Bouw Koksu tertawa gembira dan mengelus jenggotnya.
"Ha-ha, harap paduka tidak khawatir, pangeran. Tentu saya dapat membujuknya, karena bagaimanapun, ia sudah seperti anak kami sendiri, bahkan kami merencanakan untuk menjodohkan Bouw Ki dengan Can Kim Hong”.
"Bagus, itu lebih baik lagi, paman. Nah, sekarang harap paman suka membuat persiapan untuk mengambil pusaka itu secepatnya.'"
Bouw Koksu lalu berpamit dan kembali ke rumah gedungnya, disambut isterinya yang sudah mempersiapkan pesta keluarga untuk menyambut pulangnya Kim Hong. Gadis itu merasakan keakraban mereka dan merasa terharu, juga gembira. Sedikit perasaan tidak enak sehubungan dengan peristiwa dua tahun lalu ketika ia hendak dipaksa menjadi selir Bouw Ki, mulai menipis.
"Kim Hong, aku membawa berita yang amat baik dan menggembirakan sekali untukmu!" kata Bouw Ki begitu dia memasuki rumahnya dan melihat sumoinya itu. Kim Hong sedang duduk bercakap-cakap dengan Bouw Hun. "Coba terka, berita apa yang akan kusampaikan padamu?"
Kim Hong memandang suhengnya yang nampak berseri wajahnya itu, lalu dengan penuh harapan ia bertanya,
"Suheng, apakah engkau membawa berita tentang ayahku?"
"Tepat sekali, sumoi. Aku telah menyebar penyelidik sejak engkau pulang sepekan lalu dan sekarang aku telah menemukan ayah kandungmu yang bernama Can Bu itu. Dan, ha-ha-ha, sungguh mengherankan sekali, dia adalah seorang perwira dalam pasukan yang kupimpin!"
"Ah, luar biasa!" seru Bouw Hu sambil menepuk pahanya. "Kalau begitu kenapa aku tidak pernah melihat dia Dahulu, duapuluh tahun yang lalu, dia pun seorang perwira pasukan ketika tertawan oleh pasukan Khitan dan menjadi tawanan, lalu hidup di antara bangsa Khitan."
"Para opsir atau perwira memang hanya berada di benteng, ayah," Bouw Ki menjelaskan. "Dan dia sendiri tidak pernah bertemu ayah. Diapun sama sekali tidak menyangka bahwa aku adalah anak kecil yang pernah dikenalnya di Khitan. Dia termasuk seorang di antara para perwira Kerajaan Tang yang telah menyerahkan diri dan menakluk, dan seperti ayah mengetahui, kita menerima tenaga bantuan para anggauta pasukan yang telah menyatakan takluk dan suka bekerja kepada pemerintah baru."
"Suheng, di mana dia? Aku ingin bertemu dengan ayahku!" kata Kim Hong dan ia merasa betapa jantungnya berdebar dan perasaan aneh dan tegang menghubungi hatinya.
Dara ini belum pernah melihat ayahnya dan ia hanya pernah mendengar cerita ibunya bahwa ayahnya bernama Can Bu, seorang perwira yang gagah dan tampan. Sekarang, suhengnya mengatakan bahwa ayah kandungnya itu menyerah kepada kekuasaan pemberontak, bahkan mengabdi kepada pemberontak. Di mana letak kegagahannya? Diam-¬diam ia merasa kecewa dan penasaran. Agaknya ia akan lebih merasa lega dan bangga andaikata mendengar bahwa ayahnya, sebagai seorang perwira, telah gugur ketika melawan pasukan pemberontak yang menyerbu kota raja! Tentu saja ia akan lebih senang dapat bertemu dengan ayahnya, akan tetapi bukan sebagai seorang perwira yang mengkhianati Kerajaan Tang, melainkan umpamanya saja, seorang perwira yang melarikan diri karena kalah perang dan menjadi rakyat biasa.
"Tenanglah, sumoi. Paman Can Bu sendiri masih merasa tegang dan bingung mendengar bahwa puterinya berada disini. Bahkan dia sudah hampir tidak ingat lagi bahwa dia mempunyai seorang puteri di Khitan, maklum sudah duapuuh tahun lebih dia meninggalkan Khitan. Bahkan dia terkejut ketika kujelaskan bahwa ayah adalah orang yang di kenalnya sebagai Bouw Kok-su, yang dahulu menjadi kepala suku bangsa Khitan. Dia sudah ikut bersamaku ke sini, akan tetapi dia menanti di luar karena aku tidak ingin menimbulkan kekagetan dan agar engkau dapat menerimanya dengan tenang."
"Aku ingin bertemu dengan dia suheng. Terima kasih atas bantuanmu.."
"Bouw Ki, bawa dia masuk ke sini. Akupun ingin bertemu dengan Saudara Can Bu yang meninggalkan Khitan dua puluh tahun yang lalu!" kata Bouw Hu gembira.
