Ads

Thursday, August 22, 2013

Mustika Burung Hong Kemala Jilid 004

***Kembali

Cin Han mengerutkan alisnya dan memandang kepada adiknya dengan alis berkerut.
"Bi-moi, sejak kapan engkau belajar berbohong? Kaukira begitu mudah engkau membohongi aku? Sudah sejak tadi aku menonton kalian berlatih ilmu pedang itu dan aku tahu bahwa itu adalah ilmu pedang aneh dan hebat yang sama sekali tidak kukenal. Nah, masihkah kalian tidak mau berterus terang kepada kakak kalian sendiri?"

"Maafkan kami, koko......." kata Kui Lan .

"Tidak perlu minta maaf, ceritakan saja dari mana kalian mempelajari ilmu pedang itu dan apa namanya," kata Cin Han dengan suara tegas dan menuntut .

"Hi-hik, Lan-ci (kakak Lan), aku berani bertaruh bahwa Han-ko baru saja mendapat marah besar dari ayah!" kata Kui Bi sambil tertawa-tawa sehingga nampak deretan giginya yang mengkilap rapi .

"Hemm, dari mana kau tahu?"

"Itu mudah saja, koko. Engkau di marahi ayah, tidak berani membalas dan untuk melampiaskan kedongkolanmu, engkau memarahi kami. Belum pernah kita melihat Han-ko marah-¬marah kepada kita, bukan, Lan-ci ?"

Cin Han memandang dengan sungguh sungguh.
"Lepas dari soal marah atau tidak, aku sungguh ingin tahu sekali. Ilmu pedang kalian tadi memang hebat. Dari siapa kalian mempelajarinya?"

Kembali kakak beradik itu saling pandang, kemudian Kui Lan menghela napas dan berkata kepada adiknya,

"Bi-moi, tiada salahnya kalau kita berterus terang saja kepada Han-ko. Kau ceritakanlah kepadanya apa adanya, Bi-moi ."

Mendengar ucapan encinya, Kui Bi tidak bimbang lagi.
"Begini, Han-ko, bukan kami tidak mau berterus terang kepadamu, akan tetapi sesungguhnya, orang yang mengajarkan ilmu pedang ini kepada kami memesan agar kami tidak menceritakan kepada orang lain...."

"Akan tetapi aku bukan orang lain, Bi-moi! Kalau tidak kauceritakan padaku, akan kuberi tahu ayah bahwa kalian menyembunyikan rahasia dan kalian tentu akan dipaksa mengaku dan mendapat kemarahan besar." Cin Han mengancam.

"Baiklah, Han-ko, kami ceritakan akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan menceritakannya kepada orang lain," kini Kui Lan berkata.

Cin Han mengangkat kedua tangan ke atas.
"Baik, aku berjanji. Nah, sekarang ceritakan kepadaku."

"Peristiwanya terjadi tiga bulan yang lalu, koko," Kui Bi mulai bercerita. "Kami berdua sedang melakukan perjalanan pulang dari kuil di mana kami bersembahyang. Di depan kuil, sebelum kami naik joli, kami melihat seorang kakek pengemis duduk melenggut. Kami merasa kasihan sekali kepada kakek jembel itu, maka kami lalu mengambil dua keping uang emas dan kami berikan kepadanya."

"Kalian memberi sedekah dua keping uang emas kepada seorang pengemis? Luar biasa sekali! Kalian terlalu royal!" Cin Han berseru heran. Mana ada orang memberi sedekah dengan kepingan emas kepada seorang pengemis?

"Memang luar biasa, koko, dan kami berduapun merasa heran mengapa mendadak kami merasa iba kepadanya. Akan tetapi akibat perbuatan kami itupun luar biasa, koko!" kata Kui Bi.

"Eh, Bi-moi, apa hubungannya urusan pengemis itu dengan ilmu pedang kalian? Jangan mencoba mengibuli aku!"

"Aih, engkau sungguh tidak sabar, koko. Jelas ada hubungannya! Dengarkan saja," sela Kui Bi. "Tiga hari kemudian, ketika pada suatu pagi kami berdua sedang berlatih ilmu pedang, tiba-tiba terdengar suara orang yang mencela gerakan kami dan memberi petunjuk. Tentu saja kami terkejut dan penasaran, akan tetapi petunjuknya itu memang tepat sekali. Anehnya, suara itu tidak ada orangnya. Baru ketika kami minta kepada suara itu agar kalau dia seorang manusia suka memperlihatkan diri, tiba-tiba saja muncul seorang kakek dan bukan lain adalah kakek jembel depan Kuil itu!"

Kisah itu mulai menarik dan Cin Han terbelalak.
"Lalu bagaimana, Bi? Lanjutkan, lanjutkan.....!"

