Ads

Sunday, July 21, 2013

Mustika Burung Hong Kemala Jilid 001

***Kembali

Gadis itu duduk di seberang barat Sungai Kuning yang merupakan lembah yang subur dan datar, ia duduk seperti arca, mungkin sedang dibuai lamunan sendiri, atau mungkin juga terpesona oleh keindahan alam di pagi hari itu. Memang indah, keindahan yang tumbuh dari kewajaran, keindahan yang jarang dirasakan orang karena hati akal pikiran ini selalu disibukkan oleh urusan bermacam-macam yang menimbulkan banyak masalah.

Matahari masih rendah di ufuk timur, nampak kemerahan seperti bola api yang belum membakar mata. Matahari itu membentuk garis emas permukaan air sungai yang pagi hari itupun nampak tenang. Arus air hanya menurut keadaan tanahnya. Di bagian pegunungan, Sungai Kuning dapat meluncur deras bukan main sehingga tidak ada perahu berani menyeberanginya, akan tetapi di bagian yang landai seperti tempat itu, tanahnya datar dan airnya tidak deras.

Namun di musim hujan, airnya meluap sampai jauh kedua tepinya, menimbulkan banjir yang merupakan bencana bagi kaum petani . Namun pagi itu, semua nampak demikian indah, tenang dan tenteram penuh damai. Burung-burung . telah selesai bercengkerama sebelum berangkat ke tugas kerja, kini sudah beterbangan, berkelompok-kelompok, menuju ke tempat mereka dapat memperoleh makan untuk sehari itu. Ayam jantan tidak berkeruyuk lagi dan jengkerik belalang tidak mengerik lagi.

Di kejauhan terdengar domba mengembik, babi menguik dan teriakan kanak-kanak. Namun, semua suara itu tidak mendatangkan kebisingan, bahkan nampak akrab dengan keheningan yang menghanyutkan batin gadis itu. Keheningan yang begitu lembut, begitu mesra menghanyutkan perasaan, membuat seseorang ingin menangis bukan karena sedih, bukan pula karena gembira, melainkan karena merasa bahwa dia merupakan bagian tak terpisahkan dari alam sementara itu, dialah keheningan itu.

Gadis itu sendiri merupakan pemandangan yang amat indah, setidaknya bagi mata manusia, terutama mata manusia pria. Karena mahluk lain belum tentu akan menganggap gadis itu cantik dan menyenangkan untuk dilihat, bahkan mungkin menakutkan. Seperti ikan-ikan yang berenang di tepi sungai, tak jauh dari tempat ia duduk, seperti burung burung yang tadi berloncatan di pohon dekat situ, mereka terkejut ketakutan dan menjauhkan diri setelah tahu akan kehadiran gadis itu dekat mereka.

Bagi kita, baik wanita maupun terutama pria pasti akan memuji dan mengagumi gadis itu. ia masih amat muda, paling banyak tujuh belas tahun usianya, dan duduk termenung seorang diri pada pagi hari itu di tepi sungai, di tengah alam yang indah, ia seperti setangkai bunga yang sedang mulai mekar, segar dan jelita, seolah tiada cacat-celanya. Tubuhnya ramping padat, belum sempurna benar lekuk-lengkungnya karena memang sedang mekar menjelang dewasa, namun wajahnya sudah memiliki daya tarik yang amat kuat karena wajah itu cantikjelita, manis melebihi madu.

Rambutnya hitam tebal, agak keriting berombak, panjang sekali yang dapat dilihat dari sepasang kuncir yang digelung. Kalau dibiarkan rambut itu terurai, kiranya akan sampai ke belakang pinggulnya. Anak rambut seperti hiasan lembut di dahinya yang halus, anak rambut yang melingkar dan halus sekali, dan rambut yang melingkar di pelipis, di depan sepasang telinganya, seperti menantang. Alisnya hitam kecil dan melengkung panjang, menjadi pelindung sepasang mata yang aduhai! Sukar menggambarkan keindahan sepasang mata itu. Tidak sipit seperti kebanyakan wanita, melainkan agak lebar dengan kedua ujung di tepi mencuat ke atas, seperti sepasang mata seekor burung Hong. Bulu matanya panjang lentik, putih matanya putih sekali dan hitam matanya hitam sekali. Akan tetapi bukan itu yang mempesonakan, melainkan sesuatu pada mata itu, sinarnya, atau yang tersembunyi dalam kerlingnya. Pendeknya, mempesona!

