hamba yang telah menerima anugerah yang berlimpah-limpah dari paduka, hamba yang bersumpah setia sampai mati, rela. mengorbankan nyawa hamba ini untuk membela paduka, hamba dituduh merencanakan pemberontakan? Sungguh hamba dapat mati penasaran, Sribaginda, dan hamba mohon penjelasan, mohon bukti dan saksi."

"An Lu Shan, kalau engkau tidak hendak memberontak, kenapa engkau menyusun kekuatan di utara, menambah besarnya pasukan dengan menerima perajurit-perajurit baru dari rakyat berbagai suku di perbatasan? Hayo jawab!"

"Ampunkan hamba, Sri baginda. Buktinya hamba datang menghadap paduka memenuhi panggilan saja sudah menyatakan bahwa hamba adalah seorang hamba yang setia kepada paduka. Dan tentang penyusunan kekuatan di utara itupun hamba lakukan demi kesetiaan hamba kepada paduka dan kerajaan paduka. Ancaman musuh yang terutama datang.dari utara! Kalau hamba tidak menghimpun tenaga sampai hamba dapat memperoleh pasukan yang amat kuat, bagaimana kerajaan paduka dapat membendung datangnya ancaman musuh dari utara? Pula, hamba sengaja menerima para pemuda berbagai suku di utara, hal itu untuk menjinakkan para suku liar itu agar mereka tidak ikut-ikutan menentang kerajaan paduka, melainkan membantu. Ahh, Sribaginda, kalau paduka masih menganggap hamba bersalah dan hendak memberontak, hamba hanya dapat menyerahkan jiwa raga hamba kepada paduka. Hamba siap dihukum mati walaupun arwah hamba akan menjadi arwah penasaran yang kelak akan selalu mengejar mereka yang melakukan fitnah atas diri hamba." Setelah kata demikian, sambil membenturkan bahu di lantai, panglima itu mencucurkan air mata.

Bukan hanya Kaisar, juga para menteri terkesan dan terharu oleh pembantahan diri An Lu Shan. Dan Sribaginda kaisar juga menghapus semua tuduhan kecurigaan, bahkan menjadi semakin percaya kepada An Lu Shan. Panglima kembali ke utara dengan wajah berseri karena kemenangan itu, membawa pula hadiah dari kaisar yang merasa menyesal telah mencurigai An Lu Shan. Serta selirnya tersayang kembali telah buktikan kebenarannya!

Sepulangnya dari menghadap kaisar dan melihat gagalnya rencana menjatuhkan An Lu Shan, Menteri Yang Tiong pulang dengan wajah murung, aku sendiri merasa bimbang apakah benar An Lu Shan hendak memberontak seperti yang dikhawatirkannya berdasarkan laporan para mata-matanya. Alasan An Lu Shan demikian kuatnya.

Setibanya di rumah, dia disambut oleh isterinya dan oleh puteranya. Begitu melihat puteranya, hati menteri yang sedang risau dan kecewa itu, menjadi terbakar oleh kemarahan.

"Cin Han, ke sini kau, aku ingin bicara!" bentaknya sambil memasuki ruangan sebelah dalam.

Cin Han memandang kepada ibunya yang mengangguk dan dia pun mengikuti ayahnya, maklum apa yang akan dibicarakan ayahnya dan maklum pula bahwa ayahnya sedang marah kepadanya. Ibunya sudah memberi tahu kepadanya tentang semua itu. Nyonya Yang tidak tega melihat puteranya akan dimarahi suaminya, maka iapun ikut pula masuk dengan sikapnya yang tenang.

Yang Cin Han berusia sembilan belas tahun, bertubuh sedang dengan dada bidang dan tubuh yang tegak, sikapnya jantan namun lembut seperti ibunya. Wajahnya tampan, berbentuk bulat dan bersih, alisnya hitam tebal, hidungnya mancung diapit sepasang mata yang bersinar-sinar. Mulutnya yang selalu tersenyum itu amat menyenangkan orang lain yang berhadapan dengannya. Dahinya yang lebar menunjukkan bahwa dia seorang pemuda yang suka berpikir. Biarpun usianya baru sembilan belas tahun, akan tetapi Cin Han sudah menguasai ilmu kesusasteraan yang cukup mendalam, sudah menghafal semua kitab Agama Buddha, banyak pula pengetahuannya tentang filsafat Agama To, dan pandai pula bermain yang-kim (siter) dan meniup suling. Selain ilmu kesusasteraan dan agama, juga pemuda ini sejak kecil oleh ayahnya dipanggilkan guru-guru silat yang pandai. Kedudukan ayahnya memungkinkan pemuda ini untuk memperoleh guru-guru yang menjadi jagoan-jagoan istana sehingga setelah berusia sembilan belas tahun, Cin Han memiliki ilmu silat yang tangguh. Namun, sikap dan pakaiannya tidak pernah menonjolkan kepandaian silatnya itu dan dia lebih nampak sebagai seorang pelajar.