Bouw Ki berlari keluar dan tak lama kemudian, dia masuk kembali bersama seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, disambut oleh Bouw Hun dan isterinya, juga oleh Kim Hong yang hanya berdiri bengong, mengamati pria yang kini menjatuhkan diri berlutut dengan sebelah kaki memberi hormat kepada Bouw Kok-su.
"Aha, saudara Can Bu! Ya, aku masih ingat kepadamu. Lupakah engkau siapa aku, ha-ha-ha!" Bouw Kok-su berseru sambil tertawa.
Pria itu mengangkat muka dan memandang dengan bingung dan bimbang.
'Paduka...... benarkah paduka adalah Kepala Suku Bouw Hun yang dahulu.....? Dan ciangkun ini putera paduka Bouw Ki yang dahulu masih kecil itu? Nyonya, maafkan saya dan terimalah hormat saya......" orang itu kembali memberi hormat.
"Bangkitlah, saudara Can Bu Hong dan duduklah. Kita adalah orang-orang sendiri, jangan terlalu sungkan dan sementara ini lupakan dulu segala kedudukan. Duduklah dan pandang baik-baik, siapa gadis ini?"
Can Bu bangkit berdiri dan memandang kepada gadis yang juga berdiri dan sedang mengamatinya itu. Kim Hong merasa lehernya seperti dicekik karena haru, akan tetapi juga ragu dan agak kecewa. Inikah orang yang selama ini dirindukannya? Inikah orang yang dahulu, ketika ia masih kecil, ibunya menceritakannya dengan penuh kerinduan dan kekaguman? Inikah orang yang dicari-carinya itu? Memang wajahnya tidak jelek, cukup tampan, dan bentuk tubuh nya juga tegap sebagai seorang perajurit. Akan tetapi gagah perkasa? ia tidak melihat tanda-tanda itu pada tarikan muka dan pandang matanya, bahkan mata itu kelihatan sungkan dan bahkan malu-malu, agak gelisah malah, sama sekali bukan seperti mata seorang pendekar! Karena tegang dan terharu bercampur kecewa, Kim Hong diam saja, tidak tahu harus berbuat atau berkata apa.
"Paman Can Bu, inilah sumoi Can Kim Hong, puterimu dan mendiang bibi Khilani seperti yang kuceritakan itu. ia adalah anakmu, paman!" kata Bouw Ki seperti hendak menarik ayah dan anak itu dari alam lamunan yang membuat mereka hanya saling pandang sejak tadi.
"Anakku..... Ah, siapa kira hari ini aku dapat bertemu dengan anak ku....." Akhirnya Can Bu berkata, biar pun masih ragu, dia mengembangkan kedua lengannya.
"Ayah..... Bertahun-tahun aku selalu memikirkan orang yang menjadi ayah kandungku. Jadi engkau...... engkau ini ayahku....?"
Kim Hong berkata lirih seperti kepada diri sendiri, dan iapun menghampiri pria itu. Ketika Can Bu merangkulnya, Kim Hong merasa aneh dan tidak nyaman, karena pria ini sama sekali asing baginya. Akan tetapi ia membiarkan saja pria itu merangkul dan mengelus rambutnya.
"Maafkan aku, anakku. Selama ini ...... ayahmu tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mencarimu, merawat dan mendidikmu," katanya dengan suara agak gemetar.
Dengan lembut Kim Hong melepaskan diri dari rangkulan ayahnya, melangkah mundur dua kali dan memandang wajah ayahnya, bertanya,
"Sekarang.... dimana ayah tinggal dan dengan siapa ayah hidup?" Sukar baginya harus tinggal bersama seorang ibu tiri dan saudara-saudara tiri.
"Sumoi, Paman Can Bu hidup sebatang kara, tidak beristeri dan tidak mempunyai keluarga, tinggalnya di dalam benteng," kata Bouw Ki.
"Kalau begitu, biar dia tinggal saja di sini bersama Kim Hong!" kata Bouw Kok-su. "Bouw Ki, usahakan agar saudara Can Bu dipindah tugaskan, mulai sekarang bekerja sebagai kepala pengawal keluarga kita dan tinggal di sini, di rumah samping itu."
"Ah, itu baik sekali!" seru Bouw Ki. "Tentu paman Can setuju, bukan?"
Sebetulnya Kim Hong hendak menolak. Tidak senang ia kalau ayah kandungnya mondok di situ, yang berarti bahwa ia dan ayahnya menerima budi keluarga Bouw dan bahkan terikat dengan mereka. Akan tetapi ayahnya sudah cepat memberi hormat dan berkata dengan suara gembira sekali.
"Tentu saja saya setuju, ciangkun. Terima kasih banyak atas budi kebaikan Tai-jin dan Ciang-kun!"
Karena ayahnya telah menerimanya, tentu saja Kim Hong tak dapat berkata apa-apa lagi. ia masih merasa asing dengan ayahnya, masih sungkan untuk menegurnya. Kelak saja, perlahan-lahan ia akan membujuk ayahnya agar tinggal di luar gedung itu, di rumah sendiri sehingga tidak tergantung kepada siapapun, juga lebih bebas.
