"Kim Hong! Engkau harus menaati perintahku!" bentak pula Bouw Hun yang sudah marah sekali.
"Maaf, aku tidak dapat menaati perintah yang ini, suhu."
"Engkau berani menentangku? Kau tahu apa hukuman orang yang berani menentangku?"
Kim Hong melepaskan buntalan pakaiannya ke atas tanah dan berdiri tegak.
"Aku tidak menentang, suhu, akan tetapi kalau aku dipaksa, aku akan membela diri, dan aku lebih baik mati dari pada harus melakukan hal yang berlawanan dengan suara hatiku."
"Anak jahanam! Anak durhaka, murid murtad!" Bouw Hun marah bukan main dan dia sudah menerjang ke depan, menyerang Kim Hong.
"Ayah, jangan bunuh ia.......!!"
Bouw Ki berseru, khawatir kalau-kalau ayahnya yang marah itu membunuh gadis yang membuatnya tergila-gila itu.
Teriakan puteranya ini menyadarkan Bouw Hun dan ketika Kim Hong mengelak ke kiri, tangannya cepat bergerak menyambar dan karena Kim Hong memang tidak berniat melawan orang yang selama ini menjadi guru dan pengganti orang tuanya, maka tanpa dapat dihindarkan lagi, jari tangan Bouw Hun yang lihai itu telah menotoknya dan membuatnya roboh terkulai lemas.
"Nah, bawalah dan kau tundukkan gadis liar itu!" kata Bouw Hun kepada puteranya. Sambil menyeringai puas Bouw Ki menghampiri tubuh Kim Hong yang rebah miring dengan lemas. Akan tetapi pada saat dia membungkuk untuk memondong tubuh itu, tiba-tiba ada angin berdesing menyambar, seperti angin berpusing dan Bouw Ki merasa dirinya terdorong oleh tenaga yang amat kuat sehingga dia terhuyung ke belakang dan hampir jatuh terjengkang.
Ayah dan anak itu memandang dengan kaget dan heran. Seorang pria telah berdiri di situ, menghadang dan melindungi tubuh Kim Hong. Dia berusia enam puluh tahun, berpakaian serba hitam sederhana, kepalanya tertutup sebuah camping hitam yang lebar pula. Wajah orang itu ramah dan penuh senyum, akan tetapi matanya mencorong seperti mata seekor naga dalam dongeng! Ketika ayah dan anak itu memandang kepadanya, dia balas memandang dengan senyum lembut dan mata mencorong.
Bouw Hun terkejut. Dia sendiri adalah seorang yang sudah banyak pengalaman dan sudah mendalam pengetahuanya tentang ilmu silat dan dia tahu bahwa di daerah selatan terdapat banyak sekali pendekar silat yang amat lihai. Melihat betapa munculnya orang yang serba hitam pakaiannya ini membuat puteranya terhuyung, diapun dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, maka kepala suku ini tidak berani bersikap lancang. Sebaliknya, dia bahkan melangkah maju dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada. Karena pakaian orang itu berpotongan pakaian orang Han, Bouw Hun lalu bicara dalam bahasa Han yang juga dikuasainya baik-baik.
"Maafkan kami, sobat. Aku adalah Bouw Hun, kepala suku Khitan yang hidup mencari makan di daerah ini, dan dia adalah Bouw Ki, puteraku. Gadis ini adalah muridku sendiri yang hendak minggat sehingga terpaksa aku menangkapnya dan hendak membawanya pulang. Harap engkau tidak mencampuri urusan keluarga kami."