Kini mereka duduk berhadapan, ayah dan anak itu. Cin Han duduk di pinggir, hanya menyaksikan saja, tidak ingin mencampuri kalau saja suaminya tidak memarahi anaknya secara keterlaluan. Ruangan itu besar dan sunyi. Tidak akan ada seorangpun pelayan berani memasuki ruangan itu tanpa dipanggil. Setelah mereka saling berhadapan, duduk di kursi dan saling tatap pandang beberapa lamanya, akhirnya Cin Han merasa tidak enak karena agaknya ayahnya yang sedang marah itu menunggu dia bicara lebih dahulu.

"Ayah, keperluan apakah yang hendak ayah bicarakan denganku?"

"Cin Han, tahukah engkau berapa usiamu sekarang?"

"Kalau tidak keliru, bulan dua tahun depan usiaku sudah duapuluh tahun, jadi sekarang sembilan belas tahun lebih, ayah," jawab pemuda itu dengan sikap tenang dan wajah cerah, bibir terhias senyum.

“Jelas engkau bukan anak kecil lagi. Lalu kalau tidak sekarang, kapan lagi engkau akan bertindak dewasa? Engkau adalah anakku., anak seorang Menteri Utama dari Kerajaan besar! Apakah engkau hendak menjadi seorang pemuda pengangguran saja? Lihat, siapa itu An Lu Shan! Dahulu dia seorang budak belian, sekarang? Dia menjadi panglima besar yang mengepalai pasukan besar di perbatasan, dan dia mendapat kepercayaan penuh oleh Sribaginda! Kalau engkau tidak cepat dari sekarang mencari kedudukan, kelak engkau akan menjadi apa? Apakah engkau tidak akan menjunjung tinggi nama keluarga Yang? Ingat, ayahmu ini hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu engkau!"

"Aih, harap jangan main-main! Bukankah ada kedua adik Yang kui an dan Yang Kui Bi?" Cin Han berkelakar, pura-pura tidak tahu apa yang dimaksudkan ayahnya. Memang ayahnya mempunyai tiga orang anak. Dia adalah anak tunggal Isteri pertama, sedangkan Kui Lan dan Kui Bi anak dari dua orang ibu tirinya atau selir-selir ayahnya, dua orang adiknya itu yang kini sudah berusia tujuh belas dan enam belas tahun.

"Siapa main-main? Maksudku, engkau adalah putera tunggalku yang kelak melanjutkan keturunan Yang! Mulai besok, engkau harus mengikuti ujian negara dan aku akan mengatur agar engkau memperoleh kedudukan yang sepadan dengan kemampuanmu!"

Kini Cin Han bersikap sungguh-sungguh.

"Maaf, ayah. Terpaksa aku berani menolak apa yang ayah kehendaki. Ayah, biarpun aku sudah mempelajari banyak ilmu, akan tetapi semua kepandaian itu hanya merupakan teori belaka. Aku ingin menghayatinya, melaksanakan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Aku ingin memperoleh pengalaman karena tanpa pengalaman, bagaimana aku akan dapat menjadi seorang pejabat yang baik. Apakah ayah menghendaki kelak anak ayah ini menjadi seorang pejabat yang hanya mampu menulis di belakang meja saja, hanya mampu menunjuk sana menunjuk sini, hanya mampu memerintah tanpa mampu melakukan apapun? Bagaimana aku akan dapat menjadi seorang pemimpin yang baik kalau aku tidak mampu melakukan sendiri apa yang kuperintahkan?"

Yang Kok Tiong mengerutkan alisnya. Ucapan puteranya itu seolah merupakan kritik kepada dirinya sendiri!

"Lalu apa maumu?" bentaknya.