Setelah mendapat kesempatan untuk berdua saja dalam ruangan rumah samping, Kim Hong duduk berhadapan dengan pria yang dinyatakan sebagai ayah kandungnya itu. Mereka saling berpandangan sejenak, dan akhirnya Can Bu yang menundukkan pandang matanya lebih dahulu. Sinar mata gadis itu terlalu tajam, bagaikan pisau yang runcing menusuk sampai ke ulu hati.
"Kim Hong, kenapa engkau memandangku seperti itu?" tanya Can Bu yang sudah menunduk.
Gadis itu tetap mengamati wajah pria di depannya dengan pandang mata penuh selidik.
"Engkau....... benarkah engkau ini ayah kandungku?" tiba-tiba ia bertanya dan Can Bu mengangkat muka, alisnya berkerut dan pandang matanya penasaran, marah.
"Hemm, pertanyaan ini bisa kukembalikan kepadamu, Kim Hong. Benarkah engkau ini anak kandungku? Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu itu? Kita tidak pernah saling berjumpa. Hanya ada satu hal yang pasti bagiku, yaitu aku pernah tinggal di Khitan duapuluh tahun lebih yang lalu, dan aku menikah dengan seorang wanita bernama Khilani. Nah. kalau benar engkau ini puteri Khilani, jelaslah bahwa engkau adalah anakku dan aku inilah ayah kandungmu. Kim Hong, kenapa engkau masih bertanya seperti itu, dan seolah meragukan bahwa aku ini ayah kandungmu?" Kini pandang mata Can Bu yang penuh selidik mengamati wajah Kim Hong.
Gadis itu menghela napas panjang.
"Ayah, aku masih ingat betapa ibu menceritakan bahwa suaminya, ayah kandungku, adalah seorang perwira Kerajaan Tang yang gagah perkasa. Kini aku mendapatkan ayah memang seorang perwira, akan tetapi..... kenapa ayah membantu pemerintah yang didirikan pemberontaki"
Wajah pria itu berubah agak pucat, matanya memandang ke sekeliling seperti orang ketakutan.
"Ssttt....... apa yang kau ucapkan ini, Kim Hong? Kalau terdengar orang lain, kita bisa celaka! Bukankah suhu dan suhengmu sendiripun menjadi orang-orang besar dalam pemerintahan ini?"
"Hemm, mereka lain lagi," kata Kim Hong, semakin kecewa melihat sikap ayahnya yang ketakutan itu. “Mereka adalah orang-orang Khitan yang sejak dahulu memang bermusuhan dengan Kerajaan Tang, bahkan suhu adalah kepala suku Khitan. Tidak mengherankan kalau mereka bergabung dengan pemberontak dan kini menduduki jabatan tinggi. Akan tetapi engkau, ayah! Menurut ibu, engkau seorang bangsa Han. Kenapa sekarang engkau bahkan mengkhianati kerajaan dan bangsa sendiri?"
Can Bu mengerutkan alisnya dan memandang tak senang.
"Kim Hong, engkau lancang. Sribaginda sendiri, ketika masih menjadi Panglima besar, juga seorang pejabat Kerajaan Tang, dan biarpun beliau itu masih mempunyai darah Khitan, akan tetapi sebagian besar para perwira dan perajuritnya adalah bangsa Han! Pemberontakan itu dilakukan karena Kaisar Beng Ong amat lemah dipermainkan wanita, dan di istana terjadi perebutan kekuasaan yang memuakkan. Jangan kau salahkan ayahmu kalau sekarang aku mengabdi kepada pemerintah ini."
Kim Hong diam saja dan ia teringat akan cerita gurunya. Menurut gurunya, Kaisar Beng Ong memang di permainkan oleh seorang selir cantik yang bernama Yang Kui Hui, demikian cantiknya selir itu sehingga gurunya sendiri tergila¬-gila kepada selir itu. Gurunya juga berpesan agar ia membela Kerajaan Tang dan membantu kaisar untuk merampas kembali tahta kerajaan dari tangan An Lu Shan, dan menemukan Giok-hongcu Gurunya, yang dahulu pernah berusaha membunuh Kaisar Beng Cng, kini bahkan menyuruh ia membela kaisar itu. Kini ia mengerti mengapa.
Kalau dahulu gurunya memusuhi kaisar, hal itu dilakukan karena dia seorang tokoh Beng-kauw yang menganggap kaisar lalim dan patut dilenyapkan agar kedudukan kaisar diganti oleh kaisar lain yang lebih bijaksana. Akan tetapi sekarang, lain lagi keadaannya. Tahta kerajaan direbut oleh pemberontak An Lu Shan, seorang peranakan Han, yang tentu dianggap berdarah asing oleh gurunya. Karena itu gurunya menyuruh ia berpihak kepada pemerintah Kerajaan Tang.