Hidungnya kecil mancung namun ada sesuatu yang menggemaskan pada hidung itu, entah karena ada tonjolan sedikit di punggung bukit hidung itu, atau karena ujungnya nampak seperti berdongak ke atas itu, atau mungkin karena cuping hidung yang tipis itu kadang dapat kembang kempis. Lalu mulutnya! Sukar dikatakan mana yang lebih menarik antara matanya dan mulutnya! Memang nampaknya wajar dan normal saja, nampaknya biasa saja mulut itu, akan tetapi sungguh sebuah mulut biasa yang luar biasa! Bibir itu! Lesung pipit di sebelah kiri mulut itu! Deretan gigi itu. Sukar mencari sesuatu yang dapat disebut kurang atau buruk pada mulut itu. Wajah itu bentuknya bulat telur, dengan dagu yang bentuknya meruncing, menambah kemanisan wajah itu. Kulit muka dan leher yang nampak demikian putih. mulus dan halus.

Demikian kira-kira penggambaran seseorang, terutama pria, yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita, bahkan mungkin lebih dari gambaran tadi. Memang, kalau orang sedang jatuh cinta apapun yang ada pada wanita yang dicintanya, selalu nampak hebat, tiada tara, bahkan kalau sedang cemberut nampak semakin manis, kalau marah-marah nampak semakin menggemaskan.

Kalau kita mengamati gadis itu lebih teliti, akan nampak jelas bahwa ia bukanlah gadis pribumi, bukan gadis bangsa Han. Memang kulitnya putih mulus, akan tetapi tidak kekuningan seperti kulit gadis pribumi, dan terutama sekali matanya jelas menunjukkan bahwa mata itu bukan mata pribumi. Juga rambutnya yang berombak, ia tentulah seorang gadis berdarah campuran, seperti yang banyak terdapat di perbatasan utara dan barat, hasil pernikahan antara orang pribumi dan suku bangsa lain. Biarpun ia mengenakan pakaian yang biasa dipakai seorang gadis Han, namun cara ia menguncir rambutnya merupakan pertanda bahwa ia sebetulnya masih berdarah suku Khitan, suku yang berada di sekitar perbatasan utara, suku yang merupakan golongan nomad, yaitu golongan yang hidup dari peternakan dan yang berpindah-pindah mencari tanah subur yang penuh dengan rumput dan daun hijau untuk ternak mereka.

"Hong-moi......!"

Panggilan itu mengejutkan dan menyadarkannya dari lamunan, ia menoleh dan seperti sudah diduganya, yang menegurnya adalah seorang pemuda yang tinggi besar dan tampan. Pemuda itu tampan dan gagah, dengan pakaian suku Khitan dan wajahnya juga wajah seorang Khitan aseli, dengan tulang pipi menonjol dan kumis melintang. Usianya sekitar dua puluh lima tahun dan sepasang matanya tajam seperti mata seekor burung rajawali.

Gadis yang disebut Hong-moi (adik Hong) itu bangkit dan setelah ia berdiri, baru nampak betapa ramping tubuhnya, dengan sepasang kaki yang panjang, pinggang yang ramping, dada dan pinggul yang padat, berdirinya tegak dengan dada terbuka dan kedua pundak lurus, tidak menurun seperti pundak kebanyakan wanita Han. Dan setelah ia berdiri tegak seperti itu, makin jelas bahwa ia bukan seorang gadis pribumi. Alisnya berkerut dan matanya memandang tak senang kepada pemuda itu.