Bibir yang merah basah itu merekah dalam senyum yang menggoda.
"Akan ku lanjutkan, akan tetapi janji dulu bahwa lain kali engkau tidak akan galak kepadaku, dan akan selalu bersikap manis sebagai seorang kakak yang baik. Berjanjilah!" Gadis ini memang nakal dan suka menggoda, lagi manja.

"Baiklah, baiklah..... aku berjanji. Tapi cepat lanjutkan, lalu bagaimana? Apakah pengemis itu muncul di sini, di taman ini?"

"Benar, dia muncul, bukan seperti engkau tadi yang bersembunyi di balik pondok. Dia melayang turun dari atas pondok seperti burung saja. Kami terkejut dan bertanya apa maunya dan bagaimana dia dapat memasuki taman. Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia dating untuk membalas budi kami. Dan diapun segera mengajarkan ilmu pedang itu kepada kami dengan janji bahwa kami tidak akan menceritakan kepada orang lain......"

"Tapi aku bukan orang lain, aku adalah kakak kalian yang baik dan tersayang. Nah, lanjutkan!" kata Cin Han tak sabar. "Siapa nama orang itu, apa nama ilmu pedang itu dan berapa lama dia mengajarkan kepada kalian, apakah dia masih suka datang ke sini dan....!”

"Aihh, repot juga aku menghadapi serangan pertanyaanmu yang seribu satu macam banyaknya itu, koko! Dia tidak memperkenalkan namanya, dan tidak suka kami sebut sebagai guru. Dia hanya ingin membalas budi. Ilmu pedang itu dia sebut Sian-li Kiam-sut (ilmu Pedang Dewi) yang katanya amat cocok untuk kami. Tadinya dia datang setiap hari sampai kurang lebih sebulan, kemudian dia mengatakan bahwa kami sudah mempelajari semua teorinya hanya tinggal berlatih berdua saja dan dia tidak pernah datang lagi. "

"Dan selama sebulan itu, dia datang ke sini dan pergi tanpa dilihat orang lain?"

"Agaknya tidak ada yang melihatnya kecuali kami berdua, Han-ko," kata Kui Lan, "Memang dia mempunyai gerakan yang luar biasa, datang dan pergi hanya nampak bayangannya berkelebat."

"Luar biasa! Sungguh luar biasa!" seru Cin Han. "Bagaimana orangnya, sikapnya, bentuk badannya, wajahnya, kepandaiannya?" Kembali dia menghujankan pertanyaan, membuat Kui Bi terkekeh.

"Wah-wah, engkau murka sekali, koko. Engkau hanya berjanji satu, akan tetapi minta banyak sekali. Nah, aku akan menceritakan bagaimana keadaan orang itu, akan tetapi engkau harus berjanji bahwa engkau nanti akan menceritakan tentang ayah, apakah engkau tadi di marahi ayah dan mengapa dimarahi? Maukah engkau berjanji?"

"Baiklah, baiklah, engkau rewel sekali, Bi-moi. Hayo katakan bagaimana keadaan orang itu!"

"Orangnya berusia kurang lebih enam puluh tahun, kurus kering dan bongkok, seperti ebi....."

"Ebi?"

"Ya, udang kering itu lho! Rambutnya dibiarkan riap-riapan, sudah banyak ubannya, pakaiannya tambal-tambalan akan tetapi bersih, dan mukanya seperti ...... seperti...... monyet."

"Bi-moi!" Kui Lan menegur adiknya. "Bagaimana juga, dia itu guru kita, bagaimana engkau dapat mengatainya seperti itu?"

"Aih, enci. Aku bukan bermaksud menghinanya, akan tetapi bagaimana pula harus menerangkan kepada Han-koko. Kita harus jujur, enci. Bukankah memang mukanya mirip muka seekor monyet. Coba kau yang menggambarkan, bagaimana bentuk wajahnya agar Han-koko mengerti, enci Lan."

"Sudahlah, aku tidak tahu. Keteranganmu sudah cukup, hanya yang kutahu, dia selalu membawa sebatang tongkat."

"Ah, benar! Han-ko, orang itu selalu membawa sebatang tongkat hitam panjangnya sedepa, kadang dia selipkan di pinggang. Nah, sekarang kauceritakan tentang ayah dan engkau, Han-ko."

Ditanya demikian, kegembiran dan ketegangan mendengar tentang pengemis itu, seperti tersapu dari wajah Cin Han. Wajahnya berubah agak muram dan diapun duduk di atas bangku yang terdapat di situ, lalu termenung dan menghela napas berulang kali.

"Ihh! Bagaimana, ini, Han-ko? Kalau ceritamu hanya helaan napas panjang saja, tidak perlu aku mendengarnya. Aku sendiri pun mampu dan pandai kalau hanya menghela napas!" Kui Bi bersungut-sungut.