Akan tetapi, orang bercamping dan berpakaian hitam itu kini membuat gerakan-gerakan dengan tangannya. Dia menuding ayah dan anak itu, lalu menuding ke arah tubuh Kim Hong, dan mengangkat tangan ke atas depan dan menggoyang-goyangnya, kemudian menuding kembali kepada tubuh Kim Hong, lalu ke dadanya sendiri, kemudian menuding ke perahu yang berada di tepi sungai. Mulutnya tidak mengeluarkan suara apapun seperti biasanya orang gagu, akan tetapi melihat gerakan-gerakan itu dia seperti orang gagu yang hendak menerangkan maksudnya. Biarpun ayah dan anak itu tidak mengerti benar apa yang dia maksudkan dengan gerakan-gerakan itu, setidaknya mereka dapat menangkap bahwa si gagu itu melarang mereka menangkap Kim Hong, dan bahwa si gagu hendak membawa Kim Hong ke perahunya. Tentu saja Bouw Hun dan Bouw Ki menjadi marah.
"Singgg......!!" Bouw Hun mencabut sebatang pedang bengkok yang amat tajam.
"Singg!" Bouw Ki juga mencabut pedang berbentuk golok panjang.
"Sobat, sudah kukatakan bahwa lebih baik kalau engkau tidak mencampuri urusan keluarga kami, atau terpaksa kami tidak akan menganggapmu sebagai sobat, melainkan sebagai musuh," kata Bouw Hun yang masih ragu-ragu untuk memusuhi orang yang tidak diketahui siapa itu.
Akan tetapi si gagu menggoyang tangan kirinya seperti menyatakan bahwa mereka tidak boleh membawa Kim Hong
"Kalau begitu, engkau memang sengaja hendak memusuhi kami! Lihat senjataku!" bentak Bouw Hun dan diapun sudah menyerang dengan pedangnya, disusul oleh puteranya yang juga menyerang dari samping dengan dahsyat.
Si gagu menggerakkan tubuhnya tanpa mengeluarkan suara dan tubuh itu lenyap, yang nampak hanyalah bayangan hitam saja berkelebatan ke sana sini, menyelinap di antara dua gulungan sinar pedang, gerakannya ringan sekali dan cepat bukan main sehingga ayah dan anak itu menjadi bingung karena mereka merasa seperti melawan bayangan atau melawan setan. Ke manapun golok mereka menyambar, selalu mengenai tempat kosong. Kecepatan gerakan orang itu membuat mereka berdua bergidik. Mereka, seperti orang-¬orang Khitan yang masih sederhana, masih amat percaya akan tahyul, maka kini melawan seorang yang seolah-olah dapat terbang atau menghilang itu, mereka merasa ngeri dan mengira bahwa mungkin yang mereka lawan bukan manusia biasa, melainkan sebangsa siluman!
Tiba-tiba si gagu menggerakkan kedua tangannya, menangkis atau menoleh ke arah dua lengan yang memegang pedang.
"Plak! Tuk!!"
Ayah dan anak itu berteriak dan pedang mereka terlepas dari pegangan. Ketika mereka memandang, lawan mereka telah berdiri tegak dan kedua batang pedang itu telah berada di tangannya. Kemudian, bagaikan orang mematahkan ranting kering saja, Si gagu itu menekuk kedua batang pedang dengan kedua tangannya, terdengar suara nyaring dan dua batang pedang itu telah patah di bagian tengahnya. Si gagu melemparkan patahan pedang itu ke atas tanah dan memandang kepada ayah dan anak itu dengan wajah tetap tersenyum akan tetapi matanya mencorong.
Bouw Hun dan Bouw Ki terbelalak. Maklum bahwa mereka tidak akan mampu menandingi si gagu, Bouw Hun lalu berkata kepada puteranya,
"Mari kita pergi. Biar murid murtad itu menjadi mangsa siluman hitam ini!" Ayah dan anak itu lalu melompat dan melarikan diri pergi walaupun dua kali Bouw Ki menoleh ke belakang karena bagaimanapun juga hatinya masih merasa sayang bahwa dia tidak jadi dapat memiliki gadis yang amat diinginkannya itu.