"Suheng, mau apa kau mengganggu ketenanganku dan sudah berapa kali kukatakan bahwa tidak sepatutnya engkau menyebut aku Hong-moi? Aku adalah sumoimu (adik seperguruanmu),"

Gadis itu memang merasa terganggu dan tidak senang. Hal ini adalah karena selama beberapa bulan ini, pemuda yang menjadi suhengnya ini mulai berubah sikapnya terhadap dirinya. Pandang mata itu pun berubah penuh gairah, senyumnya juga membujuk dan memikat, dan beberapa kali ucapannya menyinggung masalah hubungan kasih sayang yang tidak semestinya. Biasanya ia sayang kepada suhengnya ini, yang dikenalnya sejak ia kecil, sejak ia menjadi murid suhunya (Gurunya) yaitu ayah kandung pemuda itu. Akan tetapi sejak pemuda itu berubah sikap, iapun merasa tidak senang dan perubahan itu pula yang membuat ia tadi melamun sedih.

"Sumoi, kenapa engkau ribut soal panggilan itu?" pemuda itu tertawa dan nampak deretan giginya yang kuat dan terpelihara. "Apa bedanya antara sebutan adik Hong dan adik seperguruan? Kurasa sebutan Hong-moi lebih mesra dan aku memang menghendaki agar hubungan kita lebih mesra dari pada hubungan kakak beradik seperguruan. Nanti dulu, Hong¬moi...." dia mengangkat tangan mencegah gadis itu mengeluarkan ucapan membantah, "kebetulan sekali kita bertemu di sini, di tempat sunyi di mana tidak akan ada orang lain yang mengganggu dan mendengarkan percakapan kita. Hong-moi, sudah berulang kali aku memperlihatkan sikapku, akan tetapi agaknya engkau belum mengerti benar. Sekarang, aku sudah mengambil keputusan untuk berterus terang saja kepadamu. Hong-moi, aku cinta padamu dan aku ingin engkau untuk menjadi isteriku."

Sepasang pipi yang putih mulus tanpa bedak itu mendadak berubah kemerahan, dan sepasang mata yang indah seperti mata burung Hong itu mendadak kini mencorong seperti harimau betina di usik.

"Suheng! Tidak sepantasnya engkau bicara seperti itu! Memang aku sudah merasa akan perubahan sikapmu dan terus terang saja, aku tidak suka dengan perubahan itu. Sekarang engkau berterus terang, akupun ingin berterus terang padamu sebagai jawabannya. Aku tidak mungkin dapat menerima cintamu seperti itu. Ingat, suheng, aku adalah murid yang sudah diaku sebagai anak angkat oleh suhu, sehingga kita ini dapat dibilang masih kakak beradik sendiri. Jangan sekali lagi kau ulangi ucapanmu yang tidak pantas itu."

"Sumoi, kau sendiri mengatakan bahwa engkau diaku sebagai anak angkat oleh ayah. Anak angkat, berarti orang lain, bukan kakak beradik dan tidak ada hubungan darah di antara kita. Karena itu, tidak ada halangan apapun bagi kita untuk menjadi suami isteri."

"Tidak, aku tidak sudi!" Kini gadis itu membusungkan dada menegakkan kepala dan pandang matanya penuh tantangan.

"Sumoi, kenapa engkau menolak. Ingat, sejak kecil engkau menerima budi berlimpah dari ayah, dari keluarga kami. Kami semua menyayangmu seperti keluarga sendiri, dan sekarang, setelah aku dengan sungguh hati menyatakan cintaku kepadamu, engkau menolak dengan kasar. Apakah engkau tidak mengenal budi?"

"Suheng, aku tidak pernah minta dipungut oleh suhu dan dijadikan murid atau diaku anak. Ketika itu aku masih kecil dan aku menurut saja. Memang keluargamu baik kepadaku, akan tetapi akupun bukan seorang yang duduk diam saja. Aku bekerja di sana, melakukan segala pekerjaan, membantu para pelayan, akupun menaati semua perintah suhu. Akan tetapi soal perjodohan, itu adalah urusanku pribadi, tidak boleh dicampuri oleh siapapun, bahkan keluargamupun tidak boleh memaksaku berjodoh dengan siapa saja tanpa persetujuanku. Dan terus terang saja, aku tidak ingin menjadi isterimu."