"Ayah, berilah waktu kepadaku barang dua tiga tahun. Aku ingin merantau, meluaskan pengalaman dulu sebelum aku menerima usul ayah untuk menjadi seorang pejabat."

"Merantau? Engkau ingin menjadi petualang yang berkeliaran ke sana sini, bergaul dengan segala macam orang kang-ouw, hidup sebagai rakyat jembel ?"

"Ayah, justeru bergaul dengan orang kang-ouw itulah yang akan membuat aku mengerti akan segala keadaan di luar kota raja, dan bergaul dengan rakyat jelata dapat membuka mataku sehingga aku tahu apa saja yang diderita oleh rakyat, apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus diubah demi kemakmuran rakyat. Tanpa terjun ke sana, bagaimana aku dapat merasakannya?"

"Sombong! Kau anak durhaka.....! Engkau tidak boleh berkeliaran, engkau harus mau menerima jabatan atau...."

Melihat suaminya marah-marah dan bangkit berdiri, Nyonya Yang segera bangkit dan menghampirinya, memegang lengannya dan menyabarkannya.

"Sudahlah, tidak ada gunanya marah-marah didengar oleh para pelayan menjadi kurang baik. Engkau lelah dan perlu istirahat, marilah, nanti Cin Han biar aku yang membujuknya," kata isteri bijaksana itu dan ia menggandeng tangan suaminya, diajak masuk kekamar mereka.

Cin Han duduk termenung, alisnya yang tebal berkerut. Dia sudah cukup dewasa, dia sudah banyak mendengar tentang keadaan dalam istana, tentang kaisar, tentang bibinya yang menjadi selir terkasih Sribaginda, tentang desas-desus mengenai bibinya dan Panglima An Lu Shan. Dia melihat kenyataan betapa banyaknya penjilat kaisar, betapa banyaknya pembesar-pembesar yang sesungguhnya tidak becus apa-apa, akan tetapi memperoleh kedudukan tinggi karena ada main dengan para pejabat lainnya. Bahkan dia melihat kenyataan tentang ayahnya. Dia tahu bahwa ayahnya sebenarnya tidak tepat menjadi Menteri Utama. Ayahnya tidak memiliki kepandaian yang boleh diandalkan. Akan tetapi karena ayahnya kakak dari Yang Kui Hui, maka Sribaginda Kaisar mengangkat ayahnya menjadi Menteri Utama. Jabatan yang didapat bukan karena keahlian, melainkan karena bujukan dan rayuan bibinya. Jabatan anugerah! Dia muak melihat semua itu. Dia akan lebih senang kalau andaikata ayahnya itu mendapatkan kedudukan yang sesuai dengan keahlian dan kemampuannya. Menjadi lurah dusun misalnya, atau camat paling tinggi! Bukan Menteri Utama! Dia malu kepada diri sendiri karena pengetahuannya ini.

Karena bagaimana juga, yang memarahinya adalah ayahnya, dan dia tahu betapa ibunya amat mencinta ayahnya dan ibunya akan ikut bersedih kalau ayahnya marah-marah, Cin Han akhirnya bangkit dari tempat duduknya dengan lesu. Dia lalu menuju ke belakang gedung yang besar itu, memasuki taman keluarga yang indah dan cukup luas. Di tengah taman itu terdapat sebuah pondok tempat istirahat dan dia selalu ke sana kalau hatinya sedang gundah. Juga di dekat pondok terdapat lapangan rumput yang luas di mana dia sering berlatih silat.

Dari jauh dia sudah melihat dua orang adiknya sedang berlatih silat. Wajah tampan yang tadinya agak muram karena memikirkan perselisihannya dengan ayahnya itu tiba-tiba menjadi cerah, berseri-seri dan Cin Han mempercepat langkahnya. Dia amat menyayang dua orang adik tirinya, teman bermainnya sejak kecil. Juga mereka berdua amat sayang kepadanya.

Karena tidak ingin mengganggu dua orang gadis yang sedang berlatih, diapun menyelinap dan mengintai dibalik pondok, menonton kedua orang gadis remaja yang sedang berlatih silat pedang di lapangan rumput itu. Dan diapun tertegun. Dua orang adiknya itu sedang melatih ilmu pedang yang aneh, yang sama sekali tidak dikenalnya dan baru sekali ini dia melihat ilmu pedang itu. Bahkan baru kemarin dia berlatih pedang dengan kedua adiknya, akan tetapi mereka sama sekali tidak bicara tentang ilmu pedang baru itu, apa lagi memainkannya. Dan melihat gerakan mereka, dia yakin bahwa ilmu itu bukan ilmu yang baru dilatih sekarang. Tentu sudah lama mereka melatih ilmu pedang itu, dengan diam-diam dan di luar tahunya.