Sikap adiknya ini sedikit banyak mengurangi tekanan batin yang di derita Cin Han dan diapun tersenyum.

"Ayah memang marah-marah kepadaku. Seperti biasa, ayah hendak memaksa aku untuk menjadi pejabat, akan tetapi aku menolak dan aku mengatakan bahwa aku ingin pergi merantau selama dua tiga tahun dulu mencari pengalaman."

"Wah, bagus! Menyenangkan sekali! Aku ikut, Han-ko!" teriak Kui Bi dengan gembira sehingga suaranya seperti orang bersorak.

"Hushh, Bi-moi, lupakah engkau bahwa engkau seorang wanita?" Kui Lan menegurnya.

Kui Bi membalikkan tubuh menghadapi encinya.
"Kalau aku wanita, habis mengapa, enci? Wanitapun manusia seperti Han-koko, bukan? Dan akupun ingin mencari pengalaman, merantau bersama Han-ko. Akupun sudah mampu menjaga dan membela diri, bukankah begitu, koko?" Dengan manja Kui Bi memegang tangan kakaknya. "Han-ko, aku boleh ikut denganmu pergi merantau, bukan? ,Boleh kan, koko yang baik"

Cin Han tersenyum akan tetapi menggeleng kepalanya.
"Aih, BI-moi, engkau ini seperti anak kecil saja. Sedangkan aku sendiri begitu memberi tahu ayah bahwa aku akan pergi merantau, ayah sudah marah bukan main dan melarangku, apa lagi kalau dia mendengar engkau akan ikut pergi. Tentu kemarahannya akan memuncak”.

"Jadi.... kalau begitu, engkau tidak jadi pergi merantau?" tanya Kui Bi kecewa. Kakaknya menggeleng kepala dan menghela napas panjang.

"Entah, Bi-moi. Aku masih bingung, belum dapat mengambil keputusan. Kalau aku pergi, tentu ibu akan berduka karena ayah marah. Dan engkau, jangan harap engkau dapat pergi, tentu ayah akan melarang keras."

Kui Bi menjatuhkan diri duduk di atas bangku dan bertopang dagu, alisnya berkerut dan nampak giginya yang rapi putih Itu menggigit-gigit bibir bawah, tanda bahwa hatinya kesal dan jengkel.

"Sudahlah, Bi-moi, jangan macam-macam. Kita ini wanita, tidak mungkin ayah memperbolehkan kita pergi merantau. Sedangkan Han-ko yang laki-laki pun tidak diperkenankan, apa lagi kita."

"Wah, aku sudah tahu! Ya, hanya itulah jalan satu-¬satunya!” Tiba-tiba Kui Bi meloncat bangun, mengejutkan kedua orang kakaknya, dan Kui Bi kembali memegang tangan Cin Han, mengguncang-guncangnya sambil berkata, "Han-ko, engkau harus menolong kami sekali ini! Engkau harus menolong kami agar kami diperkenankan ayah untuk keluar dari rumah, dari kota raja!"

"Ehh? Bagaimana pula ini? Yang akan merantau adalah aku, bukan kalian!" kata Cin Han.

"Tentu saja. Engkau pergilah merantau, koko. Engkau pergi tanpa pamit alias minggat. Nah, tentu ayah dan para ibu bingung, lalu aku dan enci Lan akan menghadap ayah, dan mengusulkan agar kami diperkenankan pergi mengejar dan mencarimu sampai dapat, memaksamu untuk pulang! Dengan demikian, ayah tentu akan mengijinkan dan berarti kita bertiga semua pergi merantau! Asyiiik!"

Mau tidak mau Cin Han tertawa melihat adiknya yang manis itu menari-nari gembira. Juga Kui Lan yang amat mencinta adiknya ikut tersenyum.

"Ihh, engkau menganggap segala hal dapat dilaksanakan dengan mudah saja, Bi-moi."

"Apa sih sukarnya? Kalau Han-ko minggat malam-malam, siapa yang akan menghalanginya. Dan pada keesokkan harinya, kita menghadap ayah dan menyatakan akan mengejar Han-ko sampai dapat. Serahkan saja kepadaku untuk membujuk ayah, pasti berhasil!"

"Terserah kepada Han-ko, kita tidak bisa memaksanya," kata pula Kui Lan sambil memandang kepada pemuda itu. Kui Bi juga memandang dan pemuda itu kembali menghela napas panjang.

"Hal ini akan kupertimbangkan dulu," katanya dan diapun meninggalkan taman itu bersama dua orang adiknya yang akan pergi mandi.

*** 04 ***

***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 005
***Kembali

No comments:

Post a Comment