"Kau.... kau.... anak sombong! Kau banyak lagak!" pemuda itu nampak marah dan tersinggung.

"Kau yang sombong, suheng! Kaukira, setelah aku diambil murid oleh ayahmu, lalu aku harus menurut apa saja yang kalian kehendaki terhadap diriku? Pula, suheng, bagaimana mungkin perasaan cinta dapat dipaksakan? Pernikahan tanpa cinta hanya akan mendatangkan derita sengsara. Tidak, aku tidak mau menjadi isterimu."

Perasaan kecewa, penasaran, dan marah membuat pemuda itu melotot dan sikapnya seolah hendak menyerang. Akan tetapi dia melihat betapa sumoinya itu pun marah dan siap untuk melawannya. Dia tahu benar bahwa kalau mereka sampai bertanding, dia tidak akan menang melawan sumoinya. Menurut keterangan ayahnya sendiri, bakat yang dimiliki sumoinya dalam ilmu silat amatlah besarnya dan di dalam latihan bersamapun dia sudah merasa bahwa dia tidak akan mampu menandingi sumoinya.

"Aku akan memberitahu ayah tentang sikapmu yang sombong ini!" katanya dan diapun membalikkan tubuh lalu pergi dengan cepat meninggalkan gadis itu.

Gadis itu termangu, lalu menghela napas panjang dan duduk kembali seperti tadi, melamun. Akan tetapi sekali ini keadaan batinnya berbeda jauh dari pada tadi. Kalau tadi batinnya tenteram dan hening karena hati akal pikiran tidak bekerja, sekarang hati akal pikirannya bekerja keras. Kenangan lama terbayang dan teringat akan keadaan dirinya, kedukaannya timbul.

Gadis jelita ini bernama Can Kim Hong. ia tidak pernah mengenal ayahnya. Bahkan wajah ibunyapun hanya nampak samar dalam kenangannya, karena ibunya meninggal dunia ketika ia berusia lima tahun. Ibunya seorang wanita suku Khitan, puteri seorang kepala suku. Menurut cerita Ibunya, seperti yang masih diingatnya dengan baik, yaitu cerita yang didengar dari ibunya ketika ia berusia lima tahun, sebelum ibunya meninggal dunia, ia hanya mengetahui bahwa ayahnya seorang bangsa Han yang bernama Can Bu.

"Dia seorang di antara para panglima perang dari pasukan Han," demikian kata ibunya.

Kemudian ibunya menceritakan bahwa Can Bu tertawan oleh suku Khitan ketika bersama para panglima lain, memimpin pasukan menyerbu daerah utara. Karena sikapnya yang baik dan gagah, Can Bu tidak dibunuh, bahkan diperlakukan sebagai seorang tamu agung. Kemudian, terjalin cinta asmara antara Can Bu dari Khitan, mendiang ibunya. Atas persetujuan kepala suku, merekapun menikah. Akan tetapi, ketika ibunya mengandung tua dan ayahnya itu memperoleh kesempatan, ayahnya meloloskan diri.

"Ayahmu seorang pahlawan, tentu saja tidak mau tinggal untuk selamanya di sini," demikian ibunya bercerita. "Tadinya dia hendak mengajakku ikut melarikan diri, akan tetapi karena aku dalam keadaan mengandung tua, aku menolak. Dia pergi sendiri dan sampai sekarang tidak ada berita darinya."

Hanya itu yang ia ketahui dari mendiang ibunya. Ayahnya seorang bangsa Han, bernama Can Bu dan meninggalkan nama pribumi untuk anak yang akan dilahirkan ibunya, nama pria dan nama wanita. Ketika terlahir wanita, ia diberi nama Can Kim Hong karena menurut ibunya, ketika ibunya mengandung, ia pernah bermimpi melihat seekor burung Hong emas (Kim Hong).