Kim Hong dapat menyaksikan semua, walaupun ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya tertotok lemas. Diam-¬diam ia kagum bukan main. Si pakaian hitam dan camping itu adalah tukang perahu yang tadi di panggilnya. Sama sekali ia tidak pernah menyangka bahwa tukang perahu yang tadi dipanggil-panggil adalah seorang yang memiliki kesaktian sehebat itu sehingga dengan kedua tangan kosong mampu mengalahkan suhu dan suhengnya dalam waktu singkat! Akan tetapi karena tidak mampu bergerak ia hanya memandang saja, dan timbul juga perasaan ngerinya. ia sama sekali tidak mengenal orang ini, tidak mengenal dia orang macam apa. Seorang pendekar sakti yang budimankah? Atau seorang manusia iblis? Kalau penolongnya itu seorang manusia iblis, tentu dia akan mengalami malapetaka yang lebih mengerikan lagi!
Si gagu itu sejenak mengamati Kim Hong, kemudian tangannya bergerak cepat. Tak dapat Kim Hong melihat jelas bagaimana tangan itu bergerak. ia hanya merasa ada sesuatu yang menotok kedua pundaknya dan iapun sudah dapat bergerak kembali. Cepat Kim Hong bangkit duduk, kemudian ia berlutut didepan orang itu.
"Aku Can Kim Hong menghaturkan terima kasih kepada locianpwe (orang tua gagah) yang telah menyelamatkan aku dari malapetaka," katanya.
Orang Itu diam saja, hanya memandang dengan wajah cerah karena mulutnya selalu tersenyum, akan tetapi tidak ada sepatahpun kata keluar dari mulutnya, bahkan tidak ada suara yang keluar. Lalu ia teringat akan sikap si gagu hitam itu tadi terhadap suhu dan suhengnya. orang itu sama sekali tidak pernah mengeluarkan suara, dan membuat gerakan-gerakan seperti orang gagu! Orang ini tidak dapat bicara alias gagu!
"Maafkan aku, locianpwe," katanya hati-hati sambil menatap wajah yang cerah itu, "apakah.... apakah locianpwe......?" ia tidak mampu melanjutkan karena merasa sungkan sekali untuk menegaskan apakah orang itu benar-¬benar gagu, takut kalau-kalau menyingung perasaan penolongnya.
Agaknya si gagu mengerti akan apa yang diinginkannya. Dia mengangguk-angguk, kemudian menudingkan telunjuknya ke arah mulutnya, lalu menggeleng-geleng kepala seolah mengatakan bahwa dia tidak dapat mempergunakan mulutnya untuk bicara.
"Ah, jadi benar dugaanku bahwa locianpwe tidak dapat bicara?"
Si gagu mengangguk-angguk dan Kim Hong berpikir. Biasanya, orang gagu itu tuli, akan tetapi orang ini jelas tidak tuli, bukan hanya tidak tuli, bahkan dapat mendengar dan mengerti kata-kata orang. Kemudian si gagu menjulurkan kedua tangan menyentuh kedua pundak Kim Hong. Gadis itu terkejut, menyangka buruk, akan tetapi ternyata kedua tangan itu dengan lembut menyentuh pundaknya, akan tetapi ada kekuatan dahsyat yang memaksanya untuk bangkit berdiri! Setelah ia bangkit berdiri, si gagu mengangguk-angguk dan nampak gembira.
Kim Hong mulai mengerti. Orang ini luar biasa sekali. Selain sakti, juga berhati sederhana, tidak mau menerima penghormatan berlebihan.
"Locianpwe, harap jangan kepalang menolongku. Aku harus pergi dari tempat ini karena mereka ingin memaksa ku untuk menjadi selir suhengku Bouw Ki itu. Aku mohon kepada locianpwe agar menerima aku menumpang perahumu pergi ke selatan. Sudikah locianpwe menolongku?"
Si gagu mengangguk-angguk, kemudian menghampiri perahunya, diikuti oleh Kim Hong yang sudah mengambil kembali buntalan pakaiannya. Mereka lalu menurunkan perahu kecil itu kembali ke sungai. Kim Hong menggunakan pedang bengkoknya untuk membuat sebatang dayung dan kini ia membantu kakek gagu itu mendayung perahu kecil yang meluncur cepat mengikuti arus air menuju keselatan.