"Kim Hong, kenapa engkau diam saja? Sudah mengertikah engkau sekarang mengapa ayahmu bekerja kepada pemerintah yang baru? Bahkan sekarang aku menjadi kepala pengawal keluarga gurumu, bukan lagi menjadi perwira pasukan."
Kim Hong menghela napas panjang agi,
"Maafkan aku, ayah,. Terus terang saja, tadinya aku kecewa sekali melihat kenyataan ini. Ibu dahulu bercerita tentang ayah kandungku yang gagah perkasa, dan aku terlanjur membayangkan ayah sebagai seorang pendekar besar. Kiranya kini ayah terlibat dalam pemberontakan, atau membantu pemerintah pemberontak. Akan tetapi aku sekarang dapat mengerti dan tidak menyalahkan ayah."
Can Bu menjulurkan tangan dan memegang tangan puterinya dari seberang meja.
"Bagus, aku senang sekali mendengar itu, anakku. Dan kuharap engkau suka membantu ayah, membantu suhumu dan suhengmu......"
"Maaf, ayah. Aku tidak ingin melibatkan diri dengan urusan pemerintah kerajaan baru ini, tidak ingin pula membantu pekerjaan suhu dan suheng, walaupun tentu saja aku suka membantu pekerjaan ayah. Ayah hanya bertugas menjaga keselamatan keluarga suhu, bukan? Nah, aku akan membantu pekerjaan ayah."
"Akan tetapi, bagaimana kalau ayahmu menerima tugas yang lebih penting? Apakah engkau tetap mau membantu ku?"
"Tentu saja, aku akan membantu agar ayah melaksanakan tugasnya dengan baik dan berhasil, akan tetapi aku sendiri tidak mau langsung menerima perintah dari orang lain."
"Bagus, aku mendengar dari suhengmu, Bouw-ciangkun, bahwa engkau memiliki ilmu silat yang amat hebat, bahkan Pangeran An Kong sendiri mengagumi. Kalau engkau mau membantuku, maka tugas penting yang harus kukerjakan dalam beberapa hari ini tentu akan dapat kulaksanakan dengan baik."
"Tugas apakah itu, ayah?" Kim Hong mengerutkan alisnya, tidak mengira sama sekali bahwa ayahnya telah menerima tugas penting lain.
"Tugas ini amat berbahaya, dan tanpa bantuanmu, tadinya aku merasa khawatir sekali kalau gagal. Aku ditugaskan mengikuti rombongan pasukan yang akan dipimpin Bouw¬ciangkun sendiri untuk mengambil sebuah pusaka kerajaan di tempat tersembunyi."
Kim Hong menatap wajah ayahnya dan jantungnya berdebar tegang.
"Pusaka apakah itu, ayah? Dan mengapa berbahaya untuk mengambilnya? Di mana tempat pengambilannya?"
Dalam hatinya, Kim Hong teringat pesan gurunya, Si Naga Hitam, tentang pusaka yang dinamakan Mestika Hong Kemala!
"Pusaka itu amat penting bagi kerajaan, karena merupakan lambang kekuasaan kaisar. Pusaka itu hilang dan yang terakhir kalinya berada di tangan Menteri Yang Kok Tiong. Ketika menteri itu terbunuh, pusaka itu lenyap entah ke mana. Beruntung sekali gurumu, Bouw Koksu yang cerdik dan bijaksana, dapat menemukan peta di mana pusaka itu disembunyikan dan besok pagi, suhengmu akan memimpin pasukan untuk mengambil pusaka itu. Akupun diikut sertakan, karena itu, aku minta agar engkau suka turut pula memperkuat rombongan kita."
Kim Hong menelan kembali kata-kata "giok-hong-cu" yang sudah berada di ujung lidahnya dan ia pura-pura tidak tahu, akan tetapi dengan cepat ia meangguk.
"Aku akan senang sekali membantu ayah dalam tugas penting itu, ayah." ia teringat akan pesan suhunya, dan ia akan melihat apakah benar yang akan diambil rombongan itu adalah gio hong-cu. Dan kalau benar demikian setidaknya ia tahu di mana adanya mestika yang diperebutkan itu!
Malam itu Kim Hong tidur dengan hati tenang, bagaimanapun juga, ia telah bertemu bahkan berkumpul dengan ayah kandungnya, dan untuk tugas kedua yang diserahkan gurunya kepadanya, yatu membantu kaisar Tang menemukan kembali giok-hong-cu dan menentang pemberontak, agaknya dapat ia mulai dari kota raja itu sendiri! Tak seorangpun tahu akan isi hatinya dan akan tugasnya itu, dan ia dipercaya oleh pemerintah An Lu Shan! Memang ayahnya berada di pihak musuh, akan tetapi ia akan dapat membujuk dan menyadarkan ayahnya perlahan-lahan, kalau ia sudah akrab benar dengan ayah kandungnya itu.