Can Kim Hong melanjutkan lamunan dan kenangannya. Setelah ibunya meninggal dunia, kakeknya, kepala suku itu, menjadi sedih dan mengundurkan diri. Jabatan kepala suku dipegang oleh seorang Khitan yang gagah perkasa dan terkenal sebagai seorang yang kuat dan pandai ilmu silat berbagai aliran. Kakeknya menitipkan ia kepada kepala suku baru itu dan sejak itu, iapun menjadi murid bahkan menjadi anak angkat dari kepala suku baru yang bernama Bouw Hun, yaitu ayah kandung suhengnya tadi yang bernama Bouw Ki.

Dan sekarang, Bouw Ki .yang sejak beberapa bulan terakhir ini memperlihatkan sikap yang berlainan sekali, telah menyatakan cintanya dan ingin mengambilnya sebagai isteri. ia menolak, dan ia tahu bahwa penolakannya tentu akan menimbulkan perubahan besar dalam sikap keluarga Bouw itu. Bouw Ki tentu akan mengadu, dan gurunya tentu akan merasa tidak senang pula, demikian ibu gurunya dan para paman. ia akan menghadapi keadaan yang sama sekali tidak menyenangkan.

"Lebih baik aku meninggalkan semua itu," akhirnya ia mengambil keputusan dan merenung ke arah selatan. "Aku harus mencari ayah seperti yang pernah dipesankan mendiang ibu!"

Ketika tenggelam dalam pikiran, Kim Hong memiringkan kepalanya, meraba-raba dan menjiwir-jiwir ujung telinga kirinya dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, seperti kebiasaannya sejak kecil kalau ia sedang berpikir. Kini ia bangkit berdiri, sudah mengambil keputusan dan teringat akan sikap Bouw Ki dan membayangkan sikap keluarga Bouw kepadanya, ia merasa penasaran dan gemas. Aku akan menghadapi mereka dan menghadapi apapun yang akan terjadi! Berpikir demikian, Kim Hong menghentakkan kaki kanannya beberapa kali ke atas tanah. Kebiasaan tanpa disadari ini menandakan bahwa ia sedang marah. Kemudian ia melangkah dengan tegap meninggalkan tempat itu, menuju sebuah tebing yang tinggi di mana tinggal keluarga gurunya.

"Tidak, kami tidak setuju kalau engkau hendak memperisteri Kim Hong!" kata Bouw Hun yang bertubuh tinggi besar, mukanya penuh brewok dan berkulit hitam itu. Kepala suku Khitan yang berusia lima puluh tahun ini duduk didampingi isterinya yang berkulit putih dan masih cantik dalam usianya yang empat puluh lima tahun, menghadapi puteranya, Bouw Ki yang baru saja menyatakan keinginan hatinya untuk memperisteri KimHong.

"Akan tetapi kenapa ayah?" Bouw Ki membantah. "Bukankah sumoi seorang gadis yang baik, bahkan murid ayah dan juga anak angkat ayah yang bertubuh sehat, berwajah cantik dan berotak cerdas?" Kemudian dia menyambung sambil memandang kepada ibunya. "Dan aku amat mencintanya, ayah."

"Tidak, sekali lagi aku tidak setuju kalau ia menjadi isterimu! Memang ia cantik dan cerdik, akan tetapi ingat, ia seorang keturunan Han! Dan engkau tahu betapa liciknya orang-orang Han yang selalu menjadi musuh kita."

"Tapi mendiang ibunya adalah wanita Khitan, ayah."

"Hemm, engkau tentu ingat apa yang telah terjadi? Karena wanita Khitan itu mau menjadi isteri seorang bangsa Han, maka kehidupannya menjadi celaka. Dalam keadaan mengandung tua, ia ditinggalkan suaminya! Huh, dan engkau ingin memperisteri puteri seorang Han yang macam itu? Tidak, aku tidak setuju!"