"Maaf, aku tidak dapat menaati perintah yang ini, suhu."
"Engkau berani menentangku? Kau tahu apa hukuman orang yang berani menentangku?"
Kim Hong melepaskan buntalan pakaiannya ke atas tanah dan berdiri tegak.
"Aku tidak menentang, suhu, akan tetapi kalau aku dipaksa, aku akan membela diri, dan aku lebih baik mati dari pada harus melakukan hal yang berlawanan dengan suara hatiku."
"Anak jahanam! Anak durhaka, murid murtad!" Bouw Hun marah bukan main dan dia sudah menerjang ke depan, menyerang Kim Hong.
"Ayah, jangan bunuh ia.......!!"
Bouw Ki berseru, khawatir kalau-kalau ayahnya yang marah itu membunuh gadis yang membuatnya tergila-gila itu.
Teriakan puteranya ini menyadarkan Bouw Hun dan ketika Kim Hong mengelak ke kiri, tangannya cepat bergerak menyambar dan karena Kim Hong memang tidak berniat melawan orang yang selama ini menjadi guru dan pengganti orang tuanya, maka tanpa dapat dihindarkan lagi, jari tangan Bouw Hun yang lihai itu telah menotoknya dan membuatnya roboh terkulai lemas.
"Nah, bawalah dan kau tundukkan gadis liar itu!" kata Bouw Hun kepada puteranya. Sambil menyeringai puas Bouw Ki menghampiri tubuh Kim Hong yang rebah miring dengan lemas. Akan tetapi pada saat dia membungkuk untuk memondong tubuh itu, tiba-tiba ada angin berdesing menyambar, seperti angin berpusing dan Bouw Ki merasa dirinya terdorong oleh tenaga yang amat kuat sehingga dia terhuyung ke belakang dan hampir jatuh terjengkang.
Ayah dan anak itu memandang dengan kaget dan heran. Seorang pria telah berdiri di situ, menghadang dan melindungi tubuh Kim Hong. Dia berusia enam puluh tahun, berpakaian serba hitam sederhana, kepalanya tertutup sebuah camping hitam yang lebar pula. Wajah orang itu ramah dan penuh senyum, akan tetapi matanya mencorong seperti mata seekor naga dalam dongeng! Ketika ayah dan anak itu memandang kepadanya, dia balas memandang dengan senyum lembut dan mata mencorong.
Bouw Hun terkejut. Dia sendiri adalah seorang yang sudah banyak pengalaman dan sudah mendalam pengetahuanya tentang ilmu silat dan dia tahu bahwa di daerah selatan terdapat banyak sekali pendekar silat yang amat lihai. Melihat betapa munculnya orang yang serba hitam pakaiannya ini membuat puteranya terhuyung, diapun dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, maka kepala suku ini tidak berani bersikap lancang. Sebaliknya, dia bahkan melangkah maju dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada. Karena pakaian orang itu berpotongan pakaian orang Han, Bouw Hun lalu bicara dalam bahasa Han yang juga dikuasainya baik-baik.
"Maafkan kami, sobat. Aku adalah Bouw Hun, kepala suku Khitan yang hidup mencari makan di daerah ini, dan dia adalah Bouw Ki, puteraku. Gadis ini adalah muridku sendiri yang hendak minggat sehingga terpaksa aku menangkapnya dan hendak membawanya pulang. Harap engkau tidak mencampuri urusan keluarga kami."
Akan tetapi, orang bercamping dan berpakaian hitam itu kini membuat gerakan-gerakan dengan tangannya. Dia menuding ayah dan anak itu, lalu menuding ke arah tubuh Kim Hong, dan mengangkat tangan ke atas depan dan menggoyang-goyangnya, kemudian menuding kembali kepada tubuh Kim Hong, lalu ke dadanya sendiri, kemudian menuding ke perahu yang berada di tepi sungai. Mulutnya tidak mengeluarkan suara apapun seperti biasanya orang gagu, akan tetapi melihat gerakan-gerakan itu dia seperti orang gagu yang hendak menerangkan maksudnya. Biarpun ayah dan anak itu tidak mengerti benar apa yang dia maksudkan dengan gerakan-gerakan itu, setidaknya mereka dapat menangkap bahwa si gagu itu melarang mereka menangkap Kim Hong, dan bahwa si gagu hendak membawa Kim Hong ke perahunya. Tentu saja Bouw Hun dan Bouw Ki menjadi marah.