"Ha-ha, harap paduka tidak khawatir, pangeran. Tentu saya dapat membujuknya, karena bagaimanapun, ia sudah seperti anak kami sendiri, bahkan kami merencanakan untuk menjodohkan Bouw Ki dengan Can Kim Hong”.
"Bagus, itu lebih baik lagi, paman. Nah, sekarang harap paman suka membuat persiapan untuk mengambil pusaka itu secepatnya.'"
Bouw Koksu lalu berpamit dan kembali ke rumah gedungnya, disambut isterinya yang sudah mempersiapkan pesta keluarga untuk menyambut pulangnya Kim Hong. Gadis itu merasakan keakraban mereka dan merasa terharu, juga gembira. Sedikit perasaan tidak enak sehubungan dengan peristiwa dua tahun lalu ketika ia hendak dipaksa menjadi selir Bouw Ki, mulai menipis.
"Kim Hong, aku membawa berita yang amat baik dan menggembirakan sekali untukmu!" kata Bouw Ki begitu dia memasuki rumahnya dan melihat sumoinya itu. Kim Hong sedang duduk bercakap-cakap dengan Bouw Hun. "Coba terka, berita apa yang akan kusampaikan padamu?"
Kim Hong memandang suhengnya yang nampak berseri wajahnya itu, lalu dengan penuh harapan ia bertanya,
"Suheng, apakah engkau membawa berita tentang ayahku?"
"Tepat sekali, sumoi. Aku telah menyebar penyelidik sejak engkau pulang sepekan lalu dan sekarang aku telah menemukan ayah kandungmu yang bernama Can Bu itu. Dan, ha-ha-ha, sungguh mengherankan sekali, dia adalah seorang perwira dalam pasukan yang kupimpin!"
"Ah, luar biasa!" seru Bouw Hu sambil menepuk pahanya. "Kalau begitu kenapa aku tidak pernah melihat dia Dahulu, duapuluh tahun yang lalu, dia pun seorang perwira pasukan ketika tertawan oleh pasukan Khitan dan menjadi tawanan, lalu hidup di antara bangsa Khitan."
"Para opsir atau perwira memang hanya berada di benteng, ayah," Bouw Ki menjelaskan. "Dan dia sendiri tidak pernah bertemu ayah. Diapun sama sekali tidak menyangka bahwa aku adalah anak kecil yang pernah dikenalnya di Khitan. Dia termasuk seorang di antara para perwira Kerajaan Tang yang telah menyerahkan diri dan menakluk, dan seperti ayah mengetahui, kita menerima tenaga bantuan para anggauta pasukan yang telah menyatakan takluk dan suka bekerja kepada pemerintah baru."
"Suheng, di mana dia? Aku ingin bertemu dengan ayahku!" kata Kim Hong dan ia merasa betapa jantungnya berdebar dan perasaan aneh dan tegang menghubungi hatinya.
Dara ini belum pernah melihat ayahnya dan ia hanya pernah mendengar cerita ibunya bahwa ayahnya bernama Can Bu, seorang perwira yang gagah dan tampan. Sekarang, suhengnya mengatakan bahwa ayah kandungnya itu menyerah kepada kekuasaan pemberontak, bahkan mengabdi kepada pemberontak. Di mana letak kegagahannya? Diam-¬diam ia merasa kecewa dan penasaran. Agaknya ia akan lebih merasa lega dan bangga andaikata mendengar bahwa ayahnya, sebagai seorang perwira, telah gugur ketika melawan pasukan pemberontak yang menyerbu kota raja! Tentu saja ia akan lebih senang dapat bertemu dengan ayahnya, akan tetapi bukan sebagai seorang perwira yang mengkhianati Kerajaan Tang, melainkan umpamanya saja, seorang perwira yang melarikan diri karena kalah perang dan menjadi rakyat biasa.
"Tenanglah, sumoi. Paman Can Bu sendiri masih merasa tegang dan bingung mendengar bahwa puterinya berada disini. Bahkan dia sudah hampir tidak ingat lagi bahwa dia mempunyai seorang puteri di Khitan, maklum sudah duapuuh tahun lebih dia meninggalkan Khitan. Bahkan dia terkejut ketika kujelaskan bahwa ayah adalah orang yang di kenalnya sebagai Bouw Kok-su, yang dahulu menjadi kepala suku bangsa Khitan. Dia sudah ikut bersamaku ke sini, akan tetapi dia menanti di luar karena aku tidak ingin menimbulkan kekagetan dan agar engkau dapat menerimanya dengan tenang."
"Aku ingin bertemu dengan dia suheng. Terima kasih atas bantuanmu.."
"Bouw Ki, bawa dia masuk ke sini. Akupun ingin bertemu dengan Saudara Can Bu yang meninggalkan Khitan dua puluh tahun yang lalu!" kata Bouw Hu gembira.