"Anakku, ayahmu berkata benar. Ingat, engkau putera seorang kepala suku yang dihormati. Kalau engkau ingin menikah, carilah seorang gadis Khitan. Gadis yang terbaik sekalipun akan dengan senang menjadi isterimu. Kim Hong seorang gadis keturunan Han, tidak aseli, tentu kelak tidak dapat menjadi isteri yang baik," kata pula ibu pemuda itu.

Bouw Ki mengerutkan alisnya. Dia akan berani membantah ibunya, akan tetapi dia takut kepada ayahnya yang juga menjadi gurunya itu. Ayahnya berwatak keras.

"Akan tetapi, ayah dan ibu. Aku sungguh amat mencinta sumoi, aku tergila-gila padanya dan kalau ia tidak menjadi milikku, aku akan merasa sengsara sekali."

"Hemm, berulang kali engkau mengatakan cinta padanya. Apakah anak itu berani mengaku cinta kepadamu, suhengnya sendiri?" tanya Bouw Hun dengan suara bernada marah.

Bouw Ki mengenal watak ayahnya. Orang tua itu selalu memandang tinggi derajat keluarganya sebagai kepala suku Khitan. Diapun tahu bahwa kalau dia ingin mencapai idaman hatinya, dia harus membakar hati ayahnya. Bujukan tidak akan ada hasilnya .

"Itulah yang merisaukan hatiku dan yang membuat aku penasaran dan bertekad untuk memilikinya. Sumoi secara kurang ajar dan memandang rendah telah berani menolak cintaku! ia menganggap dirinya terlalu tinggi untuk menjadi isteriku! .Justeru penolakannya ini yang membulatkan tekadku untuk mendapatkannya, ayah!"

Wajah yang berkulit hitam itu menjadi semakin gelap.
"Apa? Anak itu berani ........ berani menolakmu? Huh, sombong sekali! Itulah kesombongan seorang peranakan Han! Akan kita buktikan bahwa bukan engkau yang tidak pantas menjadi suaminya, akan tetapi ia yang tidak pantas menjadi mantuku!"

"Akan tetapi aku menginginkannya ayah!"

"Baik, aku akan memaksanya untuk menjadi milikmu, bukan sebagai isteri, melainkan sebagai seorang selir saja!" kata kepala suku itu dengan hati geram karena merasa diremehkan oleh gadis yang sejak kecil dipelihara dan dididiknya itu. Siapa sih anak itu berani memandang rendah puteranya dan berani menolak cintanya? Justeru karena penolakan itu, ia harus menjadi milik puteranya, bukan sebagai isteri melainkan sebagai selir, isteri yang tidak sah agar kelak kalau mempunyai anak tidak berhak untuk menjadi kepala suku!

Ayah, ibu dan anak itu sama sekali tidak tahu bahwa selagi mereka berunding membicarakan Kim Hong, gadis yang mereka bicarakan itu berada di luar ruangan, di balik daun pintu dan sempat mendengarkan bagian terakhir dari percakapan mereka. Wajah gadis itu menjadi pucat, lalu merah sekali ketika ia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan gurunya tadi

"Baik, aku akan memaksanya untuk menjadi milikmu, bukan sebagai isteri, melainkan sebagai seorang selir saja!"

Kim Hong dengan hati-hati menyelinap pergi. Jantungnya berdebar penuh ketegangan dan kemarahan. Gurunya sendiri yang berniat memaksanya menjadi selir Bouw Ki. Menjadi selir! Sedangkan menjadi isteri yang sah saja ia tidak sudi, apa lagi menjadi selir!

Maklum bahwa tidak mungkin ia dapat menentang gurunya yang hendak memaksanya, Kim Hong sudah mengambil keputusan bulat, ia harus pergi dari situ, sekarang juga sebelum terlambat, ia memang sudah agak lama mempunyai niat untuk merantau ke selatan, mencari ayah kandungnya. Dan peristiwa dengan suhengnya itu membuat ia bertekad untuk pergi sekarang juga.