Dia menonton sambil memperhatikan. Dia kagum bukan main. Ilmu pedang itu memang hebat. Dasar kuda-kuda dan perubahan geseran kaki mereka begitu kokoh kuat, menopang ilmu pedang yang tangguh. Gerakan pedang itupun mantap dan selain cepat juga memiliki perubahan yang luar biasa dan tidak terduga-duga. Aneh sekali ilmu pedang itu. Akan tetapi lebih aneh lagi adalah kenyataan betapa mereka menyembunyikan ilmu itu darinya. Tentu ada apa-¬apanya ini karena kedua orang adiknya itu selamanya belum pernah menyembunyikan sesuatu darinya. Diapun tidak ingin membuat mereka terkejut dan menanti sampai mereka selesai berlatih, barulah dia muncul dari balik pondok.

"Aih, Han-toako!" seru gadis yang lebih besar.

"Han-toako, kenapa engkau baru muncul? Ke mana saja engkau sejak tadi? Aku dengar ayah marah-marah kepadamu. ya? Ayah ingin engkau segera menjadi seorang pembesar, ya? ”kata yang lebih kecil.

Cin Han tersenyum lebar dan menghampiri kedua orang gadis itu. Mereka adalah gadis-gadis yang sehat dan jelita, membuat dia bangga memandang mereka. Yang lebih besar, Yang Kui Lan, memiliki wajah yang menurut ibunya, mirip dengan wajahnya, atau lebih tepat, wajah mereka mirip dengan wajah bibi mereka, Yang Kui Hui yang cantik jelita. Karena itu, Kui Lan amat cantik jelita, seperti bibi mereka. Tubuhnya tinggi ramping, wajahnya cantik dengan dagu meruncing dan mata yang memiliki kerling tajam, dan tahi lalat kecil di dagu kiri menambah kemanisannya. Mulut ya indah, hidungnya mancung. Seraut wajah yang jelita, dan wataknya pendiam, anggun dan agung, seperti seorang puteri istana. Sungguh pantas ia menjadi puteri Menteri Utama, karena setiap gerak-geriknya, pembawaannnya, begitu agung seperti seorang puteri bangsawan tinggi.

Sungguh jauh bedanya dengan Kui Bi, adiknya yang berusia enam belas tahun itu. Adiknya ini mirip ibu kandung gadis itu. tubuhnya kecil mungil Dengan wajah manis dan rambut hitam subur, matanya seperti sepasang bintang yang selalu tersenyum. Mata itu lebih nampak senyumnya dibanding bibirnya yang merah basah, sepasang mata yang Jenaka, pembawaannya lincah dan manja, pandai bicara, dan sama sekali tidak pendiam seperti enci tirinya. Gadis ini memang amat cerdik dan lincah, pandai bergaul sehingga disayang oleh semua keluarga.

Cin Han tidak merasa heran mendengar Kui Bi mengetahui persoalannya dengan ayahnya. Memang sudah lama ayahnya selalu membujuknya agar dia mau menjadi pejabat. Akan tetapi tentu kedua orang adiknya itu tidak tahu apa yang baru saja terjadi antara dia dan ayahnya. Dia membelokkan arah percakapan dan sambil mengamati kedua orang gadis yang kini menggunakan saputangan untuk menyusut keringat yang membasahi leher dan muka mereka, dia bertanya.

"Lan-moi (adik Lan) dan Bi-moi (adik Bi), ilmu pedang apakah yang kalian latih tadi ?"

Dua orang gadis itu nampak terkejut, saling pandang dan Kui Lan tidak mampu menjawab, diam saja. Kui Bi tersenyum dan berpura-pura heran.

"Aih, kenapa masih bertanya, Han¬ko. Kami berlatih ilmu pedang biasa, Thian-te Kiam-hwat (Ilmu Pedang Langit Bumi) yang sudah kita kenal bersama, bahkan engkau sering memberi petunjuk kepada kami."

***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 004
***Kembali

No comments:

Post a Comment