Bouw Ki berlari keluar dan tak lama kemudian, dia masuk kembali bersama seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, disambut oleh Bouw Hun dan isterinya, juga oleh Kim Hong yang hanya berdiri bengong, mengamati pria yang kini menjatuhkan diri berlutut dengan sebelah kaki memberi hormat kepada Bouw Kok-su.
"Aha, saudara Can Bu! Ya, aku masih ingat kepadamu. Lupakah engkau siapa aku, ha-ha-ha!" Bouw Kok-su berseru sambil tertawa.
Pria itu mengangkat muka dan memandang dengan bingung dan bimbang.
'Paduka...... benarkah paduka adalah Kepala Suku Bouw Hun yang dahulu.....? Dan ciangkun ini putera paduka Bouw Ki yang dahulu masih kecil itu? Nyonya, maafkan saya dan terimalah hormat saya......" orang itu kembali memberi hormat.
"Bangkitlah, saudara Can Bu Hong dan duduklah. Kita adalah orang-orang sendiri, jangan terlalu sungkan dan sementara ini lupakan dulu segala kedudukan. Duduklah dan pandang baik-baik, siapa gadis ini?"
Can Bu bangkit berdiri dan memandang kepada gadis yang juga berdiri dan sedang mengamatinya itu. Kim Hong merasa lehernya seperti dicekik karena haru, akan tetapi juga ragu dan agak kecewa. Inikah orang yang selama ini dirindukannya? Inikah orang yang dahulu, ketika ia masih kecil, ibunya menceritakannya dengan penuh kerinduan dan kekaguman? Inikah orang yang dicari-carinya itu? Memang wajahnya tidak jelek, cukup tampan, dan bentuk tubuh nya juga tegap sebagai seorang perajurit. Akan tetapi gagah perkasa? ia tidak melihat tanda-tanda itu pada tarikan muka dan pandang matanya, bahkan mata itu kelihatan sungkan dan bahkan malu-malu, agak gelisah malah, sama sekali bukan seperti mata seorang pendekar! Karena tegang dan terharu bercampur kecewa, Kim Hong diam saja, tidak tahu harus berbuat atau berkata apa.
"Paman Can Bu, inilah sumoi Can Kim Hong, puterimu dan mendiang bibi Khilani seperti yang kuceritakan itu. ia adalah anakmu, paman!" kata Bouw Ki seperti hendak menarik ayah dan anak itu dari alam lamunan yang membuat mereka hanya saling pandang sejak tadi.
"Anakku..... Ah, siapa kira hari ini aku dapat bertemu dengan anak ku....." Akhirnya Can Bu berkata, biar pun masih ragu, dia mengembangkan kedua lengannya.
"Ayah..... Bertahun-tahun aku selalu memikirkan orang yang menjadi ayah kandungku. Jadi engkau...... engkau ini ayahku....?"
Kim Hong berkata lirih seperti kepada diri sendiri, dan iapun menghampiri pria itu. Ketika Can Bu merangkulnya, Kim Hong merasa aneh dan tidak nyaman, karena pria ini sama sekali asing baginya. Akan tetapi ia membiarkan saja pria itu merangkul dan mengelus rambutnya.
"Maafkan aku, anakku. Selama ini ...... ayahmu tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mencarimu, merawat dan mendidikmu," katanya dengan suara agak gemetar.
Dengan lembut Kim Hong melepaskan diri dari rangkulan ayahnya, melangkah mundur dua kali dan memandang wajah ayahnya, bertanya,
"Sekarang.... dimana ayah tinggal dan dengan siapa ayah hidup?" Sukar baginya harus tinggal bersama seorang ibu tiri dan saudara-saudara tiri.
"Sumoi, Paman Can Bu hidup sebatang kara, tidak beristeri dan tidak mempunyai keluarga, tinggalnya di dalam benteng," kata Bouw Ki.
"Kalau begitu, biar dia tinggal saja di sini bersama Kim Hong!" kata Bouw Kok-su. "Bouw Ki, usahakan agar saudara Can Bu dipindah tugaskan, mulai sekarang bekerja sebagai kepala pengawal keluarga kita dan tinggal di sini, di rumah samping itu."
"Ah, itu baik sekali!" seru Bouw Ki. "Tentu paman Can setuju, bukan?"
Sebetulnya Kim Hong hendak menolak. Tidak senang ia kalau ayah kandungnya mondok di situ, yang berarti bahwa ia dan ayahnya menerima budi keluarga Bouw dan bahkan terikat dengan mereka. Akan tetapi ayahnya sudah cepat memberi hormat dan berkata dengan suara gembira sekali.
"Tentu saja saya setuju, ciangkun. Terima kasih banyak atas budi kebaikan Tai-jin dan Ciang-kun!"
Karena ayahnya telah menerimanya, tentu saja Kim Hong tak dapat berkata apa-apa lagi. ia masih merasa asing dengan ayahnya, masih sungkan untuk menegurnya. Kelak saja, perlahan-lahan ia akan membujuk ayahnya agar tinggal di luar gedung itu, di rumah sendiri sehingga tidak tergantung kepada siapapun, juga lebih bebas.