Tergesa-gesa Kim Hong mengumpulkan pakaian, memasukkan dalam buntalan kain kuning, tidak lupa membawa pedangnya dan perhiasan untuk biaya dalam perjalanan, kemudian melalui pintu belakang, ia meninggalkan rumah itu. Ia bertemu dengan orang-orang Khitan yang membuat pondok-pondok darurat di sekitar tebing itu, akan tetapi tidak seorang di antara mereka yang bertanya, hanya menegur dan memberi salam saja kepada murid dan juga anak angkat kepala suku. Kelompok orang Khitan yang di pimpin Bouw Hun ini baru tiga bulan tiba di situ dan tinggal di lembah Sungai Kuning, memilih tempat yang tinggi agar tidak diserang banjir.

Setelah meninggalkan perkampungan suku Khitan, Kim Hong lalu mempercepat perjalanannya dengan berlari menuju ke bawah untuk mencapai tepi sungai yang landai di mana ia akan dapat membeli atau menyewa sebuah perahu untuk melanjutkan perjalanannya ke selatan. Kini ia sudah tiba di bawah tebing karang yang menjadi perkampungan suku Khitan. Hatinya merasa lega karena ia tidak melihat adanya pengejaran yang amat dikhawatirkan, dan begitu tiba di tanah datar, iapun cepat berlari menuju ke tepi Sungai Kuning. Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan yang amat mengejutkan hatinya.

"Sumoi..........!"

"KimHong, berhenti dulu....!"

Suhengnya dan suhunya! Celaka, pikirnya. Pasti mereka itu melakukan pengejaran dan sudah tahu akan rencananya untuk minggat. Biasanya, ia bebas untuk bermain di mana saja, tanpa pengawasan. Kalau sekali ini mereka mengejarnya, tentu mereka sudah menduga akan niatnya dan mungkin tadi ada seorang Khitan yang melaporkan kepada kepala suku itu bahwa ia pergi meninggalkan perkampungan.

Dilihatnya sebuah perahu kecil meluncur tenang di dekat pantai, sebuah perahu kecil didayung oleh seorang pria berusia enam puluhan tahun yang mengenakan sebuah camping lebar dan pakaiannya yang serba hitam itu amat sederhana. Melihat perahu itu, timbul harapan di hati Kim Hong.

"Heiiiii! Tukang perahu, ke sinilah, aku ingin bicara!" teriaknya ke arah tukang perahu yang mendayung perahunya lambat-lambat.

Tukang perahu menoleh dan Kim Hong melihat bahwa wajah pria itu terang dan penuh senyum, wajah yang membayangkan kesabaran dan kelembutan hati.

"Paman yang baik, pinggirkan perahumu. Aku ingin menyewanya, atau membelinya, atau menumpang saja. Cepatlah, aku membutuhkan pertolonganmu !" Kim Hong menoleh ke belakang dan kini sudah nampak bayangan ayah dan anak itu yang berlari cepat dan kembali terdengar teriakan-teriakan mereka.

"Kim Hong, aku perintahkan engkau untuk berhenti!" terdengar jelas teriakan gurunya.

"Paman tukang perahu, tolonglah!" Kim Hong berseru kembali melihat tukang perahu itu masih belum mendayung perahunya ke tepi. Untuk meloncat ke perahu itu, jaraknya masih terlalu jauh. "Ke sinilah, aku ingin menumpang perahumu, berapapun sewanya akan kubayar!"

Akan tetapi, orang bercamping itu hanya menahan lajunya perahu dengan dayungnya, dan hanya memandang seperti orang yang tidak mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu. Kim Hong yang tadinya berteriak dalam bahasa Khitan, kini berseru lagi, menggunakan bahasa Han yang dikuasainya dengan baik karena mendiang ibunya yang mengajarkannya Namun, tetap saja tukang perahu itu diam seperti patung. Sementara itu, Bouw Hun dan Bouw Ki tiba di situ!

"Kim Hong, apa yang kaulakukan ini? Engkau hendak pergi ke mana?" terdengar suara Bouw Hun yang dalam dan parau, dengan nada yang marah penuh teguran.