"Singgg......!!" Bouw Hun mencabut sebatang pedang bengkok yang amat tajam.
"Singg!" Bouw Ki juga mencabut pedang berbentuk golok panjang.
"Sobat, sudah kukatakan bahwa lebih baik kalau engkau tidak mencampuri urusan keluarga kami, atau terpaksa kami tidak akan menganggapmu sebagai sobat, melainkan sebagai musuh," kata Bouw Hun yang masih ragu-ragu untuk memusuhi orang yang tidak diketahui siapa itu.
Akan tetapi si gagu menggoyang tangan kirinya seperti menyatakan bahwa mereka tidak boleh membawa Kim Hong
"Kalau begitu, engkau memang sengaja hendak memusuhi kami! Lihat senjataku!" bentak Bouw Hun dan diapun sudah menyerang dengan pedangnya, disusul oleh puteranya yang juga menyerang dari samping dengan dahsyat.
Si gagu menggerakkan tubuhnya tanpa mengeluarkan suara dan tubuh itu lenyap, yang nampak hanyalah bayangan hitam saja berkelebatan ke sana sini, menyelinap di antara dua gulungan sinar pedang, gerakannya ringan sekali dan cepat bukan main sehingga ayah dan anak itu menjadi bingung karena mereka merasa seperti melawan bayangan atau melawan setan. Ke manapun golok mereka menyambar, selalu mengenai tempat kosong. Kecepatan gerakan orang itu membuat mereka berdua bergidik. Mereka, seperti orang-¬orang Khitan yang masih sederhana, masih amat percaya akan tahyul, maka kini melawan seorang yang seolah-olah dapat terbang atau menghilang itu, mereka merasa ngeri dan mengira bahwa mungkin yang mereka lawan bukan manusia biasa, melainkan sebangsa siluman!
Tiba-tiba si gagu menggerakkan kedua tangannya, menangkis atau menoleh ke arah dua lengan yang memegang pedang.
"Plak! Tuk!!"
Ayah dan anak itu berteriak dan pedang mereka terlepas dari pegangan. Ketika mereka memandang, lawan mereka telah berdiri tegak dan kedua batang pedang itu telah berada di tangannya. Kemudian, bagaikan orang mematahkan ranting kering saja, Si gagu itu menekuk kedua batang pedang dengan kedua tangannya, terdengar suara nyaring dan dua batang pedang itu telah patah di bagian tengahnya. Si gagu melemparkan patahan pedang itu ke atas tanah dan memandang kepada ayah dan anak itu dengan wajah tetap tersenyum akan tetapi matanya mencorong.
Bouw Hun dan Bouw Ki terbelalak. Maklum bahwa mereka tidak akan mampu menandingi si gagu, Bouw Hun lalu berkata kepada puteranya,
"Mari kita pergi. Biar murid murtad itu menjadi mangsa siluman hitam ini!" Ayah dan anak itu lalu melompat dan melarikan diri pergi walaupun dua kali Bouw Ki menoleh ke belakang karena bagaimanapun juga hatinya masih merasa sayang bahwa dia tidak jadi dapat memiliki gadis yang amat diinginkannya itu.