Setelah mendapat kesempatan untuk berdua saja dalam ruangan rumah samping, Kim Hong duduk berhadapan dengan pria yang dinyatakan sebagai ayah kandungnya itu. Mereka saling berpandangan sejenak, dan akhirnya Can Bu yang menundukkan pandang matanya lebih dahulu. Sinar mata gadis itu terlalu tajam, bagaikan pisau yang runcing menusuk sampai ke ulu hati.
"Kim Hong, kenapa engkau memandangku seperti itu?" tanya Can Bu yang sudah menunduk.
Gadis itu tetap mengamati wajah pria di depannya dengan pandang mata penuh selidik.
"Engkau....... benarkah engkau ini ayah kandungku?" tiba-tiba ia bertanya dan Can Bu mengangkat muka, alisnya berkerut dan pandang matanya penasaran, marah.
"Hemm, pertanyaan ini bisa kukembalikan kepadamu, Kim Hong. Benarkah engkau ini anak kandungku? Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu itu? Kita tidak pernah saling berjumpa. Hanya ada satu hal yang pasti bagiku, yaitu aku pernah tinggal di Khitan duapuluh tahun lebih yang lalu, dan aku menikah dengan seorang wanita bernama Khilani. Nah. kalau benar engkau ini puteri Khilani, jelaslah bahwa engkau adalah anakku dan aku inilah ayah kandungmu. Kim Hong, kenapa engkau masih bertanya seperti itu, dan seolah meragukan bahwa aku ini ayah kandungmu?" Kini pandang mata Can Bu yang penuh selidik mengamati wajah Kim Hong.
Gadis itu menghela napas panjang.
"Ayah, aku masih ingat betapa ibu menceritakan bahwa suaminya, ayah kandungku, adalah seorang perwira Kerajaan Tang yang gagah perkasa. Kini aku mendapatkan ayah memang seorang perwira, akan tetapi..... kenapa ayah membantu pemerintah yang didirikan pemberontaki"
Wajah pria itu berubah agak pucat, matanya memandang ke sekeliling seperti orang ketakutan.
"Ssttt....... apa yang kau ucapkan ini, Kim Hong? Kalau terdengar orang lain, kita bisa celaka! Bukankah suhu dan suhengmu sendiripun menjadi orang-orang besar dalam pemerintahan ini?"
"Hemm, mereka lain lagi," kata Kim Hong, semakin kecewa melihat sikap ayahnya yang ketakutan itu. “Mereka adalah orang-orang Khitan yang sejak dahulu memang bermusuhan dengan Kerajaan Tang, bahkan suhu adalah kepala suku Khitan. Tidak mengherankan kalau mereka bergabung dengan pemberontak dan kini menduduki jabatan tinggi. Akan tetapi engkau, ayah! Menurut ibu, engkau seorang bangsa Han. Kenapa sekarang engkau bahkan mengkhianati kerajaan dan bangsa sendiri?"
Can Bu mengerutkan alisnya dan memandang tak senang.
"Kim Hong, engkau lancang. Sribaginda sendiri, ketika masih menjadi Panglima besar, juga seorang pejabat Kerajaan Tang, dan biarpun beliau itu masih mempunyai darah Khitan, akan tetapi sebagian besar para perwira dan perajuritnya adalah bangsa Han! Pemberontakan itu dilakukan karena Kaisar Beng Ong amat lemah dipermainkan wanita, dan di istana terjadi perebutan kekuasaan yang memuakkan. Jangan kau salahkan ayahmu kalau sekarang aku mengabdi kepada pemerintah ini."
Kim Hong diam saja dan ia teringat akan cerita gurunya. Menurut gurunya, Kaisar Beng Ong memang di permainkan oleh seorang selir cantik yang bernama Yang Kui Hui, demikian cantiknya selir itu sehingga gurunya sendiri tergila¬-gila kepada selir itu. Gurunya juga berpesan agar ia membela Kerajaan Tang dan membantu kaisar untuk merampas kembali tahta kerajaan dari tangan An Lu Shan, dan menemukan Giok-hongcu Gurunya, yang dahulu pernah berusaha membunuh Kaisar Beng Cng, kini bahkan menyuruh ia membela kaisar itu. Kini ia mengerti mengapa.
Kalau dahulu gurunya memusuhi kaisar, hal itu dilakukan karena dia seorang tokoh Beng-kauw yang menganggap kaisar lalim dan patut dilenyapkan agar kedudukan kaisar diganti oleh kaisar lain yang lebih bijaksana. Akan tetapi sekarang, lain lagi keadaannya. Tahta kerajaan direbut oleh pemberontak An Lu Shan, seorang peranakan Han, yang tentu dianggap berdarah asing oleh gurunya. Karena itu gurunya menyuruh ia berpihak kepada pemerintah Kerajaan Tang.