Terpaksa Kim Hong memutar tubuh menghadapi ayah dan anak itu. Karena sejak kecil ia menganggap Bouw Hun sebagai guru dan juga pengganti orang tuanya, maka ia bersikap lembut walaupun dalam hati ia masih marah mengingat akan ucapan guru ini tadi yang hendak memaksanya menjadi selir Bouw Ki .

"Suhu, aku sudah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan tempat ini, hendak mencari ayah sampai dapat bertemu. Harap suhu sudi memberi ijin dan tidak menghalangiku."

"Apa? Engkau ini anak tak mengenal budi! Sejak kecil engkau kami rawat, kami pelihara, kami didik, dan sekarang setelah menjelang dewasa, engkau akan minggat begitu saja tanpa pamit?" bentak kepala suku Khitan itu.

Kim Hong yang tadinya menundukkan muka, kini mengangkat mukanya dan menentang pandang mata gurunya dengan berani. Memang kalau menurut ucapan gurunya tadi, seolah ia yang tidak mengenal budi. Maka, iapun menjawab dengan lantang,

"Suhu, sesungguhnya suhu sendiri yang memaksa aku pergi tanpa pamit. Kalau saja suhu tidak mengeluarkan ucapan itu, tentu aku akan minta ijin dan restu. Suhu yang memaksaku untuk pergi minggat seperti ini."

Bouw Hun mengerutkan alisnya.
" Ucapanku yang mana? Jangan mencoba mencari alas an yang bukan-bukan!"

"Aku mendengar dengan kedua telingaku sendiri bahwa suhu akan memaksaku untuk menjadi selir suheng. Aku tidak sudi dan aku mengambil keputusan untuk minggat."

Ayah dan anak itu saling pandang, terkejut karena sama sekali tidak menduga bahwa gadis itu telah mendengarkan percakapan mereka tadi. Mereka tadi memang mendapat laporan dari seorang Khitan yang melihat Kim Hong meninggalkan perkampungan membawa buntalan pakaian maka mereka cepat melakukan pengejaran. Karena gadis itu sudah mengetahui, Bouw Hun tidak mau berpura-pura lagi.

"Memang benar, dan engkau tidak boleh menolak kehendak kami. Sejak dahulu engkau sudah seperti anggauta keluarga kami sendiri, kalau sekarang engkau menjadi selir suhengmu, apa salahnya?"

"Tidak, suhu. Aku tidak mau menjadi isteri suheng, apa lagi menjadi selirnya! Harap suhu membiarkan aku pergi mencari ayah. Aku tidak akan melupakan semua budi sekeluarga dan semoga kelak aku akan dapat membalas budi itu," kata gadis itu dengan suara yang tegas, akan tetapi pandang matanya penuh permohonan.

"Hemm, tidak perlu kelak, sekarangpun engkau dapat membalas budi itu dengan menaati perintahku. Jangan pergi dan engkau menjadi selir Bouw Ki."

"Maaf, suhu. Kalau aku harus membalas budi dengan itu, aku tetap menolak."

"Kim Hong, berani engkau membantah perintah gurumu dan juga ayah angkatmu!" Bouw Hun membentak, kini matanya mendelik dan mukanya yang penuh berewok dan kulitnya menghitam itu kelihatan bengis sekali.

"Sumoi, jangan membuat ayah menjadi marah. Taatilah perintah ayah, dan engkau akan hidup berbahagia. Aku amat mencintamu, sumoi," kata Bouw Ki membujuk.

Kim Hong memandang kepada Bouw Ki dengan mata bersinar-sinar, lalu ia menudingkan telunjuknya ke arah muka pemuda gagah tampan itu.

"Suheng, ini semua gara-gara engkau! Kalau engkau tidak mempunyai niat kotor terhadap diriku, tidak akan terjadi keributan ini dan aku tentu akan pergi dengan baik-baik, dibekali ijin dan restu dari suhu. Pendeknya, aku tidak mau .menjadi isterimu atau selirmu......."

***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 002
***Kembali

No comments:

Post a Comment