Kim Hong dapat menyaksikan semua, walaupun ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya tertotok lemas. Diam-¬diam ia kagum bukan main. Si pakaian hitam dan camping itu adalah tukang perahu yang tadi di panggilnya. Sama sekali ia tidak pernah menyangka bahwa tukang perahu yang tadi dipanggil-panggil adalah seorang yang memiliki kesaktian sehebat itu sehingga dengan kedua tangan kosong mampu mengalahkan suhu dan suhengnya dalam waktu singkat! Akan tetapi karena tidak mampu bergerak ia hanya memandang saja, dan timbul juga perasaan ngerinya. ia sama sekali tidak mengenal orang ini, tidak mengenal dia orang macam apa. Seorang pendekar sakti yang budimankah? Atau seorang manusia iblis? Kalau penolongnya itu seorang manusia iblis, tentu dia akan mengalami malapetaka yang lebih mengerikan lagi!
Si gagu itu sejenak mengamati Kim Hong, kemudian tangannya bergerak cepat. Tak dapat Kim Hong melihat jelas bagaimana tangan itu bergerak. ia hanya merasa ada sesuatu yang menotok kedua pundaknya dan iapun sudah dapat bergerak kembali. Cepat Kim Hong bangkit duduk, kemudian ia berlutut didepan orang itu.
"Aku Can Kim Hong menghaturkan terima kasih kepada locianpwe (orang tua gagah) yang telah menyelamatkan aku dari malapetaka," katanya.
Orang Itu diam saja, hanya memandang dengan wajah cerah karena mulutnya selalu tersenyum, akan tetapi tidak ada sepatahpun kata keluar dari mulutnya, bahkan tidak ada suara yang keluar. Lalu ia teringat akan sikap si gagu hitam itu tadi terhadap suhu dan suhengnya. orang itu sama sekali tidak pernah mengeluarkan suara, dan membuat gerakan-gerakan seperti orang gagu! Orang ini tidak dapat bicara alias gagu!
"Maafkan aku, locianpwe," katanya hati-hati sambil menatap wajah yang cerah itu, "apakah.... apakah locianpwe......?" ia tidak mampu melanjutkan karena merasa sungkan sekali untuk menegaskan apakah orang itu benar-¬benar gagu, takut kalau-kalau menyingung perasaan penolongnya.
Agaknya si gagu mengerti akan apa yang diinginkannya. Dia mengangguk-angguk, kemudian menudingkan telunjuknya ke arah mulutnya, lalu menggeleng-geleng kepala seolah mengatakan bahwa dia tidak dapat mempergunakan mulutnya untuk bicara.
"Ah, jadi benar dugaanku bahwa locianpwe tidak dapat bicara?"
Si gagu mengangguk-angguk dan Kim Hong berpikir. Biasanya, orang gagu itu tuli, akan tetapi orang ini jelas tidak tuli, bukan hanya tidak tuli, bahkan dapat mendengar dan mengerti kata-kata orang. Kemudian si gagu menjulurkan kedua tangan menyentuh kedua pundak Kim Hong. Gadis itu terkejut, menyangka buruk, akan tetapi ternyata kedua tangan itu dengan lembut menyentuh pundaknya, akan tetapi ada kekuatan dahsyat yang memaksanya untuk bangkit berdiri! Setelah ia bangkit berdiri, si gagu mengangguk-angguk dan nampak gembira.
Kim Hong mulai mengerti. Orang ini luar biasa sekali. Selain sakti, juga berhati sederhana, tidak mau menerima penghormatan berlebihan.
"Locianpwe, harap jangan kepalang menolongku. Aku harus pergi dari tempat ini karena mereka ingin memaksa ku untuk menjadi selir suhengku Bouw Ki itu. Aku mohon kepada locianpwe agar menerima aku menumpang perahumu pergi ke selatan. Sudikah locianpwe menolongku?"
Si gagu mengangguk-angguk, kemudian menghampiri perahunya, diikuti oleh Kim Hong yang sudah mengambil kembali buntalan pakaiannya. Mereka lalu menurunkan perahu kecil itu kembali ke sungai. Kim Hong menggunakan pedang bengkoknya untuk membuat sebatang dayung dan kini ia membantu kakek gagu itu mendayung perahu kecil yang meluncur cepat mengikuti arus air menuju keselatan.
*** 02 **
***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 003
***Kembali

No comments:
Post a Comment