"Kim Hong, kenapa engkau diam saja? Sudah mengertikah engkau sekarang mengapa ayahmu bekerja kepada pemerintah yang baru? Bahkan sekarang aku menjadi kepala pengawal keluarga gurumu, bukan lagi menjadi perwira pasukan."
Kim Hong menghela napas panjang agi,
"Maafkan aku, ayah,. Terus terang saja, tadinya aku kecewa sekali melihat kenyataan ini. Ibu dahulu bercerita tentang ayah kandungku yang gagah perkasa, dan aku terlanjur membayangkan ayah sebagai seorang pendekar besar. Kiranya kini ayah terlibat dalam pemberontakan, atau membantu pemerintah pemberontak. Akan tetapi aku sekarang dapat mengerti dan tidak menyalahkan ayah."
Can Bu menjulurkan tangan dan memegang tangan puterinya dari seberang meja.
"Bagus, aku senang sekali mendengar itu, anakku. Dan kuharap engkau suka membantu ayah, membantu suhumu dan suhengmu......"
"Maaf, ayah. Aku tidak ingin melibatkan diri dengan urusan pemerintah kerajaan baru ini, tidak ingin pula membantu pekerjaan suhu dan suheng, walaupun tentu saja aku suka membantu pekerjaan ayah. Ayah hanya bertugas menjaga keselamatan keluarga suhu, bukan? Nah, aku akan membantu pekerjaan ayah."
"Akan tetapi, bagaimana kalau ayahmu menerima tugas yang lebih penting? Apakah engkau tetap mau membantu ku?"
"Tentu saja, aku akan membantu agar ayah melaksanakan tugasnya dengan baik dan berhasil, akan tetapi aku sendiri tidak mau langsung menerima perintah dari orang lain."
"Bagus, aku mendengar dari suhengmu, Bouw-ciangkun, bahwa engkau memiliki ilmu silat yang amat hebat, bahkan Pangeran An Kong sendiri mengagumi. Kalau engkau mau membantuku, maka tugas penting yang harus kukerjakan dalam beberapa hari ini tentu akan dapat kulaksanakan dengan baik."
"Tugas apakah itu, ayah?" Kim Hong mengerutkan alisnya, tidak mengira sama sekali bahwa ayahnya telah menerima tugas penting lain.
"Tugas ini amat berbahaya, dan tanpa bantuanmu, tadinya aku merasa khawatir sekali kalau gagal. Aku ditugaskan mengikuti rombongan pasukan yang akan dipimpin Bouw¬ciangkun sendiri untuk mengambil sebuah pusaka kerajaan di tempat tersembunyi."
Kim Hong menatap wajah ayahnya dan jantungnya berdebar tegang.
"Pusaka apakah itu, ayah? Dan mengapa berbahaya untuk mengambilnya? Di mana tempat pengambilannya?"
Dalam hatinya, Kim Hong teringat pesan gurunya, Si Naga Hitam, tentang pusaka yang dinamakan Mestika Hong Kemala!
"Pusaka itu amat penting bagi kerajaan, karena merupakan lambang kekuasaan kaisar. Pusaka itu hilang dan yang terakhir kalinya berada di tangan Menteri Yang Kok Tiong. Ketika menteri itu terbunuh, pusaka itu lenyap entah ke mana. Beruntung sekali gurumu, Bouw Koksu yang cerdik dan bijaksana, dapat menemukan peta di mana pusaka itu disembunyikan dan besok pagi, suhengmu akan memimpin pasukan untuk mengambil pusaka itu. Akupun diikut sertakan, karena itu, aku minta agar engkau suka turut pula memperkuat rombongan kita."
Kim Hong menelan kembali kata-kata "giok-hong-cu" yang sudah berada di ujung lidahnya dan ia pura-pura tidak tahu, akan tetapi dengan cepat ia meangguk.
"Aku akan senang sekali membantu ayah dalam tugas penting itu, ayah." ia teringat akan pesan suhunya, dan ia akan melihat apakah benar yang akan diambil rombongan itu adalah gio hong-cu. Dan kalau benar demikian setidaknya ia tahu di mana adanya mestika yang diperebutkan itu!
Malam itu Kim Hong tidur dengan hati tenang, bagaimanapun juga, ia telah bertemu bahkan berkumpul dengan ayah kandungnya, dan untuk tugas kedua yang diserahkan gurunya kepadanya, yatu membantu kaisar Tang menemukan kembali giok-hong-cu dan menentang pemberontak, agaknya dapat ia mulai dari kota raja itu sendiri! Tak seorangpun tahu akan isi hatinya dan akan tugasnya itu, dan ia dipercaya oleh pemerintah An Lu Shan! Memang ayahnya berada di pihak musuh, akan tetapi ia akan dapat membujuk dan menyadarkan ayahnya perlahan-lahan, kalau ia sudah akrab benar dengan ayah kandungnya itu.
**** 017 ****
***Mustika Burung Hong Kemala Jilid 018
***Kembali
No comments:
Post a Comment